BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Flashback on


__ADS_3

Flashback on...


"Bang Raka udah nggak sayang sama aku lagi,"


Farah masuk ke dalam toilet kosong lalu mengunci pintu.


Air matanya tumpah seiring pintu yang di tutup.


Duduk di atas kloset yang di tutup.


Menumpahkan segala rasa sakit.


Hingga beberapa saat kemudian Farah sudah mulai reda.


"Jangan cengeng Farah, perjalanan mengejar cinta bang Raka masih jauh dan masih berusaha lebih keras lagi agar cuma kamu yang di lirik bang Raka dan menganggap gadis lain hanya pajangan,"


Farah menghapus air mata.


Menguatkan diri bahwa perjuangan dalam menggapai cinta Raka.


Perjalanan mengejar cinta Raka yang masih butuh perjuangan belum lagi saingan yang banyak.


Saingan para gadis di luar sana yang ingin menempati posisi sebagai orang spesial di hati Raka.


Farah tidak mau tersingkir dari posisi itu atau kalah sebelum berjuang.


Farah keluar dari toilet menuju kelas karena jam pelajaran sudah mau di mulai.


Farah mengikuti pelajaran dengan fikiran yang bercabang.


Saat badan berada di kelas namun fikirannya kepada Raka.


*Bagaimana ya?"


Memikirkan cara agar Raka hanya melihat dia seorang.


Laki-laki yang menjadi pujaan hati.


Mengetuk pena yang di pegang pada meja.


Beruntung guru yang mengajar tidak melihat aksi Farah.


Jika iya bisa saja dia akan kena marah atau kena hukum.


Kan tidak elit sekali di hukum karena melamun.


Masa saat di tanya.


"Farah apa yang ada di dalam otak mu hingga tidak fokus sama pelajaran?"


Tanya guru yang sedang mengajar karena Farah tidak fokus sama penjelasan di depan.


Masa mau menjawab.


"Lagi mikirin masa depan sama bang Raka Bu"


Yang ada satu kelas menertawakan dia di anggap kebanyakan menonton sinetron.


Sekolah belum selesai tapi sudah memikirkan masa depan.


Sekolah dulu yang benar baru memikirkan perihal jodoh tidak tidak bakal kemana.


Hingga jam pelajaran berakhir Farah tidak pergi menuju kantin melainkan ke kelas Riska bakal calon adik ipar.


Selain harus menaklukkan Raka dia juga harus mendekati Riska adik Raka.


"Ke kelas Riris ah biar lebih akrab lagi,"


Farah pergi sendiri tanpa mengajak temannya karena lagi melakukan pendekatan.


Jika mengajak teman sama saja dengan memberi celah temannya untuk dekat dengan Riska dan menjadi saingan nya dalam merebut hati Raka.


Dan Farah tidak ingin itu terjadi.


Dia cuma ingin sendiri dan tidak ingin banyak saingan.


Akan sangat merepotkan jika dia pergi menemui adik lelaki pujaan gadis di sekolah.


"Riris mau ke kantin ya?"


Farah menghampiri Riska yang baru keluar dari kelas bersama temannya.


Riska menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang sudah hafal di luar kepala.


Suara yang hampir ada kesempatan datang ke rumah orang tuanya hanya untuk minta di ajari Raka.


Yang mana itu hanya sebagai alasan saja.


"Kakak mau ke kantin juga? Yuk bareng aja,"


Ajak Riris tidak merasa keberatan sama kedatangan Farah.


Sikap Riska sama seperti Khira yang ramah pada orang tapi resek juga di saat yang sama jika bersama Raka seperti Arka.


Perpaduan sikap orang tuanya ada di diri Riska.


Jadi kadang dia sulit di tebak.


"Iya kakak juga udah lapar, sengaja mau makan sama Riris,"


Farah mengiyakan ajakan Riska.


Walau ada teman Riska namun Farah tidak bisa nolak beda jika tadi mereka sudah buat janji dan ingin makan berdua saja.


'Semoga saja dia bukan salah satu orang yang ingin mendapatkan bang Raka!'


Farah melihat teman Riska yang jika di lihat dari sudut pandang Farah jika teman Riska sudah pasti menyukai Raka juga.


'Kenapa bertambah saja saingan sih, apa dia sengaja mendekati Riris demi mendapatkan bang Raka juga?'


Tebak Farah melihat gelagat teman Riska.


Siapa yang tidak tau Raka di sekolah elit ini.


Hampir semua gadis di sekolah itu mengincar Raka untuk mengisi berbagai posisi di hidup Raka.


Darah Farah mendidih memikirkan saingan yang banyak, mana dia belum menempati posisi aman di hati Raka.


Membuat dia jadi ketar-ketir sendiri.


Padahal perihal jodoh tidak perlu mengejar di kejar dalam waktu sedini mungkin.


"Riris mau makan apa biar kakak yang pesankan?"


Mereka memilih duduk di kursi pojok dekat jendela menghadap taman.


Jadi sambil makan menikmati keindahan taman yang lagi menyuguhi pemandangan bunga yang lagi bermekaran.


Tapi tidak seperti hari Farah yang lagi layu karena pujaan hati belum memberikan lampu hijau untuk mendekati lebih jauh.


"Sama kan dengan kakak saja,"


Riska tidak pemilih dalam hal makanan.


Bisa makan apa saja asal masih sehat dan aman untuk kesehatan.


Farah pergi memesan makanan demi mencari perhatian Riska agar jalan mendekati Raka lebih mudah karena sudah memiliki pendukung tambahan.


"Silahkan,"


Farah datang membawa makanan untuk Riska karena teman Riska memilih memesan sendiri karena merasa tidak enak.


Dan juga belum Farah belum tentu mau repot memesan makanan untuk teman Riska karena dia bukan bagian dari tujuan mendapatkan Raka.


Bisa saja teman Riska ini merupakan salah satu saingannya jadi tidak perlu dekat apa lagi mencari muka.


"Makasih kak,"


Mereka mulai makan dengan tenang.


Sesekali Farah melihat ke arah meja lain yang di duduki oleh Raka dan Rasya.


Ingin hati ingin mendekati tempat yang di duduki Raka dan ikut bergabung namun mengingat perlakuan Raka tadi pagi membuat Farah mengurungkan niatnya dan memilih duduk di tempat.


Cukup tadi pagi dia di permalukan tadi pagi di dalam kelas dan itu sukses membuat Farah menahan malu.


Jika dia mendekati Raka sekarang dan mendapat perlakuan seperti tadi mungkin akan lebih malu dari tadi.

__ADS_1


'Sabar Farah masih banyak kesempatan'.


Farah harus menahan diri agar tidak mengikuti keinginan untuk mendekati Raka.


Ingatan tadi pagi membuat dia bertahan dan melihat dari jauh saja.


'Kenapa bang Raka makin tampan aja sih. Mommy Khira waktu hamil bang Raka makan apa ya?.


Mengagumi ketampanan Raka dari jauh.


Sambil makan mencuri pandang ke Raka.


"Riris nanti pulang sama siapa?"


Makanan yang di pesan sudah habis.


"Nggak tau kak, liat nanti saja,"


Balas Riska menghabiskan sisa minuman dingin yang terasa sejuk mengalir di tenggorokan.


"Pulang sama kakak nanti ya,"


Ajak Farah agar bisa lebih lama bersama Riska dan siapa tau nanti dia bisa pulang bersama Raka.


Karena Farah tau Raka sekolah menggunakan mobil beda dengan dirinya yang belum ada izin membawa mobil dalam jarak jauh.


"Iya kak,"


Karena tidak enak menolak makanya Riska menyetujui saja ajakan Farah.


Selain orang tua mereka dekat dan juga tidak ada alasan menolak Farah untuk menjauh.


"Ris kakak kelas impian sejuta gadis itu udah punya kekasih belum ya?"


Suara teman Riska mengusik indra pendengaran Farah.


Dadanya bergemuruh mendengar pertanyaan itu.


Benar tebakan Farah jika teman Riska ada hati sama Raka.


\=\=\=\=\=


"Pulang sama kakak nanti ya,"


Ajak Farah agar bisa lebih lama bersama Riska dan siapa tau nanti dia bisa pulang bersama Raka.


Karena Farah tau Raka sekolah menggunakan mobil beda dengan dirinya yang belum ada izin membawa mobil dalam jarak jauh.


"Iya kak,"


Karena tidak enak menolak makanya Riska menyetujui saja ajakan Farah.


Selain orang tua mereka dekat dan juga tidak ada alasan menolak Farah untuk menjauh.


"Ris kakak kelas impian sejuta gadis itu udah punya kekasih belum ya?"


Suara teman Riska mengusik indra pendengaran Farah.


Dadanya bergemuruh mendengar pertanyaan itu.


Benar tebakan Farah jika teman Riska ada hati sama Raka.


'Apa katanya tadi kakak kelas impian sejuta gadis, cih ternyata benar dia salah satu saingan ku dan dia berteman sama Riris hanya untuk mendekati bang Raka. Pertemanan yang nggak sehat'.


Komentar hati Farah bergemuruh hebat ternyata saingannya juga dekat dengan adik pujaan hatinya.


Orang yang tidak dekat dengan Riska saja dia sudah ketar-ketir tapi ini dekat dengan Riska.


Sepertinya Farah harus bergerak lebih cepat lagi dalam memenangkan hati Raka sebelum ada yang lebih dulu menempati.


"Udah jangan bahas hal yang nggak penting, masuk yuk dah mau bel nih,"


Ajak Riska berdiri menuju kelas.


Malas membahas bang Raka tidak ada habisnya dalam obrolan gadis di sekolah.


Memutar mata malas.


Tidak di kelas atau di kantin selalu saja yang di bahas abang nyebelin tapi sangat di sayangi Riska itu.


Apa bagusnya coba membahas dia? Lebih baik bahas pelajaran, fikir Riska malas.


Kenapa, Raka Raka dan Raka.


Dari sekian banyak cowok di sekolah kenapa harus Raka yang di bahas.


Cowok lain tak kalah ganteng juga dari Raka tapi Raka yang jadi pembahasan menarik.


"Ih kamu nggak asik tau Ris, mata kamu kayaknya harus di periksa deh.


Liat bang Raka dengan kegantengan maksimal masa kamu nggak tertarik sih,"


Mengikuti langkah Riska berjalan menuju kelas.


Jika temannya yang lain di ajak membahas Raka maka dengan penuh semangat dia menjawab.


Tapi saat bersama Riska jelas sekali jika temannya ini tidak ada ketertarikan sama sekali bahkan terkesan cuek.


Siapa saja gadis di sekolah ingin berada di dekat Raka namun tidak dengan Riska.


Apa teman ku ini normal ya? Tebak teman Riska tidak habis fikir.


'Normal lo pitak, jika itu bukan abang ku maka aku dengan senang hati membahas dia juga.


Lah ini si nyebelin itu terus yang di bahas, bikin telinga pusing saja.


Benar keputusan bang Raka yang tidak memberi tau status kami di sekolah jadi aku bisa belajar dengan tenang.


Love bang Raka'.


Bahagia Riska bebas dari segala pertanyaan temannya karena mereka tidak tau status hubungan mereka sebagai saudara.


Jika mereka tau, pasti setiap hari Riska akan di teror dengan berbagai pertanyaan, mengirim hadiah untuk Raka lewat Riska atau mendekati Riska demi mencari perhatian Raka.


Masih banyak lagi aksi mereka yang bisa membuat Riska tidak nyaman di sekolah.


Raka sudah memikirkan semuanya mengingat kepopuleran dia di sekolah dan menjaga adiknya dari para gadis yang ingin mendekatinya.


Terlalu berbahaya dan terlalu merepotkan jadi lebih baik mereka tidak saling kenal saja saat di sekolah.


Pulang sekolah.


"Mana sih Riris?"


Farah sudah menunggu di depan gerbang karena sudah janjian akan pulang bersama.


Sengaja tidak mendatangi Riska ke kelas karena malas berdesakan sama adik kelas yang mau pulang.


Melihat jam yang melingkar di tangannya sudah lebih dari sepuluh menit menunggu namun belum ada tanda-tanda kemunculan Riska.


"Maaf ya kak lama, tadi tugas belum selesai,"


Sesal Riska dengan nafas sedikit memburu karena tidak mau Farah menunggu lama.


Bukan maunya juga tapi karena tugas yang harus selesai hari ini di saat jam pulang kelas.


"Tidak apa kok, kakak cuma takut kamu lupa,"


Mana bisa Farah marah atau kesal.


Dia ini adalah adik yang sangat di sayangi Raka dan lewat dia juga Farah akan dapat dukungan lebih jika mereka dekat.


Mana mungkin menyiakan kesempatan yang ada.


"Ayo kak,"


Ajak Riska mulai berjalan menuju halte.


Farah heran saat Riska menuju halte.


'Kok malah jalan? Bukannya pulang sama bang Raka'.


Farah tidak mengerti kenapa Riska malah berjalan bukan menunggu Raka untuk pulang bersama.


Niatnya mengajak pulang bersama agar bisa satu mobil dengan Raka bukan menggunakan angkutan umum.


Bukan seperti ini yang dia mau.

__ADS_1


"Nggak nunggu bang Raka?"


Tidak tahan dengan pertanyaan yang tersimpan di kepala membuat Farah harus bertanya agar tidak penasaran.


Seharusnya Riska pulang bersama Raka.


Dia sudah mengabari Dean tadi agar supir yang biasa menjemput tidak datang karena dia akan pulang bersama Raka dan Riska.


Namun jika seperti sekarang bukan seperti rencana awal.


Pulang dengan angkutan umum dan berdesakan dengan orang lain belum lagi bau yang berbaur menjadi satu.


Membayangkan saja sudah sukses membuat perut Farah mual.


"Bang Raka ada kelas tambahan kak jadi Riris di jemput sama supir,"


Lemas sudah lutut Farah mendengar jawaban Riska.


Di jemput supir, yang benar saja.


Dia mau pulang bersama Raka bukan supir.


Jika bersama supir lebih baik dia dari tadi pulang.


Benar-benar tidak sesuai harapan sama sekali.


"Nggak apa kan kak?"


Tanya Riska saat melihat Farah diam saja.


Apa ada yang salah sama ucapan Riska yang mengatakan mereka akan pulang sama supir.


Kan sama saja, sama-sama pulang dan sampai rumah.


"Eh iya nggak apa kok,"


Bagaimana mungkin tidak mengatakan iya jika yang mengajak Riska.


Jika orang lain lebih baik dia pulang sama supir dari pada begini.


Sudah menunggu lama eh malah tidak pulang sama Raka.


Siapa sih yang dengan berani mempermainkan dirinya.


Padahal sejak jam istirahat tadi dia sudah membayangkan akan satu mobil sama Raka dan jika bisa dia akan mencari alasan agar duduk di sebelah Raka.


Namun semua harapan itu musnah dan tinggal khayalan.


Tidak lama kemudian mobil jemputan Riska datang dan mareka berdua masuk.


Selama di perjalanan Farah hanya diam saja dan banyak menoleh keluar jendela.


Riska lebih dulu mengantarkan Farah pulang baru dia kembali ke rumah.


"Eh bocil lo udah sampai juga?"


Sapa Raka yang sudah duduk di teras dengan masih menggunakan seragam sekolah.


Sengaja menunggu kedatangan Riska yang memang pulang tidak bersama.


Bukan tanpa alasan karena tadi Riska mengirimi pesan jika Farah mengajak pulang bersama dan Raka meminta Riska untuk pulang sendiri dengan supir.


Saat di sekolah tadi.


"Bang kak Farah ngajak pulang bersama".


Isi chat Riska saat sudah masuk kelas dan menunggu guru datang mengajar.


"Kamu pulang sama supir aja nggak apa kan cil,"


Riska berdecak kesal saat membaca balasan pesan Raka yang suka sekali memanggil dia dengan sebutan bocil.


"Bisa nggak sih bang jangan panggil bocil terus,"


Cemberut Riska duduk di sebelah Raka dengan kursi muat dua orang.


Jadi mereka bisa duduk berduaan.


"Lo kan emang bocil jadi terima aja,"


Mengusap kepala Riska dengan sayang.


Saudara satu-satunya ini sangat dia sayangi bahkan tidak boleh satu orang pun mendekati atau datang dengan tujuan tertentu.


Raka akan memastikan jika Riska selalu baik-baik saja baik saat mereka bersama atau saat mereka berjauhan.


Bukan karena atas permintaan orang tua mereka saja namun merasa bertanggung jawab atas keselamatan Riska.


"Ih abang mah suka gitu,"


Rajuk Riska menyenderkan kepalanya di bahu Raka.


Menikmati usapan itu sambil memejamkan mata.


Abang sekali gus pelindung Riska.


Raka tersenyum manis melihat adiknya bermanja seperti sekarang.


Mumpung mereka lagi akur jadi saat di lihat sangat manis sekali.


Tapi coba jika sedang dalam mode saling usil maka tidak ada enak di lihat atau di dengar sama sekali.


"Kenapa abang nggak mau pulang sama kami tadi?"


Riska masih penasaran sama Raka yang tidak mau pulang bersama padahal dia tau jika Raka tidak ada kelas tambahan.


Namun Riska tadi masih bisa menahan tingkat ingin tau.


Beda dengan sekarang.


Riska harus tau, alasan apa yang membuat mereka tidak pulang bersama.


Riska tidak mau asal tebak seperti kejadian Riska yang di turunkan di halte.


Riska tidak mau kejadian itu terulang lagi dan salah paham dengan air mata terbuang sia-sia.


"Bukan abang mau membiarkan Riris pulang sendiri.


Tapi Riris tau kan jika Farah mendekati Riris hanya untuk bisa mendapat dukungan agar lebih mudah mendekati Abang.


Abang nggak suka cara dia seperti itu.


Jika dia benar menyukai abang dia harus mendekati abang dengan caranya sendiri, bukan seperti ini.


Dia harus berjuang sendiri tanpa bantuan siapapun.


Dan juga Abang nggak ada rasa sama dia dan abang nggak mau mikirin punya kekasih untuk saat ini.


Yang lebih penting adalah abang udah punya orang yang abang suka,"


Jelas Raka panjang lebar.


Selain tidak memiliki perasaan Raka juga tidak ingin adiknya di manfaatkan demi kepentingan Farah sendiri.


Bukan benci sama Farah namun caranya yang salah.


Mereka masih sama-sama kecil dan belum saatnya membahas soal perasaan.


Masih terlalu dini untuk itu.


Raka hanya ingin fokus sekolah dan kuliah.


Dan juga dia sudah bertekad untuk kuliah jurusan bisnis dan melanjutkan perusahaan yang sekarang Arka jalankan.


Dia ingin Daddy-nya di rumah saja dan menghabiskan masa tua bersama sang mommy.


Raka ingin membahagiakan orang tuanya di masa tua dan tidak memikirkan kerjaan lagi.


Tanpa Raka tau jika umur Arka tidak setia itu untuk berhenti bekerja.


Masih berusia awal empat puluh masih bisa bekerja untuk sepuluh tahun ke depan.


Mereka juga belum ada yang tau jika Khira lebih tua dari Arka.


Jadi dengan kesimpulan sendiri Raka menganggap Arka sudah tua dan sudah waktunya untuk pensiun dari dunia kerja.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung 😘


__ADS_2