BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Rumah Kita_2


__ADS_3

Malam yang dingin terasa hangat walau tidak saling menghangatkan namun terasa hangat saat pasangan halal kita menemani dimalam dingin begini.


Baik Raka maupun Farah mereka tidur dengan ranjang sama walaupun dibatasi sama guling.


Sebenarnya tanpa dibatasi Raka tidak akan melewati batas saat tidur atau khilaf karena Raka tidurnya tidak resek suka berpindah tempat atau memeluk sesuatu kecuali itu dilakukan sebelum tidur maka tidak akan lepas sebelum bangun.


Waktu terus berputar dan sekarang sudah berganti hari.


Raka perlahan membuka mata saat sayup-sayup mendengar suara adzan yang di kumandangkan dari pengeras suara masjid.


"Udah setengah lima," Raka melihat jam yang sebentar lagi sudah mau masuk waktu subuh.


Raka duduk di lihatnya seorang perempuan cantik lagi tertidur di sebelahnya dengan nyenyak tanpa terganggu sama sekali.


Di lihat intensnya wajah damai itu dan ini akan jadi pemandangan tiap hari Raka bangun tidur mulai hari ini.


"Bangun pagi langsung liat bidadari akan membuat hari akan lebih berwarna dan semangat," Memandang wajah cantik itu yang tidak terganggu dengan panggilan kewajiban sebagai umat Islam.


Farah masih betah memejamkan mata dan menikmati mimpi atau bisa saja Farah kelelahan karena acara nonstop dari pagi hingga sore.


Cukup menguras tenaga apalagi harus jalan-jalan seharian sama suaminya.


"Yang bangun udah mau subuh," Menggoyang pelan lengan Farah lalu ditariknya lagi tangannya takut Farah menunjukkan reaksi seperti kemarin.


Tampak jelas Farah tidak nyaman sama sentuhan yang diberikan Raka.


"Yang bangun," Panggil Raka lagi setelah beberapa saat akhirnya Farah menunjukkan pergerakan untuk bangun.


Raka dengan sabar membangunkan Farah yang terlelap tidur.


"Hah," Kaget Farah saat melihat ada orang lain dalam kamar nya.


Fikirannya masih kemaba-mana saat melihat ada seorang lelaki dalam kamarnya saat bangun tidur.


Wajar kaget ini hari pertama jadi istri dan tidur dengan seorang lelaki.


"Jangan takut, kamu lupa yang kita udah nikah," Menyadarkan Farah dari keterkejutannya.


Reaksi itu wajar untuk tidak sampai dorong Raka dari atas ranjang dan berakhir mulus di atas lantai.


Farah bernafas lega, Farah kira orang asing mana yang udah tidur bareng dia semalam.


"Maaf," Nunduk Farah menyesal menunjukkan reaksi spontan tadi.


Seharusnya dia tidak melakukan itu namun itu reaksi Farah secara alami dan tidak dibuat-buat sama sekali.


Masih untung cuma teriak tidak sampai memukul, menendang atau meneriaki penyusup sudah berani masuk kamar dia.


"Nggak apa, mandi sana abis itu kita shalat subuh, habis sarapan kita langsung liat-liat sekitar rumah. Kan kemarin belum sempat mengelilingi rumah,"


kemarin itu mendengar kata pindah ada rasa tidak rela bagi Farah meninggalkan rumah yang banyak kenangan ini, sejak kecil Farah selalu di rumah ini dan sekarang harus ditinggalkan.


Berat memang tapi sudah tugasnya mengikuti kemana suami tinggal.


"Iya,"


Mereka gantian mandi lalu shalat, selesai shalat Farah


Di rasa semua selesai mereka keluar buat sarapan bersama.


Raka dan Farah ikut bergabung duduk di meja makan sudah tersaji menu sarapan sederhana yang tidak berat hanya menu ringan sebab perut tidak boleh diisi sama makanan berat pada pagi hari.


Keduanya memulai sarapan bersama dengan tenang.


Selesai sarapan dan Farah membantu membereskan meja makan dan mencuci piring di dapur.


Bagi seorang papa pasti berat melepaskan anak gadisnya pada orang lain namun ini salah satu jalan hidup yang harus di tempuh yaitu menyerahkan anaknya pada orang yang bisa dipercaya melakukan itu.


Tugas kita sebagai orang tua hanya mengandung, melahirkan, membesarkan dengan penuh kasih sayang hingga dewasa serta menyekolahkan dan setelah itu semua dilakukan maka kita harus bisa merelakan anak kita hidup dengan orang lain dalam ikatan pernikahan.


Dia juga hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha dan berharap serta hasil akhir tetap dengan sang pemilik alam.


Raka juga tidak mungkin menyianyiakan amanah yang sudah dititipkan pada dirinya.


Tugas Raka sudah bertambah sekarang bukan pada diri sendiri lagi tapi juga tanggung jawab pada kehidupan Farah serta menjamin kebahagiaan Farah.


Tugas mereka sebagai orang tua sudah di alihkan pada Raka dan sekarang mereka hanya bisa memantau dari jauh saja.


Ada rasa sedih rasanya, saat anak yang kita besarkan dengan penuh kasih sayang kini sudah tumbuh menjadi dewasa dan dipersunting orang serta diajak pergi.


Sesak tentu saja tapi juga tidak selamanya anak mereka sendiri dan pasti perlu pendamping.


Raka mengajak Farah pergi ke swalayan karena ada yang mau di beli.


Di mobil Raka...


"Hm By," Panggil Farah disela perjalanan mereka yang tidak diketahui Farah akan dibawa ke swalayan kemana.


"Ya, bicara aja," Jawab Raka menoleh sebentar lalu fokus lagi menyetir.


Raka tau Faraj ingin membicarakan sesuatu yang mengganjal fikirannya.


Apapun itu akan Raka dengar dan terima selama itu baik.


Raka orang tidak seperti itu dan juga jika mengekang Farah yang ada rasa diantara mereka akan sulit timbul dan Farah cuma akan memikirkan cara agar bebas.


Cukup Raka tunjukkan sifat sayang dan mendukung apa yang Farah lakukan selama itu baik dan tidak merugikan.


"Makasih by," Lega Farah, tadi dia udah salah sangka dan berfikir kalau Raka akan melarang dia bekerja dan tetap dirumah yang ada bosan lama-lama.

__ADS_1


"Jaga mata jaga hati ingat udah punya suami yang sangat di cintai," Tambah Raka sukses membuat Farah terdiam.


"Iya kita sama-sama belajar ya," Lirih Farah ambigu, belajar apa?.


Farah hanya menuruti apa kata Farah dan tidak tau maksud tujuan ucapannya barusan.


"Mau belajar apa yang? Masak, nyuci atau apa?" Kilah Raka pura-pura tidak tau.


Jika semakin banyak memberi kesan hangat maka perasaan itu akan hadir dengan sendirinya.


Tidak perlu memaksa sesuatu sebab sesuatu yang dipaksa tidak akan berakhir baik.


"Belajar menerima dan menjalani pernikahan agar lebih baik lagi," Gugup Farah dengan wajah merona.


Farah sudah putuskan kalau dia akan belajar menerima semua ini termasuk menjadi istri yang baik.


Bagi Farah mempertahankan pernikahan ini tidak ada salahnya dan juga baik Raka maupun keluarga memang baik memperlakukan Farah sejak dulum


Raka tersenyum senang mendengar jawaban yang diinginkan.


Raka sama hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan jodohnya sudah Tuhan kirim yaitu Farah walau caranya cukup mengesankan.


"Iya sayang," Wajah Farah tambah merah mendengar kata sayang yang lembut itu.


Untuk menyembunyikan wajahnya Farah mengedarkan pandangan ke luar jendela agar Raka tidak melihat.


Selesai belanja mereka pulang...


Tidak lama kemudian mobil Raka memasuki perkarangan rumah yang luas serta besar.


Rumah Raka tak lebih besar dari rumah orang tua Farah


Berlantai dua dengan gaya minimalis.


Di depan ada satpam yang jaga dua orang,


"Ayo turun yang, nanti barang diturunkan sama si mamang," Lamunan Farah buyar dan Farah menurut mengikuti Raka berjalan duluan.


Dengan langkah pelan Farah berjalan disamping Raka yang sengaja mensejahterakan langkah kakinya dengan Farah


Sampai didalam sudah ada beberapa orang asisten rumah tangga yang menyambut.


"Selamat datang den Raka," Sapa mereka semua yang berbaris rapi menyambut kedatangan Arka.


Waktu datang semalam mereka takjub melihat perempuan cantik yang lagi berdiri disebelah Raka dengan sedikit menunduk karena tidak terbiasa jadi pusat perhatian apalagi pelayan disana cukup banyak maklum rumah besar jadi butuh banyak orang untuk membersihkan.


"Kami mau ke atas dulu dan tolong barang dimobil susun didepan kamar," Raka tidak mau istrinya merasa malu lebih lama mendengar suara tawa mereka jadi memutuskan untuk pergi ke kamar saja diikuti Farah dari belakang sambil berjalan Farah memperhatikan sekeliling rumah ini yang tampak mewah.


Inilah kehidupan yang harus dijalani sekarang.


Memulai dari awal lagi dengan orang lama dan semoga tuhan merestui.


Farah mengikuti Raka berjalan hingga sampai di depan pintu bercat coklat.


"Ini kamar kita, ayo masuk," Membuka lebar pintu itu memudahkan mereka masuk.


Kamar dengan ciri khas lelaki tampak jelas saat pintu dibuka.


Terlihat bersih dan rapi.


"Oh ya sayang satu lagi kamar ink nggak ada boleh orang lain yang masuk jadi aku minta mulai sekarang sayangnya aku yang beresin kamar ya," Pinta Raka saat sudah sama-sama berada dalam kamar dengan pintu tertutup.


"Kenapa dan selama ini siapa yang beresin kalau orang lain nggak boleh masuk?" Di lihatnya kamar Raka tapi bersih gini, masa iya tidak boleh orang lain masuk.


Tidak masuk akal.


Kalau tidak ada orang lain yang membersihkan lalu siapa? Memang bisa bersih sendiri? Atau dibersihkan sama pemilik kamar.


"Selama ini aku yang beresin dan sekarang gantian kamu sayang.


Hanya kamar aja bukan semua bagian rumah dan untuk baju pakaian bersih dan kotor tarok aja depan pintu," Raka cukup menjaga privasinya tidak mau ada orang lain yang memasuki hanya boleh istri sendiri.


Bukan tidak percaya hanya saja merasa tidak nyaman jika wilayah privasinya ada orang lain yang memasuki walau hanya untuk membersihkan saja.


"Iya nggak apa, kan udah tugas istri juga," Sekarang Farah mengerti ternyata ARaka tidak suka sembarangan orang melewati batas privasinya.


Setiap orang punya aturan sendiri dalam hidup jadi ini aturan Raka.


"Bentar ya mungkin baju ayang udah ditarok depan kamar," Raka berjalan menuju pintu dan membukanya ternyata benar koper Farah sudah ada disana jadi Raka tinggal tarik membawa masuk kedalam kamar tidak lupa Raka letakkan depan lemari baju.


"Baju ayang simpan disini ya dan kalau nggak muat nanti kita beli lemari lagi," Pinta Raka pada Farah menunjuk lemari berwarna gold.


Di kamar Raka tidak terlalu banyak lemari namun lumayan sebab setiap pakaian, sepatu, hingga hal kecil lain sudah ada lemari tempat meletakkan jadi rapi semua.


Farah dengan patuh menjalankan perintah Raka dan membuka lemari itu.


"Kosong," Gumam Farah yang melihat tingkah ada satupun isi lemari itu.


"Kok nggak ada isinya by?" Masa lemari segede itu isinya tidak ada.


Memang ini panjang yang tidak perlu diisi.


"Iya makanya masukin baju kamu yang biar ada isinya.


Kemarin aku sengaja beli karena bagus desainnya eh nggak taunya berguna juga untuk tempat baju istri cantik aku ini," Balas Raka dan tidak lupa menyelipkan godaan diakhir ucapannya.


Dasar Raka benar-benar anak mommy Khira suka sekali menggoda orang.


Cocok jadi ibu dan anak.

__ADS_1


Farah mulai menyusun bajunya dengan rapi dan juga menyisihkan satu-satu agar mudah saat mencarinya nanti bila digunakan.


"Tukang gombal," Lirih Farah fokus sama kegiatannya.


Bajunya tidak terlalu banyak yang dibawa hanya yang perlu saja dan nanti bisa diambil lagi.


Lagian saat membereskan dirumah tadi yang ada dalam fikiran Farah bawa seperlunya dan bisa jemput lagi kan tidak jauh sekalian jenguk papa mama.


"Udah yang?" Raka duduk di sofa kamar itu sambil mengamati setiap gerak-gerik Farah yang memasuki semua perlengkapannya.


"Udah by," Farah menyimpan kopernya disudut lemari disana juga ada sebuah tas koper agar tidak berdebu jika digunakan suatu saat.


"Sini duduk dulu," Memanggil Farah lalu meminta Farah untuk duduk disampingnya sofa yang kosong.


Dengan langkah ragu Farah mendekat dan duduk dengan pelan.


Farah masih sedikit gugup namun sebisa mungkin menahan diri agar tetap terlihat tenang.


"Rileks yang jangan tegang gitu, aku nggak makan orang kok tenang," Canda Raka sambil tersenyum tampan.


Menghadapi sifat Farah yang malu-malu begini membuat Raka ingin mencubit pipi yang sedikit tembem itu.


Farah yang cantik dengan tinggi sebahu Raka pas untuk ukuran perempuan mungil serta mata bulat, bibir tipis juga tatapan mata lembut.


"Nggak kok," Elak Farah yang tidak mau kelihatan gugup.


Malu yang ada kalau ketahuan.


"Mulai biasakan yang, nggak mungkin kita terus seperti ini dan jika saat kamu gugup ingat satu hal aja kalau kamu dekat sama pasangan halal bukan orang lain," Sabar Raka mendekati Farah yang belum bisa rileks saat dekat Raka.


Kalau ditanya Raka juga gugup namun mungkin tidak separah Farah


"Iya by maaf," Lirih Farah yang masih bisa didengar Raka.


"Iya nggak apa, jadi begini aku mau bahas tentang hubungan kita kedepannya.


Walau ayang memiliki uang dan penghasilan sendiri tapi aku minta apapun yang ayang beli selalu gunakan uang aku dan jika ayang ketahuan nggak memakai uang aku maka dapat hukuman dari aku dan ini,'


Jelas Raka yang mau menafkahi Farah dengan uang sendiri dan Farah diminta menyimpan uang hasil kerjanya.


Raka juga memberikan kartu buat memenuhi kebutuhan Farah dalam segala hal.


"Tapi by," Tolak Farah yang merasa keberatan menerima apalagi melihat kartu yang diberi Raka sudah tau berapa isi minimalnya.


Walau Farah tidak memiliki kartu itu tapi tau itu kartu jenis apa.


"Sepertinya kamu lebih suka di hukum yang, mau tau hukuman pertama ya?" Seringai Raka sebenarnya senang kalau Farah menolak dan dengan senang hati menghukum farah dengan cara sendiri.


"Nggak by baiklah," Segara Farah mengambil kartu yang dipegang Raka dan memegang erat.


Farah takut hukuman dan terlintas di kepalanya adalah membersihkan rumah besar itu dan ditambah halaman yang luas.


Kebayang seberapa capek dan remuknya badan jika melakukan sendiri.


"Padahal hukumannya nggak berat kok kalau mau tau sini kartunya lagi," Menyodorkan tangan meminta kartu yang sudah diberi barusan.


Farah menyembunyikan tangannya yang memegang kartu kebelakang badan seolah ini sudah menjadi hak miliknya.


"Nggak boleh diambil lagi by, kayak nggak ikhlas aja,'' Tolak Farah lalu berjalan menuju tasnya dan memasukkan kartu itu kedalam dompetnya.


Farah kembali duduk disebelah Raka dengan pelan.


Masih takut tapi berusaha menepis rasa itu dan meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja.


"Ikhlas kok yang kalau mau satu lagi juga ada, mau?"


Mengeluarkan satu lagi yang berbeda dengan nominal tinggi juga.


"Nggak makasih by, itu udah cukup kok,"


Mana mau Farah menerima lagi, itu saja kalau digunakan belum tentu akan habis isinya apalagi ditambah satu lagi.


Dan juga dia tidak mau dibilang perempuan matre karena silau karena melihat kartu yang diberikan Raka.


Sekarang juga Farah tidak membutuhkan banyak uang dan juga Farah yakin semua kebutuhan rumah sudah terpenuhi semua mungkin jika belanja diluar akan mempergunakan kartu Raka.


"Masih gugup nggak?" Tanya Raka, duduk mereka agak berjarak beberapa puluh senti.


"Dikit by," Jujur Farah yang memang masih gugup duduk dekat Raka seperti sekarang.


"Mau aku bantu supaya nggak gugup lagi?" Tawar Raka mempunyai niat terselubung atas tawarannya barusan.


Tapi tidak merugikan juga.


"Emang bisa by?" Polos Farah yang ingin mengusir rasa gugup dihatinya.


"Bisa seperti ini," Dengan cepat Raka memeluk Farah dari samping dengan tangan melingkar dibahu Farah.


Badan Farah menegang mendapat serangan mendadak dari suaminya.


Degup jantung berdetak lebih cepat, nafas Farah tercekat dan otak Farah bleng tidak bisa berfikir jernih.


"Pingsan nggak ya?"


Fikiran Farah kalut saat berada dalam pelukan Raka.


Hangat dan nyaman tapi Farah tidak bisa menguasai diri.


Ini terlalu mendadak.

__ADS_1


__ADS_2