
Waktu berputar begitu cepat dan sekarang sudah magrib saja serta sebentar lagi keluarga mereka akan datang juga sahabat.
Cuma acara kecil hingga bisa menampung semua orang di meja makan di rumah Raka.
Meja makan itu seperti bongkar pasang jika orang banyak bisa di lebarkan dan di tambah jumlah kursi.
Segala hidangan sudah selesai dimasak tanpa campur tangan bumil karena sudah dapat ancaman berhenti masak.
Dari pada membantah dan sulit bertemu temannya lebih baik menurut.
"Istri siapa ini, cantik banget?" Mereka sudah selesai shalat magrib dan sudah bersiap juga dengan baju rapi menyambut keluarga yang sudah dalam perjalanan termasuk orang tua Farah yang paling jauh rumah nya dari yang lain.
Raka memang membeli rumah yang agak jauh dari kediaman para orang tua.
"Nggak tau istri orang kali nyasar kesini," Balas Farah membalikkan badan menghadap Raka yang berdiri di belakangnya.
Calon papa itu berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dengan perut rata itu..
"Baik-baik ya sayang jangan menyusahkan mama," Mereka sudah sepakat untuk nama panggilan jadi papa dan mama jika di depan anak.
Walau masih lama namun harus di biasakan mulai sekarang.
Mengecup perut tertutup gamis panjang itu dengan lembut dan melantunkan doa agar anaknya selalu sehat hingga lahir nanti.
"Iya papa," Balas bumil menirukan suara anak kecil, ah sungguh hari ini dia senang sekali mendapat kabar bahagia.
Untung cepat di cek kalau mungkin dia bisa saja melakukan pekerjaan yang terbilang berat untuk wanita hamil dan membahayakan anaknya yang belum di ketahui kehadirannya.
"Kok suaranya seperti ngajak ke ranjang," Berdiri lalu mengajak keluar kamar menuntun turun ke lantai satu.
Tidak lama terdengar suara mobil memasuki area halaman rumah, segera mereka keluar untuk menyambut tamu spesial malam ini.
"Assalamu'alaikum," Salam keluarga Raka datang lebih dulu mungkin karena dekat cuma tetangga lima RT bukan lima langkah ya.
"Wa'alaikumsalam," Balas pasangan yang lagi bahagia itu lalu menyalami satu persatu.
"Mami tadi siang mau kesini tapi nggak jadi karena di ajak papi ketemu temannya,"
Memeluk menantu nya dengan sayang, mami Khira memperlakukan menantu sama saja seperti anak tidak di bedakan sama sekali.
"Mami apa kabar?" Membalas pelukan itu tidak kalah senang karena begitu di sayangi.
Tidak lama orang tua Farah datang di ikuti dengan mobil Dean di belakang.
Mereka saling berpelukan ala-ala dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Mereka semua duduk di sofa ruangan keluarga yang bisa menampung mereka semua tidak lama bibik datang membawa minuman serta cemilan ringan sebelum makan.
"Jadi kenapa mengundang kami mendadak begini Rak? Nggak mungkin cuma makan malam biasakan?" Tanya papi Arka setelah menyesap minuman yang tersedia.
"Iya papa juga penasaran, ini sangat mendadak sampai kami berfikir negatif," Tambah papa Rio yang merasa undangan dadakan ini mengejutkan mereka semua.
Waktu sangat dekat dengan makan malam jadi wajar mereka kaget mendengar tidak menolak kemungkinan mereka berfikir jelek.
"Kalian nggak lagi bertengkar kan?" Bang Arga kakak sepupu juga ikut bicara hingga semua pandangan mengarah pada dirinya.
"Bisa nggak bang itu kepala berfikir positif dikit?," Sinis Raka pada Abang kedua ini, bicara tanpa fikir panjang.
Mana ada orang berantem mengajak orang lain, emang mau jadi wasit.
"Tau lo bang, siapa tau Raka mau nikah lagi makanya ngumpulin kita semua bisa saja calonnya udah mendesak," Tambah bang Arga yang tak kalah nyeleneh, jika bukan menjaga image depan mertua ingin rasanya Raka menghajar kedua abang yang kurang akhlak itu.
Bisa-bisanya punya pemikiran dangkal begini, apa dia fikir Raka akan menambah istri apa? Di saat mempunyai istri Sholehah begini.
Lagian dia bisa menjaga sikap depan mertua Raka sendiri.
"Begini sengaja aku mengumpulkan kita semua karena ingin memberi tau kabar bahagia bahwa papi mami serta papa dan mama akan segera memiliki cucu," Tidak perlu menanggapi ucapan tidak penting itu lebih baik menyampaikan kabar bahagia pada kedua orang tuanya.
Semua orang yang mendengar tersenyum bahagia saat tau akan ada tangis bayi di antara mereka nanti menunggu beberapa bulan ke depan.
"Selamat sayang mami senang," Memeluk menantu cantiknya.
Diikuti dengan yang lain kakak ipar juga sahabatnya.
"Selamat Ra, akhirnya gue jadi aunty juga," Senang sahabat nya akan segera memiliki momongan dan akan bertambah kebahagiaan.
"Makasih Via," Membalas sahabat nya itu.
Untuk Dean dia memeluk Raka turut bahagia apa yang sedang dirasakan Raka.
Sebagai sahabat dia merasa iri kapan akan bisa seperti ini juga di saat pujaan hati baru memberi lampu hijau untuk mendekat.
"Wah ternyata lo hebat juga ya Ka langsung jadi gitu,"
"Selamat Ka,"
Memeluk adik kecilnya yang sudah bisa membuat adik kecil juga.
Merasa bangga bahwa rumah tangga adiknya berjalan harmonis belum pernah terdengar mereka ribut walau hanya masalah kecil setelah hari itu.
Memang didikan orang tuanya tidak pernah salah saat mereka kecil hingga sekarang.
__ADS_1
"Abang bangga ternyata dia masih bisa bangun dan membuahkan hasil, selamat Ka," Tidak ada yang benar ucapan awal Abang Raka satupun.
Jika tidak dosa ingin sekali menjitak kepala yang lebih tua darinya itu.
Yang benar saja dia tidak bisa membuat istrinya hamil kecuali ada campur tangan sang pencipta, baru tidak bisa.
"Ya sudah sekarang kita makan saja," Ajak papi Arka karena sudah merasa lapar dan jiga mencium aroma masakan yang menggugah selera bagi yang mencium aromanya.
Mereka semua beranjak menuju meja makan, di atasnya sudah terhidang berbagai macam masakan dengan tampilan menarik.
Makan malam berlangsung nikmat karena sesuai selera mereka masing-masing.
Selesai makan sudah tersaji makanan penutup seperti puding agar perut tidak terasa berat menerima.
Di saat tidak ada lagi yang di bicarakan para keluarga pulang ke rumah masing-masing karena juga sudah malam.
Tinggal pasangan bahagia itu bersama pasangan yang lagi berusaha dekat itu.
"Lo nggak pulang Dean?" Melirik sahabatnya yang masih berdiri di teras saat semua orang sudah pulang.
"Lo ngusir tadi lo ngundang,'' Tidak lagi di kantor maka bahasa mereka seperti pada umumnya.
"Kan tadi tapi sekarang gue ngusir, udah pulang sana jangan malam-malam antar anak gadis orang ntar nggak dapat restu lagi," Beginilah tuan rumah yang tidak patut di contoh setelah mengundang orang lalu di usir selesai acara.
Boleh tidak sesekali mengusir tuan rumah dari rumah sendiri.
"Iya gue pulang, nggak usah ngusir juga,"
"Ayo Via kita pulang," Berjalan menuju mobil di ikuti Via setelah berpamitan pada sahabatnya dan masuk ke dalam mobil Dean saat pintu sudah di bukakan.
Mobil Dean meninggalkan area rumah Raka dengan kecepatan sedang karena masih area perumahan.
"Nggak baik tau by ngusir tamu, harus nya di tawarkan nginep," Berjalan kedalam menuju kamar, mereka juga sudah capek walau cuma acara keluarga namun cukup terasa bahagia.
"Nggak apa sayang dia juga maklum dan udah biasa," Masuk kamar lalu melepas baju dan masuk kamar mandi untuk menggosok gigi serta mencuci wajah.
Di kamar Farah menyiapkan baju ganti untuk tidur lalu bergantian masuk kamar mandi.
"Sini yang abang mau peluk buah cinta kita sebelum tidur," Melihat istrinya keluar kamar mandi.
Dengan patuh berbaring di samping Raka lalu masuk ke dalam pelukan hangat itu sebelum memejamkan mata tidak lupa membaca doa dulu.
Melantunkan doa untuk buah hatinya agar anaknya senantiasa terbiasa dengan agama sejak masih dalam kandungan.
Semua kebiasaan baik harus di ajarkan sejak dini walau anaknya belum mengerti setidaknya dia akan terbiasa mendengar.
__ADS_1
**Terima kasih ya Allah sudah mempercayakan kami merawat anugerah mu ini dan semoga kami menjadi orang tua yang bisa membimbing anak kami ke jalan yang engkau ridhoi serta membanggakan untuk keluarga kami dan berguna untuk semua orang** doa Raka sebelum tidur, mungkin ini termasuk salah satu malam ternyenyak dalam tidur.