
"lebih baik kita semua menginap di rumah papi,"
Mereka semua setuju untuk menginap di rumah papi Dio.
Ini merupakan momen kumpul bersama jadi lebih baik berkumpul di rumah utama daripada di rumah orang tua masing-masing dan juga mereka memiliki kamar sendiri di rumah utama itu.
"Itu jauh lebih baik anggap saja nanti kita membuat perayaan kecil menyambut anggota baru keluarga kita,"
Mobil mereka melaju beriringan keluar dari area parkiran rumah sakit menuju kediaman utama papi Dio.
Mereka pulang bersama pasangan masing-masing kecuali papa Abra karena dia tetap tinggal di rumah sakit menemani oma Dea.
Tidak butuh waktu lama mereka semua sudah sampai di depan mansion opa Dio dan mereka turun bersamaan lalu berjalan memasuki hunian mewah itu.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu, pastinya capek sejak kemarin mempersiapkan acara yang serba mendadak ini,"
Di sini yang berperan sebagai yang tertua adalah papi Arga karena dia anak kedua.
Kelima pasangan itu bukan lima lagi tapi enam memasuki kamar mereka masing-masing kecuali Raka jomblo yang sampai sekarang masih betah sendiri.
"Berasal jadi anak pungut karena nggak punya pasangan, nasib nasib,"
Raka memasuki kamarnya juga dengan melafalkan beberapa mantra karena melihat sepupunya bergandengan memasuki kamar berbeda jauh dengan dirinya yang hampa di sebelah.
Sejak kemarin dan hari ini adalah hari yang melelahkan untuk mereka dan rasanya badan ingin sekali merebah kan diri di atas ranjang serta merindukan sejuknya air membasahi diri.
Mereka semua harus mulai terbiasa tidur ditemani seseorang di sebelahnya terutama pasangan baru itu. Yang pasti saja bakalan merasa aneh karena sadari dulu sudah terbiasa tidur sendiri.
Namun semua itu harus bisa membiasakan untuk berbagi tempat tidur karena status mereka bukanlah seorang anak saja tapi juga sebagai seorang istri.
"Sekarang giliran Abang yang mandi,"
Haruskah baru keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan pakaian lengkap serta dia tidak membuka hijabnya lantaran belum terbiasa dilihat oleh orang lain walaupun suami sendiri. Mungkin masih ada rasa canggung dalam dirinya.
"Baiklah kalau saya merasa capek istirahat saja dulu jangan tunggu abang selesai mandi,"
Rasya tidak ingin haruskah menunggu dia selesai mandi takutnya dia lama dan Riska menahan kantuknya apalagi sudah pasti merasa kelelahan.
Memang acara akad nikah dilaksanakan pagi menjelang siang tapi sebelum pulang mereka menyempatkan menjenguk opa Dio di ruangannya jadi saat mereka pulang hari sudah gelap.
"Riris masih bisa tahan kok Bang jadi Abang segera mandi aja, "
Rasya tidak memaksa lagi dan laki-laki itu memilih memasuki kamar mandi sambil membawa baju ganti.
Tadi sebelum menuju rumah sakit kedua orang tuanya sudah menyuruh Rasya untuk membawa baju ganti karena dia tahu tidak mungkin Rasya tidak menginap di kediaman mertuanya. Dan terbukti sekarang baju itu berguna sebagai salinan setelah mandi tapi jika tadi tidak membawa baju ganti sudah pasti dia akan kebingungan atau bisa saja Riska akan meminjam baju Raka karena ukuran Rasya yang sama.
"Nggak nyangka aja sekarang Riris udah nikah walaupun ini mendadak tapi jika menikah dengan orang yang dicintai itu rasanya tidak ada keterpaksaan di dalamnya yang ada hanya kebuncahan kebahagiaan dan juga Riris bisa memenuhi keinginan opa,"
Riska masih duduk di atas ranjang sambil menunggu Rasya selesai mandi. Gadis itu masih enggan untuk tidur duluan karena lebih baik tidur bersama suaminya ah mengucapkan kata suami ada getaran kebahagiaan dalam dadanya.
Gadis itu tidak menyangka akan secepat ini berubah status menjadi seorang istri karena jawaban atas doanya sudah ada dan dia akan mengasih tahu Rasya jika siap dipersunting setelah menyelesaikan sekolah menengah atas namun takdir berkata lain yang mengharuskan dia menikah sebelum menyelesaikan sekolah.
'kan Abang sudah bilang jika sayang sudah mengantuk lebih baik tidur duluan saja nggak perlu nunggu Abang selesai mandi,"
Haruskah terlajak kaget mendengar suara Rasya berarti beberapa saat tadi dia larut dalam lamunan dan tidak menyadari jika suaminya sudah selesai mandi.
Gadis itu terpandang melihat wajah tampanan segar itu selesai mandi bahkan lebih tampan dari biasanya karena ini kali pertamanya gadis itu melihat wajah suaminya seperti sekarang yang tampil alami karena biasanya saat mereka bertemu harus selalu melihat penampilan Rasya yang sudah sedikit dipoles.
"Nggak apa kok Bang kan lebih enak jika tidur itu barengan dan juga Riris masih bisa menahan,"
Gadis itu bergeser untuk memberi ruang tempat rahasia berbaring dan dia tidur di tengah ranjang bukan bagian ujung.
Menepuk ruang kosong di sebelahnya tanda meminta Rasya akan duduk bersebelahan dengannya.
Jika dilihat dari sisi negatifnya tindakan Riska sekarang sudah seperti gadis yang sudah biasa melakukan hal itu kepada laki-laki padahal sebenarnya tidak dia hanya berusaha bersikap tenang karena yang dia perlakukan seperti itu adalah suaminya sendiri jadi tidak ada salahnya.
"Boleh abang peluk?"
Dari sekian banyak pertanyaan hanya pertanyaan itu yang terlontar dari bibir Rasya.
Mungkin memang sudah sejak lama laki-laki itu ingin merengkuh badanmu itu ke dalam pelukannya namun hubungan mereka dulu hanya sebatas sepasang kekasih, berbeda dengan sekarang yang sudah menjadi istrinya.
Sebenarnya tanpa izin pun Rasya sudah boleh melakukan tapi dia harus meminta izin pada pemilik badan.
"Iya,"
Ditanya seperti itu sudah tentu Riska salah tingkah karena dia tidak menyangka ucapan itu yang terlontar saat mereka dalam jarak sedekat ini bahkan berada di atas ranjang.
Wajah cantik itu pun sudah bertemu merah karena merasa malu saat tangan kekar itu mulai merengkuh bahunya lalu menarik badan mungilnya ke dalam pelukan hangat itu.
"Sebenarnya Abang sudah lama ingin memeluk sayang seperti ini tapi abang berusaha menahan diri karena dulu hubungan kita belum sah seperti sekarang tapi mulai hari ini Abang sudah bebas memeluk sayang seperti ini,"
__ADS_1
Tidak lupa Rasya melakukan kecupan ke puncak kepala Riska yang membuat gadis itu semakin salah tingkah.
Jika berkaitan dengan tangan dia sudah terbiasa tapi jika dipeluk seintens ini sudah tentu bukan wajah saja yang memerah tapi jantungnya sedang tidak aman sekarang karena kinerjanya dua kali lipat dari biasa.
"Ternyata senyaman ini memeluk pasangan halal kita,"
Sekarang sebelah tangan Rasya sudah melingkar di perut Riska sambil mengusap pelan bagian sampingnya.
Badan Riska seketika menegang mendapat ucapan seperti itu karena ini kali pertamanya disentuh seintim ini oleh lawan jenis.
"Rileks saja karena bukan orang lain yang melakukan suami Riris sendiri,"
Rasya tahu jika istrinya ini salah tingkah diperlakukan seperti ini namun dia membisikkan kalimat penenang agar tubuh menegang itu segala rileks dan meyakinkan jika ia melakukan ini bukanlah orang lain.
"Ini pertama kalinya untuk Riris bang jadi wajar reaksi badan Riris seperti ini, Riris harap abang aku dan harus bersabar menunggu hingga Riris terbiasa disentuh oleh abang,"
Mulai sekarang nggak di situ memang harus membiasakan diri disentuh oleh suaminya sendiri, ini baru ucapan serta pelukan bukan hal lain yang lebih intim lagi atau jangan jauh lebih intim adalah hubungan suami istri.
Tapi untuk yang satu itu Rasya akan bersabar menunggu karena istrinya ini masih kecil dan belum menyelesaikan sekolahnya.
'karena menikah bukan selalu harus itu yang diminta setelah akad nikah tapi kenyamanan pasangan lah yang utama baru yang lain menyusul'
Walau naluri laki-laki normalnya meronta tapi rasa masih bisa menahan diri dan meyakinkan jika istrinya tidak mungkin siap disentuh dalam waktu dekat ini, jadi dia harus bisa meyakinkan diri untuk hal satu itu dia harus menumbuhkan ekstra kesabaran.
"Apapun itu jika berhubungan dengan Riris abang akan selalu sabar menunggu yang terpenting untuk saat ini bisa memeluk Riris saja abang sudah senang,"
Jujur aja kepada istrinya karena ini yang dirasakan sebab memeluk tubuh mengelilingi saja menimbulkan kenyamanan dalam dirinya apalagi mulai malam ini dia akan tidur ditemani oleh guling bernyawa serta hangat.
"Lebih baik sekarang kita tidur,"
Mereka berdua merebahkan badannya lalu Riska mengambil posisi miring ke arah suaminya karena tidak mungkin tidur dengan membelakangi suami karena itu merupakan sebuah dosa.
Rasya menarik pelan tubuh istrinya ke dalam pelukan dan tidak lupa dia mengusap punggung kecil itu sembari mengecup kepala Riska yang entah mengapa sudah menjadi candu untuknya, lalu
CUP...
Sebuah kecupan Rasya bukan ke kening istrinya yang membuat badan yang berada dalam pelukannya menegang seketika karena mendapat serangan dada seperti ini.
"Rileks saja, pejamkan mata dan tidur,"
Tangan Rasya terus mengusap punggung Riska hingga gadis itu mulai rileks dan tidak lama nafasnya mulai teratur yang menandakan dia sudah memasuki alam tidur.
Beberapa jam berlalu.
"Cantiknya,"
Gumam Rasya saat melihat wajah cantik itu senantiasa memejamkan mata dengan nafas yang masih teratur. Rasya sudah bangun beberapa menit yang lalu dan dia lebih memilih menikmati wajah cantik yang tidur semalaman di dalam dekapannya.
Hingga sayup-sayup terdengar adzan subuh.
"Sayang ayo bangun sekarang sudah adzan,"
Rasya mengusap pipi gadis itu untuk membangunkan sang istri agar tidak kaget jika dia melakukan gerakan lebih saat membangunkan.
Tidak lama kemudian Riska mulai menunjukkan pergerakan dan perlahan matanya terbuka namun dia langsung terlonjak kaget karena melihat Rasya berada di dekatnya saat bangun tidur.
Namun itu berlangsung sebentar karena,
"Kok bisa Riris lupa jika kemarin sudah menikah,"
Wajar Riska bereaksi seperti itu karena Ini pertama kalinya dia bangun tidur sudah ada orang lain di dalam kamarnya beruntung ingatannya cepat kembali jika dia sudah menjadi seorang istri namun juga tidak sudah pasti dia akan berteriak hingga membuat keributan di subuh seperti ini.
"Lain kali abang akan lebih berhati-hati membangun Riris agar tidak kaget seperti ini,"
Rasya merasa bebas dengan negara kang reflek istrinya ini ingin dia tertawa namun tidak ingin membuat istrinya merajuk pagi-pagi seperti ini jadi lebih baik dia mengajak bergantian membersihkan diri lalu bersiap untuk salat subuh.
Selesai mandi.
"Kita jamaah di bawah bang,"
Ajak Riska yang sudah mengenakan mukenanya karena ajaran opa Dio yang selalu meminta anaknya untuk melaksanakan salat berjamaah apalagi itu waktu subuh.
Karena waktu salat berjamaah mereka bisa berkumpul serta berbincang kecil sebelum beraktivitas masing-masing di pagi hari.
Jadi mereka diminta untuk memanfaatkan waktu walau itu hanya beberapa menit saja karena waktu yang sudah berlalu tidak bisa diulang kembali walaupun itu satu menit yang lewat.
"Ayo, abang kira kami para laki-laki akan berjamaah di masjid,"
Karena biasanya subuh Rasya akan pergi ke masjid bersama ayahnya.
"Oh opa selalu berkata agar kami para anak dan cucunya harus bisa memanfaatkan waktu untuk berkumpul walaupun itu hanya sekedar shalat berjamaah,"
__ADS_1
Proses mendengar jawaban dari istrinya ini karena di keluarga ini ditanamkan bahwa yang harus diutamakan adalah keluarga kita walau memang iya salat berjamaah di masjid itu besar pahalanya namun berjamaah di rumah juga tak kalah besar amalannya apalagi sekarang mereka sedang ramai di rumah utama sudah pasti Mushola yang sediakan hampir penuh oleh mereka semua.
"Iya Abang berjanji ke depannya Abang akan selalu mengutamakan keluarga kecil kita dari apapun dan abang nggak mau jauh dari istri cantik abang ini,"
Ucapan rasa yang diakhiri dengan kalimat gombalan di ujungnya membuat wajah cantik itu bersambung merah sepanjang jalan menuju mushola yang terletak di lantai dasar rumah itu.
Sampai di bawah sudah ada beberapa orang di sana dan setelah semuanya lengkap mereka semua memulai salatnya dan yang menjadi imamnya adalah menantu laki-laki pertama di keluarga ini.
"Lebih baik kita bersiap untuk kembali ke rumah sakit karena tadi mami menelpon,"
Ternyata semua membubarkan diri setelah berbincang sebentar usaha melaksanakan salat berjamaah dan kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap kembali ke rumah sakit.
Selesai bersiap mereka semua sarapan terlebih dahulu karena jika sudah berada di rumah sakit mereka akan lupa dengan urusan perut karena larut memikirkan keadaan opa Dio.
Sampai rumah sakit.
Mereka semua berjalan menuju ruang rawat opa Dio dan sampainya di sana mami Dea serta papa Abra dan mama Nafiza berada di luar ruangan padahal semalam mereka sudah diizinkan untuk bisa menemani opa Dio di dalam ruangan.
"Oma bagaimana keadaan opa?"
Riska berdiri di sebelah omanya lalu menggenggam tangan yang sudah keriput itu namun masih ada sedikit kencang karena perawatan mahal yang dilakukan.
"Opa baik-baik saja dan sekarang dokter lagi memeriksa opa makanya Oma dan papa menunggu di luar,"
Menjelaskan keadaan opa Dio yang tidak perlu dikhawatirkan hanya menunggu penjelasan dokter yang lagi memeriksa agar lebih jelasnya.
Dokter keluar ruangan opa Dio.
"Bagaimana dokter keadaban opa?"
Riska berjalan ke arah dokter yang baru saja keluar lalu menanyakan keadaan sang opa.
"Tuan Dio ingin bertemu dengan semua keluarganya terutama istrinya,"
Setelah mengucapkan itu dokter berpamitan lalu mereka semua memasuki ruangan dan berdiri bersama pasangan masing-masing.
"Opa senang melihat kalian semua berkumpul terutama mami yang papi lihat semakin cantik saja padahal sebentar lagi akan memiliki cicit,"
Opa Dio melihat wajah wanita yang sudah menemaninya berpuluhan tahun lamanya bahkan cucu mereka saja sudah sebesar ini dan sebentar lagi akan memiliki cicit dari anak keduanya.
"Papi masih sempat aja ngegombal padahal papi butuh banyak tenaga agar cepat pulih, nanti aja nih gombalin mami jika papi sudah pulang ke rumah dan kita berkumpul lagi,"
Kalau sudah hidup puluhan tahun bersama namun tetap saja jika dipuji oleh sang pujaan hati tentu saja akan salah tingkah dan itu tetap berlaku kepada mami Dea.
"Cucu opa juga tidak kalah cantik dan tampan apalagi cucu menantu opa, sebenarnya opa ingin melihat semua cucu opa menikah namun papa tidak bisa memaksa karena apa tahu jika Bang Raka masih jomblo,"
Raka yang namanya disebutkan hanya bisa menatap sebal ke arah opanya karena status jomblonya ini masih suka menjadi bahan ledekan untuk mereka semua padahal jomblo itu bukanlah sebuah aib yang harus diumbar.
"Walaupun jomblo tapi calon direktur lupa dan jika Abang sudah memiliki kekuasaan maka para gadis akan datang dengan sendirinya,"
Balas Raka dengan santai karena pada umumnya memang seperti itu jika seorang laki-laki memiliki kekayaan serta kekuasaan maka perempuan akan datang dengan sendirinya tanpa harus dicari ataupun dikejar untuk mendapat perhatiannya.
"Opa cuma bisa berpesan jika abang memiliki istri nanti cintai dia sepenuh hati walaupun hatinya belum bisa memasukkan abang lagi ke dalamnya karena kejadian di masa lalu dan opa harap abang sabar untuk meraih cinta istri abang nanti,"
Mendengar ucapan apanya perasaan Raka tiba-tiba ada yang lain dan entah mengapa dia merasa jika memiliki istri nanti akan butuh perjuangan untuk meraih hati istrinya namun Raka berusaha menepis karena tidak mungkin itu terjadi karena dia akan menikah dengan perempuan yang dia cintai begitu juga sebaliknya.
"Opa ngomong udah kayak orangnya bisa membaca masa depan saja,"
Mereka mengobrol santai di dalam sana sambil menemani opa dia dan saat jam makan siang mereka memilih makan di kantor rumah sakit karena tidak mau meninggalkan opa Dio terlalu lama padahal opa Dio sudah meyakinkan jika dia tidak apa-apa.
Namun tetap saja para anak menantu dan cucu tidak bisa pergi jauh apalagi ini hari Minggu jadi mereka ingin menghabiskan waktu bersama walau itu di rumah sakit.
Selesai makan siang mereka kembali ke ruangan dan dilihat opa Dio lagi beristirahat dengan damai tanpa terganggu sama sekali dengan kehadiran mereka semua.
Hingga beberapa jam berlalu opa Dio belum bangun sama sekali bahkan ini sudah memasuki waktu salat asar dan itu sudah terlalu lama untuk opa Dio tertidur, sudah saatnya bangun.
"Coba bangunkan opa kalian, Kenapa lama sekali tidurnya padahal ini sudah sore,"
Cucu perempuannya bangun dari duduk lalu menghampiri ranjang tempat opa Dio.
Lalu gadis itu memegang satu persatu tangan opanya namun yang didapat justru di luar ekspektasinya.
"Tangan opa dingin,"
Sontak saja sebuah ucapan sederhana itu membuat mereka semua bangun dari duduknya dan menghampiri ranjang untuk memeriksa keadaan opa Dio apakah memang dingin seperti yang dikatakan anak gadis mereka.
Jantung mereka satu persatu sudah berdebar kencang karena memikirkan kemungkinan buruk bisa saja terjadi apalagi sejak tadi opa Dio tidak menunjukkan pergerakan sama sekali.
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘
__ADS_1