BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 104


__ADS_3

Via yang juga ingin merasakan seperti sahabatnya Farah mempunyai suami dan ada orang yang menemani saat malam tiba bukan guling menemani yang tidak bisa apa-apa.


Pasti dia juga menginginkan kehidupan berumah tangga dengan orang yang di cintai tapi yang jadi masalah adalah siapa yang mau di ajak berumah tangga kalau pacar saja tidak punya.


Masa iya menculik pacar orang terus di paksa nikah, ini dunia nyata segala tindakan ada konsekuensinya.


"Ah nasib jomblo,"


Keluh Via sekarang mereka masih berada di dalam ruangannya, tinggal mereka berdua semua temannya sudah pulang karena jam kantor sudah lewat setengah jam lalu.


Kenapa mereka berdua masih di sana karena menunggu kerjaan Farah yang belum selesai dan Via sebagai sahabat tidak mau meninggalkan begitu saja jadi alhasil masih disini mereka berada.


memang kedua sahabat itu sekarang bekerja di kantor yang sama atas permintaan Farah dan sebagai Raka hanya bisa menuruti selama itu bisa membuat istrinya bahagia.


"Bukan nasib jomblo Ya tapi nasib lo sendiri, jangan ajak jomblo karena nggak semua jomblo semenyedihkan elo,"


Tersenyum melihat wajah manyun sahabatnya ini, kenapa harus mengeluhkan sesuatu yang sebenernya belum saatnya datang, jodoh rezeki sudah ada yang mengatur jadi jangan berharap sekarang sedangkan giliran kita nanti.


Mengusap bahu sahabatnya itu, tau apa yang di rasakan Via namun Farah harus bagaimana membantu jika masalah jodoh tidak bisa di paksa.


"Emang suami tampan lo nggak ada kenalan gitu?"


Siapa taunya Raka punya teman yang masih sendiri dan lagi mencari pasangan, bolehlah jodohkan dengan Via.


"Nggak ada niat nyari yang lebih muda gitu?"


Kenapa sekarang minat juga dengan yang lebih muda dan tidak semua yang mudah sudah sesukses Raka dan punya kerjaan semapan itu.


"Maksud lo apa,? Maksud gue kenalan Raka yang lain juga boleh kok seperti kolega bisnisnya atau siapa gitu. Secara dia bos besar pasti pergaulan dia luas dan kenal berbagai orang dari semua kalangan tolong lah kasih solusi buat sahabat lo ini,"


Menjelaskan lebih detail lagi sebelum Farah berfikir terlalu jauh. Ya dia nikah dengan suami tampan nya dan pasti teman Raka orang yang seumuran juga.


Dia pasti lupa kalau suaminya bos besar dan punya banyak kenalan atau karena ini masih baru jadi belum terbiasa.


"Nanti deh gue coba tanya, atau lo sama pak Dean aja orang kepercayaan hubby,"


Mengusulkan Dean yang mereka tau masih sendiri juga dan masih muda dari usianya.


Secara fisik ok, wajah tidak kalah tampan dari Raka walau masih di bawahnya, kerjaan sudah menjanjikan, masa depan terjamin siap di ajak berumah tangga tapi apakah dia mau? Yang jadi masalah.


"Nggak mau gue Fa, bos macam dia menemani hidup gue bisa-bisa ngajak perempuan satu kantor selingkuh lagi, nggak makasih biar gue nunggu jodoh gue yang masih selingkuh dengan orang lain,"


Tolak Via, lebih baik dia memperpanjang masa jomblo dari pada cepat menerima dan menderita seumur hidup dengan orang salah.


Via bergidik ngeri membayangkan hari-hari suram bersama Dean di tambah harus siap tekanan batin.


"Mungkin kemarin dia khilaf ngomong gitu Ya, coba aja dulu kemana lagi coba mencari calon suami seperfec dia ya walau suami gue segalanya,"


Memuji Raka di ujung kata yang sukses membuat Via mencebik, kenapa tiba-tiba memuji suami tampan nya itu, kesal Via.


Jika menikung merupakan perbuatan terpuji maka dengan senang hati Vyia lakukan dan merebut suami sahabat sendiri.


Kenapa kegiatan yang di suka kadang di larang, apa tidak boleh menyukai milik orang juga, yang jelas jawabannya tidak boleh karena kita di ciptakan berpasangan bukan menikung pasangan teman.


"Coba aja ada aturan yang membolehkan punya suami sama dengan sahabat,"


Khayal Via yang mendapat tabokan dari Farah yang geram mendengar hal yang tidak mungkin itu.


"Guenya yang nggak mau Ya, jangan kan di bolehkan di halalkan sekalipun gue nggak ridho,"


Mana ada peraturan seperti itu, sedekat atau seakrab apapun kita dengan seseorang tidak ada yang namanya berbagi pasangan.


Kan manusia di ciptakan berpasangan walau poligami boleh tapi tidak semua perempuan mau di madu apalagi sama sahabat sendiri.


Itu saking akrab atau saking bodoh? Beda tipis.


"Makanya carikan gue calon juga, nggak ada syarat apa-apa yang penting kayak Raka,"


"Ngelunjak itu namanya tau, nggak ada syarat tapi udah punya kriteria selangit, mimpi aja sana Ya. Kesal punya sahabat kayak kamu lama-lama,"


Membereskan meja kerja dan menyusun barang pribadi ke dalam tas, kerjaan sudah selesai sebenarnya bisa di bawa pulang tapi tidak mau Farah lakukan sebab akan mengganggu waktu bersama Raka nanti.


Dia juga sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan membawa kerjaan ke rumah dan mengurangi waktu bersama.


Lebih baik pulang telat sedikit dari pada dirumah kerja lagi.


"Udah jangan bahas lagi itu, kenapa lo nggak kerjakan di rumah atau besok aja kan istri bos bebas,"


Memperhatikan sahabatnya yang masih membersihkan meja sebelum di tinggal.


Mengambil tas juga sebab Farah sudah berdiri dengan menenteng tas juga.


Berjalan keluar ruangan itu menuju lift.


"Walau suami gue bos disini tapi posisi gue sebagai karyawan Ya nggak bisa seenaknya,"


Menjelaskan sedikit agar Via mengerti dan tau dimana harus menempatkan diri serta tau cara berprilaku.


Memang kantor milik suaminya tapi orang belum banyak yang tau dia istri pemilik perusahaan dan tidak mau bertindak semaunya hanya karena suami yang berkuasa.


Bukan, Farah tidak pernah di ajarkan untuk lupa diri atas apa yang dimiliki.


Farah sudah di ajarkan sejak kecil untuk bisa meletakkan diri sesuai porsi.


"Sore pak,"


Sapa ramah Via saat melihat kedua atasannya berjalan menuju lift juga.


"Sore,"


Balas keduanya kompak lalu berdiri tepat di depan kedua wanita itu.


"Kenapa baru pulang?"


Tanya Raka saat melihat Farah masih ada di kantor di saat sudah sepi dan hanya mereka berdua.


"Tadi masih ada kerjaan by,"


Berani Farah memanggil dengan nama kesayangan sebab cuma hanya ada mereka berempat dan sudah bisa di pastikan kalau Dean sudah tau status mereka berdua fikir Farah.

__ADS_1


"HM lain kali jangan seperti ini lagi. Dean lo antar sahabat istri gue pulang. Ayo pulang yang,"


Mengambil alih tas Farah lalu di pegang dengan tangan kiri dan tangan kanan merangkul pinggang ramping itu.


Meninggalkan mereka berdua yang masih mematung di tempat melihat kepergian dua suami istri itu yang bahkan belum sempat menjawab sudah di tinggalkan.


Benar-benar sahabat durhakim.


"Mereka berdua gimana by?"


Tanya Farah saat pintu lift sudah tertutup dan hanya ada mereka berdua di dalamnya, apa salahnya di ajak menggunakan lift yang sama kan kau turun juga. Inilah definisi bos seenaknya.


"Nggak apa, Dean udah jinak jadi aman kok. Lain kali jangan lembur lagi abang nggak suka. Kamu hanya boleh lembur bersama abang aja,"


Mencubit hidung yang tidak terlalu mancung itu dan melabuhkan kecupan di jidat Farah. Benar kalau bukan melakukan itu seperti ada yang kurang ibarat selepas makan tidak minum yang cukup, ada seret-seret gimana gitu.


"Itu mah maunya hubby aja,"


Menyembunyikan wajah merona itu di dada bidang dan menikmati debaran jantung yang selalu berdebar saat dekat Farah..


"Emang kamu nggak mau?"


Lebih merapatkan lagi badan mereka berdua hingga benar-benar tidak ada cela.


Tiada hari tanpa bermesraan jika ada kesempatan, wajar sudah halal.


"Nggak nolak kok,"


Kekeh Farah di balik dada itu.


"Udah mulai nakal ya,"


Meremas pelan pinggang itu lalu menaikkan tangan ke atas sedikit hingga sampai di bawah gundukan empuk itu.


"Kan kamu yang ngajarin by,"


Bukan pada dada Raka lagi kepala Farah tapi sudah sampai ketek Raka. Bukan rahasia lagi selain dada juga ketek tempat ternyaman Farah.


Mereka tidak perlu takut bakal ada yang melihat, selain suasana kantor yang sudah sepi juga lift ini langsung mengantarkan mereka ke parkiran khusus.


"Abang nanti kenakalan kamu nanti malam. Kita makan malam di luar aja ya,"


Ajak Raka sesekali ingin menikmati waktu bersama dengan santai.


Ini sudah sebulan terhitung sejak pertama kali Raka masuk kantor jadi Farah sudah mulai terbiasa pulang bersama atau bermesraan kalau sedang sepi


Balik lagi ke lantai atas, dimana dua orang itu masih berdiri mematung.


Via yang lebih duluan sadar segera masuk lift dan memencet tombol lobi.


"Kenapa kamu ninggalin saya?"


Menyusul Via masuk lift, alhasil mereka berdua saja.


"Maaf pak tapi bapak nggak usah ngantar saya bisa pulang sendiri,"


'Suami lo keterlaluan Fa enak aja ninggalin gue ama ni orang nggak jelas, kalau tau suaminya belum balik mending gue balik duluan tadi. Kan sial gue kalau bertemu dia orang' Via malas berhadapan dengan Dean jika bukan masalah kerjaan di luar itu sebaiknya mereka tidak usah bertemu.


"Kamu nggak dengar apa kata bos tadi,"


Menggunakan kata Raka tadi supaya bisa lebih dekat lagi dengan Via, entah mengapa ada magnet yang membuat Dean ingin dekat sama Via. Dia juga tidak tau kenapa?.


"Ini bukan jam kantor pak jadi bapak nggak perlu repot-repot ngantar saya,"


Tolak Via lagi, saat berdekatan dengan Dean ucapan Farah terngiang di telinga Via seolah menjadi alarm kalau Dean orang yang harus di jauhi.


Seperti alam bawah sadar Via sudah tau apa yang harus di lakukan dan berusaha menjaga jarak aman.


"Tapi kalau saya mau bagaimana?"


Desak Dean, dia melakukan ini bukan karena ucapan Raka tanpa di suruh akan tetap di lakukan karena dia harus memastikan sesuatu dulu agar yakin.


"Saya nya nggak mau pak, permisi,"


Pergi ke luar saat pintu lift terbuka di ikuti Dean yang mana mobilnya sudah terparkir di depan lobi.


Tadi sebelum turun sudah memberi tau security untuk mengambil mobil di parkiran agar tidak bolak-balik.


"Tapi saya maksa,"


Desak Dean berusaha memegang tangan Via namun di tepis kasar oleh yang punya tangan.


Dia tidak suka di pegang sembarangan orang apalagi orang yang harus di jauhi.


"Yang sopan pak ya, walau bapak atasan saya tapi saya nggak takut dan juga ini di luar jam kantor,"


Sinis Via mengambil hp dalam tas untuk memesan taksi online.


Mengotak atik benda pipih itu, membuka aplikasi namun belum sempat memencet tombol pesan hpnya sudah berpindah tangan.


"Balikin nggak?"


Menjulurkan tangan ke arah Dean si pelaku pengambilan hp Via. Dean ikut kesal dengan tingkat keras kepala Via yang sulit di taklukkan dalam hati dia berfikir ada ya cewek sekeras ini?.


"Udah saya antar aja, nggak baik anak gadis pulang sendirian udah mau malam juga,"


Sebentar lagi juga magrib dan mereka masih di kantor.


"Saya udah biasa pak dan nggak usah sok perhatian. Kembalikan hp saya"


Via bukan gadis lemah dan penakut jika pulang telat dan juga bukan ini pertama kali pulang kerja telat.


Lagian ini belum masuk kategori malam sekali, masih menjelang magrib dan masih orang berlalu lalang di jalan.


Jadi stop jangan berlebihan.


Jangan anggap Via cewek lemah dan penakut saat bilang sudah mau malam.


"Udah ayo, jangan bawel,"

__ADS_1


Menarik Via memasuki mobil dan menduduki di kursi samping kemudi dan memasang setbelt.


Dean sedikit berlari memutari mobil agar Via tidak turun sebelum dia masuk.


"Jangan bandel,"


Memegang tangan Via yang mau membuka pintu ingin keluar.


Ada ya cewek yang tidak aku di antar pulang dan ingin sendiri, apa dia lupa cewek itu butuh lelaki dalam hidupnya begitu juga sebaliknya. Saling membutuhkan dan melengkapi.


Melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan melihat Via membuang muka ke luar jendela melihat keramaian jalan.


'Manis' melihat aksi merajuk itu ada ketertarikan tersendiri di mata Dean.


Apa mungkin dia sudah suka dengan orang yang lebih tua dari dirinya? Dan mengikuti jejak sahabatnya juga.


Tapi semua itu tidak ada yang salah selagi mereka masih sama-sama sendiri dan ada keinginan bersama jadi tidak ada yang salah dengan usia.


Terjadi keheningan dalam mobil itu, Dean yang tidak bertanya di mana alamat Via dan Via pun tidak memberi tau mungkin karena kesal jadi lupa.


'Jika aja dia bisa lebih manis seperti cewek kebanyakan mungkin gue akan lebih cepat jatuh cinta sama dia, kalau begini jangan kan buat dia jatuh cinta tugas pertama adalah menaklukkan sifat kerasnya' Bergelut dengan fikiran sendiri.


Sudah dapat Dean pastikan dia mulai suka dengan Via di tambah sifat yang sangat menantang untuk di taklukkan itu.


Mendapatkan tantangan sebelum mendapatkan sesuatu pasti ada kebanggaan tersendiri saat kita sudah memiliki.


'Dasat atasan nyebelin, nggak tau sadar apa gue udah nolak juga. Walau mobilnya nyaman tapi pemilik nya membuat gue nggak nyaman, andai pemiliknya baik pasti gue nggak bakal nolak' berperang dalam batin masing-masing dengan pemikiran berbeda.


'Andai dia mempunyai sifat manis seperti Farah pasti langsung gue lamar nggak pake mikir' membayangkan sifat kedua sahabat itu sama maka Dean tidak perlu memakai cara paksa agar dekat.


"Ayo shalat dulu,"


Saat mendengar adzan magrib Dean memberhentikan mobil di sebuah masjid yang terdapat di pinggir jalan.


Dean keluar duluan di ikuti Via, walau kesal tapi tidak bisa melupakan kewajiban sebagai muslim.


Baik Via atau Dean menuju tempat wudhu yang terpisah dan melaksanakan shalat magrib berjamaah dengan yang lainnya.


Selesai shalat Via kembali pada mobil Dean.


"Kok nggak kabur padahal ada kesempatan?"


Tanya Dean saat melihat Via sudah berdiri dekat mobilnya.


"Kalau hp saya udah di kembalikan mungkin saya juga ogah nungguin,"


Ucapan Via tidak ada sopan-sopannya lagi sebab sudah terlalu kesal sejak tadi.


Jika hp sudah di tangan mungkin Via memilih pulang sendiri dari pada bertemu Dean lagi.


"Ogah-ogahan nanti suka,"


Ledek Dean yang mendapat tatapan sinis dari Via.


"Udah siniin hp saya biar bisa pulang,"


Menyodorkan tangan lagi meminta hp.


"Biar saya antar pulang, ayo,"


Membukakan pintu mobil untuk Via tidak seperti tadi yang harus di paksa, sekarang Via menurut asal hpnya kembali.


Dean ikut masuk dan mengendarai kotak besi itu.


"Kenapa bapak mau repot-repot ngantar saya?"


Heran Via, daripada menyimpan pertanyaan dalam hati lebih baik menanyakan langsung agar tidak penasaran.


"Kalau saya bilang saya suka kamu gimana?"


Jujur Dean yang tertarik dengan Via, suka bukan berati cinta namun tidak tau nanti jika mereka sering bersama bisa saja cinta tumbuh di antara mereka.


"Nggak apa, saya bakal kaget kalau ada orang yang nggak suka saya,"


Dari pada beradu urat mendingan mengajak Dean bicara padahal dalam Via bagaimana hpnya kembali.


"Kok kamu malah narsis?"


Dean yang biasa bicara santai di luar kantor jadi tidak perlu menggunakan bahasa formal.


Tersenyum dalam hati sebab Via tidak segalak tadi, mungkin sudah mulai jinak.


Atau jinak-jinak merpati.


"Orang yang udah punya suami masih ada yang suka apalagi saya yang jomblo pak, jadi wajar kalau ada yang suka,"


Secara tidak langsung Via sudah mengasih tau status jomblo dia pada bapak jomblo satu ini.


Tidak tau maksud bapak jomblo ini makanya santai saat bahas status.


"Itu yang saya suka dari kamu,"


Jujur Dean sikap Via apa adanya dan tidak di buat-buat.


"Nggak nanya,"


Via mengalihkan pandangan keluar jendela.


"Kalau saya mendekati kamu bagaimana?"


Putus Dean yang akan mengejar cinta Via dengan segudang perjuangan karena sikap keras itu.


Sudah bisa di pastikan kalau perjalanan Dean masih panjang dan butuh kesabaran.


Via mengalihkan pandangan pada Dean dan melihat dengan intens. Apakah ada yang salah dengan ini orang atau kepalanya kepleset saat ambil wudhu?.


Menyerngit heran dengan ucapan Dean dan berharap dia salah dengar saja.


Apa mereka sudah sedekat itu hingga Dean memutuskan untuk mengejar Via saat mereka suka berdebat dan Via ingin menjauh? apa hubungan seperti ini yang bakal di mulai dan apakah akan bisa menyatu saat yang satu mendekati dan satunya lagi menjauh.

__ADS_1


__ADS_2