BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Bab 13


__ADS_3

Happy Reading.


Devan menatap wajah kekasihnya dengan tatapan sendu, entah karena rasa bersalah atau karena ada hal lain yang tengah ia rasakan saat ini.


Tapi yang jelas dalam hatinya, dia selalu meminta maaf pada Nafisa karena telah berbohong padanya. Lagi dan lagi Devan memang tidak bisa mengabaikan Cintami.


Sungguh hatinya kini dilanda rasa bersalah yang besar. Namun dia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan Nafisa jika wanita itu tahu dengan apa yang sudah dilakukan nya.


Sedangkan Nafisa sendiri rasanya sungguh tidak tahan ingin bertanya banyak hal pada Devan, kenapa dia tega membohongi nya lagi dan lagi.


Sebenarnya apa yang di inginkan oleh pria ini, hanya karena ingin bisa jalan bersama dengan Cintami, Devan sampai tidak mau menerima tawaran makan malam bersama nya.


Nafisa berjalan menuju dapur, mengambil air dingin di kulkas kemudian mengambilkan minuman kaleng untuk Devan.


Mereka berdua duduk di ruang tengah bersisihan.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Nafisa tanpa menoleh ke arah pria itu.


Namun berbeda dengan Devan yang langsung menoleh seketika, mendengar pertanyaan Nafisa yang terdengar aneh menurut nya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? apa aku salah kalau aku berkunjung ke apartemen Kekasih ku?" Nafisa hanya bisa menghela nafas mendengar pertanyaan dari Devan.


Apakah dia masih bisa di sebut sebagai kekasihnya jika pria itu sendiri bersikap plin plan.


"Tidak, kamu memang tidak salah, tapi aku yang salah," kesal, itulah yang dirasakan oleh Nafisa.


Dia merasa kesal karena tidak berani bertanya perihal foto-foto yang ia dapat dari seseorang yang entah siapa, dia tidak tahu orangnya.


Tapi yang jelas foto itu memang terjadi hari ini, karena dari baju yang dikenakan oleh Devan saat ini sama dengan baju yang dipakai tadi di foto saat bersama Cintami.

__ADS_1


Lalu jika sudah begini apa yang harus Nafisa lakukan? apakah dia masih sanggup untuk mempertahankan hubungannya dengan Devan jika pria itu saja tidak bisa jujur pada perasaannya.


Ya, menurut Nafisa saat ini Devan sedang berada di antara kebimbangan hati karena dua pilihan yang sulit untuk ia pilih.


Tapi sepertinya di sini yang jelas harus mengalah adalah dirinya, karena meskipun saat ini diri dia adalah kekasih dari Devan tapi di hati Devan masih tersimpan nama Cintami yang amat besar, sehingga dia pun tidak mampu untuk menghapus nama itu dan menggantikan namanya.


Mungkin sudah saatnya Nafisa mengambil keputusan, dia lebih memilih mundur daripada harus bersama dengan pria yang belum selesai dengan masa lalunya, apalagi ternyata masa lalu itu telah kembali bahkan menginginkan prianya.


"Sayang, kamu kenapa? dari tadi aku chat kamu tapi nggak dibales-bales?"


Nafisa tidak menjawab pertanyaan Devan, melainkan mengutarakan keinginannya.


"Devan, sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak kemarin-kemarin, tapi seperti kamu sangat sibuk,"


Sibuk bersama mantan tepatnya.


"Ada apa sayang?" tanya Devan pemasaran.


"Kamu mau libur cuti? berapa hari? kenapa harus sampai mencari penggantimu? Kalau cuman cuti beberapa hari 'kan gak perlu nyari pengganti segala," pria itu tidak habis pikir dengan pikiran kekasihnya ini.


"Aku tidak tahu kapan bisa kembali, karena ibuku sakit dan tidak ada yang urus, jadi lebih baik nyari Pengganti dari pada kamu nanti keteteran," jawab wanita itu mengalihkan pandangannya.


Sebenarnya Nafisa memang sudah mencari sekretaris baru untuk Devan. Rencana ini sudah ia pikirkan sejak beberapa hari yang lalu saat mendapat kabar bahwa ibunya sakit, Nafisa memang sudah menyiapkan dirinya untuk resign dan berbicara baik-baik pada Devan.


Namun sepertinya dia lebih memiliki alasan untuk segera resign karena menyangkut hatinya dan saat ini dia benar-benar telah siap untuk pergi dari kehidupan pria itu.


Devan mengusap wajahnya, mungkin dia harus memberikan izin kepada Nafisa karena ini menyangkut dengan ibunya, meskipun sebenarnya dia tidak rela ditinggalkan oleh wanita itu.


"Baiklah, mudah-mudahan Ibu segera sembuh dan kamu cepat kembali ke sini, Jam berapa besok kamu berangkat ke Surabaya?"

__ADS_1


"Jam 07.00 naik kereta,"


"Biar aku antar kamu ke stasiun," ucap Devan.


Nafisa hanya bisa mengangguk, kemudian dia berdiri sambil menghirup udara pelan-pelan dan menghembuskannya perlahan. Sejak tadi rasanya begitu sesak karena harus menahan berbagai macam perasaan yang saat ini berperang di otaknya.


Ingin rasanya dia mempertahankan Devan dan memperjuangkan cintanya terhadap pria itu, tetapi jika mengingat bagaimana Devan lah yang memang sengaja membuka celah untuk wanita masa lalunya kembali jadi buat apa Nafisa repot-repot mempertahankan.


Yang ada dirinya akan terus sakit hati melihat kebohongan Devan dan juga sikap pria itu yang tidak bisa tegas dengan dirinya sendiri.


"Sudah malam, lebih baik kamu pulang dan istirahat, pasti lelah bukan?" ucap Nafisa sengaja menyindir Devan dengan ucapannya, karena Nafisa tahu sejak pulang mengantarkan nya ke apartemen, pria itu pasti langsung menemui Cintami dan jalan bersama.


"Iya sih, kalau gitu aku pulang dulu ya, besok pagi aku jemput dan kita ke stasiun sama-sama," Devan mencium kening Nafisa.


Kemudian pria itu langsung pergi dari apartemen Nafisa.


"Baiklah Devan, malam ini adalah pertemuan terakhir kita karena aku akan pergi besok subuh dengan kereta jam 05.00 subuh."


Bersambung.


Hai akak reader semuanya 🥰 aku ada rekomen novel keren karya Author Dianning



Blurb:


Duda tampan dan kaya menjadi incaran para wanita lajang, tetapi sama sekali tidak tertarik menikah lagi karena masih mencintai mantan istri yang telah direbut oleh pria lain.


Saat berencana untuk hidup melajang dengan gelar 'Duren', tetapi gagal karena sang ibu sibuk mencarikan wanita untuk dijodohkan dengannya.

__ADS_1


Sampai ia memiliki jalan keluar untuk mencari seorang wanita untuk dijadikan istri kontrak demi mengelabuhi sang ibu.


Akankah Duren ini menemukan seorang wanita yang sesuai dengan kriterianya?


__ADS_2