
Dengan patuh bibi menelpon ke kamar Raka buat meminta Farah turun makan malam.
Setelah beberapa menit bibi datang dengan wajah yang sudah dapat di pastikan kalau Khira menolak untuk turun.
Hari ini Farah benar-benar menguji kesabaran Raka sekali.
Apa maunya Farah sekarang? Mau menguji sejauh mana kesabaran Raka atau mau mencoba magang jadi orang sakit dengan tidak mau makan.
Kalau magangnya lulus di rawat di rumah sakit.
Padahal tadi siang hanya masalah sepele tapi malah berbuntut panjang.
"Apa katanya bi?" Mau dengar dulu sebelum menyimpulkan sendiri.
Padahal sejak awal Raka sudah bisa menebak kalau istrinya itu bakal menolak melihat dari kejadian tadi siang.
Rasanya ada sensasi gemas saat Farah bersikap demikian.
Andai mereka menikah karena tidak mendadak mungkin momen seperti sekarang akan Raka gunakan untuk mencubit pipi istrinya itu dengan gemas.
"Kata nyonya dia nggak lapar den mau tidur aja," Raka menghela nafas pelan, benar mau melihat Raka marah sifatnya tidak sama dengan umurnya.
Sudah sedewasa itu soal makan harus di ingatkan.
Makan tuh bukan salah satu bentuk perhatian tapi kebutuhan jadi tanpa di suruh harus makan.
Jangan seperti anak kecil.
Jadi gemas sendiri Raka sama istrinya.
"Ya udah bi siap sepiring makanan lengkap biar aku yang bawa ke atas," Pinta Raka sambil makan sendiri, istrinya bukan Raka marah sama tingkahnya lebih mendekati gemas.
Dengan cepat Raka menyelesaikan makannya dan segera naik membawa makanan menuju kamar.
"Istri siapa sih itu?," Gumam Raka sepanjang jalan menuju kamar yang terletak dilantai dua rumah mewah itu.
Sampai depan pintu Raka menghela nafas pelan lalu membuka perlahan, masuk dan menutup kembali tidak lupa di kunci.
"Aku tau ayang belum tidur jadi bangun dan makan ini," Raka melihat Farah sudah berbaring di atas ranjang dengan menutupi badan setengah dengan selimut dan menutup mata dengan tenang seperti orang tidur beneran.
Meletakkan makanan atas meja yang sudah lengkap dengan minum serta buah.
"Jangan sampai akh bicara dua kali," Tegas Raka saat belum melihat gerakan Farah dari atas ranjang.
Keras kepala Farah kali ini patut di acungi jempol.
Perlahan Farah menggerakkan badan lalu duduk.
Takut saat mendengar suara tegas Raka kali ini.
Farah tidak bisa lebih lama lagi pura-pura tidur jika sudah mendengar nada suara Raka yang berbeda dari sebelumnya.
"By maaf," Sesal Farah dengan nada suara pilu.
Menyesal atas tindakan tadi siang.
Menyesal tidak jujur dan menganggap masalah ini hanya kecil dan tidak akan berdampak hingga sejauh ini.
Tadi baru Farah sadari bagaimana hubungan mereka akan terjalin baik kedepannya jika sudah dimulai dengan kebohongan walau kecil tapi kelamaan akan terbiasa dan akan berdampak jika tidak dirubah.
"Makan sana," Tidak menjawab ucapan Farah dan lebih memilih menyuruh makan.
Bagi Raka permohonan maaf tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi penyesalan dan berniat merubah diri dan berjanji pada diri sendiri tidak akan mengulangi tanpa harus diucapkan pada orang lain.
__ADS_1
Sebab janji tidak ada arti jika tidak diiringi dengan niat yang baik serta tulus.
Jangan hanya berjanji lalu besok atau hari selanjutnya akan diulangi lagi dan berjanji lagi.
"Maafin dulu by, aku tau aku salah nggak seharusnya nggak jujur tapi aku kira itu bukan masalah jadinya aku diam aja," Sesal Farah menunduk sambil bicara.
Dia tidak mau masalah yang di hadapi berlarut-larut dan berkepanjangan.
"Makan sana," Tidak terpengaruh sama ucapan Farah yang cukup menggoyangkan pertahanan Raka namun masih bisa di tahan.
"Maafin dulu makanya by baru aku makan," Kenapa malah ngancam balik,fikir Raka..
Selain keras kepala juga bandel minta ampun, di suruh makan malah nego kayak belanja di pasar.
Farah bergeser duduk di tepi ranjang dekat dengan sofa yang Raka duduki.
"Kamu maunya apa? Di baikin susah amat, di suruh makan malah nego.
Makan itu sebenarnya nggak perlu di suruh seperti anak kecil juga," Ketus Raka mau melihat seberapa usaha Farah minta maaf, ini dia yang mulai jadi harus berjuang mendapat maaf dari Raka.
"Mau cuma satu, maafin aku dulu," Farah bangun dari duduknya lalu pindah ke sebelah Raka.
Memandang wajah tampan suaminya itu dengan seksama.
Perasaan Farah deg-degan duduk dekat Raka dengan jarak dekat ini, namun Farah tahan demi mendapat maaf dari Raka dan masalah ini selesai.
Kegugupan yang Farah rasakan tidak sebanding dengan rasa ingin dapat maaf dari Raka maka biarlah Farah tahan rasa gelisah ini.
"Aku dapat apa kalau di maafin?" Memanfaatkan kesempatan yang ada agar bisa lebih dekat lagi.
Usaha Farah jangan berakhir dengan mudah dan tidak menimbulkan efek jera pada dirinya.
Jangan sekali minta maaf lalu dimaafkan maka selanjutnya dia tidak akan pernah takut untuk berbuat atau melakukan kesalahan.
Farah juga bingung juga sekarang Raka minta imbalan.
Jika dilihat Raka sudah memiliki semuanya dan sekarang minta imbalan jadi apa yang harus Farah beri asal dapat maaf.
"Terserah mau di kasih apa, yang penting berkesan dan bukan barang,"
Definisi terserah itu seperti apa di kepala Raka?, katanya terserah tapi sudah memiliki pilihan tidak mau barang jadi buat apa bilang terserah.
Kenapa ucapan Raka seperti perempuan yang di ajak jalan lalu ditanya mau kemana atau mau makan apa dan di jawab terserah sama perempuan.
Farah menimbang apa yang mau di kasih sama Raka? Barang tidak mau jadi apa lagi yang mau di kasih?.
Kenapa membingungkan sekali?.
"Cepat waktu berfikir cuma tinggal tiga puluh detik," Desak Raka yang sudah tidak sabar mau tau apa di dapat dari istrinya.
Raka benar-benar memanfaatkan situasi kalau begini, bisa-bisanya dia mencari keuntungan disaat istrinya lagi berfikir keras.
"Kok gitu, tadi nggak ada persyaratan kayak gitu by,?" Protes Farah kenapa pakai waktu sekarang, curang sekali.
Farah yang belum kepikiran apapun sudah didesak jadi makin buntu akal Farah jadinya.
"Tinggal lima belas detik," Melirik jam lalu melihat Farah yang nampak berfikir keras.
Fokus Raka pada wajah menggemaskan Farah yang sedang berfikir.
Benar, Raka benar ingin mencubit pipi istrinya lalu membawa kedalam pelukannya namun ditahan bukan sekarang saatnya.
Ah sial Raka harus menunggu berapa lama lagi hingga Farah bisa dia sentuh sesuka hati.
__ADS_1
Istri cantik seperti ini sayang untuk dianggurkan begitu saja.
"Lima, empat, tiga, du,"
Sampai di hitungan dua bibir Raka berhenti bicara akibat ada sebuah benda kenyal menempel di sana.
Raka mematung tidak percaya akan di kasih kiss on lips.
"Udah di maafin kan byy?" Lirih Farah dengan wajah memerah karena malu telah mencium Raka tepat di bibir laki-laki itu.
Malunya bukan main dan nggak bisa di ajak main main.
Mau mengurung diri rasanya.
"Padahal dari tadi udah di maafin," Jawaban Raka sukses mendapatkan plototan mata dari Farah.
"Jadi mau ngerjain aja gitu, ih jahat," Kesal Farah memukul bahu Raka pelan, tidak mau kuat-kuat takut sakit, sakitnya dia kemungkinan kalau nggak bahu Raka ya tangan Farah.
"Bukan ngerjain tapi mau liat seberapa usaha ayang aja, udah makan sana," Menyuruh Farah makan lalu Raka berdiri mau mandi sebab belum mandi dari tadi.
Raka tersenyum puas telah mengerjai istrinya dan dapat bonus lagi.
Keberuntungan hari ini, masalah membawa berkah.
Tidak ada gunanya perempuan itu buat masalah tapi tidak perlu menghujat tanpa bukti.
"Kan pintar kalau udah makan," Puji Raka saat keluar kamar mandi makanan sudah habis.
Raka keluar kamar mandi sudah menggunakan baju lengkap.
Dia membawa baju ganti ke dalam sudah jadi kebiasaan sejak dulu walau masih sendiri.
"Lapar by," Farah bersender pada dipan ranjang dengan menutup kaki hingga pinggang.
"Lapar atau kelaparan?" Ledek Raka yang tau kalau Farah tidak makan sejak siang.
Kan semua kegiatan Farah dalam rumah di pantau oleh Raka kecuali dalam kamar Raka tidak mau lihat sebab takut ada adegan yang belum bisa Raka lihat salah satunya siapa tau Farah lagi ganti baju.
"Dua-duanya by," Senang Farah karena sudah baikan sama Raka kalau tidak, tidak tau apakah masih bisa tidur malam itu atau tidak karena kefikiran masalah mereka yang belum kelar.
Raka mendekat duduk berjarak sama Farah..
"Lain kali jangan lakukan hal itu lagi, hubungan akan bertahan lama jika di dalamnya ada kepercayaan dan keterbukaan.
Cukup dua hal itu,"
Menasehati Farah yang masih suka berfikir pendek.
Dua hal itu memang sederhana namun sulit untuk melakukan.
Jadi tidak bisa di bilang sederhana lagi.
"Iya by maaf,"Ternyata suaminya ini bijaksana sekali, tidak membiarkan masalah berlarut larut.
Saat marah saja masih sempat mengasih perhatian.
Apa lagi mereka baru bersama dan Raka sudah secara perlahan menunjukkan perhatian seperti mengajak shalat, menutup aurat dan mengajak bertemu temannya.
Raka sama sekali tidak ada niat menutupi hubungan mereka hanya tidak ingin orang lain tau asal mula hubungan mereka terjalin.
So sweet tidak sih?.
Jika dia di perlakukan semanis ini setiap hari maka dapat dipastikan Farah yang akan lebih awal jatuh hati pada Raka dan akan terkurung dalam lautan kasih sayang yang Raka berikan setiap hari.
__ADS_1
Fikiran Farah sudah sejauh ini.