
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Raka langsung pulang karena ada yang ingin dia sampaikan kepada istrinya dan ini sangatlah penting menyangkut kelangsungan hubungan pernikahan mereka.
Raka mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang apalagi kondisi jalan yang sedikit macet karena ini jam pulang kerja.
Sampai di apartemen Raka langsung membersihkan diri dan setelah itu dia melangkah menuju dapur untuk membuat menu makan malam.
Raka mulai mengolah bahan makanan itu dan dia berniat untuk membuat makanan kesukaan Farah.
Sampai makanan itu selesai semua pintu apartemen terbuka dan munculah seorang gadis cantik dengan wajah lesu mungkin dia kelelahan setelah bekerja seharian.
"Far nanti kita makan malam bersama ya," walaupun sering mendapat penolakan tetapi Raka tidak akan pernah menyerah untuk meluluhkan hati istrinya itu.
"Saya sudah makan di luar," walaupun Raka sudah bisa menebak bahwa Farah lagi dan lagi menolak ajakannya dan menolak niat baik dia tetapi Raka tidak akan gentar karena dia yakin suatu saat hati istrinya itu akan pasti luluh juga.
"Sekali ini saja, please," Raka menatap Farah dengan tatapan memohon dan sangat berharap bahwa gadis itu menerima tawarannya sekali Ini saja.
Farah hanya menjawab dengan angkutan kepala saja lalu memasuki kamarnya untuk segera membersihkan diri karena sebentar lagi sudah mau memasuki waktu maghrib.
Tok...
Tok...
"Far kita shalat bersama ya," Raka mengetuk pintu kamar Farah untuk mengajak gadis itu salat magrib berjamaah karena selama usia pernikahan mereka belum pernah melakukan salat berjamaah.
Ceklek,,,
"Kenapa di kasih hati malah minta jantung?" Farah membuka pintu kamarnya dan berbicara ketus kepada Raka sebab dia sedikit terganggu dengan ajakan laki-laki itu hari ini yang menurutnya sudah berlebihan.
Padahal menurut Farah saat dia menyetujui ajakan makan malam bersama laki-laki itu tidak ada memiliki keinginan lain justru tebakannya salah sekarang Raka mengajak dia salat berjamaah.
"Apakah tidak boleh seorang suami mengajak istrinya shalat bersama?" Raka tersenyum getir melihat wajah cantik itu yang memandang dia dengan tatapan sinis.
"Tunggu sebentar," Farah masih saja berbicara ketus kepada Raka tetapi tak urung dia masuk kamar lagi dan mengambil mukenanya.
Hari ini untuk pertama kalinya mereka melakukan salat berjamaah dan tidak tahu kapan mereka akan melakukannya lagi.
Raka sangat bahagia karena Farah masih mau menuruti keinginannya walau gadis itu berucap ketus kepadanya.
Selesai salat Raka ngajak Farah membaca Alquran walaupun hanya Raka sendiri dan Farah hanya menjadi pendengar.
Setelah selesai mereka makan malam bersama dalam keadaan hening tanpa ada yang mengawali obrolan.
__ADS_1
"Far, apakah pernikahan kita nggak bisa seperti pernikahan pada umumnya?" Raka harus mendapatkan kejelasan tentang kelanjutan pernikahan mereka agar dia tahu tindakan apa yang harus dia ambil.
Karena sebagai laki-laki yang mencintainya Raka hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan tentu saja orang yang ingin diajak berkomitmen adalah Farah.
Tetapi dia sedikit ragu dengan gadis itu sebab setelah hampir satu tahun menikah hubungan mereka tidak ada mengalami kemajuan sama sekali.
"Apa yang diharapkan dari pernikahan tanpa cinta ini bahkan aku pun nggak akan pernah menyukaimu," hati Raka berdebar kencang mendengar ucapan Farah yang mengatakan tidak akan pernah menyukainya yang menandakan bahwa perasaan gadis itu tidak akan pernah seperti dulu lagi.
"Apakah tidak bisa untuk kita saling menerima dan menjalani pernikahan ini agar bertahan hanya maut yang akan memisahkan?" Raka sangat berharap pernikahan ini tidak akan pernah berakhir.
"Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi," Farah terus menjawab ucapan Raka dengan kalimat seolah-olah pernikahan mereka ini tidak akan pernah bisa dilanjutkan lagi.
"Apakah kamu membenci Abang?" Raka ingin hari ini jelas agar hatinya bisa tenang dan dia bisa menata kembali hatinya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Walaupun dia tidak yakin jika suatu hari berpisah bersama Farah dia akan mendapatkan gadis yang bisa menghapus nama Farah di hatinya.
Melupakan orang yang dicintai itu tidaklah mudah bahkan sampai membutuhkan waktu bertahun-tahun itu pun tidak akan melupakan sepenuhnya hanya membiasakan diri tanpa dia.
"Bahkan saya tidak mau melihat mu lagi dan untuk permintaan satu hari itu saya tidak bisa," setelah mengucapkan kalimat itu Farah bangun dari duduknya sambil menahan rasa sakit yang tiba-tiba mendera.
Gadis itu memasuki kamarnya karena tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Raka sebab rasanya dia sangat malas sekali.
"Apakah segitu nya kamu membenci abang?" Farah menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan dari Raka dan tanpa mengembalikan tubuhnya dia menjawab.
Deg....
Wajah Raka tanpa pias jawaban dari Farah yang sangat membuat hatinya sakit dan dia tidak menyangka bahwa Farah menganggap pernikahan ini sumber penderitaan untuk dia padahal untuk Raka laki-laki itu menganggap suatu kebahagiaan bisa bersama dengan orang yang dicintainya.
Raka bangkit dari duduknya lalu memasuki kamar Farah dan melewati gadis itu tanpa bicara.
Farah mematung di pintu kamarnya saat melihat apa yang Raka lakukan.
"Apa yang abang lakukan kenapa memasukkan baju-bajuku ke dalam koper?" Farah terpaku di tempatnya saat melihat semua baju yang dia miliki dimasukkan ke dalam sebuah koper besar oleh Raka yang masih berstatus suaminya.
Raka mengabaikan ucapan sang istri dan dia fokus sama apa yang dia kerjakan dan mengabaikan segala ucapan-ucapan yang dilontarkan kepadanya.
Raka menoleh kepadanya lalu menutup koper itu dan menyeretnya hingga menuju pintu kamar.
" Kamu boleh pergi kemanapun yang kamu mau dan kamu tidak perlu lagi merasa terkekang dengan semua ini," menarik lembut tangan wanita yang diam saat melihat koper miliknya sudah berada di depannya.
"Maksud abang apa? Maksud abang apa mengatakan semua itu dan memasukkan semua bajuku ke dalam koper? Mau kita bercerai dan mengakhiri semua ini? Abang nggak memikirkan bagaimana kecewanya orang tua kita saat melihat kehancuran rumah tangga anaknya," ucap dia masih tidak menyangka dengan apa yang diminta oleh suaminya ini.
__ADS_1
Ini bukan hal kecil bahkan ini sangat besar dan menyangkut tentang masa depan pernikahan mereka yang baru dijalani selama satu tahun belakangan ini.
Raka membalas dengan senyuman manisnya dan tidak ada rawat wajah lain di sana.
Bahkan ini kali pertama sejak menikah Farah memanggil Raka dengan panggilan abang.
"Bukannya kamu yang mengatakan bahwa pernikahan ini adalah awal penderitaan kamu jadi mulai hari ini abang akan membebaskan kamu dari penderitaan itu," Raka berucap dengan tegas tanpa melihat ke arah Farah karena dia tidak ingin gadis itu melihat mata yang sudah memerah-menahan tangis sebab dari lubuk hati yang terdalam dia tidak ingin melakukan ini tetapi saat Farah mengatakan jika pernikahan ini adalah awal penderitaannya maka yang bisa Raka lakukan sekarang adalah melepaskan Farah.
"Tapi bukan seperti ini caranya jika ingin mengakhiri pernikahan ini," Farah tidak mungkin menerima begitu saja dan ke mana dia akan pergi kecuali ke rumah orang tuanya.
Pasti orang tuanya akan sangat kaget tentang kepulangan dia apalagi membawa koper sebesar itu maka sudah bisa dipastikan jika pernikahan anaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Seperti apa yang kamu inginkan? Apakah seperti ini sikap seorang istri yang tidak pernah menghargai suaminya dan memberikan kesempatan laki-laki lain untuk mendekati dia di saat statusnya masih menjadi istri orang. Apakah harus seperti itu sikapmu untuk menyakiti abang? Jika kejadian masa lalu membuat kamu begitu terluka dan kamu membalasnya seperti ini Abang menerimanya dengan lapang dada. Abang akan melepaskan mu dan carilah kebahagiaan di luar sana dan abang akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan mu," mungkin cuma sampai di sini batas kesabaran Raka dan batas kemampuan dia mempertahankan pernikahannya.
Walaupun dia merasa percaya diri bisa meluluhkan hati Farah tetapi ternyata kesabaran itu ada batasnya dan mungkin sampai di sini batas yang dia miliki sebab dia tidak mungkin terus-menerus tidak dihargai.
"Ayo abang antar ke rumah orang tua mu," Raka menarik sebelah tangan Farah untuk keluar dari unit apartemen yang mereka tempati hampir satu tahun ini.
Tapi Farah menahan bahkan dia menyentak agar genggaman tangan Raka terlepas.
"Kenapa? Bukan lah ini yang selama Ini kamu inginkan? Saat kita baru pindah ke sini kamu menanyakan sampai kapan pernikahan ini dan hari ini terjawab sudah kan," Raka menarik Farah lagi dan Farah terus memberontak karena otaknya sekarang sedang mencerna tentang apa yang barusan terjadi.
Di dalam mobil.
Farah memutar kejadian yang pernah dia lalui dan tindakan Raka untuk menarik simpati dari dia.
Tapi jangan kan dia menghargai justru Farah seperti orang yang lagi bertemu musuh lama.
"Kamu tenang saja biar abang yang bicara sama orang tua mu dan kamu tidak akan pernah di salahkan," Raka menyimpulkan jika keterdiaman Farah untuk mencari alasan kenapa dia kembali dengan koper besar miliknya.
Raka juga tidak akan lepas tanggung jawab dan akan menjelaskan.
Biarlah dia yang akan di cap sebagai suami yang tidak bisa membahagiakan istri asal Farah tetap baik di depan orang tuanya.
Hingga mobil yang dikendarai Raka memasuki area rumah orang tua Farah dan jantung berdebar kencang tapi bukan lagi jatuh cinta.
"Ayo kita turun," Raka sudah menghentikan laju mobilnya di depan pintu dan dia turun duluan sambil mengeluarkan koper milik Farah.
Sedangkan Farah masih duduk di dalam mobil karena dia tidak menyangka bahwa akan berada di posisi ini sekarang dan dia akan menghadapi sesuatu masalah secara mendadak seperti ini.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung 😘