
Mereka makan malam dalam suasana hening tidak ada yang bicara seorang pun, Dean makan dengan santai sedangkan Via sesekali melayangkan tatapan sinis yang dapat di lihat Dean.
'Kalau bukan suka udah gue congkel itu mata' Dean harus menahan sabar dengan tingkah Via yang sangat menguji kesabaran dirinya.
Hingga malam malam berakhir Via membantu membereskan meja makan bersama mamanya.
"Udah biar mama aja, kamu temenin sana calon mantu mama,"
Usir mama Via yang bisa melakukan itu sendiri, biasanya juga begitu kalau membereskan meja makan jarang Via lakukan bahkan bisa di hitung dengan jari dalam satu bulan, beda jika memasak hampir setiap hari dia lakukan.
Alasan Via tidak mau membereskan piring kotor adalah lengket berminyak bekas sisa makanan.
Ya sebagian orang memang paling anti dengan pekerjaan rumah tangga yang satu ini namun apa daya jika tidak di lakukan besok mau makan menggunakan apa atau menggunakan cara piring di alas kertas nasi.
Sama saja dengan pemborosan.
'Ngapain juga nemenin dia, apa kata mama tadi calon mantu ck dalam mimpi gue juga nggak bakalan mau sama dia? Mending gue perpanjang masa jomblo ini' dengus Via yang tidak bisa mengutarakan bantahan jika itu di lakukan tidak akan dapat pembelaan sebab sudah sejak lama sang mama menginginkan dia membawa calon dan hari ini yang di tunggu tapi tidak untuk Via.
Kenapa juga itu bos tidak mengerti pengusiran secara halus.
"Nanti aja ma, nanggung juga,"
Lebih baik berkutat dengan minyak dari pada melihat wajah yang ingin sekali Via lempar menggunakan vas bunga lalu di seret keluar rumah.
"Udah nggak usah memaksa melakukan sesuatu yang nggak di suka, udah sana ke depan nanti calon mantu mama kabur lagi,"
'Syukur dia kabur kalau bisa nggak usah ganggu lagi' jika saja Via punya keberanian dalam membantah mungkin sejak tadi sudah banyak kalimat bantahan yang Via lontarkan.
"Siapa bilang sih ma, selama ini cuma karena capek aja makanya jarang bantu mama,"
Sanggah Via yang tidak mau terus-terusan di suruh bergabung ke depan.
Lebih baik menahan jijik dari pada menahan kesal setengah hidup.
"Terserah kamu, kalau dia nggak mau sama kamu lagi biar mama jodohin kamu sama anak tetangga baru depan rumah,"
Via melongok, apa tidak ada orang lain di dunia ini yang bakal di jodohkan dengan dirinya.
Ibaratnya keluar mulut buaya masuk mulut singa tidak ada yang Via inginkan dari kedua orang itu.
Bukan tipe Via walau sama-sama tampan, bukan selera pemilih tapi hati langsung yang menolak.
"Ada orang yang lebih normal nggak ma yang mau di jodohkan?"
Jika saja tidak ingat ada istilah anak durhaka mungkin dengan senang hati Via berteriak depan mamanya.
Mau menjodohkan dirinya dengan anak kemarin sore yang bahkan pipis masih miring.
Apa mamanya tidak di kasih tau saat kenalan tadi kalau umur Dean dan Fauzan sama mungkin cuma beda bulan.
Tapi kalau seperti mereka berdua tanpa fikir juga langsung Via tolak.
"Nggak normal gimana sih Via? Masa lelaki setampan itu belok nggak mungkin kan?"
Ya salam apakah definisi belok itu harus menyukai sesama jenis gitu? Bukan itu maksud belok.
Belok itu memilik artian lain bukan harus itu juga.
"Mama ku sayang belok itu bukan nggak menyukai cewek tapi otaknya yang belok. Ngerti mama ku,"
Geram-geram gimana gitu, jika saja Dean tidak memiliki catatan hitam di kepala Via mungkin dia akan memikirkan ucapan Dean dan memberi kesempatan untuk mendekati dirinya.
Padahal kriteria calon suami idaman ada dalam diri Dean hanya saja karena satu hal itu membuat Via jadi berfikir ulang jika Dean mendekati dirinya.
Di tambah lagi mereka tidak sedekat itu sehingga sifat satu sama lain tidak tau, apakah harus melibatkan Farah dalam hal ini?.
"Kalau belok tinggal di luruskan, apa susahnya?"
Menyelesaikan mencuci piring lalu membuat minum alhasil Via melongo.
'Maksud mama apa ini buat minuman lagi? Apa dia masih berencana menahan tuh orang gila padahal udah mau gue usir' melihat mamanya membuat empat gelas minuman berbeda.
"Maksud mama apa dengan minuman itu? Ini udah malam ma udah waktunya dia pulang,"
Jangan sampai Via di tahan di ruangan keluarga dan berbincang dengan mereka.
Membayangkan saja Via tidak mau.
"Nggak apa biar kita makin dekat dan juga dia lelaki nggak apa pulang malam kecuali anak gadis nggak baik pulang malam,"
"Ayo bantu mama bawa kue itu,"
Menyuruh Via membawa kue yang sudah di potong tertata rapi atas piring.
Dengan setengah hati Via melakukan itu dan mengekor di belakang tidak lupa membaca mantra sepanjang jalan menuju ruang keluarga.
Entah mengapa di ajak duduk di sana padahal ruang tamu ada.
"Silahkan nak Dean, belum buru-buru mau pulang kan?"
Meletakkan minuman yang di bawa serta kue di tangan Via.
'Ini calon mertua pengertian sekali, lagian gimana mau pamit kalau di suguhi minuman lagi kalau di tinggal restu bakal menjauh' gumam Dean melihat minuman dan cemilan.
Padahal dia masih kenyang selesai makan dan sekarang di suguhkan cemilan tidak di makan di cap tidak sopan kalau di makan mau di tarok di mana lagi, sudah penuh perutnya.
Demi mendapat perhatian calon mertua maka terpaksa Dean mengorbankan perut harus mau di isi penuh.
"Makasih tante, jadi merepotkan gini saya jadi nggak enak,"
Bukan tidak enak merepotkan saja tapi perut juga tidak enak pulang nanti dengan keadaan berdesakan makanan dalam perut.
Untung tadi tidak mengajak Via makan malam dulu kalau iya itu terjadi mau di taruh dimana semua makanan itu.
Apalagi Dean sangat mengurangi makan malam dan sekarang dia makan sangat lebih dari kata biasa dan nanti akan berakhir di ruangan gym di rumah untuk membakar lemak agar roti sobeknya tidak menyembunyikan diri dari permukaan.
"Ah nggak merepotkan kok kalau sama calon menantu,"
Mendengar kata calon menantu hati Dean senang, selangkah demi selangkah jalan mulai terbuka.
Bukannya untuk mendapatkan anaknya orang tuanya juga harus di dekati agar mempermudah rencana.
Ibaratnya kalau orang tua sudah merestui maka anak akan mudah di dapat bukannya mau menjalani sebuah hubungan restu orang tua juga yang utama, kalau anak keras kepala jika ada dukungan dari orang tua maka anak akan mudah luluh.
Sebab anak kadang berfikir hubungan tidak akan bertahan lama jika restu orang tua belum di kantongi.
Benar-benar pintar cara Dean tidak salah dia jadi orang kepercayaan perusahaan besar itu di usia masih muda.
"Maaf nih om tante karena ini udah malam saya mau pamit dulu nggak enak sama tetangga juga,"
Pamit Dean setelah menghabiskan minuman serta beberapa potong kue untuk menarik perhatian orang tua cewek incarannya.
__ADS_1
Tidak apa perut merasa kurang nyaman asal hati senang.
Sudah lama Dean melihat Via dari jauh dan baru sekarang ada kesempatan untuk mendekati.
Ini sudah jam sembilan lewat bisa di katakan mau memasuki tengah malam.
Sudah beberapa jam Dean di sana.
"Ah iya baiklah, nggak terasa udah mau larut aja ya,"
Papa Via melihat jam dinding sudah mau menunjukkan pukul setengah sepuluh.
Mereka mengobrol cukup lama untuk ukuran orang baru kenal dan ini pertemuan pertama mereka.
"Lain kali main lagi kesini ya,"
'Ngapain sih mama nyuruh dia main kesini lagi, nggak di ajak mampir aja tadi langsung ketuk pintu, kalau di kasih hati gini malah makin ngelunjak' Via sedari tadi hanya jadi pendengar sambil memakan kue dengan lahap dengan tujuan agar Dean ilfil melihat dan memilih mundur karena akan berfikir perempuan kok kerjaan makan tidak jaga badan supaya terlihat langsing.
"Pasti tante, kalau gitu saya pamit dulu,"
Menyalami orang yang bakal jadi calon mertua jika sang anak bisa di taklukkan.
"Iya hati-hati,"
"Iya tante assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Dean berjalan perlahan keluar dari rumah itu.
"Ngapain masih disini, udah sana antar nak Dean keluar,"
Mencubit pelan lengan Via agar mengantar Dean keluar karena mereka sengaja tidak mengantar.
"Is mama lagian siapa juga yang ngajak dia mampir tadi,"
Masih enggan bangun dari duduk di tambah kekenyangan.
"Nggak sopan jadi anak, udah sana,"
Tanpa menjawab Via bangun dan berjalan pelan menyusul Dean.
Sampai di luar.
"Makasih ya atas jamuannya,"
Melihat Via yang sudah berdiri tidak jauh darinya.
"Siapa juga yang mau menjamu,"
Sinis Via, jika tadi masih berusaha menahan diri tapi tidak sekarang karena tidak ada yang melihat anggap saja luapan emosi yang di tahan sadari tadi.
"Jika kamu nggak memberi saya kesempatan maka selamanya kamu nggak tau gimana sifat saya sebenarnya, saya pamit,"
Melangkah menuju mobil, tidak lama mobil Dean melaju pelan dan tidak lama hilang dari pandangan.
Via berjalan menuju gerbang lalu menutup kembali namun belum sempurna gerbang tertutup suara seseorang menghentikan kegiatan Via.
"Kakak baru beberapa hari aku abaikan karena sibuk udah cari yang baru aja,"
Suara itu milik Fauzan, brownis yang lagi suka dengan Via.
'Kenapa yang suka gue berondong ya, nggak ada yang dewasa dikit apa?' Via menghela nafas saat harus berhadapan dengan anak di bawah umur fikir Via.
Sentak Via yang rasanya sudah mulai habis kesabaran, ya kesabarannya sudah di uji sejak sore tadi di lanjut dengan Fauzan juga.
Apa tidak bisa membiarkan dia segera istirahat untuk menenangkan otak.
Kalau begini terus Via harus segera menikah tapi dengan siapa.
Jangankan mencari calon suami sehidup semati mencari lowongan kerja aja sulitnya minta ampun.
"Kakak lupa yang gue bilang, kakak itu calon istri gue,"
Ya setelah pertemuan mereka beberapa kali Farzan mengklaim Via sebagai calon istri secara sepihak tanpa menunggu persetujuan.
"Itu lo aja yang bicara, kapan gue setuju coba? Nafas masih menggunakan hidung aja sok an klaim anak gadis orang sebagai calon istri,"
Ingin Via lempar menggunakan sendal atau mengusir dari sana jika seandainya Fauzan numpang tinggal di rumahnya.
"Emang kakak bernafas nggak menggunakan hidung,"
Berjalan hingga berdiri tepat depan Via dengan pagar hampir tertutup sempurna.
Mendekati agar bisa lebih jelas melihat wajah cantik yang sudah mengisi fikiran pemuda tampan namun sayang masih muda.
"Nggak menggunakan paru-paru,"
Balas Via, kenapa hidupnya begini sekali.
Ingin istirahat saja susahnya seperti meminta tanda tangan dosen paling killer di kampus.
Bisa tidak membiarkan Via tenang malam ini dan jika besok Via akan memiliki tenaga lebih untuk menghadapi sebab sudah istirahat mengumpulkan tenaga.
"Makin cantik aja kakak kalau ngelawak gini, seperti aura minta di lamar,"
Gombal Fauzan yang sebenarnya tidak nyambung sama sekali tapi demi menarik perhatian Via apapun akan Fauzan lakukan meski gombalan dia terdengar receh.
"Kok ucapan lo seperti orang minta di timpuk,"
Mengambil sendal lalu mengangkat siap di lempar ke arah Fauzan namun segera di tahan.
"Jangan dong kak, nanti ketampanan gue berkurang nol koma satu persen gimana,"
Menurunkan tangan yang memegang sandal lalu di pasangkan lagi.
"Bidadari itu nggak boleh nyeker apalagi kakinya sampai lecet ntar malaikat marah,"
Selepas memakai sendal di kaki Via.
"Udah pulang sana gue juga mau istirahat,"
Mendorong Fauzan agar menjauh dari pagar dan segera menutup gerbang lalu berjalan masuk kedalam rumah.
Malas bicara lama-lama karena besok harus kerja lagi dan bersiap harus di ganggu Dean itu sudah pasti.
"Nggak ada yang bener,"
Dumel Via masuk rumah, saat melewati ruang keluarga kedua orang tuanya tidak ada lagi disana sebelum kedalam Via sudah mengunci pintu terlebih dulu karena ini sudah malam dan tidak menerima tamu lagi kalau ada usir saja, fikir Via.
Masuk kamar lalu mengganti baju setelah menggosok gigi dan cuci muka.
__ADS_1
Menghempaskan badan atas tempat tidur empuk itu menarik selimut hingga sebatas dada.
"Walau gue kebelet nikah tapi gue mikir juga menerima orang,"
Menutup mata sebelumnya sudah membaca doa agar tidurnya tidak di temani sosok lain sebelum di temani suami sendiri.
Cukup guling yang menemani sekarang tidak butuh yang lain.
Di rumah lainnya..
Semua orang terlahir fitrah hanya kadang jalan hidup serta pergaulan yang menyebabkan mereka berubah.
"Hidup yang melelahkan,"
Menghempaskan badan tanpa mengganti baju atau membuka sepatu.
Sebagai makhluk tuhan yang bergelimang dosa pasti menginginkan jalan hidup yang baik serta membutuhkan pendamping hidup.
Memejamkan mata tapi tidak tidur karena tadi sudah tidur beberapa jam di apartemen.
Fikiran dia menerawang jauh pada masa indah mereka dulu dan menyesali telah percaya sepenuhnya tanpa berpikir dulu.
Kini yang tersisa bayang-bayang menyiksa diri.
"Bodohnya aku dan mereka pesta atas kehancuran hubungan ku,"
Membuka mata lalu menerawang melihat langit-langit kamar yang di hiasi ukiran mahal di setiap titik.
"Mulai sekarang aku nggak perlu percaya apa itu teman yang jika hanya akan menusuk dari belakang, ck jika mereka bisa bermuka dua maka dengan senang aku meladeni mereka hingga mereka masuk dalam permainan ku.
Apa yang sudah mereka lakukan pada ku maka harus dapat perhargaan seperti kehancuran mungkin,"
Tekad dia sudah bulat untuk membalas orang yang sudah menghancurkan dirinya secara perlahan.
Bukannya untuk menghancurkan seseorang kita harus masuk dalam hidup orang tersebut agar tidak terlihat niat busuk kita.
Dia bukan orang nabi yang tidak memiliki dendam dalam hati walau dia tau dendam itu tidak baik namun sebagai manusia biasa pasti memiliki dendam dalam hati.
Walau dendam tidak di benarkan kadang dalam lubuk hati terdalam sangat tidak terima perlakuan orang dan agar kita lega harus membalas kalau bisa lebih sakit dari yang dia rasakan.
"Benar kata mama aku harus membuka diri untuk orang lain tapi apa kau bisa saat dia masih menguasai hati ku. Mencintai dia bukan sehari dua hari tapi dua tahun lebih, itu bukan waktu yang sebentar.
Melakukan sangat sulit daripada mengatakan apakah aku akan bisa,"
Menimbang ucapan mamanya yang di benarkan tapi tidak semudah melakukan semua itu.
Sebelum melangkah maju harus di pastikan kalau dia sudah tidak menempati hatinya lagi, jika tidak maka usahanya sia-sia.
Sekarang yang harus di fikirkan adalah bagaimana caranya menghapus namanya di hati lalu baru bersiap memasukkan orang baru tapi jangan asal sebab menjalani hubungan bukan sebentar kalau bisa seumur hidup hingga malaikat maut datang menjemput.
Begitu juga yang di rasakan Dean sekarang saat perjalanan pulang otaknya terus berfikir.
"Kenapa dia susah di dekati sih? Apa ada yang salah sama gue tapi seingat gue, gue nggak pernah buat masalah sama dia jadi apa alasannya jutek gitu?"
Masih belum menemukan jawaban atas kejutekan Via terhadap dirinya yang tidak beralasan itu.
Jika ada kesalahan sejak awal mungkin bisa berusaha Dean perbaiki namun seingat Dean mereka tidak pernah terlibat masalah sebelumnya jadi apa yang harus di perbaiki.
Hingga Dean hanya bisa menerka apa yang sebenarnya alasan Via menjaga jarak.
"Cewek emang sulit di tebak apa maunya dan apa kesalahan kita.
Andai di dunia ini kaum cowok nggak butuh cewek mungkin gue juga ogah harus susah payah gini,"
Berdecak kesal dan ingat kalau manusia butuh pasangan dalam hidup.
Kalau tidak memiliki pasangan bagaimana caranya untuk melanjutkan keturunan dan bagaimana nasib mereka jika tidak ada perempuan saat simpanan menanyakan rumahnya.
Memukul setir pelan sambil terus mengemudi tidak lama mobil Dean memasuki gerbang rumah orang tuanya dan berhenti tepat di depan pintu utama.
"Assalamu'alaikum,"
Salam Dean memasuki rumah, walau tidak ada orang yang menjawab tapi tetap harus salam.
"Wa'alaikumsalam, tumben ganteng mama telat pulang kerja nggak ngasih kabar?"
Menyalami sang mama yang masih duduk sendiri di sofa sambil menunggu Dean pulang.
Walau Dean lelaki namun mamanya sudah biasa menunggu Dean pulang kerja jika telat pulang atau memang tidak pulang baru tidak di tunggu yang sebelumnya sudah ngasih kabar ke rumah.
"Bukan kerja nya telat pulang ma, tapi telat karena ngejar calon mantu mama yang jual mahal,"
Duduk di sebelah mama dan tidak lama merebahkan diri dengan berbantal paha sang mama.
"Jadi anak mama ada yang nolak? Apa dia nggak liat setampan apa anak mama ini. Apa perlu mama hantu?"
Menawarkan bantuan, mendengar anaknya sudah punya wanita sendiri dia senang.
Walau dia tidak terlalu membahas calon Dean sebab anaknya belum terlalu tua bahkan bisa di sebut masih muda dan masih lama untuk menikah.
"Nggak usah ma, biar Dean usaha sendiri aja, masa mama bantu sih nggak etis sekali. Masa mendapat tender besar Dean bisa kenapa menaklukkan calon mantu mama nggak bisa malu sama jabatan ma,"
Duduk lagi saat di rasa sudah tenang.
Ya pangkuan orang tua tempat ternyaman menenangkan diri setelah mengadu pada pemilik alam ini.
"Dean istirahat dulu ya untuk mengumpulkan tenaga mengejar calon mantu mama, mama juga istirahat,"
Mengecup pipi yang masih kencang di usia tua.
"Semangat sayang,"
Menyemangati Dean sebelum masuk kamar juga yang mana guling hidupnya sudah pasti menunggu minta di hangatkan, walau sudah tua tapi keromantisan tidak perlu di ragukan lagi.
Dean mengacungkan jempol tanda mengerti lalu naik ke lantai menuju kamar untuk membersihkan diri dan istirahat.
Masuk kamar mandi lalu melepaskan satu persatu baju yang menempel di badan lalu mengguyur badan dengan air dingin.
Sepertinya mulai sekarang Dean bukan hanya bekerja keras di kantor sebagai orang kepercayaan sahabatnya tapi bekerja keras mendapat kepercayaan Via wanita incarannya.
Selesai membersihkan diri Dean keluar kamar mandi dengan selembar handuk melilit pinggang menampilkan perut kotak-kotak menggugah kaum hawa namun belum ada satu orangpun yang bisa menikmati dan kalau misinya sukses dan mempersunting Via maka dia akan jadi orang pertama dan terakhir yang akan menikmati itu setiap hari.
"Cinta memang rumit tapi tanpa cinta nggak ada rasa hidup ini,"
Memakai baju tidur lalu mengeringkan rambut sebelum tidur.
Setelah kering baru Dean merebahkan badan di ranjang tapi belum ingin tidur sebab masih memikirkan sifat Via yang tampak sekali menjaga jarak.
Masih mencari kesalahan yang sebenarnya Dean hanya iseng-iseng namun menjadi bumerang untuk dirinya sendiri tanpa di sadari.
"Besok cari solusi sama Raka deh semoga dia bisa membantu,"
__ADS_1
Selama ini Raka jadi tempat Dean mengadu dalam segala keluh kesahnya jadi Raka lah tempat yang cocok mencari solusi akan masalah yang sedang di hadapi.
Selain pintar mengelola perusahaan di usia muda hingga sebesar ini Raka juga bisa di jadikan tempat mencari solusi dan semoga besok Dean sudah bisa melanjutkan misi dalam mengejar calon pasangan kelak itupun kalau di terima.