
Sudah beberapa hari terlewatkan oleh pasangan yang baru ini merasakan bagaimana indah hubungan suami istri sesungguhnya, waktu mereka banyak habiskan untuk melakukan hal baru dalam hidupnya dan jalan-jalan siang hari memanjakan istrinya agar malam jatahnya lancar tanpa hambatan.
Sebagai suami dia pintar mengatur strategi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan sejak awal menikah.
Memanjakan istri di siang hari dan memanjakan dirinya di malam hari jadi saling impas.
Memanjakan mulai dari menikmati berbagai kuliner negara sana, berbelanja mulai dari untuk diri sendiri dan untuk orang di rumah semua dapat bagian hingga teman satu ruangannya.
Dan ada sedikit paksaan jika dia tidak menuruti keinginan suaminya untuk belanja maka hukuman manis akan menanti namun walaupun begitu tanpa itu kegiatan panas mereka sepanjang malam tidak pernah terlewatkan sekalipun.
"Ini udah banyak by,"
Keluh Farah yang lagi berada di salah satu toko terkenal di mall besar itu, Raka menyuruh membeli baju untuk di pakai di rumah dan ke kantor dan jangan lupakan baju dinas malam untuk malam-malam mereka.
"Baju dinas malamnya masih kurang yang,"
Bisik Raka di telinga Farah hingga semburat merah di wajah Farah tidak bisa di hindari.
Bagaimana tidak setelah malam pertama Farah selalu di suruh memakai baju kekurangan bahan itu menjelang tidur namun hanya sebentar setelah itu baju itu mengenaskan atas lantas dengan tak berbentuk.
"Ngapain juga beli lagi kalau untuk di sobek by mending nggak usah,"
Tolak Farah, sudah beli mahal malah pakai sebentar lalu buang. Iya kalau di buka baik-baik dan bisa di cuci lalu di pakai lagi lah ini langsung di sobek kan sayang uang.
Lagian buat apa pakai baju itu jika apa yang mau di tutupi tidak bisa dan bisa di lihat dari luar.
"Kan beda sensasinya sayang,"
Hah Farah mengalah dari pada lama berdebat lebih menurut lalu berjalan memilih pakaian kesukaan suaminya agar bahagia.
Bukannya membahagiakan suami adalah pahala bagi istri.
Memilih berbagai warna hingga di tangan Farah sudah ada enam biji, baginya sudah cukup dan jika tidak ada beli lagi sebelum suaminya protes.
Puas berbelanja mereka berdua pergi keluar dari toko itu.
"Kita makan dulu ya sayang sebelum shalat,"
Memasuki sebuah restoran di mall setelah meminta orang suruhannya membawa barang belanjaan menuju hotel, ya setiap langkah mereka berdua selalu ada yang mengikuti karena orang itu sudah Raka bayar dan bisa di suruh kapan saja.
"Mau pesan apa sayang? Atau mau,"
Raka tidak melanjutkan ucapannya karena mulutnya sudah di bungkam sama tangan Farah.
Dia heran kenapa sekarang suaminya malah makin mesum sejak menjalankan tugas sebagai suami.
__ADS_1
Bukan Farah risih, semua tidak masalah jika hanya ada mereka berdua dan bukan lagi berada di tempat umum seperti sekarang.
"Diam atau puasa?"
Ancam Farah merasa tidak nyaman membicarakan hal mesum di tempat umum.
Jika hanya berdua jangankan bicara mesum berbuat mesum juga Farah ladeni.
"Jangan kasih pilihan yang abang yang nggak bisa sayang tapi kamu juga suka kan aku mesumin,"
Benar-benar tidak bisa di ajak bicara baik-baik dan di ancam dengan cara apa harus membuat suaminya diam.
Kalau begini caranya Farah kapok di ajak jalan ke tempat rame bisa brabe urusannya.
"Udahlah by, habis makan kita balik hotel aja,"
Kesal Farah lebih baik istirahat di hotel ketimbang jalan-jalan jika yang di bahas urusan ranjang.
"Kamu beneran nggak sabaran ya sayang padahal pesanan kita belum datang, katanya mau puasa,"
Tuhan boleh kah Farah meminta jika otak suaminya di kembalikan normal seperti saat baru menikah dan seperti orang normal lainnya.
Farah capek menghadapinya sejak mereka sampai otak Raka seperti bergeser atau tertinggal di bandara atau bisa jadi ketukar waktu di perjalanan.
"By lama-lama aku beneran marah ya,"
Jika di tempat umum sudah sejak tadi Farah buat diam dengan caranya.
"Ha ha aku tau kok kamu cinta abang, love you,"
Beneran ini otak Raka ketukar sama orang dan Farah harus menemukan orang itu kembali dan meminta kembalikan otak suaminya yang dulu.
Tidak lama pesanan mereka datang dan di sajikan di atas meja setelah itu pelayan itu pergi.
"Yang abang ke kamar mandi dulu ya bentar,"
Pamit Raka saat makanan sudah habis.
"Iya jangan lama,"
Farah melanjutkan memakan desert yang tersedia yaitu sebuah puding.
Mereka selalu makan di tempat yang menyajikan makanan halal walau di negara orang tapi makanan halal mudah di temukan di setiap tempat yang di kunjungi.
Saat sedang asik makan Farah di kagetkan dengan suara yang sangat di kenali.
__ADS_1
"Ternyata aku benar itu kamu sayang,"
Ucap orang itu lalu duduk di kursi Raka tadi.
Farah melihat orang itu lalu menghela nafas dalam dan berfikir kenapa bisa bertemu di sini padahal jauh dari negara nya.
"Stop panggil aku dengan panggilan menjijikkan itu,"
Sanggah Farah tidak nyaman dengan di panggil sayang selain suaminya.
Apalagi ini hanya seorang mantan bos yang tidak tau diri.
Ya dia adalah mantan bos Farah tempat dia bekerja dulu setelah menikah dengan Raka, suaminya.
"Kamu lupa sayang kalau aku masih menyukai kamu,"
Berusaha memegang tangan Farah dan secepatnya Farah mengelak.
Baginya cuma Raka yang boleh menyentuh dia selain orang tuanya.
"Aku nggak lupa siapa kamu hanya aja hubungan kita nggak pernah sejauh ini aku rasa dan sejak hari itu jadi aku tegaskan menjauh dari hidup ku,"
Tegas Farah yang tidak mau berhubungan atau bertemu orang di masa lalu apalagi orang itu pernah memberikan harapan di hatinya.. Beruntung dia cepat menyadari sebelum menyesal seumur hidup.
"Nggak bisa sayang sampai kapan pun aku nggak bakal lepasin kamu,"
Kekeh kalau dia merasa Farah masih menjadi miliknya dan itu tidak bisa di gugat, namun dia lupa apa yang sudah di katakan Farah padanya dulu, bahwa Farah sudah menikah dan tidak ingin di ganggu lagi.
"Sampai kapan kamu bakal mimpi kayak ini terus, bangun ini masih siang jadi jangan kebanyakan tidur,"
Mulut Farah bisa pedas juga jika ada yang berani mengusik hidupnya, ibarat kata kucing bisa juga menjadi harimau jika tidurnya di ganggu dan mungkin sekarang itulah yang di alami Farah.
"Ayolah aku tau kamu masih cinta aku kan,"
Sepercaya diri itu dia, padahal dulu Farah hanya sedang tersesat dan sekarang sudah kembali ke jalan yang benar dan bahagia bersama suaminya.
"Iya aku mencintai tapi bukan kamu tapi aku mencintaimu suami ku,"
Menghapus perasaan pada seseorang memang tidak mudah namun akan berjalan lancar jika kita berniat dan meyakinkan diri kalau dia bukan yang terbaik dan masih ada kebahagiaan menunggu di depan kita asal kita mau melangkah ke depan.
"Nggak perlu menutupi perasaan sendiri sayang, aku udah datang dan kita bisa melanjutkan hubungan yang sempat tertunda,"
Percaya diri itu boleh tapi jangan berlebihan juga.
Kembali pada orang yang pernah menyakiti kita tidak menutup kemungkinan jika itu bisa terjadi lagi kemudian hari.
__ADS_1
"Hubungan apa yang mau di lanjutkan?"