
Keesokan lagi..
Sudah seperti hobi baru untuk Farah, ngambek minta di bujuk juga butuh perhatian lebih...
Namun sebelum menuju kamar Raka berbalik lagi ke arah tempat bibi kerja.
Merasa ada yang ketinggalan di ruang tamu tadi.
"Kok balik lagi den?" Heran bibi saat Raka sudah berdiri tak jauh dari dia.
Padahal belum satu menit masa sudah selesai saja urusan Raka membujuk Farah, apa secepat itu fikir bibik.
"Ini bik aku mau bawa kue untuk yang lagi ngambek," Singkat Raka mengambil kue yang di beli khusus untuk Farah lalu di bawa menuju kamar.
Setelah pamitan sama bibik.
Sedangkan bibik hanya bisa geleng kepala melihat tingkah Raka yang cukup menarik perhatian seisi rumah.
Gimana cara Raka membujuk Farah dengan makanan kesukaan, mungkin satu bulan ini sudah banyak yang mereka lewati..
Raka sudah berdiri di depan kamar yang di tempati Farah.
Tok..
Tok..
Mengetuk pintu pelan dia tidak mau langsung masuk, ingin memberi kejutan untuk istri yang lagi ngambek.
Biar saja Farah yang buka pintu.
"Masuk aja nggak di kunci," Teriak suara dari dalam.
Namun bukannya masuk Raka malah mengetuk lagi.
"Masuk aja," Izin suara dari dalam, Raka hanya tersenyum saja sambil melihat kue di tangan nya.
Raka tidak putus asa lagi-lagi mengetuk pintu hingga pada akhirnya.
Raka ingin tau sampai mana Farah akan menyuruh sipengetuk pintu masuk tanpa membuka pintu dan Farah juga bertahan hanya dengan berteriak dari dalam.
"Udah di bilang masuk aja, nggak dengar ap,,,a," Kaget Farah saat melihat siapa yang datang dengan senyuman manis di wajah tampan itu.
Sontak saja Farah langsung memasang wajah bete melihat senyum menyebalkan itu yang sejak pagi sukses memporak-porandakan mood Farah hingga siang menjelang sore ini.
"Kirain orang penting," Malas Farah masuk lagi ke dalam kamar di ikuti Raka meski tidak di ajak masuk.
Lupa tadi di suruh masuk mumpung sekarang sudah di bukakan pintu maka saatnya masuk.
"Emang bukan orang penting tapi orang spesial," Balas Raka meletakkan kue di sebelah Farah duduk dan Raka jongkok di depan Farah duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
Farah membuang wajah kesembarang arah, dia tidak mau melihat wajah tampan itu bisa-bisa dia cepat luluh.
"Jadi ceritanya sekarang lagi ngambek nih?" Tanya Raka sambil memegang tangan Farah lembut.
Yang di pegang diam saja tidak ada penolakan sama sekali.
Sok marah tapi di pegang diam, maunya apa mbak cantik.
"Tadi kata bibik ada yang nggak keluar kamar sejak tadi?" Raka tidak peduli tidak di jawab ucapannya, dia akan tetap bicara sambil menikmati wajah sok merajuk itu hingga puas.
Kapan lagi coba?.
"Tapi kalau merajuk gini makin cantik deh," Puji Raka lagi sambil mencium singkat punggung tangan Raka lalu di genggam lagi.
Raka tidak akan kehabisan akal untuk terus membujuk hingga suara yang dia rindukan sejak tadi keluar lagi.
Dan juga mau melihat sampai mana aksi diam akan Farah lakukan jika melihat wajah tampan itu memancarkan penglihatan yang bisa membuat Farah tidak bisa berkelit.
"Kalau cantik gini enaknya di bikin merajuk tiap hari aja," Goda Raka saat melihat wajah itu sedikit memerah karena malu di puji Raka.
Siapa yang tidak senang di puji sama suami sendiri.
Farah juga perempuan normal dan bakal baper jika di puji seseorang apalagi pasangan halal, rasanya mau memeluk saat ini juga jika tidak ingat lagi ngambek.
"Kok jadi pengin cium sekarang ya?" Tambah Raka membuat mata Farah melotot mendengar kata cium.
Selama ini Raka hanya akan mengusap kepala atau mencium tangan Farah tapi mendengar kata cium sekarang Farah malah mengartikan beda.
Segitu takutnya Raka cium atau karena belum terbiasa dengan sentuhan fisik yang Raka berikan secara berlebihan.
"Siapa? Aku aja belum bergerak dari tadi,"
Raka berdiri lalu duduk di samping Farah.
Senyum mengembang di wajah tampan itu saat mendengar suara yang sudah biasa Raka dengar.
"Nggak usah ngambek kayak anak kecil, nggak cocok sama umur," Lembut Raka merangkul bahu Farah hingga kini bersandar di dada bidang Raka.
Farah tidak menolak ini sudah seminggu lebih Raka lakukan hingga kini sudah mulai terbiasa.
Pendekatan yang Raka lakukan itu perlahan tapi pasti dan itu mampu meluluhkan Farah secara perlahan.
"Jadi maksudnya aku udah tua jadi nggak cocok ngambek lagi," Kesal Farah namun tidak menarik badan dari pelukan Raka.
Jadi sekarang ceritanya ngambek atau lagi manja manja? Heran mana ada orang ngambek tapi pelukan? Tolong di jelaskan.
"Kalau ngambek gini cukup sama aku aja biar bisa aku manjakan.
Siapa bilang istri abang udah tua kalau di perhatikan masih seperti anak kuliahan kok
__ADS_1
Maaf untuk tadi pagi abang beneran lupa, sekarang abang ganti ya," Meminta maaf dengan cara Raka sendiri.
Mengusap sayang kepala tanpa menggunakan hijab itu sebab hanya berada di dalam kamar.
Sesekali Raka mencium pucuk kepala Farah, anggap saja Raka menebus kesalahan tadi pagi.
"Udah sekarang jangan ngambek lagi,"
Masih mengusap kepala Farah dengan Farah bersandar di dada Raka sambil memejamkan mata.
Menikmati usapan lembut itu dengan tenang, sekali saja Raka lupa kini Farah menikmati seperti sudah lama tidak merasakan.
"Yang makan dulu kuenya, tadi abang beli sebelum pulang," Pinta Raka selesai sama kegiatan rutinnya.
Raka ingat kue yang di bawa belum di sentuh sama sekali bahkan belum keluar dari kotaknya.
"Yang," Panggil Raka lagi namun tidak ada jawaban.
Dengan pelan Raka menjauhkan badan sedikit dari Farah untuk melihat.
"Lah malah tidur, keenakan di usap," Kekeh Raka saat melihat Farah memejamkan mata dengan nafas teratur.
Raka hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membaringkan Farah lalu di selimuti.
"Tidur nyenyak sayang," Mengusap kepala Farah lagi.
Menemani Farah ikut berbaring juga di sebelah Farah dan menarik Farah ke dalam pelukannya.
Raka ikut tidur karena dia juga merasa mengantuk.
Satu jam berlalu Farah membuka mata lebih dulu dan seperti biasa dia akan terbangun dalam pelukan suaminya.
"Suami ku," Kekeh Farah pelan memperhatikan wajah tampan nan damai itu tertidur dengan nyaman.
Farah belum ingin beranjak dari posisi nyaman itu dan masih asik menikmati wajah yang sudah menemani satu bulan ini, semenjak mereka berbaikan.
Pernikahan dadakan yang mereka lakukan tidak menjadi beban untuk mereka karena di jalani dengan ikhlas dan percaya ini ada campur tangan sang pencipta.
"Aku mandi dulu ya by," Dengan sedikit malu-malu Farah mengecup pipi Raka pelan lalu di jauhkan lagi wajahnya dan di lihat Raka masih tertidur.
Pelan-pelan Khira melepaskan pelukan Raka di pinggangnya dan turun menuju kamar mandi.
"Udah mulai berani," Gumam Raka saat merasa Khira sudah tidak ada di kamar.
Sebenarnya Raka sudah lebih dulu bangun hanya saja ingin berbaring di samping istrinya dengan memejamkan mata namun siapa sangka akan dapat kejutan dari Farah.
Tidak menyangka Farah sudah mulai berani bertindak meski saat Raka tidur namun ini sudah termasuk salah satu kemajuan.
"Maka sering sering lah melakukan ini," Putus Raka akan lebih sering bangun telat dan dapat ciuman dari Farah walau sebenarnya Raka tau.
__ADS_1
Namun Raka tidak mau bilang takut Farah malu dan tidak mau melakukan lagi.
Raka harus banyak memiliki cara agar Farah lebih terbiasa lagi dengan dirinya dan berterus terang menunjukkan rasa sayang terhadap Raka seperti Raka yang dengan jelas menunjukkan kalau Farah sudah menempati tempat khusus dihatinya, sejak lama.