BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Sebelum Operasi


__ADS_3

Vya, terus menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi kepada anaknya dan dia merasa kurang perhatian sehingga anaknya sakit saja tidak mengetahui padahal mereka tingkat satu rumah selama ini hanya satu tahun belakangan ini mereka tinggal terpisah dan sebulan ini tinggal bersama lagi tetapi tidak ada melihat gelagat yang mencurigakan terhadap Farah.


"Mama bukan ibu yang gagal kok, jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu," Dean tentu saja tidak ingin istrinya menyalahkan diri sendiri karena dia juga ikut menyembunyikan apa yang dialami oleh anaknya sebab dia sudah tahu akan seperti ini jadinya.


Menyalahkan diri sendiri serta merasa kurang perhatian terhadap anaknya padahal semua itu tidaklah benar karena Farah sendiri juga ikut merahasiakan kondisi penyakitnya lalu berakhir dengan tak sadarkan diri tadi pagi.


"Tapi anak sakit aja aku nggak tau pap," perempuan dengan dua anak itu tetap menyalahkan diri sendiri karena memang merasa kurang perhatian kepada anaknya.


Sebagai suami Dean dengan sabar menenangkan istrinya lalu setelah dirasa tenang dia berpamitan kepada istrinya untuk mengurus segala prosedur untuk melakukan operasi.


"Makasih pak," Dean telah selesai mengurus semuanya lalu dia berjalan menuju ruangan dokter.


"Permisi dokter," Dean duduk di depan laki-laki berjas lalu.


"Jika boleh tahu siapa yang mendonorkan ginjal untuk anak saya?" Dean memang penasaran siapa orang yang mendonorkan ginjal untuk anaknya karena sampai hari ini dengan belum tahu dan juga dokter tidak ada menyebutkan Siapa orangnya.


"Maaf pak untuk itu pasien meminta untuk merahasiakan datanya," tentu saja dokter merahasiakan data siapa yang mendonorkan ginjal terhadap Farah apalagi orang itu sudah berpesan.


Tidak mungkin dia memberitahu walaupun yang bertanya orang tua yang bersangkutan karena janji seorang dokter tidak boleh dilanggar begitu saja.


"Tapi saya mau tau dok," Dean tentu saja tidak mau menyerah karena dia ingin mengetahui siapa orang itu dan ingin mengucapkan terima kasih secara langsung sebab sudah mau menolong nyawa anaknya.


"Maaf sekali lagi pak, jika saya memberi tau maka pasien tidak jadi mendonorkan ginjal nya," Dean menghela nafas dengan dalam lalu dilepaskan secara perlahan jika sudah seperti ini dia tidak bisa memaksa karena dia tidak mau membahayakan nyawa anaknya.


Karena tidak memungkinkan untuk dia mencari pendonor lain hanya demi mengetahui siapa yang sudah berbaik hati mendengarkan ginjal kepada anaknya.


"Baiklah dok, terima kasih," Dean keluar dari ruangan dokter itu lalu menuju ke tempat istrinya berada apalagi operasi akan dilaksanakan beberapa jam ke depan.


"Bagaimana pa?" Wajah cantik itu sudah sebab karena terus menangis sedari tadi dan menyalahkan dirinya.


"Semuanya sudah siap ma, menunggu waktu operasi aja," menggenggam lembut tangan perempuan yang sudah menemani hari-harinya lebih dari 20 tahun itu.


Perempuan yang dulu dia kejar-kejar serta sedikit memaksa agar mau menerima cintanya bahkan sempat ada sedikit drama saat mereka berada di Jepang yang mana membuat tubuh laki-laki ini membeku lantaran ketiduran di balkon kamar yang sangat dingin.


Di sanalah awal hubungan mereka terjalin hingga sekarang.


Tetapi tidak ada yang mencolok sama sekali apalagi perbedaan usia mereka 5 tahun lebih tua istrinya.


"Lalu siapa orang baik yang sudah menolong anak kita?" Vya tentu penasaran juga siapa yang sudah mendonorkan ginjal untuk anaknya sebab orang itu hanya mendonorkan ginjal tanpa meminta imbalan sama sekali jadi dia semakin penasaran siapa orang baik itu.

__ADS_1


"Dokter nggak mau memberitahu karena jika kita memaksa orang itu nggak jadi mendonorkan ginjalnya jadi lebih baik kita simpan saja rasa penasaran itu demi keselamatan anak kita," padahal dia sama penasarannya dengan suaminya tetapi pendonor itu tidak mau mengatakan identitasnya kepada keluarga yang dia donorkan ginjalnya.


"Aku mau telpon Arka dulu," Dean ingin menghubungi Arka yang merupakan sahabat sekaligus besarnya itu walau bagaimanapun hubungan mereka semakin erat sejak zaman mereka masih kecil hingga sekarang.


Drt,,,


Drt,,,


Drt,,,


"Halo assalamu'alaik,"


"Wa'alaikumsalam, gue cuma mau ngasih kabar kalau Farah hari ini mau operasi karena tadi pagi sempat ngga sadarkan diri,"


"Baiklah, lo Sharelock,"


Setelah sambungan telepon itu terputus Dean langsung mengirimi alamat rumah Sakit tempat anaknya dirawat walau bagaimanapun Farah menantu Arka dan juga Arka sudah menganggap para seperti anaknya sendiri.


"Papa ngga hubungi bang Raka?" Walaupun Vya tahu bagaimana hubungan anak dan menantunya tetapi dia tetap ingin memberitahu Raka tentang apa yang terjadi kepada istrinya sebab sampai sekarang hubungan mereka masih suami istri.


"Bentar papa hubungi dulu," Dean mencoba menghubungi nomor menantunya itu tetapi hanya operator yang menjawab.


Tidak biasa menantunya seperti ini walaupun sedang rapat sekalipun pasti laki-laki itu mengirim pesan jika dia sedang meeting tetapi jarang jika nomornya berada di luar jangkauan.


"Coba hubungi orang kantor aja pa," mereka tidak kehabisan akal apalagi di jam kantor seperti ini maka masih bisa mencari keberadaan menantunya melalui orang-orang kantor.


Drt,,,


"Bisa kah saya bicara dengan pak Raka?" Walaupun Dean pernah bekerja di sana dan merupakan orang penting juga dulunya tetapi dia tidak melupakan kesopanan serta peraturan kantor yang memang sudah tertera sejak dulu.


Dean sejenak mendengar ucapan dari orang kantor itu lalu setelahnya sambungan telepon itu ditutup.


"Bang Raka ngga ada di kantor atau lebih tepatnya ada perjalanan bisnis ke luar kota sejak tiga hari yang lalu," setidaknya mereka sudah mencoba menghubungi menantunya itu walaupun sedang tidak ada berada di kantor tapi Dean sudah menitipkan pesan untuk disampaikan kepada Raka jika datang ke kantor nanti.


"Mungkin bang Raka sibuk, nanti kita coba hubungi lagi," tidak lama kemudian Arka datang bersama istrinya tentu saja pasangan itu cemas sebab tidak menyangka kondisi Farah sampai seperti ini.


"Kapan operasinya akan di lakukan?" Arka duduk di sebelah sahabatnya begitupun dengan sang istri yang memang sudah bersahabat sejak dulu bahkan sebelum mereka menikahi pasangan masing-masing.


"Kata dokter nanti di lakukan operasi,"

__ADS_1


"Lalu siapa yang mendonorkan ginjal untuk Farah?" Dean hanya menggelengkan kepala karena dia juga tidak mengetahui siapa orang itu.


"Mau gue bantu cari tau?" Karena bukan hal sulit bagi Arka untuk mengetahui siapa orang yang telah mendonorkan ginjal untuk Farah.


"Nggak usah, orang itu sudah berpesan untuk nggak membocorkan data tentang dia karena jika sampai itu terjadi dia nggak jadi mandorkan ginjalnya," jika sudah begini Arka juga tidak bisa memaksa karena dia tidak ingin membahayakan nyawa menantunya walaupun sebenarnya dia bisa melakukan secara sembunyi-sembunyi tetapi kesehatan menantunya yang lebih penting.


"Cepat atau lambat kita pasti akan mengetahui juga," lalu mereka berempat bangkit dari duduknya untuk memasuki ruangan perawatan Farah karena dokter sudah memindahkan dia dan juga sudah bisa dijenguk.


"Mana yang sakit nak?" Vya, berusaha kuat di depan anaknya yang sedang terbaring lemah dengan jarum infus menancap di tangannya.


"Aku nggak apa ma, maaf udah membuat mama sedih," Farah merasa bersalah karena telah menyembunyikan penyakitnya tetapi dia melakukan itu agar tidak membuat orang tuanya bersedih namun apa yang dia takutkan kejadian juga melihat wajah wanita yang telah melahirkan serta membesarkannya bersedih bahkan dia bisa melihat sisa air mata yang sudah mengering di wajah cantik itu.


"Mama nggak apa, cepat sembuh ya nanti akan operasi. Kedepannya jangan main rahasia lagi kita main petak umpet aja," Farah tertawa pelan mendengar ucapan terakhir dari sang mama karena tidak menyangka masih sempat bercanda di kondisi yang seperti ini.


"Aku udah besar ma, masa main petak umpet,"


"Nggak apa kok, mama masih sanggup nyari kamu yang ngumpet di balik pintu," Vya dulu memang sering di ajak Farah main petak umpet saat masih kecil.


Bahkan hampir tiap hari tapi ibu dua anak itu tidak pernah bosan atau mengeluh capek untuk menyenangkan anaknya.


Membahagiakan anak bukan harus dengan hal mewah asal anak ceria kita juga udah ikut bahagia.


"Tapi nggak muat lagi di balik pintu ma," Farah meneladani ucapan sang mama karena setidaknya bisa mengurangi sedikit kesedihan yang dirasakan apalagi menjelang dia yang akan melakukan operasi tentu harap-harap cemas tentang hasil operasi nantinya.


Apalagi Farah tidak ada mendapat dukungan dari suaminya bahkan dihubungi saja tidak bisa hanya orang tua dan keluarga lainnya saja yang hadir.


**Kenapa bang Raka ngga ada ya? Atau memang udah nggak peduli lagi? Apa sekarang giliran bang Raka yang membenci gue?**


Padahal Farah sangat berharap kehadiran Raka ada di sana dan memberikan semangat kepadanya tetapi harapan itu hanyalah tinggal harapan.


Karena Setelah beberapa jam terlewati dan dia siap dibawa ke ruangan operasi Raka tidak ada menunjukkan tanda-tanda kedatangannya ke rumah sakit.


Sampai ranjang yang ditiduri oleh Farah didorong keluar lalu menyusuri lorong menuju ruangan operasi hingga memasuki ruangan itu dan pintu tertutup rapat Raka memang tidak datang dan Farah hanya bisa berharap semoga operasinya berjalan lancar.


**Bismillahirrahmanirrahim, semoga operasinya berjalan lancar dan gue bisa menata hidup lagi**


Walaupun Raka tidak ada di sana tetapi setidaknya Farah mendapatkan dukungan dari keluarga dan mertuanya jadi dia tidak boleh bersedih agar semua orang tidak mencemaskan kondisinya.


Dia tidak boleh lemah dan harus segera sembuh sebab perjalanannya masih panjang serta menyelesaikan permasalahan rumah tangga dia yang belum ada kejelasan hingga sekarang.

__ADS_1


Farah bukanlah gadis yang lemah tetap berpasrah kepada takdir serta kondisi tanpa mau berjuang sama sekali karena setelah dia sembuh dari penyakitnya ini maka segala masalah yang sudah terjadi sebelum ini akan dia selesaikan dan dia akan memperbaiki hidupnya serta tidak mau hidup terpatok pada kejadian masa lalu hingga membuat dia sulit meraih kebahagiaan di masa depan.


__ADS_2