
Acara tahlilan berjalan dengan lancar, banyak yang menghadiri mulai dari tetangga hingga rekan bisnis papi Dio, papa Abra, papi Arga, Daddy Arka hingga teman para cucu mereka.
Mereka semua turut hadir malam ini walau siang tidak semua yang hadir mungkin karena kerja.
Mereka semua turut merasakan duka mendalam atas kepergian papi Dio.
Papi Dio terkenal sebagai sosok yang ramah dan dermawan hingga atas kepergiannya ini banyak yang merasa begitu kehilangan.
Bahkan hampir tengah malam pun masih banyak para tamu berada di sana mereka berkumpul untuk memberikan doa karena ini kesempatan terakhir mereka memberikan penghargaan terakhir.
Hingga jam dua belas malam baru rumah itu sepi dari para tamu yang datang untuk menghadiri tahlilan.
Jika orang baik maka yang datang akan banyak untuk mengirimkan doa untuknya dan juga akan banyak kenangan yang ditinggalkan semasa saat orang itu hidup.
Dua bulan kemudian.
Riska sudah di boyong oleh Rasya untuk tinggal bersama.
Bukan di kediaman Arka lagi tapi laki-laki itu mengajak Riska tinggal di toko yang dekat sekolah.
Walau bukan semewah rumah orang tua Riska namun kenyamanan sangat di acungi jempol.
Saat itu.
"Dad aku mau minta izin untuk mengajak Riris tinggal bersama,"
Walau status sudah menjadi suami Riska, namun Rasya masih agak sungkan untuk mengajak Riska pergi padahal dia suami Riska sendiri.
Tapi karena Riska masih sekolah jadi minta izin itu bukan hal yang aneh.
"Tugas Daddy sebagai orang tua sudah berpindah pada kamu, Daddy hanya berpesan perlakukan Riris dengan baik dan jika suatu hari sudah tidak ada kecocokan di antara kalian maka kembalikan Riris secara baik-baik jangan pernah sakiti baik fisik atau batin,"
Arka tidak bisa berpesan terlalu banyak karena mendiang papinya sudah banyak berpesan juga bukan hanya kepada Rasya tapi ke semua cucu menantunya, itu sudah lebih dari cukup.
Sebagai orang tua Arka hanya ingin yang terbaik untuk anaknya dan kebahagiaan anaknya saat menjalani biduk rumah tangga.
Orang tua tidak pernah menuntut apa pun asal anak mereka bahagia itu sudah cukup.
"Makasih dad,"
Rasya tau bagaimana watak Arka yang tidak suka orang banyak janji tapi bukti zonk.
Sejak lama mengenal Arka saat masih bersahabat dengan Raka hingga naik pangkat menjadi menantu maka tau seperti apa ucapan yang di sukai Arka.
__ADS_1
Dua hari setelah minta izin Rasya langsung membawa Riska menuju ke rumah orang tuanya terlebih dahulu dan menginap beberapa hari di sana.
Saat menginap di rumah orang tua Rasya.
"Kok cuman beberapa hari aja kalian nginapnya? Kenapa tidak sampai mantu ibu selesai sekolah,"
Orang tua Rasya senang atas kehadirannya Riska di rumah itu dan ingin menantunya tinggal lebih lama lagi di sana namun Rasya tetap teguh pendirian bahwa mereka akan hidup mandiri dan sesekali akan berkunjung atau menginap.
"Riris akan sering-sering berkunjung Bu dan jika Abang nggak mau diajak datang maka Riris akan datang sendiri,"
Gadis itu sebenarnya tidak tega namun sekarang ucapan suaminya lah yang harus dituruti dan suaminya ingin mereka hidup mandiri tanpa ada keluarga di sisinya bukan tidak ingin namun mereka hanya ingin menjalani hidup rumah tangga seperti pasangan lainnya.
"Janji ya sering-sering datang ke sini atau datang ke toko karena siang ibu udah di toko,"
Ibu Rasya senang atas tanggapan baik dari menantunya, tentu saja dia akan menanti kedatangan menantunya lagi atau jika dia sedang senggang maka dia yang akan datang berkunjung.
Setelah acara perpamitan serta menghindar beberapa hari Rasya akhirnya diizinkan untuk memilih hidup mandiri berdua saja dengan istrinya.
Akan lebih hemat waktu jika mereka tinggal di toko walau tidak senyaman tinggal di rumah karena ruangan yang terbatas namun jika masalah waktu tentu saja hemat waktu karena jarak toko ke sekolah apa kampus bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Di sini mereka sekarang.
"Nggak terasa udah mau jalan bulan ketiga pernikahan kita ya sayang,"
Tapi bukan seperti kamar sepenuh karena ruangan yang di jadikan kamar itu hanya di batasi menggunakan kayu lalu di hiasi hingga kesan kayu itu tidak terlihat lagi.
Tau kan ruko bagaimana bentuknya,, Yap hanya ruangan kosong tanpa sekat.
"Riris bahagia nggak nikah sama abang? Apa lagi saat masih sekolah,"
Memang sekarang Riska sudah tamat sekolah dan menunggu acara kelulusan saja.
Riska juga kuliah di tempat yang sama dengan Rasya.
Tentu saja biaya semua dari Rasya sebagai suami walau Arka sudah pernah menawarkan diri untuk biaya kuliah Riska dia yang tanggung namun Rasya menolak karena sekarang Riska merupakan tanggung jawab dia.
"Riris sangat bahagia bang, Abang jangan pernah berfikir bahwa abang nggak bisa membahagiakan Riris karena keadaan abang yang sekarang apa lagi sampai berfikir bahwa Riris bahagia jika ada kemewahan saja,"
Riska tidak mau jika Rasya merasa masih belum mampu membahagiakan dirinya padahal gadis itu merasa sudah.
Karena kebahagiaan bukan di ukur dari kemewahan saja tapi salah satunya adalah kenyamanan serta perhatian.
Hidup sederhana seperti sekarang sudah bisa membuat gadis itu bahagia apa lagi berasal dari orang yang di cintai.
__ADS_1
Bahagia versi gadis itu sangat sederhana.
"Maaf jika abang sempat berfikir demikian,"
Sambil mengelus rambut istrinya itu.
Tapi sungguh Rasya tidak ada niat seperti itu, dia hanya takut saat sudah berusaha namun usaha belum bisa membuat istrinya bahagia.
Jadi dia hanya ingin memastikan.
"Nggak apa, Riris ngerti kok bang,"
Riska tidak aku suaminya ini berfikir terlalu keras untuk membahagiakan dia.
Padahal kenyataannya gadis itu bahagia selama Rasya berada di sisinya.
Sangat sederhana bukan.
Sejak sebulan yang lalu pindah kesana, baru gadis itu berani membuka hijab di depan suami setelah beberapa kali meyakinkan diri bahwa dia membuka aurat bukan di depan orang lain.
Bukan hal yang mudah tapi dia bisa melakukan, walau kewajiban seorang istri belum pernah di kerjakan di atas ranjang.
Baik dia atau Rasya tidak pernah menyinggung sampai kesana.
Rasya juga faham jika istrinya belum siap untuk menjalani kewajiban yang satu itu.
Namun laki-laki itu masih bisa sabar menunggu.
Mereka menikah mendadak jadi butuh waktu untuk menyesuaikan semua agar terbiasa.
"Riris bagusnya ambil jurusan apa ya bang?"
Gadis itu memiliki dua pilihan dalam mengambil jurusan kuliah dan itu dia minati keduanya.
Jadi mau meminta pendapat suaminya dulu.
Antara memasak sama fashion.
Tidak salah sejak dulu Riska suka memasak karena sekarang sangat berguna bahkan bisa memanjakan perut suaminya dengan makanan enak dan tidak perlu beli di luar.
Jika fashion karena jika ada kesempatan maka gadis itu akan berburu barang terbaru bersama mommy atau sepupu yang jelas harganya bisa membuat kantong menjerit, karena mahal.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung 😘