
Setelah ngobrol cukup lama bersama mamanya Farah memilih tidur setelah sang mama keluar dari kamarnya apalagi mengingat obrolan mereka tadi membuat Farah terus kepikiran lantaran sebagai istri dia benar-benar tidak berguna sama sekali bahkan keberadaan suami sendiri tidak dia ketahui.
Fikiran gadis itu melarang sebelum masuk ke alam tidur.
Di tempat lain....
Semenjak kepergian Raka berpamitan dari rumah mertuanya laki-laki itu memang masih sering berkontekan dengan mertuanya yang terutama mertua laki-laki tetapi tidak ada yang mengetahui karena Raka ingin merahasiakan semua itu apalagi dia memiliki misi yang tentunya jika banyak orang mengetahui maka tentu saja semuanya tidak akan berjalan dengan mulus.
Laki-laki yang masih berstatus suami Farah itu sudah memikirkan matang-matang tentang kelanjutan hubungan mereka dan tentang nasib pernikahan mereka akan dibawa kemana.
Apalagi setelah kepulangan dari rumah mertuanya dia ada kerjaan ke luar negeri sehingga baru beberapa hari yang lalu kembali ke tanah air dan itu pun dia memilih menginap di apartemen lain miliknya bukan di apartemen yang mereka tempati saat bersama Farah.
Paginya,,,,
"Ngapain lo ke toko gue? Nggak ada kerjaan atau butuh kerjaan?" Bahkan tidak tahu ini jam berapa mereka sudah mengunjungi toko adik iparnya.
Rasya memang pagi ini cepat datang ke toko apalagi dia juga akan mengantarkan sang istri tercinta untuk berkuliah.
__ADS_1
Apalagi laki-laki yang sudah tidak perjaka itu memang selalu mengantarkan istrinya ke kampus walaupun jarak toko ke kampus tidak terlalu jauh tetapi dia tidak ingin membiarkan istrinya pergi sendiri apalagi sampai digoda oleh mahasiswa di sana.
Padahal tanpa dikawal seperti itu pun istri cantiknya tidak mungkin berpaling dari dia apalagi hubungan mereka bukan satu atau dua bulan melainkan sudah beberapa tahun tetapi tetap saja dia tidak ingin melepaskan Riska dari pantauan matanya.
"Gue bosan," mereka memasuki ruangan sahabatnya itu lalu menghempaskan tubuhnya di sofa dan kebetulan memang adiknya sudah berangkat ke kampus jadi dia bisa bebas bercerita bersama sahabatnya.
"Sama gue juga bosan liat lo," Rasya mengambilkan minuman untuk Raka lalu diletakkan di atas meja dan duduk berhadapan dengan sahabatnya itu.
"Sialan lo," umpat Raka meminum minuman kaleng itu.
"Jadi?" Rasya memang sudah mengetahui jika sahabatnya itu sedang pisah rumah bersama istrinya dan itu semua Raka sendiri yang mengantarkan istrinya.
Tapi memang seperti itulah realita kehidupan sebab semua keinginan serta harapan tidak selalu berjalan mulus atau langsung didapatkan tanpa melalui cobaan atau ujian.
"Gue biarkan aja dia dulu di rumah orang tuanya sementara waktu, jika memang nggak ada perubahan mungkin memang meja hijau yang akan menyelesaikan," bukannya Raka sudah tidak mencintai Farah lagi tetapi dia juga ingin bahagia dan merengkuhkan bersama orang yang dicintainya.
Bukan dia tidak ingin mempertahankan orang yang dicintainya saat ini tetapi perjuangan selama ini Raka rasa sudah cukup dan dia juga ingin bahagia walaupun harus melepaskan cintanya yang sekarang tetapi setidaknya dia bisa membuka langkah dan membuka hati untuk hati yang lain.
__ADS_1
Jika boleh jujur dia ingin sekali meminta Farah untuk mempertahankan pernikahan mereka tetapi jika sikap gadis itu belum menunjukkan perubahan mungkin berpisah adalah jalan satu-satunya walaupun pasti akan terasa sangat menyakitkan namun setidaknya melepaskan akan membuat kita segera mengobati luka dan memberi kesempatan untuk yang lain mengisi relung hati kita.
"Jika menurut pandangan gue sebenarnya Farah masih mencintai lo hanya saja penolakan lo di waktu sekolah membuat dia menutup diri serta menganggap bahwa kekecewaannya itu lebih mendalam daripada sikapnya sekarang menyakiti lo dengan sengaja," cuma Rasya satu-satunya saksi bagaimana kisah kehidupan rumah tangga Raka hingga sekarang dan bagaimana sahabatnya itu mencintai seseorang namun orang itu justru menaruh rasa benci di hatinya.
"Lo nggak perlu menghibur gue seperti itu sebab gue nggak butuh kalimat penghibur sekarang karena apapun yang terjadi kedepannya gue sudah ikhlas menerima," bukannya Raka ingin pasrah saja akan nasib rumah tangganya tetapi dia memiliki rasa serta batas sabar dan kewarasan yang perlu dipertahankan.
Dan jika dia ingin egois mungkin bisa memiliki Farah tetapi hanya raganya saja bukan hatinya namun Raka tidak ingin melakukan itu sebab dia ingin memiliki Farah jiwa dan raganya hanya tertuju untuk laki-laki ini.
"Sebenarnya dia hanya perlu waktu serta meyakinkan diri kembali bahwa suami yang dia sia-siakan selama ini begitu mencintainya sekarang tetapi lo juga salah karena nggak pernah mengungkapkan perasaannya memiliki untuk dia," memang di sana salahnya Raka karena tidak pernah mengatakan tentang perasaan yang dimiliki untuk istrinya justru dia memendam sendiri tanpa mau mengatakan yang sejujurnya.
"Bukan gue nggak mau mengatakan yang sebenarnya hanya saja gue nggak mau dia beranggapan bahwa gue mencintai dia sebagai pengganti atau sebagai pelampiasan karena yang dia tahu gue pernah mencintai adiknya dan gue tidak ingin dia berpikiran negatif dan menganggap jika dia sebatas pengganti," selama ini Raka juga menunjukkan ketulusan dia terhadap istrinya tetapi memang begitu hati gadis itu yang belum terbuka untuk dia hingga rasa yang ditaruh selama ini membutakan segalanya.
Dan juga Raka bukan tidak ingin berbicara secara langsung hanya saja dia ingin Farah mengetahui sendiri sebab dia ingin Farah balas sendiri ketulusannya tanpa mendengar langsung dari orang-orang yang mendukung Raka.
"Tapi mau sampai kapan lo menahan semua ini?" Rasya tahu bagaimana menahan perasaan kita miliki terhadap gadis yang cinta kita cintai, tentu saja sangat menyesakkan dada apalagi mengetahui gadis itu dekat dengan laki-laki lain.
"Tunggu waktu yang tepat dan jika pun gue nggak akan pernah mengatakannya biarlah ku rasa ini gue tenang sendiri sebab memaksakan kehendak sudah pasti ujungnya nggak akan baik," tetapi Raka tidak akan menyerah sampai di sini saja karena baginya mereka cukup sekali seumur hidup karena memiliki istri cukup Farah seorang.
__ADS_1
Jika seandainya takdir berkata lain dan memisahkan mereka berdua mungkin lebih baik akan memilih sendiri daripada menikah yang hanya akan membuat dia merasa seperti berjalan di atas bara.