BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Bab 7


__ADS_3

Happy Reading.


Devan tersenyum ketika melihat sosok wanita yang masuk kedalam ruangan nya itu berjalan anggun dengan suara hentakan hils-nya yang terdengar jelas.


Wajahnya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya, wanita itu memperlihatkan dua paper bag yang dia bawa, seakan memberitahu pada Devan bahwa dia membawakan makan siang untuknya.


Ya, siapa lagi kalau bukan wanita masa lalunya dan juga cinta pertamanya Cintami Aurora. Cintami masih sama seperti dulu senyumnya yang menawan dan juga sangat cantik.


Devan seakan merasa kembali ke masa 10 tahun lalu di mana dia dan Cintami saling pergi bersama berdua, menghabiskan waktu sore hari dengan berjalan-jalan. Perasaan sayang itu kembali membuncah ketika wanita cantik ini melebarkan senyumnya.


Devan menyambut kedatangan wanita itu dengan pelukan hangat, rasanya sudah jauh berbeda setelah 10 tahun karena tentu saja banyak perubahan pada diri Cintami dan juga dirinya.


"Aku membawakan bekal makan siang untukmu, sengaja aku membawa dua karena aku juga ingin makan siang di sini, bolehkan?" tanya Cintami mendudukkan dirinya di sofa.


Devan ikut duduk di samping wanita itu, kemudian Devan membuka paper bag yang dibawa oleh Cintami, "tentu saja boleh dong, sekali-kali kita makan di ruanganku," jawab Devan tanpa memperdulikan seorang wanita yang kini tengah menunggunya di luar.


Entah apa yang ada di pikiran Devan, ketika dia bersama Cintami seakan dia masih seperti dulu yang sering makan berdua seperti ini, bahkan dia tidak ingat kalau sudah memiliki kekasih yang sudah ia lamar yaitu Nafisa.


Cintami membuka tutup Tupperware untuk Devan, wanita itu menyodorkan kotak makanan yang telah ia tata rapi itu.


"ini aku sendiri loh, yang masak," ujar Cintami tersenyum.


"Yakin ini masakan kamu? sejak kapan kamu bisa masak?" Devan terkekeh antara percaya atau tidak.


"Ck, kamu nggak percaya ya sama aku!! selama 10 tahun ini aku berkarir di luar negeri tentunya aku sangat mandiri dong," Cintami mengerucutkan bibirnya.


"Memasak sekarang adalah keahlianku jadi jangan remehin masakanku, ya? awas aja kalau nanti kamu ketagihan," lanjut nya.


Devan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku gadis itu yang masih sama seperti dulu, selalu membuatnya gemas.


Akhirnya keduanya makan dengan saling bercanda, mengingat masa-masa dulu saat mereka masih bersama.

__ADS_1


"Devan, apa kita gak bisa seperti dulu lagi? aku masih cinta sama kamu!"


Deg!!


Devan terkejut mendengar ucapan Cintami, apalagi wanita itu mengatakan jika dia masih mencintainya.


"Aku tahu kalau kamu tidak mencintai wanita itu 'kan, kamu hanya menjadikannya pengganti diriku, dan sekarang aku telah kembali, sebaiknya kamu segera memutuskan hubunganmu dengan sekretaris mu itu!"


Devan melebarkan kedua matanya bisa-bisanya dia melupakan Nafisa yang pasti saat ini tengah menunggunya.


'Sial, untung Cintami mengingatkan ku pada Nafisa, sekarang dia pasti sudah menungguku! ck, kenapa aku bisa sampai lupa sih!'


Devan tidak menjawab semua ucapan cintamu pria itu langsung beranjak dari duduknya untuk pergi ke luar menemui Nafisa.


"Devan! Kamu mau ke mana? ini makanannya belum habis!" seru Cintami sudah berdiri.


"Aku akan menemui Nafisa, tadi lupa kalau kita akan makan siang bersama, sebaiknya aku ajak dia makan siang di sini!" Cintami mengepalkan kedua tangannya ketika Devan ingin mengajak Nafisa makan bersama.


Devan menghentikan gerakannya saat akan membuka handle pintu, kemudian pria itu menoleh ke belakang.


"Apa benar yang kamu bilang?" Cintami mengangguk.


"Iya, tadi katanya dia mau makan siang di kantin bersama teman-temannya," jawab Cintami.


Sungguh wanita itu benar-benar sangat licik dan pintar berbohong, Devan percaya dengan ucapan Cintami meskipun dia merasa ada yang aneh dengan Nafisa.


'Kenapa dia membiarkan Cintami masuk, bahkan menyuruh nya makan siang bersamaku? kenapa aku tidak suka dengan sikap Nafisa yang seperti ini!'


Cintami menyentuh lengan Devan dan mengajak pria itu untuk duduk kembali, seakan tahu apa yang dipikirkan oleh pria itu, "sudahlah tidak usah dipikirkan, lagian sekretaris mu juga sudah makan siang bersama teman-temannya, mungkin dia tidak enak menolak ajakan temannya yang ingin makan siang bersama dia," ucap Cintami.


Devan mengangguk, akhirnya pria itu kembali duduk di sofa dengan perasaan yang tidak menentu, Devan hanya bisa menghela nafas, memikirkan bagaimana keadaan Nafisa ketika dia bersama dengan Cintami, bukankah Devan sudah berjanji pada Nafisa akan menjaga jarak dengan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


'Semoga dia bisa mengerti!' batin Devan.


***


Nafisa meremas tangannya yang berada di atas meja, menghalau rasa gugup dan juga gelisah yang sejak tadi ia rasakan, jantung nya bergemuruh kencang, bahkan tangannya saat ini terasa begitu dingin karena keringat yang muncul saat dirinya gelisah seperti ini.


Perasaannya menjadi sangat kacau ketika kembali mengingat apa yang diucapkan oleh Cintami kemarin malam, membuatnya semakin ragu akan perasaan nya untuk Devan.


Ragu bukan karena dia yang tidak mencintai pria itu, tetapi Nafisa meragukan perasaan Devan untuknya.


Apakah Devan memang benar-benar tidak memiliki rasa cinta untuknya, apakah dia tidak tahu kalau kedatangan Cintami membuat dirinya begitu cemburu, dan sekali lagi rasa itu harus ia tekan dalam-dalam agar bisa mengontrol gejolak emosinya.


Kalau saja Nafisa tidak ingat saat ini dia sedang di kantor, mungkin wanita itu akan menerobos masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya ada kekasih nya, bersama mantan kekasih dari kekasihnya.


Sudah hampir satu jam mereka berdua sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari ruangan itu.


Sebenarnya apa yang mereka bicarakan, bahkan waktu jam makan siang sudah lewat beberapa menit yang lalu, seharusnya Devan sudah keluar untuk makan siang bersama dirinya.


Apakah Cintami membawakan bekal makan siang untuk Devan, mengingat tadi Nafisa bisa melihat Cintami membawa dua paper bag di tangannya.


'Devan kenapa kamu lakukan ini padaku, kamu menyakitiku Devan, apakah kamu tidak tahu apa yang kurasakan saat ini? kalau memang benar aku hanya Cinta Pengganti maka lepaskanlah aku.'


Nafisa merasa hatinya sangat sakit, sepertinya dia memang benar-benar hanya pengganti, buktinya ketika Cinta Pertama hadir pria itu bahkan selalu lupa dengannya.


Wanita itu memegang perutnya yang terasa sakit, dia sama sekali belum makan sejak pagi karena memang belum sempat sarapan, Nafisa hanya membuat susu untuk sarapan paginya dan segelas kopi saat di kantor.


Sepertinya dia harus pergi ke kantin sendiri untuk makan siang karena kekasihnya mungkin sudah bersenang-senang di dalam dengan wanita masa lalu yang juga adalah Cinta pertamanya.


'Apa aku sudah kalah!'


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2