BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 130


__ADS_3

Keesokan harinya Farah masih betah di dalam dekapan suaminya setelah shalat subuh berjamaah tadi.


Farah mengajak Raka berbaring karena ini masih pagi di tambah bumil di larang oleh Raka untuk menyiapkan sarapan karena kondisi kehamilan Farah yang sudah besar


Raka tidak ingin anaknya kenapa-napa dalam kandungan jika bumil memaksa untuk memasak jadi dengan patuh bumil menurut karena baby nya lebih penting dari apa pun.


Jangan sampai karena egois ingin memasak malah mengorbankan anak sendiri.


Di kehamilan pertama tidak bisa di anggap remeh apalagi Farah belum merasakan apa yang namanya mual di pagi hari.


Farah betah menghirup aroma yang keluar dari tubuh Raka di tambah tadi Raka sudah mandi jadi semakin betah di sana.


"By hari ini jangan kerja dulu ya!" Pinta Farah merasa masih belum puas melepas rindu dengan suaminya jika hanya satu hari.


Masih kurang apalagi di tinggal selama seminggu namun obat nya cuma sehari merasa tidak adil.


Kerinduan itu masih ada dalam diri Farah dan ingin bermanja dengan suaminya untuk hari ini.


"Tapi kerjaan sudah menumpuk di kantor sayang di tambah Dean belum balik," Mencoba memberi pengertian pada istrinya agar tau kalau tanggung jawabnya di kantor bukan soal kerjaan saja tapi memberi contoh yang baik untuk karyawan.


"Jadi kamu lebih milih kerjaan di banding aku yang masih rindu, di tambah kamu ngajak Via kesana sedangkan aku di tinggal sendiri," Rajuk bumil dengan mata berkaca-kaca karena saat Farah menyuruh datang ke rumah karena bosan.


Namun Via berkata kalau ikut bersama Dean dan sudah di pastikan bumil itu marah karena dia di tinggal sedangkan Via di ajak.


Merasa tidak adil, kenapa cuma dirinya yang di tinggal.


Bumil itu memendam kekesalan itu sendiri dan baru sekarang bisa komplen.


Merasa Rka tidak sayang lagi sama dirinya hingga tega meninggalkan.


Saat Farah bilang kenapa tidak bicara sama dia dan Via menjawab dia sangka Farah tau kalau dirinya ikut.


"Abang menyuruh Dean mengajak Via agar dia mau menggantikan kerjaan Abang di sana agar Abang bisa pulang cepat tidak seperti biasa harus menyelesaikan kerjaan baru pulang," Sudah bisa Raka tebak kalau istrinya tau dari Via yang bercerita ikut kesana.


Salah Raka juga yang tidak bilang jika Via ikut makanya kini merajuk.


"Tapi kenapa nggak bilang kalau mengajak Via sedangkan aku di tinggal apakah udah nggak sayang lagi?" Si ibu hamil kenapa mudah merajuk hanya karena masalah sepele.


Bukannya Raka sudah pernah bilang dia juga tidak mau meninggalkan istri jika bukan karena lagi hamil.


Raka juga ingin mengajak istrinya tapi tidak ingin egois mengorbankan anaknya yang masih sebesar biji kacang.


"Sayang ku cinta ku bukannya Abang udah pernah bilang sebelum pergi kalau Abang sebenarnya ingin bawa cinta ku ini tapi Abang nggak mau dia kenapa-napa," Mengusap perut yang sudah mulai menunjukkan perubahan.


Meraba dengan pelan sambil melafalkan doa agar anak menjadi anak yang soleh dan soleha.


Seketika Farah terdiam mendengar ucapan Raka.


Kenapa dia bisa lupa kalau Raka sudah pernah bilang dan berjanji bakal mengajak jika baby nya sudah kuat di ajak perjalanan jauh.


Tapi Farah tidak mau mengakui kalau ingat Arka sudah pernah bilang itu.


"Aku masih kangen by," Lirih bumil di balik dada bidang Raka yang tidak tertutup baju.


Karena sengaja meminta Raka tidak memakai baju hanya celana saja.


Sejak Raka pulang kemarin Farah lebih suka dada bidang itu terekspos tanpa baju bisa menikmati langsung dari sumbernya.


Merasa tergelitik dengan bulu-bulu halus dada Raka.


Walau tidak banyak tapi Farah suka sensasi menggelitik di wajah nya.


"Udah satu hari kemarin kita di kamar terus yang masa mau di perpanjang lagi? emang nggak bosan?" Raka sebenarnya tidak tega meninggalkan di rumah.


Dia juga masih kangen tapi masih ada tanggung jawab lain yang menunggu.


"Jadi kamu nggak mau dan bosan sama aku?" bumil menghentikan kegiatannya lalu mendongak melihat suaminya.


Melepaskan diri lalu bangun untuk duduk, Raka ingin membantu tapi Khira tidak mau.


"Jangan sentuh," Menepis tangan Raka yang mau membantu istrinya duduk.


ibu hamil itu memberi jarak di antara mereka, duduk sedikit menjauh lalu memandang Raka dengan mata berkaca-kaca menahan tangisnya.


"Jadi kamu mau bilang udah bosan sama aku, ya aku tau aku sudah nggak cantik lagi, sebentar lagi badan ku udah mau melar pasti kamu mau cari yang lebih muda dan seksi.


Iya tau aku kamu punya segalanya jadi nggak heran akan setia dengan satu wanita," Air mata itu jatuh juga membasahi wajah cantik itu dengan lancar.


Farah mengartikan ucapan Raka bahwa lelaki itu sudah mulai bosan dengan dirinya yang sebentar lagi badannya akan melar tidak enak di pandang.


Air mata itu terus keluar tanpa bisa di cegah.


Hati nya sakit saat suaminya bilang sudah mulai bosan sama dirinya padahal pernikahan mereka belum memasuki tahun pertama.


"Sayang bukan itu maksud Abang," Sanggah Raka kalau maksud ucapan bukan sudah merasa bosan hanya istri cantik mengartikan salah.


Kenapa malah di salahkan artikan begini?.


Salah Raka juga bicara sembarangan, sudah tau istrinya lagi berada di fase sensitif malah bicara asal.


Ingin rasanya memukul mulut yang asal bicara.


Merutuki diri yang lupa nasehat dokter untuk menjaga mood ibu hamil saat bicara atau bertindak.


"Bukan maksud apa? udah jelas kamu bilang bosan kan sama aku.


Udah nggak usah mencari alasan untuk membela diri.


Wajar kamu begini, kamu masih muda masih banyak wanita di luar sana mengharapkan mu di tambah dengan semua yang kamu miliki," Sentak Farah dengan air mata, hatinya sangat sakit.


Kenapa suaminya tega menyakiti seperti saat dirinya tengah hamil anaknya


**apa alasan kerja kemarin untuk bertemu selingkuhan nya?**


Batin Farah menerawang perpisahan mereka seminggu lamanya.


Bisa jadi seperti itu, tidak mungkin dengan alasan kerja pergi selama itu dan alasan berkata kangen setiap kali melakukan telpon agar tidak ketahuan belangnya.


Kenapa dia bisa tertipu begini, sejauh mana hubungan suaminya dengan wanita lain? kenapa selama ini dia tidak ada curiga sama sekali? apa karena sikap manis Arka yang memanjakan dirinya untuk menutupi ini semua.

__ADS_1


"Sayang dengarkan abang dulu," Pinta Raka lembut mendekati istrinya yang tidak mau berdekatan.


"Jangan mendekat, aku nggak sudi kamu pegang," Tolak Farah yang masih di kuasai amarah.


Beringsut mundur untuk menghindari Raka.


Perasaan wanita yang sedang marah tidak bisa di dekati atau di ajak bicara baik-baik.


"Ok," Mengangkat tangan ke atas menandakan Raka tidak akan mendekati lagi.


Apalagi saat melihat Farah sudah mau di ujung ranjang dan jika terus di dekati istrinya bisa jatuh dan bahaya untuk kandungan nya.


Kenapa sulit sekali membujuk ibu hamil satu ini di tambah jalan fikiran nya yang terlalu kreatif.


Mana ada Raka bilang bosan dengan dirinya.


Ada-ada saja.


"Sayangnya abang,bukan begitu maksud abang sayang


abang bilang seharian kita udah di kamar nggak mungkin kita di kamar lagi emang kamu nggak bosan terkurung di kamar hari ini lagi," Jelas Raka dengan pelan supaya otak cantiknya bisa mencerna ucapan Raka, jangan mengartikan yang membuat sakit hati.


Kalau di tanya pada Raka mana dia tidak pernah bosan menghabiskan waktu bersama hanya saja dia juga harus kerja.


"Tuh kan kamu bosan di kamar sama aku atau kemarin juga terpaksa.


Dasar suami jahat udah tau istri lagi hamil bukannya di manja malah bilang bosan," Farah masih menangis di pojok ranjang sambil memandang Raka dengan tajam.


Darah nya masih mendidih terngiang kata bosan yang terlontar di mulut suaminya.


Kenapa kemarin dia bisa tertipu dan terbuai sama perlakuan Raka dalam ritual kerinduan mereka yang di habiskan seharian penuh bahkan makan di antar ke kamar.


Dan sekarang bilang bosan, jika seperti ini Farah tidak mau mengajak pulang dan lebih memilih di rumah mamanya.


**ini istri siapa sih bikin gemas aja, di bilang apa di artikan apa? di bilang apa nggak bosan dalam kamar malah bilang aku bosan sama dia.


Jika ingin aku mau menghajar dia satu hari ini lagi tapi nggak mungkin karena kasian baby yang belum kuat harus menghadapi gempa lokal akibat ulah papa dan mama nya.


Sabar Raka istri mu ini lagi berada di fase selalu benar**


Raka frustasi sendiri harus dengan cara apa menjelaskan agar istrinya tau kalau maksud ucapan Raka tidak sama dengan isi kepala bumil.


Mana ada dia bosan memiliki istri secantik dan semenggemaskan ini.


Ingin di kurung sepanjang hari juga mau tapi takut khilaf dan berakhir dengan baby yang terancam keluar sebelum waktunya.


"Sayang dengarkan dulu penjelasan abang ya," Harus ekstra sabar menghadapi Khira yang lagi berfikir pintar dan berakhir dengan sakit hati.


Susahnya membujuk bumil dari pada membujuk klien untuk di ajak untuk bekerja sama.


Jika bukan istri sendiri dan tidak cinta maka dengan senang hati Raka marahi karena terlalu egois yang mau dengar sepihak saja.


"Nggak ada yang perlu di jelaskan lagi, semua udah jelas kalau kamu udah bosan sama aku," Di otak Farah sudah tercatat kalau suaminya bosan dan Farah tidak menerima penjelasan apa pun.


Menyesal Farah sudah terbuai dengan mulut manis Raka selama ini.


"Kalau nggak di jelaskan gimana masalah ini bakal selesai sayang,"


Masa masalah sepele di perbesar hingga merambat kemana-mana.


Raka bahkan sulit untuk menjelaskan ucapannya yang di salah artikan itu.


Di bilang bosan di dalam kamar malah di bilang bosan dengan dirinya.


"Mau menjelaskan apa lagi? mau mencari alasan untuk menutupi perbuatan kamu selama ini," Astaga istrinya ini begitu menggemaskan kalau lagi marah.


Kan Raka jadi makin cinta kalau gini.


Masalah kalau tidak di jelaskan kapan bakal selesai dan mau berlarut terus tanpa penyelesaian.


Raka ingin bilang jangan pasang wajah menggemaskan begitu kalau tidak ingin Raka tambah cinta.


Kalau Raka menyampaikan itu pasti di bilang gombal.


Kan fikiran Farah lagi tidak sinkron.


"Udah lah yang kamu tenang kan diri dulu," Raka mengalah turun dari ranjang dan mengambil baju di lemari, memakainya lalu memilih duduk di sofa untuk memikirkan cara membujuk ibu hamil yang lagi merajuk.


"Tuh kan bukannya di bujuk malah menghindar," Apa salah Raka juga kali ini? apa otak cantiknya lupa kalau tidak mau mendengar penjelasan Raka.


Kenapa posisi Raka jadi serba salah sekarang, di jelaskan salah menghindar juga salah.


Jika tidak takut geger otak ingin rasanya Raka menjedotkan kepala pada dinding untuk menahan emosi yang mulai naik ke permukaan.


Apa istrinya hilang ingatan? bukannya tadi Raka sudah berusaha menjelaskan dianya saja yang keras kepala dan kenapa Raka juga yang di bilang menghindari.


Jika tidak takut masalah semakin panjang ingin Raka menertawakan istri menggemaskan ini.


raka tidak menjawab lebih memilih memalingkan muka ke arah jendela dan menikmati sinar mentari memasuki kamar mereka.


Kegiatan saling mendiamkan itu berlangsung hingga hari menjelang siang.


Posisi Raka masih berada di sofa sambil mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa di bawa ke kantor.


**Suami nggak peka, jelaskan kek ini malah sibuk sama laptop nya**


Melirik Raka yang lebih fokus dengan laptop dari pada menjelaskan kesalahpahaman ini.


Farah merebahkan diri sambil memunggungi Raka.


Tadi saat sarapan mereka makan dalam keadaan diam tapi makanan juga habis.


Ternyata marah juga butuh tenaga.


"Makin cinta kan jadinya," Bergumam kecil melihat Farah yang sudah berbaring membelakangi itu.


Tidak mau bicara kuat takut masalah bertambah sedangkan yang tadi belum selesai.


Raka sengaja mendiamkan istrinya agar suasana dingin dulu agar saat menjelaskan istri mengerti maksud ucapannya.

__ADS_1


Raka bangun dari duduknya dengan gerakan pelan lalu mendekat ke ranjang tanpa menimbulkan suara.


Saat di rasa sudah pas Raka ikut merebahkan diri di sebelah istrinya lalu langsung memeluk erat Farah tanpa menekan perut nya.


"Lepas aku masih marah," Sentak Farah yang tidak mau di peluk karena suasana hatinya belum membaik.


"Dengar kan dulu baru di lepaskan," Jika dengan posisi ini Raka bisa menjelaskan dengan mudah walau mendapatkan penolakan istrinya.


"Nggak mau, aku nggak mau dengar," Tolak Farah yang belum bagus suasana hatinya.


Merasa tidak ada yang perlu di jelaskan.


"Kalau nggak di jelaskan kamu nggak bakal mengerti sayang," Lembut Raka membelai kepala istrinya lalu di benamkan wajah cantik itu ke dalam pelukan hangatnya.


Ini kan posisi paling di sukai istrinya jika sedang di peluk.


"Aku nggak mau," Lirih Farah karena suaranya tertelan di dada Raka.


Tapi di balik itu dia mengambil kesempatan menghirup aroma tubuh Raka yang menenangkan.


"Pokonya dengar dulu baru setelahnya membantah," Tegas Raka dengan suara tanpa bantahan, seketika jiwa kepemimpinan keluar untuk menenangkan istrinya yang masih memberontak itu.


Namun itu tidak lama Farah sudah mulai tenang.


**Kayak gini kek dari tadi** Tamak Farah yang butuh pelukan dari tadi tapi tidak mau jujur karena gengsi.


Kan kalau lagi marah enaknya di peluk manja gini.


Diam-diam Farah tersenyum di balik dada itu tanpa Raka sadari.


Bumil satu ini pintar sekali memanfaatkan keadaan.


"Ok untuk kali ini," Masih fokus sama aroma tubuh Raka.


Ah sangat menenangkan sekali, ini yang Farah suka.


"Abang nggak ada bilang bosan sama kamu sayang, Abang cuma bilang nggak bosan di dalan kamar terus.


Ibu hamil itu butuh udara segar apalagi di pagi ini.


Jika di kurung dalam kamar terus kamu bisa stres dan baby juga lambat berkembang.


Kamu kan tau gimana cintanya abang sama kamu sayang nggak ada kata bosan untuk selalu bersama mu.


Abang ingin istri cantik abang ini keluar kamar dan setidaknya jalan-jalan sekitar taman belakang, kan udaranya sejuk bagus juga untuk baby kita.


abang udah berencana untuk mengajak kamu ke kantor agar tidak bosan di rumah eh malah salah paham gini," Menjelaskan apa maksud perkataan Raka tadi.


Mana ada bosan.


Sepertinya mulai sekarang Raka harus menyusun kosa kata agar istrinya tidak mudah tersinggung dengan ucapannya.


Kesabaran Raka lagi di uji dengan segala tingkah pola Farah yang menggemaskan.


Sekali lagi jika tidak ingat ada anak yang harus di jaga dengan baik maka Raka akan mengajak Farah menikmati indahnya surga dunia bersama namun keinginan Raka harus di tahan dan jika mau hanya bisa satu atau dua ronde.


Sangat menyiksa memang namun itu tidak sebanding dengan kehadiran sang buah hati beberapa bulan lagi menghiasi kehidupan mereka.


Jadi kesabaran Raka yang sekarang bakal di bayar dengan jauh lebih indah melihat buah hatinya lahir dan tidak sabar lagi mendengar mulut kecil itu memanggil dirinya dengan sebutan papa


Dada Raka seakan mau lepas membayangkan semua kebahagiaan itu, sungguh sangat tidak sabar lagi tunggu beberapa bulan.


"Aku juga tau kok kalau kamu nggak ada maksud gitu, aku kan sengaja agar kamu nggak pergi kerja dan berhasil kan," Jawab enteng Farah masih betah menghirup aroma tubuh Raka yang memabukkan.


Raka memicingkan mata mendengar jawaban istrinya itu.


**Apa katanya tadi sengaja melakukan itu ah kenapa kamu makin menggemaskan sih sayang**


Raka tidak marah sama sekali mendengar jawaban Farah


Hanya bisa tersenyum dengan ulah istrinya.


"Kamu ngerjain abang sayang?"


Menaikkan nada suara seperti orang ingin marah namun masih memeluk tubuh indah ini.


Ah kenapa dia tidak menyadari hal ini sejak tadi.


Dan kalau istrinya beneran marah tidak mungkin bertahan dalam kamar berdua setidaknya menenangkan diri di kamar lain bukannya betah berduaan walau saling diam.


"Jangan salahkan aku, salah kan baby juga yang nggak ingin jauh dari papa nya," Balas Farah tidak mau di salahkan begitu saja.


Dia juga tidak tau kenapa tidak mau jauh dari suaminya dan sekarang dia tau mungkin ini keinginan baby mereka.


Raka terdiam lalu tersenyum.


Melepaskan pelukan itu dan mensejajarkan wajahnya dengan perut istrinya..


"Hy baby masih kecil aja udah berani mengerjai papa ya, kamu mau papa hukum apa? kenapa bisa sejail ini sih nak.


Kalau mau papa nggak kerja kan bisa kasih tau baik-baik nggak perlu ngerjain papa kayak gini," Gemas Raka menyibakkan baju Khira lalu mencium perut itu dengan pelan takut menekan anaknya di dalam.


Terkekeh pelan karena ulah anaknya dirinya harus adu mulut dengan istrinya.


Masih dalam perut saja sudah pintar bagaimana sudah lahir nanti, semoga lebih pintar dari ini.


"Sekarang kamu puas baby menahan papa dalam kamar seharian ini, padahal papa mau ajak kamu ke kantor tapi kamu lebih suka di kamar ya," Terus mengajak anaknya bicara seolah obrolan mereka timbal balik mendapat jawaban dari sang anak.


Ya gimana anaknya tidak pintar jika memiliki orang tua sangat pintar juga.


"Puas papa," Balas Farah dengan meniru suara anak kecil.


Raka mendongak ke atas melihat senyum merekah di bibir candu itu.


Seketika Raka mensejajarkan diri lagi dengan istrinya lalu tanpa aba-aba meraup bibir itu dengan ganas.


Bibir yang sejak pagi mengajak berdebat dengan masalah sepele kini di kuasai Raka dengan memberikan ******* penuh kelembutan.


Menyalurkan rasa gemas yang di tahan sejak tadi.

__ADS_1


Kenapa Raka tidak sadar sejak tadi jika istrinya hanya mengerjai dirinya saja.


Dan juga kenapa sejak hamil jadi jahil juga? apa masih kurang dengan sifat manjanya saja? masih ingin menambah kadar kegemasan Raka padanya.


__ADS_2