BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Nanti Malam Lagi


__ADS_3

Sekarang ada rasa penyesalan di hati Raka setelah memaksa adiknya untuk bercerita seharusnya tadi dia mendengar hingga tidak perlu menimbulkan rasa iri di hatinya.


"Di mana letak salahnya ya bang? Tapi kami udah bener dalam prosesnya," sekarang Riska disuruh bicara tanpa berpikir sama sekali bagaimana perasaan Raka dan tentu saja laki-laki itu merasa iri.


Mendengar itu lagi ingin rasanya Raka menggeplak kepala Riska jika tidak ingat bahwa perempuan cantik ini adalah adik kandung nya.


Padahal dia tau bagaimana hubungan Raka dan Farah, tentu saja Riska tau dari suaminya yang jadi tempat cerita oleh Raka dam Rasya tentu saja tidak akan ada rahasia di antara dia dan istrinya.


"Hah,,, mungkin Tuhan masih memberi kalian kesempatan untuk pacaran setelah menikah dan Riris bisa menyelesaikan kuliah tanpa hambatan. Nikmati saja prosesnya dan tiba waktunya abang pasti akan memiliki keponakan," Raka bicara dengan bijak sekali tapi ah sudahlah kisah Raka masih jauh dari kata romantis karena berbaikan saja belum.


"Iya juga si bang, kalau Riris mengharapkan ponakan dari Abang kayaknya masih jauh hilalnya," Raka menatap sinis adik nya itu.


Kenapa harus di perjelas juga.


Padahal jika Raka mau mungkin sekarang dia sudah bersama Farah lagi, namun Raka masih memberi kesempatan agar Farah benar-benar tulus ingin merajut hubungan bersama bukan karena ada paksaan.


"Sekarang di mana suami kamu itu?" Pasalnya saja Riska datang tadi Raka tidak melihat kehadiran adik iparnya itu.


"Riris tinggal di toko pas lagi cek barang," Raka menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban dari adiknya dan bisa dipastikan Rasya sekarang kelimpungan mencari keberadaan istrinya.


Masa iya karena dia belum hamil saja kabur dari suami dan menyalahkan gaya yang mereka gunakan saat melakukan hubungan suami istri padahal semua itu tergantung pada rezeki masing-masing bukan masalah gaya ataupun salah proses pembuatannya.


Apalagi curhat kepada Raka yang belum pernah mengalami itu walaupun memiliki istri tetapi masih perjaka sampai sekarang.


"Duh istri siapa si ini? Tunggu di sini aja abang mau cek berkas dulu," sebelum duduk di kursi kebesarannya Raka mengambil cake yang ada di dalam lemari pendinginnya dan diletakkan di depan Riska karena dia tahu adiknya itu pasti kelaparan setelah menangis jadi sebelum merengek minta makan maka lebih baik Raka menyuguhkan makanan duluan.


"Tau aja Riris lapar bang," tanpa malu dan menjaga image Riska langsung makan.


Raka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adiknya itu dan memulai bekerja.


Hingga satu jam berlalu,,


Tok...


Tok...


"Masuk," Raka mempersilahkan kepada si pengetuk pintu untuk memasuki ruangannya.


"Assalamu'alaikum," ternyata yang datang adalah adik iparnya dengan membawa wajah kecemasan sedangkan orang yang dicemaskan sedang asyik menikmati cemilan yang entah ke berapa kalinya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, tuh yang di cari malah asik makan seperti orang yang nggak berdosa," Raka sudah pasti mengetahui kenapa Rasya mendatangi kantornya dengan wajah kecemasan sudah pasti mencari keberadaan istrinya yang tiba tiba menghilang di toko.


Tentu saja Raka yang menghubungi sahabatnya itu dan memberitahu tentang keberadaan adiknya yang berada di kantor.


"Sayang kenapa kamu main kabur gitu aja si? Nggak tau apa abang cemas sekali," Rasya berucap dengan kalimat lembut kepada istrinya karena tidak ingin menyinggung perasaan perempuan cantik itu apalagi sejak pagi istrinya sudah kesal lantaran setelah menggunakan tespek dan hasilnya garis satu maka sejak itu istrinya berubah mood.


"Abang yang salah, masa buat bayi aja nggak bisa," Riska memberengut kesal lantaran kejadian tadi pagi yang membuat moodnya berubah.


Padahal bukan salah Rasya jika sampai saat ini dia belum hamil apalagi ini baru sebulan setelah mereka melakukan malam pertama dan malam-malam panas selanjutnya.


"Iya nanti kita buat lagi dan jika perlu kita pergi honeymoon saat sayang libur kuliah," Rasya terus membujuk istrinya agar tidak merajuk lagi sebab dia tidak ingin wajah cantik itu dihiasi oleh awan mendung.


Bahkan mereka berdua mengabaikan keberadaan Raka yang mana laki-laki itu panas dingin mendengar obrolan yang kelewat vulgar itu.


"Tapi kali ini harus jadi ya, kalau nggak biar Riris aja yang goyang," mata Raka melotot mendengar jawaban dari adiknya yang tanpa filter itu.


"Pergi nggak kalian dari sini, pergi sekarang juga atau gue lempar dari jendela ini. Ngomong gak ada malu-malunya bahkan urusan ranjang kalian bahas di depan gue. Pulang sana merusak pendengaran saja," Raka tersulut emosi mendengar obrolan mereka yang tidak menggunakan filter sama sekali.


Daripada dia terus mendengar dan kepancing lalu kepada siapa dia harus melampiaskan sebab belum berbaikan sama istrinya jadi jalan satu-satunya adalah mengusir pasangan suami istri yang tidak tahu malu itu.


"Bilang aja iri sok-sokan mengusir kita, yuk Bang kita pulang ada yang iri dan juga panas kita lanjut di rumah aja," Riska menarik tangan suaminya setelah mengucapkan kalimat sindiran untuk terakhir kalinya dan meninggalkan ruangan Raka.


"Udah tahu gue lagi sendiri malah membahas urusan ranjang tanpa malu seperti itu bikin panas dingin saja," Raka melanjutkan pekerjaannya setelah mengambil minuman dingin dan meneguknya hingga habis.


Raka memilih fokus kepada kerajaannya dan juga minggu depan dia harus pergi ke luar kota dan juga sudah menghubungi orang tuanya serta menitipkan kantor kepada Arka selama dia tidak berada di tempat.


Lagi pula sang daddy masih terlalu muda untuk menikmati waktu bersantai apalagi umur dari Arka saja belum menyentuh angka lima


Masih terlalu cepat pensiun dengan alasan ingin menikmati masa tua, cih tua dari mana?.


Jika mengingat itu ingin rasanya Raka melanjutkan kuliah ke luar negeri.


Di tempat Riska...


"Bang kita nginap di rumah mommy ya!" Riska mengajak suaminya menginap di kediaman orang tuanya dan juga dia sudah sangat merindukan sang mommy.


"Iya tapi kita ke toko sebentar ya ada yang harus abang bereskan dulu," Rasya pergi tadi memang meninggalkan pekerjaannya dan lebih mementingkan menjemput sang istri lantaran dia tahu Riska dalam keadaan kesal.


"Pekerjaan abang belum selesai? Maaf ya gara-gara Riris kerjaan abang terbengkalai,"Riska merasa menyesel karena telah mengajarkan pekerjaan suaminya.

__ADS_1


Tetapi tadi sebelum melakukan itu dia tidak ada kepikiran sampai ke sana dan baru sekarang dia menyadari karena keegoisannya membuat sang suami meninggalkan pekerjaan hanya untuk menjemput dirinya.


"Nggak apa sayang kamu itu lebih penting dari segalanya dan kerjaan bisa dilanjutkan nanti-nanti," bagi Rasya itu bukanlah hal yang besar dan untuknya kebahagiaan serta kenyamanan istrinya adalah yang utama.


Pekerjaan bisa dilakukan kapan saja tetapi mengembalikan mood istrinya kadang bukanlah suatu hal yang mudah.


"Ayo Riris temani suamiku yang tampan ini kerja, biar nanti malam semangat buat dedek bayinya," Riska akan menemani suaminya bekerja karena menebus kesalahannya tadi pagi yang pergi tanpa berpamitan.


Beruntung saja dia masih dilindungi karena untuk perempuan yang sudah menikah maka harus mendapatkan izin dari suami sebelum meninggalkan rumah.


Setiap langkah istrinya meninggalkan kediaman mereka harus mendapatkan izin dari suami karena ridho suami akan mengirimmu setiap langkah istri dan berada dalam lindungan.


"Iya sayang," Rasya tidak membantah sama sekali atas apa yang diucapkan oleh istrinya karena tidak bisa dia pungkiri bahwa laki-laki itu sudah menjadi candu dan tidak bisa meninggalkan kegiatan malam sejak malam pertama mereka apalagi sang istri yang tidak pernah mengeluh justru yang paling semangat jika diajak gulat di atas kasur.


Riska setia menemani suaminya bekerja dan sesekali membantu jika ada pekerjaan yang dirasanya tidak berat dan juga sulit karena selama berada di toko perempuan itu tidak pernah diizinkan bekerja dan hanya boleh menemani saja.


Jadi jika ada pekerjaan yang sepatutnya ringan dan bisa dia kerjakan maka dengan senang hati membantu sang suami.


Sore harinya Rasya menitipkan toko kepada orang kepercayaannya dan dia pergi ke rumah mertuanya sesuai janjinya bersama sang istri tadi siang.


"Makasih suamiku," Riska sangat senang saat suaminya mengabulkan permintaan untuk menginap di rumah orang tuanya.


"Sama-sama sayang," Rasya mana mau menolak keinginan istrinya yang sangat sederhana itu apalagi jika dibandingkan antara keluarga Rasya dengan keluarga Riska maka tampak sekali jauh perbedaannya.


Apalagi jika mengingat Riska berasal dari keluarga kaya raya bahkan sudah kaya saat masih berada di dalam kandungan.


Rasya beruntung memiliki istri yang mau menerima dia apa ada nya dan tidak pernah menuntut lebih bahkan gadis itu tidak pernah menghina atau merendahkan keluarga Rasya yang sangat berada jauh di bawahnya.


Sampai di kediaman Arka.


"Assalamu'alaikum, mommy Riris yang cantik datang," Riska membaca salam lalu memasuki kediaman orang tuanya sedangkan untuk Rasya laki-laki itu memasukkan mobilnya ke dalam garasi yang tentu saja mobil Rasya lah yang beda sendiri.


Baik dari segi bentuk keluaran dan harga.


Tentu mobil yang digunakan oleh Rasya tidak sebanding dengan mobil yang berjajar rapi di dalam garasi ini.


Rasya hanya mampu membeli mobil biasa tetapi dia beruntung istrinya tidak mengeluh sama sekali.


"Wa'alaikumsalam, Riris sendiri? Menantu mommy mana?" Melihat sang anak yang sendirian masuk ke dalam tanpa kehadiran sang menantu.

__ADS_1


"Di garasi mom mungkin sebentar lagi masuk," Riska duduk di sebelah sang mommy yang sedang merangkai bunga yang masih tampak segar mungkin baru di petik dari halaman belakang dan akan di susun dalam vas kaca.


"Mommy sangka sendiri," Khira melanjutkan merangkai bunga yang hampir selesai itu.


__ADS_2