
Setelah makan malam tadi Farah segera berpamitan kepada orang tuanya untuk kembali ke kamar apa lagi dia belum minum obat untuk malam ini dan juga dia tidak mau terlambat minum obat jika tidak ingin memperburuk kondisinya.
Apa lagi jika sampai orang tuanya tau tentang kondisi dia yang memang tidak lagi sehat, sudah pasti akan membuat semua orang kwartir.
Farah masih duduk termenung di balkon kamarnya setelah kepulangan dia mengantar surat pengunduran diri tempat dia bekerja, apa lagi mendapatkan pernyataan yang membuat dia sulit untuk menjawab walau pada akhirnya dia berkata jujur bahwa dia sudah menikah, namun sayang sekali Farah di buat tercengang sama tanggapan mantan bos nya itu.
"Bagaimana dengan pernyataan saya waktu tempo hari?" Dia sangat berharap sebelum Farah keluar dari kantornya sudah mendapatkan jawaban dari ungkapan perasaannya waktu itu karena baginya sangat sayang sekali melepaskan gadis cantik seperti Farah apalagi dalam bekerja gadis itu begitu cekatan.
Mengingat sikap Farah yang bisa menjaga dirinya serta tidak kegenitan saat melihat dia apalagi dengan kekayaan yang dimilikinya sudah pasti banyak gadis yang mengajarnya tetapi tidak ada yang tulus karena hanya mencintai kekayaan yang dia miliki.
Farah terdiam di tempat duduknya dan memikirkan jawabannya akan dia berikan serta tidak memberikan kesan sakit hati karena Farah sudah pasti akan menolaknya apalagi dia sudah menemukan jawaban atas kelanjutan dari hubungan pernikahannya dengan Raka.
"Maaf pak saya tidak bisa," Farah memang sudah memantapkan hati untuk menolak laki-laki yang duduk di depannya ini dan juga dia akan semakin berdosa jika menjalin hubungan dengan laki-laki lain di saat statusnya masih menjadi istri orang.
Dan juga dia bukan perempuan murahan yang mudah menjalin hubungan dengan banyak laki-laki bahkan mudah memberikan hati di saat statusnya masih menjadi milik orang lain.
"Kenapa? Apa kamu udah memiliki laki-laki yang kamu sukai?" Tentu saja dia tidak terima tentang penolakan yang Farah berikan sebab dia sudah sangat yakin bahwa cintanya tidak akan bertepuk sebelah tangan.
Apalagi selama Farah bekerja di kantornya tidak pernah melihat gelagat gadis itu yang akan menolak dirinya namun hari ini sungguh jawaban di luar dugaan yang dia dapatkan.
Di hari yang sama waktu dia mengungkapkan perasaannya kepada Farah dia yakin gadis itu akan menerima hanya saja membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri.
"Sebenernya," Farah agak ragu untuk memberitahu tentang statusnya yang sekarang apalagi kepada laki-laki yang mencintainya.
"Sebenernya apa?" Kenapa Farah berbicara bertele-tele dan menggantung seperti ini? Padahal tinggal langsung mengucapkan dan semuanya beres.
__ADS_1
"Saya sudah menikah," sambil memejamkan mata Farah mengatakan jika dia sudah menikah.
Beberapa saat setelah itu baru dia membuka mata dan melihat ekspresi terkejut kemudian...
Ha,,,,, ha ,,,,,ha ,,,,
"Kamu kalau becanda tidak lucu," masih tertawa karena dia tidak percaya terhadap apa yang Farah ucapkan sebab dia yakin bahwa Itu hanya alasan Farah untuk menolak dirinya.
"Saya serius pak, saya sudah menikah bahkan sudah memasuki satu tahun ini," dengan cara apalagi Farah untuk meyakinkan dia agar percaya bahwa gadis yang duduk di depannya ini bukanlah perempuan single yang belum terikat status pada siapapun.
"Kamu fikir saya percaya gitu aja? Ya ampun Farah jika kamu sudah menikah maka kamu tidak mungkin repot-repot bekerja atau jangan-jangan suami mu pengangguran?" karena menurut dia perempuannya sudah menikah itu sangat jarang sekali bekerja dan lebih memilih fokus untuk mengurus keluarga kecilnya daripada harus banting tulang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.
Karena tugas bekerja itu adalah tanggung jawab suami dan sebagai istri hanya perlu di rumah dan menyambut kepulangan suami saat bekerja.
Jadi menurutnya sangat tidak masuk di akal jika Farah memang sudah menikah maka tidak perlu bekerja lagi kecuali memiliki suami yang pengangguran.
Merasa tidak memiliki urusan lagi jadi lebih baik Farah pergi dan harus menyelesaikan urusannya satu persatu.
Lagi pula mereka tidak memiliki hubungan spesial jadi Farah tidak perlu menjelaskan secara rinci agar laki-laki itu percaya bahwa dirinya sudah menikah.
Mau dia percaya atau tidak tidak ada pengaruhnya terhadap Farah karena dia tidak ada memberi kesempatan untuk laki-laki itu mendekat lagi dan juga mungkin mereka tidak akan bertemu lagi karena Farah sudah mengundurkan diri dari kantor itu.
Tok,,,
Tok,,,
__ADS_1
Tok,,,
Lamunan Farah buyar saat mendengar ketukan pintu dari kamarnya.
Gadis itu bangkit dan melihat ternyata yang mengetuk adalah sang mama.
"Kakak belum tidur kan?" Melihat Farah sudah menggunakan piyama tidurnya tetapi gadis itu belum tampak bahwa sudah mengantuk.
"Belum mam, ada apa? Ayo masuk anggap kamar sendiri," Vya menggeleng pelan mendengar ucapan anaknya.
Mengikuti langkah Farah dan duduk di sofa dengan bersisian.
"Kakak jadi mengundurkan diri?" Karena tadi pagi dia tidak sempat bertanya apalagi anaknya yang enggan untuk menjelaskan jadi Vya mencari waktu yang tepat untuk berbicara berdua saja.
Apalagi tadi pagi melihat ekspresi Farah yang memang enggan untuk berbicara jadi sebagai orang tua dia tidak ingin terlalu memaksa apalagi ikut campur jika memang anaknya sedang tidak ingin mencurahkan isi hatinya.
"Jadi mam," dalam hati Farah ketar ketir dan berharap jika mamanya tidak menanyakan kenapa dia mengundurkan diri apalagi tempat itu bukan kantor mertuanya yang sekarang diwariskan kepada Raka.
"Apa kerja di sana ngga nyaman?" Karena memang salah satu alasan mengundurkan diri sebab tempat kerjanya yang kurang nyaman dan juga bos ataupun karyawan di sana yang membuat kita tidak betah.
"Nyaman kok mam, cuma kakak mau cari pengalaman di tempat lain," terdengar alasannya masuk di akal walaupun itu alasan sudah biasa digunakan oleh kebanyakan orang tetapi wajar karena setelah menyelesaikan kuliahnya Farah langsung bekerja di kantor yang sama dengan Raka.
Mungkin memang benar gadis itu ingin mencari pengalaman kerja di tempat lain.
"Semoga kakak mendapatkan tempat kerja yang nyaman lagi ya, abang kok nggak pernah ke sini lagi ya kak?" Farah yang tadinya sudah bisa bernapas lega, kini dibuat harus memutar otak untuk memberikan jawaban atas pertanyaan dari mamanya apalagi menanya keberadaan Raka yang Farah sendiri tidak tahu di mana apalagi laki-laki itu tidak ada menghubungi sama sekali dan Farah juga begitu sejak menikah pun dia tidak pernah menghubungi Raka terlebih dahulu.
__ADS_1
Dia saja sebagai istri tidak mengetahui di mana keberadaan Raka sekarang dan harus menjawab apa jika sudah ditanya seperti ini.
Tbc,,,,,