BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Keputusan Farah


__ADS_3

Setelah Raka berpamitan hari itu belum ada lagi lelaki tampan yang masih berstatus sebagai suami Farah menghubungi istrinya bahkan sudah beberapa waktu terlewati namun kabar lelaki itu tidak ada bahkan belum juga mengunjungi kediaman mertuanya.


Sedangkan Farah masih beraktivitas seperti biasanya walaupun gadis itu masih menahan rasa sakit dan menunggu kabar untuk mendapatkan donor ginjal untuknya.


Seperti pagi ini gadis itu sudah rapi menggunakan pakaian kerjanya dan setelah melaksanakan sarapan pagi bersama lalu dia berpamitan untuk segera berangkat ke kantor.


"Kok rasanya gue nggak bersemangat begini ya," bahkan laju mobilnya saja begitu pelan dan entah sampai kapan akan sampai di kantor.


Farah memperhatikan jalannya dia lewati dan rasanya dia begitu enggan untuk pergi ke kantor apalagi sekarang dan lebih tepatnya akhir-akhir ini sejak Raka mengantarkan dia ke rumah orang tuanya gadis itu selalu kepikiran tentang suaminya apalagi status mereka masih sebagai suami istri.


"Hubungi ngga ya? Tapi selama kami menikah gue menjadi istri yang durhaka karena nggak pernah menghargai dia sebagai suami dan tiba-tiba gue menghubungi dan dia mengabaikan pasti gue malu sekali,"Farah sedikit bimbang antara menghubungi suaminya atau tidak takut ditolak dan pasti akan membuat dia malu tetapi jika tidak dihubungi dia sangat penasaran laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya.


Setelah sekian lama tidak bertemu dengan Raka dia menyadari kesalahan selama ini apalagi menjadi istri yang durhaka yang tidak pernah menganggap keberadaan suaminya ada bahkan menghargai pun tidak.

__ADS_1


"Tanya Riska ngga ya, tapi kan mereka udah nggak satu rumah," Farah bingung kepada siapa dia akan bertanya kabar tentang Raka bertanya kepada adiknya pun tidak bisa karena sudah tidak satu rumah dan kepada kedua mertuanya pun sudah pasti Farah tidak memiliki wajah apalagi sebagai istri sangat aneh jika menanyakan keberadaan suami kepada orang tuanya.


Tapi sungguh perasaan gadis itu gelisah tapi dia masih memiliki gengsi, ya selama gengsi masih tertahta makan tuh gengsi.


"Malas ke kantor," dan entah kenapa Farah tidak jadi menuju kantor malah memutar arah menuju kampus tempat dia berkuliah dulu.


Bahkan untuk bekerja kembali pun rasanya parah sudah enggan dan sempat terlintas di kepalanya untuk mengirim surat pengunduran dirinya apalagi dia semakin berdosa jika masih memberi kesempatan kepada laki-laki lain dia masih berstatus menjadi istri orang.


Setelah sibuk menghabiskan waktu sendiri dan malam hari pun parah melaksanakan salat malam untuk meminta petunjuk agar dia bisa memilih jalan mana yang akan diambil apakah akan mempertahankan pernikahannya atau justru melepaskan walaupun hatinya dilanda kegelisahan.


Sudah beberapa malam ini dia melaksanakan salat malam dan meminta petunjuk kepada sang pencipta dan sekarang dia sudah mendapatkan jawabannya dan sudah mantap terhadap keputusan apa yang dia ambil.


"Biar kakak bantu mam," Farah sudah rapi dengan pakaian santainya dan membantu sang Mama untuk membuatkan sarapan.

__ADS_1


"Kakak ngga ke kantor?" Vya melihat penampilan anaknya yang tidak seperti biasa bahkan terkesan sangat santai sekali tidak seperti orang yang ingin pergi bekerja.


"Nggak mom, hari ini cuma ingin mengantar surat pengunduran diri aja," Farah juga sudah mantap untuk mengundurkan diri dari tempat dia bekerja sekarang karena menurutnya sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dan dia ingin memulai kehidupan baru tanpa ada bayang-bayang rasa bersalah.


"Kenapa? Abang udah tau kakak mau mengundurkan diri?" Vya memang tidak mengetahui jika Farah sudah tidak bekerja lagi di kantor yang sama dengan Raka.


Farah menghentikan gerakan tangan nya saat menata piring mendengar ucapan mamanya.


Farah lupa jika orang tuanya tidak tau jika dia sudah lama tidak bekerja jadi sekretaris Raka.


\=\=\=\=\=


Bersambung 😘

__ADS_1


__ADS_2