
"Mom bagaimana mommy bisa menikah sama daddy?" entah mengapa Riska penasaran sama kisah orang tuanya dan dia ingin jadi panutan apa lagi dia menikah dengan saling mencintai.
"Baiklah mommy akan bercerita,"
Flashback on
Sepasang kekasih ini begitu bahagia saat setelah sekian lama menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih kini hubungan mereka sudah mulai menunjukkan titik terang.
Dia adalah Khira dan Roni yang sudah merajut kasih selama dua tahun belakangan ini.
Hubungan mereka terbilang cukup baik berjalannya tidak ada konflik yang terlalu berat menguji mereka entah karena menanggapi masalah dengan kepala dingin atau sifat mereka yang sama sama dewasa.
Hari ini Roni mengajak Khira bertemu kedua orang tuanya mengenalkan sekali gus membicarakan kelanjutan hubungan mereka ke depannya.
Roni mengajak makan malam bersama di rumah utama keluarga nya.
Keluarga mereka orang yang cukup terpandang namun ya gitu di atas langit masih ada langit.
Khira di ajak ke salon dulu untuk di rias agar tampil cantik malam ini.
Khira nurut saja sama ajakan kekasih nya itu.
Hampir tidak pernah membantah apa kata Roni dan selalu menurut walau kadang ada yang bertentangan sama hati dan fikiran Khira namun semua itu bisa di singkirkan karena rasa sayang dan cinta Khira pada Roni.
Awal hubungan mereka terjalin itu saat memulai kerja selesai kuliah dan mereka di pertemuan di acara kantor untuk menyambut karyawan baru dan itu selalu di laksanakan tiap tahun sekali.
Di sana awal perkenalan mereka di tambah Khira yang mudah bergaul sama orang baru jadi tidak menghambat perkenalan mereka hingga seiring berjalannya waktu Roni bisa mengisi relung hati Khira secara perlahan.
Khira yang baru pertama kali merasakan apa yang namanya jatuh cinta menyambut baik di tambah awal pertemuan Roni cukup ramah dan baik juga di tambah perlakuan Roni seakan Khira di kesayangannya.
Beberapa bulan melakukan pendekatan mereka mulai menjalankan hubungan sebagai sepasang kekasih seperti pasangan pada umumnya walau hanya mereka berdua yang tau.
Khira yang tidak mau hubungan sembunyi sembunyi mengajak Roni ke rumah nya untuk di kenalin sama kedua orang tuanya.
"Ma pa kenalin ini Roni pacar Khira,"
Saat itu sore ketika Roni mengantar Khira pulang kerja dan mengajak mampir untuk berkenalan sama keluarga dan Roni mau.
"Oh iya kenalin om Rio dan ini istri om Sila.
Ayo silahkan duduk jangan sungkan,"
Ajak papa Khira yang kebetulan saat itu sudah pulang kerja dan lagi santai sama Khira di ruangan keluarga.
Papa Khira menyambut ramah kedatangan Roni hanya sedikit kaget saat Khira mengenalkan Roni sebagai kekasih yang mana mereka tau Khira jomblo dari lahir dan tiba-tiba ada pasangan.
"Kalian ngobrol dulu biar tante buatkan minum sama cemilan dulu,"
"Iya makasih Tante,"
Mama Sila pergi ke dapur membuat minuman dan membawa cemilan.
Kini tinggal mereka bertiga di ruangan itu, Khira masih disana menemani mereka berdua agar tidak terlalu canggung sebab ini pertemuan pertama mereka.
"Sudah berapa lama menjalani hubungan sama anak om?"
Papa Rio harus tau gimana lelaki yang menjadi pasangan anaknya.
Agar tidak pilih atau di jadikan permainan saja.
"Baru mau jalan lima bulan om,"
Jujur Roni yang sebenarnya malas ditanya seperti itu, tapi mau gimana lagi ini sudah salah satu kemungkinan yang harus dihadapi.
"Mau menerima anak om apa adanya? Sebab semakin lama kalian menjalin hubungan maka sifat satu sama lain akan terlihat secara perlahan,"
Papa Rio tau gimana sifat Khira yang kadang tanpa tau waktu muncul sifat asli Khira yang kadang bikin geleng kepala.
Karena cuma orang paling dekat yang akan tau gimana sifat asli kita bukan harus pasangan juga, ingat yang paling dekat.
"Iya om saya pasti akan menerima apa adanya Khira, saya sayang dan cinta sama Khira dan saya mau serius sama Khira.
Dan kalau om merestui hubungan kami secepatnya saya akan melamar Khira untuk jadi istri saya dan saya berjanji akan membahagiakan Khira om,"
Terdengar manis dan Khira meleleh mendengar nya, siapa yang tidak senang mendengar kata kata manis dari sang pujaan hati sepercaya dan seyakin itu bicaranya.
Papa Rio juga mengangguk setuju dan yang terpenting baginya anaknya bahagia sama pilihan sendiri.
"Baiklah om percaya dan merestui hubungan kalian.
Jaga saling kepercayaan, saling jujur, saling terbuka dan satu lagi jangan pernah berkata kasar atau berbuat kasar.
Om percaya kamu bisa membahagiakan anak gadis om ini.
Bahagiain dia ya,"
Sebagai orang tua hanya ingin anak mereka bahagia dan tidak akan mematok siapa yang bakal jadi pasangan mereka kelak tidak harus selalu kaya, tampan, mapan, dari keluarga terpandang.
Cuma satu yang mereka pinta cukup bahagiakan anak mereka walaupun dengan cara sederhana.
Perbincangan mereka terus berlanjut dan keluarga Khira mengajak Roni makan malam bersama sebelum pergi dari sana.
Suasana makan malam terasa lengkap karena ada sosok anggota baru di keluarga itu jika mereka jodoh nanti.
Kan jodoh tidak ada yang tau gimana akhirnya kadang kita setengah mati mempertahankan namun sang pencipta tidak merestui maka akan di adili dengan perpisahan.
Balik lagi ke sekarang, Khira sudah selesai di dandani dan juga Roni sudah menyiapkan baju untuk Khira kenakan yang sangat bagus.
Khira hanya menurut tanpa bantahan menggunakan semua yang sudah di sediakan Roni.
Setelah selesai semuanya Roni mengajak Khira ke rumah nya.
Bukan kali pertama cuma ini beda tujuannya lagi.
Roni ingin serius sama Khira dan sudah merasa cocok selama ini.
"Ayo turun,"
Sampai di rumah berlantai dua itu Roni mengajak Khira turun lalu berjalan beriringan menuju pintu utama.
Roni menggandeng tangan Khira lembut dan masuk rumah itu.
"Eh udah datang ya,"
Sambut mama Roni menciumi pipi kanan dan kiri Khira lalu mengajak duduk bersama.
"Makasih ma,"
Ramah Khira duduk bersebelahan dan Roni meninggalkan kedua wanita itu untuk pergi ke kamar untuk bersih bersih dulu sebelum bergabung lagi.
Di kamar Roni langsung mandi sebab sudah merasa gerah selesai mandi Roni yang masih menggunakan handuk melilit di pinggang mengambil hp yang sudah menyala menandakan ada panggilan masuk.
"Halo,"
Roni mendengar apa yang di bicarakan orang di seberang sana apa yang di bicarakan.
"Baik secepatnya,bye,"
Roni menutup telponnya lalu mengambil baju santai dan memakai tidak lupa memakai jel rambut dan menata acak agar terkesan cool.
Roni turun ke bawah setelah dirasa rapi bergabung sama yang lain.
Papa Roni juga sudah pulang ke rumah dan sudah ada di ruangan keluarga.
Tidak lama makan malam mereka bersama dan selesai.
"Ma pa saya mau bilang kalau saya mau secepatnya bertunangan sama Khira,"
Roni buka suara saat mereka lagi bersantai.
Mereka berdua menoleh ke arah Roni untuk memastikan.
"Maksudnya?"
Kenapa terkesan mendadak sama mereka.
"Iya bertunangan, bukannya hubungan kami sudah bisa dibilang cukup lama dan juga usia kami bukan saatnya pacaran lagi, sudah saatnya kami menjalani hubungan yang lebih serius lagi,"
Jelas Roni kenapa ingin bertunangan.
Mereka tidak muda lagi sudah pas untuk menikah.
"Baiklah mama akan menyiapkan segalanya untuk acara pertunangan kalian,"
Kedua orang tua Roni mengerti keinginan anaknya juga Khira.
Lagian mereka sudah tidak sabar untuk mempunyai menantu dan menimang cucu.
__ADS_1
Roni dua bersaudara dan adik Roni masih kuliah jadi harapan mereka memiliki cucu ya dari Roni dan ini saatnya.
"Tugas kalian hanya menyiapkan cincin sama baju saja sisanya biar kami para orang tua,"
Tambah papa Roni.
Ke dua pasangan ke kekasih itu tersenyum lega sudah mendapat restu dari ke dua keluarga.
Sebelumnya Roni juga sudah meminta izin sama orang tua Khira dan dapat izin juga untuk bertunangan jadi tinggal menentukan tanggal saja lagi.
Hari selanjutnya Khira dan Roni pergi membeli cincin ke sebuah mall terbesar di kota itu.
"Yang ini gimana?"
Tunjuk Khira pada sebuah cincin berlian di tengah cincin itu dan sudah bisa di pastikan kalau harganya bukan kaleng kaleng.
"Yang itu saja,"
Pilih Roni pada cincin berlian juga namun ukuran berliannya sedikit kecil sama yang di tunjuk Khira.
Wajah Khira berubah masam namun sebisa mungkin dia mengembalikan raut wajah itu seperti semula dan mengiyakan pilihan Roni.
Selesai membayar cincin Roni mengajak Khira membeli baju yang akan di pakai untuk acara yang sudah di bicarakan seminggu lagi dan cuma hari ini Roni tidak sibuk maka hari ini harus sudah selesai di beli dan agar tidak tergesa gesa nanti.
"Yang ini saja,"
Pilihan Roni jatuh pada sebuah gaun panjang menutup kaki dengan lengan pendek.
Khira setuju saja sebab tau memang dia menyuruh Roni untuk memilih dari pada milih sendiri malah tidak setuju dan buang waktu.
Waktu terus berlalu pesta pertunanganan mereka berjalan lancar dan meriah dari awal sampai akhir.
Khira dirias bagai seorang putri dengan gaun itu juga ketampanan Roni sungguh lengkap kebahagiaan malam ini.
Usai hari itu mereka siap menyiapkan pesta pernikahan yang bakal di gelar mewah di sebuah hotel bintang lima di kota itu.
Segala persiapan di laksanakan secata matang mulai dari dekor ruangan, gaun pengantin, cincin pernikahan, makanan sampai sovenir.
Waktu terus bergulir dan tiba di mana hari bahagia itu tinggal menghitung jam saja dan hubungan mereka akan sampai pada tahap sebagai pasangan suami istri.
Seorang perempuan cantik sedang di rias oleh seorang ahli dalam bidang itu.
Dengan telaten jari lentik itu menyapukan kuas ke wajah cantik yang lagi menutup mata.
Hari ini adalah hari bahagianya karena akan menikah dengan orang yang di cintai selama dua tahun ini.
Dia adalah Eisha Fakhira, perempuan cantik berusia dua puluh enam tahun itu sudah di rias sejak pagi dan ini tinggal langkah akhir dan semua selesai.
"Udah selesai mbak Khira sekarang ganti baju ya,"
Semua kegiatan sekitar kepala sudah selesai tinggal ganti baju dan sendal.
Akad nikah akan di adakan setengah jam lagi.
Acaranya akan diadakan disebuah hotel mewah mengingat orang yang akan menikahi dia adalah seorang pengusaha muda berusia tiga puluh tahun.
Kalau untuk umur Khira sekarang mereka cocok hanya selisih empat tahun.
Tidak terlalu tua juga, seimbang dengan Khira berusia dua enam.
"Nggak norakkan mbak ya, calon suami saya itu nggak suka dandan berlebihan,"
Memperhatikan hasil riasan yang pas sesuai permintaan Khira yang tidak terlalu menor.
Maklum kalau orang kaya suka minta aneh aneh termasuk dandan nggak boleh berlebihan.
Khira sudah sangat hafal sama sifat calon suaminya beberapa jam lagi bahkan kurang dari dua jam.
"Nggak mbak Khira dandannya natural kok, pas sesuai permintaan,"
Sebelum memesan jasa make up Khira sudah mengasih tau gimana permintaan atas dandanan pernikahan nanti.
Membantu Khira ganti baju dengan kebaya untuk acara akad dan langsung dilanjut dengan acara resepsi siang nanti hingga sore.
Acaranya tidak lama hanya beberapa jam sudah selesai agar tidak terlalu menguras tenaga.
Maklum mau malam pertama kali.
Jangan ngintip ya.
Setelah selesai ganti baju Khira duduk dikursi depan cermin memperhatikan wajahnya yang sudah cantik di rias oleh ahlinya.
"Semoga ini akan menjadi pernikahan pertama dan terakhir untuk ku dan perjalanan rumah tangga kami nggak diterpa sama badai kencang,"
Memperhatikan wajah cantik itu yang tak pernah berhenti tersenyum.
Ini hari yang ditunggu setelah tahun kemarin menantikan acara nikahan karena calonnya yang sibuk hingga sulit meluangkan waktu.
"Cie yang mau nikah sama pujaan hati keliatan bahagia banget ya?"
Navya sahabat satu satunya Khira sejak masa kanak-kanak turut hadir disana atas permintaan Khira, Vya sudah ada sejak semalaman menginap atas keinginan Khira.
Biasa dipanggil Vya oleh orang terdekat dan Navy untuk kalangan teman teman sekolah atau kuliah.
Persahabatan mereka terjalin erat sudah seperti saudara sendiri apa lagi Khira jauh dari adiknya jadi berasa punya saudara yang seumuran.
"Deg degan rasanya Vya,"
Khira memegang dadanya yang terasa berdebar hebat, ini akan jadi pernikahan pertama dan terakhir Khira dan itu bersama orang yang dicintai.
Debarannya sangat berbeda, bukan debaran takut tapi lebih mengarah ke cemas apakah acara akan berjalan lancar atau tidak.
Ini hari yang Khira tunggu selama ini saat menjalani hubungan bersama Roni akhirnya sampai pada tahap ini juga, sungguh perjalanan yang sangat panjang.
"Tenang Ra lebih deg degan nanti malam pertama, percaya sama gue,"
Bukannya menenangkan malah menambah kecemasan dalam diri Khira.
Kenapa dia sampai lupa sama malam pertama yang tinggal menunggu hitungan jam itu.
Lagian tau apa Vya sama malam pertama kayak sudah pernah nikah dan mengalami saja.
Dan juga pasangan tidak punya setelah putus beberapa bulan ini jadi kalau bahas malam pertama rasanya kurang srek Vya.
"Jangan bikin cemas Vya, ini nggak lucu.
Semoga semua berjalan lancar,"
Menggenggam erat tangan Vya seolah mencari ketenangan di sana.
Tangan Khira terasa dingin seperti es dan pas sama tangan hangat Vya.
Menanti hari bahagia semua orang pasti merasakan hal yang sama seperti Khira rasakan.
Takut acaranya ada hambatan atau ada kendala lain.
"Wah calon penganten cantiknya nggak waras ya,"
Masuk satu orang lagi yaitu sepupu Khira yang seumuran.
Duduk setelah mengambil kursi dan menarik tepat disebelah Khira.
Mereka walaupun sepupu tidak ada yang namanya persaingan dalam segala hal.
"Makasih, tapi pengantin prianya udah datang?"
Khira tidak diperbolehkan menghubungi calon suaminya sejak satu Minggu yang lalu.
Bahkan Khira tidak tau gimana kabarnya.
Semua alat komunikasi dijauhkan dari Khira takut mengambil kesempatan saat mereka lengah dan saling bertukar kabar.
"Lagi di jalan kayaknya, masalah nggak ada kasih kabar mungkin sibuk kali ya,"
Balas sepupu Khira santai, memang belum ada kabar dari mempelai pria apakah sudah jalan atau sudah mau sampai.
Atau memang dia yang tidak mendapat kabar sedangkan yang lain sudah.
"Masih di jalan mungkin, kan bentar lagi mulai acaranya,"
Khira berusaha berfikir positif walau ada terbesit sedikit rasa cemas, kenapa calon suaminya belum datang juga.
Khira yang gelisah berusaha dia sembunyikan pada dua orang yang lagi menemaninya sekarang.
Tidak mau menunjukkan takut mereka ikut gelisah.
Perasaan Khira tiba tiba tidak enak atau cuma karena cemas sama hingga fikiran jelek sempat melintas dibenaknya.
__ADS_1
Tok,,, tok,,,
Obrolan mereka terhenti saat mendengar ketukan pintu dari luar.
"Bentar biar gue yang buka,"
Vya berjalan ke pintu lalu membuka dapat dia lihat siapa yang ngetuk.
"Ayo Ra ijab qobul udah selesai, temui suami mu,"
Mendengar kata suami segala fikiran jelek tadi hilang entah kemana.
Dengan semangat Khira keluar di apit oleh sahabat dan sepupunya.
Langkah pelan Khira diiringi dengan degup jantung yang lebih kencang dari tadi.
Ada rasa sesak menyelimuti hati Khira tapi dia tidak tau itu apa.
Saat sudah sampai Khira langsung duduk di samping orang yang sudah berstatus suami.
"Assalamualaikum,"
Sapa suami Khira tapi respon Khira diluar ekspektasi.
Suaranya terdengar beda bahkan sangat jauh beda.
Bahkan selama mereka bersama Roni tidak pernah mengucapkan salam seperti sekarang.
Dengan penuh keberanian Khira mengangkat kepala untuk melihat siapapun orangnya.
"Ka_kamu siapa?"
Gagap Khira pada orang itu, Khira masih ingat gimana suara calon suaminya.
Tidak mungkin hanya dalam kurun waktu satu Minggu suara nya sudah berubah.
Ini pasti ada yang salah, fikirnya.
"Aku suami mu,"
Balas orang itu lalu memperlihatkan wajahnya.
Dan Khira yang melihat mematung, ini bukan wajah calon suaminya, ini orang lain.
Kemana calonnya?.
"Nggak, nggak calon suami saya bukan kamu.
Mama papa mana calon suami Khira,"
Melihat ke arah kedua orang tuanya yang memasang wajah muram.
Pasti sudah terjadi sesuatu atau orang ini sudah menyingkirkan calon suaminya.
Tapi Khira sama sekali tidak kenal orang ini.
"Calon suami mu kabur nak dan dia yang bersedia mengganti kan,"
Lirih mama tidak tega melihat wajah kecewa anak gadisnya.
Hari yang dinanti malah jadi hari petaka baginya.
Calon suaminya kabur, ini tidak lucu sama sekali.
"Kalau mau bohong yang benar ma,"
Khira masih tidak bisa terima kalau orang yang dia cintai pergi di hari bahagianya yang sudah di nanti selama ini.
Mana mungkin calon suaminya kabur, dia tau gimana cintanya Roni sama Khira dan sudah berjanji akan bersama merajut jalinan rumah tangga.
Itu impian mereka sejak pertama menjalani hubungan
"Itulah kenyataannya Ra,"
Orang tua mana yang tega melihat anaknya hancur tapi lebih hancur lagi kalau tidak menikah dan menanggung malu.
Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Dunia Khira hancur, impian menikah sama orang dicintai kandas tanpa sisa.
Di hancurkan sama orang yang sama.
Di patahkan sampai putus, menggoreskan luka yang terbuka lebar.
Sesakit ini yang harus Khira rasakan sekarang.
Pergi ditinggalkan tidak tau kemana? Apa hubungan mereka selama ini hanya sebuah mainan dan bisa pergi semudah ini.
Sungguh takdir sedang bermain bersama Khira sekarang.
Ternyata selama ini mereka menjalani hubungan tidak ada arti sama sekali bahkan dia tinggalkan dihari pernikahan mereka.
Kenapa semua hari terjadi pada Khira.
Permainan apa yang lagi dia mainkan hingga semenyakitkan ini.
Bukan waktunya bercanda namun kenapa harus Khira alami dihari bahagia sekaligus hati tersakit dan terberat dalam hidup Khira.
"Tapi kenapa ma? Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak kemarin-kemarin disaat semua belum terlanjur jauh? Kenapa ma kenapa?"
Lirih Khira tidak kuasa menahan rasa sakit di dadanya.
Rasanya seperti ada batu besar menghantam sekarang.
Rasanya sangat sakit dan menyesakkan dan seperti pasokan oksigen di paru-paru kian menipis.
"Semua udah jalannya sayang dan mungkin tuhan menunjukkan siapa calon suami mu sekarang daripada hubungan kalian kian jauh atau udah memiliki anak maka disini bukan hanya kamu yang jadi korban tapi juga anak,"
Jelas mama Khira yang sama sesak menahan tangis melihat anak gadis yang disayangi sejak kecil dihancurkan oleh orang lain dengan begitu mudah.
Jika ingin memilih mungkin sebagai orang tua mereka akan menanggung semua daripada anak yang disayangi sepenuh hati.
"Tapi rasanya disini sakit sekali ma,"
Tunjuk Khira pada dadanya yang ditutupi kebaya putih itu.
Obrolan mereka masih berlanjut dan mama Khira mencoba menenangkan anak gadisnya yang lagi hancur.
Sedangkan suami Khira tidak tau harus berbuat apa.
Dia juga tidak tau letak duduk permasalahan sekarang.
Dia yang dijadikan pengganti masih belum bisa berfikir normal.
"Mama tau sayang mama tau dan mama lebih sakit melihat anak gadis mama hancur tapi percaya sama mama kalau tuhan lagi menyiapkan segala hal indah untuk Khira kedepannya dan selanjutnya terima dan hargai suami Khira sekarang ya, mama mohon,"
Menggenggam erat tangan Khira yang nampak gemetar.
Keindahan serta kemewahan acar akad kini tidak ada guna lagi.
semua seperti kita terdampar di pulau tak berpenghuni namun keindahan alam sekitar tidak dihiraukan yang ada dalam fikiran bagaimana cara pergi dari sana.
"Khira nggak kuat ma nggak kuat, bawa Khira pergi dari sini ma.
Khira mau sendiri ma rasanya nggak sanggup,"
Mama Sila memeluk erat Khira dengan sedikit terisak pelan agar tidak terdengar oleh semua orang.
Mama Sila mengusap pelan punggung Khira dengan penuh kasih sayang.
"Maafin papa yang nggak bisa menjaga anak gadis papa dengan baik,"
Papa Rio ikut memeluk kedua perempuan tercintanya dengan haru.
Harusnya hari ini hari bahagia tapi diganti dengan kesedihan mendalam pengantin wanita.
"Papa nggak salah, Khira yang nggak bisa mencari pendamping yang baik.
Maafin Khira yang udah membuat keluarga kita malu pa,"
Disini bukan hanya dirinya yang terluka tapi kedua orang tua yang ikut menanggung malu karena calon menantu yang kabur disaat menjelang acara ijab qobul.
Jika bisa memilih mungkin mereka berharap hari ini tidak pernah terjadi dan memutuskan hubungan mereka sebelum terlanjur jauh melangkah.
Tapi takdir seseorang tidak ada yang tau.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung 😘