
Di dua negara yang berbeda terdapat ekspresi wajah yang sama.
Sama-sama murung memikirkan belahan jiwa yang jauh di seberang sana.
Badan di sini namun fikiran sudah menjelajah jauh memikirkan belahan jiwa.
Dia sedang apa? Apa sudah makan? Apa sudah sampai? Apa dia sampai dengan selamat?.
Jika saja bisa ikut mungkin tidak perlu segalau ini.
Kondisi yang sedang berbadan tiga mengharuskan dia bertahan di rumah sambil mengumpulkan rindu yang baru terpisah beberapa belas jam.
Tidak terlalu berat memang namun karena sedang hamil semua jadi berat melakukan apapun.
"Hubby," Mengucap lirih dengan nada suara pelan menahan tangisnya, sebenarnya bukan perempuan cengeng hanya saja rasa ingin menangis secara alami.
"Kangen,"
Merengek manja sambil memeluk bantal guling sambil menahan sesak di dada.
Belum genap sehari namun rasa rindu sudah seperti sebulan belum bertemu.
"Kenapa sekarang lo cengeng sih Fa," Mengutuk diri sendiri yang mudah mewek hanya karena masalah sepele.
Duduk bersandar di ranjang, mengambil hp berharap ada notif yang setidaknya bisa mengurangi rasa sedih itu.
"Dia kemana belum ngasih kabar,* Jika di lihat jam sudah sampai seharusnya namun belum memberi kabar.
"Apa nyari yang lebih muda di sana? Awas aja kalau iya nggak usah ketemu dedek lagi," Menggerutu kesal belum mendapat kabar, mau menghubungi langsung takut mengganggu.
"Nyebelin, suami siapa sih itu?" Melempar pelan hp Cinderella itu ke samping lalu turun dari ranjang.
Tujuan sekarang adalah mencari keberadaan mamanya.
Jika berlama-lama di kamar yang ada dia makin kesal karena suami berondong nya belum ada kabar hingga sekarang.
"Mama," Memanggil sang mama yang lagi duduk sambil memakan kue.
Duduk di samping mamanya sambil menyender manja pada lengan mama Sila.
"Kenapa lagi?" Tidak heran melihat tingkah manja anaknya sejak hamil.
Untung anak sendiri kalau tidak mungkin sudah di usir.
"Hubby nggak ada ngabarin," Rengek Farah mengambil satu potong kue lalu memakan sekali lahap.
"Mungkin saat sampai sana langsung ada pertemuan," Memberi pengertian pada sang anak yang labil seperti anak ABG jatuh cinta.
"Jangan di bela ma dianya, bisa aja kan cari yang lebih muda," Tidak suka mendengar jawaban itu.
Dia ingin jawaban yang menenangkan hati.
"Emang kamu udah tua?" Lupa atau apa mama Sila hingga nekat bercanda saat anaknya tidak bisa di ajak kompromi.
"Jangan ngarang ma, masih cantik ini," Tidak mau mengakui kalau memang lebih tua dari suaminya.
Melepaskan rangkulan itu lalu memilih menyender pada lengan sofa.
Berbaring disana dengan memejamkan mata.
"Kalau tidak lagi mengandung cucu mama, udah mama lempar dari tadi," Menggeleng melihat tingkah Farah yang kelewat manja.
Mencurigai suami seperfec Raka, apa dia tidak waras.
Mau mencari di mana lagi coba suami paket komplit seperti Raka.
Suami paket komplit Raka itu seperti nasi Padang.
Kalau dulu tidak menikah dengan Raka belum tentu akan di manjakan seperti sekarang.
Semalam saat papanya pulang dari luar kaget melihat wajah murung anaknya dan sendirian duduk di teras depan.
Tapi setelah dijelaskan papa Rio baru mengerti kalau mereka lagi LDR dan bawaan bayi yang pengin di manja.
Hingga tidak lama suara ponsel mama Sila memecah keheningan yang tercipta.
"Nih suami mu nelpon," Memberikan ponsel itu lalu beranjak dari sana untuk mengamankan telinga sebelum mendengar rengekan manja menggelikan itu.
"Makasih mama," Senang Farah menerima hp itu dan segera menekan tombol hijau.
"Hubby kangen, kenapa baru telpon? Lupa kalau udah punya istri dan anak? Lupa kalau aku di sini kangen setengah hidup? Lupa kalau aku nggak bisa jauh dari kamu? Lupa kalau dedek nggak mau jauh dari papa nya? Lupa kalau kangen itu berat kata Dilan?," Cerocos Farah saat baru mengangkat telpon tanpa menunggu jawaban di seberang dia langsung bicara.
"Wa'alaikumsalam sayang," Terkekeh gemas akan pertanyaan seperti rel kereta api itu.
Menggemaskan tapi lagi jauh jadi tidak bisa mencubit pipi cabi itu.
__ADS_1
"Hehe assalamu'alaikum hubby," Merasa malu karena saking kangen sampai lupa mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam sayang, gimana keadaan istri dan dedek di sana? Baik-baik aja kan?" Senang mendengar rentetan pertanyaan demi pertanyaan yang menggelitik itu.
Merasa sangat di cintai.
"Aku dan dedek baik tapi hati kurang baik hubby, kangen katanya," Rengek Farah menahan rasa sesak itu muncul lagi.
Kenapa ini hati lemah sekali sih, fikir Farah merasa kesal sendiri.
"Sabar ya sayang secepat mungkin abang akan selesaikan kerjaan dan segera pulang," Ah mendengar suara manja itu ingin terbang pulang saat ini juga.
Mungkin untuk kedepannya harus bisa mencari orang yang bisa menghandel jika dia tidak bisa pergi bareng istri.
"Jangan lama-lama ntar aku nggak kuat nahan rindu yang ada malah nyusul," Lebay sekali anda bumil, belum sehari sudah membahas rindu berat seperti lagu.
"Jangan sayang, kasian dedek belum kuat di ajak jalan jauh," Jika kandungan Farah sudah kuat mungkin tidak segalau ini harus berjauhan.
Tapi inilah salah satu ujian dalam rumah tangga merek.
"Makanya cepat pulang," Sekuat tenaga agar tidak menangis, jangan sampai yang ada suaminya nanti tidak fokus kerja dan lebih memilih pulang sebelum kerjaan beres.
Kadang otak Farah bisa berfikir jernih namun masih labil juga.
"Iya sayang," Mereka mengobrol cukup lama hingga sejam lebih sampai melakukan panggilan video karena tidak puas jika tidak bertatapan langsung.
Biarlah di katakan bucin asal dengan pasangan sendiri.
Mau bucin mau micin suka-suka mereka, semerdeka mereka kan tidak merugikan orang lain juga.
Hingga telepon itu Raka tutup saat melihat istrinya sudah tertidur lelap.
Di seberang sana Raka sempat mengambil beberapa gambar Farah tadi dan memandang dengan tatapan tidak tega.
"Sabar sayang ini nggak akan lama," Mengusap layar datar itu tidak lupa di beri kecupan singkat.
Sudah mulai gila mungkin layar hp di cium.
Ya mau nyium siapa lagi? Orang nya lagi jauh.
"Ini satu lagi pasien rumah sakit jiwa yang kabur," Dean masuk ruangan Raka saat di lihatnya sahabat nya mencium layar hp.
Raka mendelik kesal karena kesenangannya di ganggu.
"Nyesel gue nyetujuin Via ikut," Kesal Raka baru sadar sebab hanya dia sendiri yang menahan rindu sedang kan Dean bisa bertemu kapan aja.
"Sombong aja dulu," Sebal Raka sinis melihat Dean tergelak melihat wajah kusut itu.
"Sombong sekarang kenapa harus nanti," Puas melihat wajah sengsara itu, cukuplah untuk beberapa hari ke depan tapi Dean puas.
\=\=\=\=\=
Raka tidak mau menunda pekerjaan yang ada, sebisa mungkin menyelesaikan lebih cepat dari waktu yang di tentukan mengingat bidadari nya lagi menunggu di rumah.
Lebih baik dia kurang istirahat dari pada kekurangan waktu selama berada di sana.
Segala pekerjaan yang tidak bisa Dean selesaikan maka Raka kerjakan seperti orang di kejar deadline.
Badan berada di sana tapi fikiran di tanah air.
Fikiran Raka terbagi, jika istrinya belum hamil makan bisa dia ajak dan juga tidak perlu pergi dengan langkah berat.
Jika biasanya pergi jauh dia bisa lebih bersantai tapi tidak dengan sekarang ada seseorang yang tidak bisa di tinggal lama, ada rindu yang kian menggebu, ada perasaan gelisah jika saling menjauh, ada perasaan kwatir jika istrinya menginginkan sesuatu tapi dia tidak bisa mengabulkan.
Ini semua serba mendadak tapi tidak bisa di jadikan bahan sesalan.
Semua sudah ada yang mengatur jadi tidak ada yang namanya kebetulan.
"Semangat Ka ingat dia yang lagi manja," Menyemangati diri sendiri lagi bekerja.
Fokus pada layar datar di depannya dan siang nanti akan melakukan beberapa kunjungan hingga semua tidak bisa di tunda.
Sesekali Raka meregangkan otot yang terasa kaku saat di ajak kerja ngebut.
Tapi Raka merasa itu bukan sebuah beban jika mengingat senyum manis yang bakal menyambut dia pulang nanti.
"Cantik banget kamu," Membayangkan wajah cantik itu jika lagi tersenyum.
Wajah yang sudah menghiasi hari-hari Raka belakangan ini serta menjadi pemandangan saat Raka mau menutup dan membuka mata.
Jika bagi orang biasa mentari pagi yang di tunggu saat membuka mata maka beda bagi Raka wajah cantik istrinya yang tidak bisa mengalahkan sinar mentari.
"Udah jangan banyak melamun Ka, fokus kerja dan bisa pulang cepat," Melamun tidak akan mempercepat kerjaan yang ada hanya membuang waktu dengan hal tidak pasti dan saat tersadar ternyata semua terbengkalai.
Melanjutkan lagi kerjaan yang di perkirakan akan selesai dua atau tiga hari ke depan.
__ADS_1
"Istirahat dulu Ka jangan di paksakan," Tegur Dean saat masuk ruangan Raka, di lihatnya sahabat lagi fokus kerja sejak saat sampai di sana dan hanya bisa bernafas lega sedikit jika ada pertemuan.
Dean datang untuk melihat sahabatnya karena mengabaikan waktu istirahat kadang sampai ketiduran saking ngantuk.
"Capek juga istirahat Yan," Balas Raka tanpa melihat Dean yang duduk di depan mejanya.
Abai akan waktu istirahat karena tidak bisa terlalu lama berada di sini.
"Capek bukan istirahat tapi capek juga ketiduran," Sindir Dean saat pernah melihat Raka ketiduran sambil kerja.
Sebenarnya kasihan melihat Raka memforsir tenaga namun membantu juga bagian dia.
"Kalau Farah tau lo kayak gini pasti dia bakal marah," Mengingatkan Raka jika dia harus menjaga kesehatan juga, jangan cuma memikirkan cepat pulang tapi badan kurang terurus.
"Dia nggak bakal marah jika lo nggak bilang," Jika istrinya tau pasti bakal marah dan merasa bersalah sebab karena dirinya Raka mempercepat kerjaan dengan mengabaikan diri sendiri.
Tapi jika dia bersantai Raka nya yang tidak tenang terlalu lama berjauhan.
Bagaimana jika istrinya kangen? Bagaimana jika tengah malam Farah menginginkan sesuatu tapi takut mengganggu orang tuanya? Bagaimana jika tengah malam dia ingin di usap tapi tidak bisa meminta tolong? Segala kemungkinan Raka fikirkan sehingga dia tidak bisa bersantai sejenak.
"Dasar kepala batu," Tidak tau mau bilang apa lagi, di nasehati malah ada saja jawaban yang di berikan.
Bukan tega hanya saja semua yang lakukan dengan di paksa maka tidak akan baik akhirnya.
"Lo nggak liat ini kepala ada rambut? Mana ada rambut bisa tumbuh di batu. Mulai gila lo ya sejak jatuh cinta," Masih sempat mencandai sahabatnya untuk mengurangi ketegangan yang ada.
Mengerti sahabat nya kwartir tapi tidak bisa menurut untuk sekarang karena ada yang jauh lebih penting.
"Terserah lo deh," Malas Dean lalu berdiri, lebih baik meninggalkan orang yang tidak bisa di nasehati.
Lebih baik dia menemani Via yang dia tinggalkan sebentar di ruangan.
Tidak mungkin mengabaikan pujaan hati saat sudah jauh-jauh di bawa ke sini.
"Emang iya," Tidak peduli Dean mau keluar, lembaran itu masih banyak dan seperti melambai minta segera di selesaikan.
"Nelpon mood booster dulu lah," Mengambil hp lalu menghubungi istrinya semoga di angkat mengingat perbedaan waktu yang ada.
Baru di nada dering ke tiga sambungan sudah di angkat.
"Assalamu'alaikum papa," Wajah cantik itu menghiasi layar hp Raka.
"Wa'alaikumsalam mama dan dedek," Ini mood booster terbaik yang pernah ada.
Tidak ada yang bisa mengalahkan karena tidak di jual dan tersedia dalam jumlah terbatas.
Lebay sebenarnya.
"Lagi sibuk nggak by?" Takut mengganggu kerjaan suaminya hanya untuk menelpon dirinya.
"Nggak kok sayang, ini lagi nunggu jadwal meeting," Tidak mungkin bilang lagi kebut agar bisa cepat pulang yang ada istrinya merasa tidak enak mengingat sebelum pergi istrinya berat melepaskan.
"Hubby udah makan?" Fokus pada wajah tampan itu dan mengusap layar itu sebab menganggap bisa menyentuh wajah Raka.
"Makan nasi udah yang, makan kamu yang belum," Goda Arka dan seketika wajah cantik itu memerah.
Padahal ini bukan hal tabu tapi istrinya masih suka malu-malu mau gitu.
"Jangan menggoda by, kalau aku ke pengen kan ribet," Hormon kehamilan membuat Farah ingin melakukan hal menyenangkan itu.
"Tahan sayang, tunggu abang pulang. Abang kasih lebih janji," Mengedipkan sebelah mata menggoda istrinya di seberang sana.
"Jangan menggoda lagi by, ntar puasa lama mau?" Ancam bumil yang tidak kuat jika di goda terus.
Jika suaminya dekat mungkin sudah di ajak berpetualang di atas ranjang empuk di kamar mereka.
"Ya jangan sayang, nanti dia lupa jalan pulang lagi," Memasang wajah memelas karena tidak mungkin puasa mana tahan dia.
Ini saja terpaksa karena lagi berjauhan.
"Ntar di telpon biar bisa di jemput atau pasang alat pelacak," Raka melotot mendengar ucapan istrinya, dia sangka kebanggaan nya itu apa bisa di telpon atau di lacak.
Memang dia bisa berdiri seperti tower tapi tidak punya sinyal.
Istrinya mulai aneh mungkin kurang belaian.
"Udah bahas yang lain aja yang, ntar dia tegang lagi," Membahas hal mesum bisa membangkitkan sesuatu yang lagi tidur nyaman.
Bumil hanya tertawa saat suaminya menyerah.
Tumben dia bisa membalas kejahilan suaminya.
Mereka berbincang sambil Raka mengerjakan kerjaan dan bumil dengan senang hati menemani.
Setidaknya rasa rindu sedikit terobati dengan memandang wajah satu sama lain.
__ADS_1
Melepas rindu dengan saling bercerita dengan keseharian masing-masing serta tidak lupa menitipkan oleh-oleh yang di mau.