
"Sudah bangun sayang?" Farah mendengar suara sangat familiar sekali di telinga dan ternyata benar jika sang suami yang sedang duduk di sisi ranjang sambil memegang tangan nya dengan lembut.
Farah masih belum sadar sepenuhnya dan nyawanya belum terkumpul jadi masih seperti orang bingung.
"Sayang hey," membelai lembut pipi Farah dan tidak lupa melabuhkan kecupan di jidat mulus itu.
Hingga tiba-tiba,,,
"Jangan pegang-pegang," Farah bangkit dari tidurnya dan menjaga jarak dari suaminya sambil menatap dengan tajam.
Apalagi ingatan itu masih kelas di ingatan dan tidak mungkin dia melupakan kejadian yang sangat menyesakkan dada itu.
"Sayang kamu kenapa?" Raka menatap istrinya dengan bingung, tidak mengerti kenapa istrinya berubah saat bangun tidur.
"Mana perempuan itu?" Mengedarkan pandangan keseluruh isi kamar dan tidak mendapati ada orang lain di dalam sana.
"Kamu mencari siapa sih sayang?" Raka juga ikut melihat sekitar dan tidak ada orang lain selain mereka.
"Perempuan yang kamu peluk saat di kantor," Farah yakin jika dia tidak salah lihat.
__ADS_1
"Perempuan mana sih sayang? Bahkan klien aja nggak ada yang perempuan kemarin," semakin bingung sama tingkah istri tercintanya itu.
Seharusnya Raka yang marah tapi kenapa malah kena tuduh seperti ini? Lagian perempuan mana yang di maksud?.
Sejak dulu Raka selalu menjaga jarak sama perempuan apa lagi setelah menikah mana mungkin dia mau dekat sama perempuan lain apa lagi sudah memiliki istri tercinta.
**Apa kemarin dia salah makan ya**
Raka harus mencari tau tentang perubahan sikap istrinya ini.
Tidak mungkin kurang dari waktu satu hari istrinya berubah secepat ini.
Mana ada dia bertemu perempuan hamil apa lagi di kantor.
Dia sibuk satu harian kemarin, dan juga pun tidak sibuk mana mau dia melakukan hal serendah itu.
"Ya ampun sayang, pasti kamu lagi mimpi kan!" Raka sudah yakin jika yang di bahas istrinya adalah mimpi yang kebawa ke alam nyata.
**Kenapa mimpi nya sampai semengerikan itu ya?**
__ADS_1
"Aku nggak lagi mimpi, mana perempuan itu? Pasti kamu sembunyikan," Farah bangkit dari ranjang lalu turun berdiri di sisi ranjang yang bersebelahan sama suaminya.
"Nggak ada yang di sembunyikan sayang, ayo abang mandikan biar kamu sadar dari mimpi itu," Raka bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang istri.
"Nggak mau, aku nggak mau sentuh oleh tangan yang sudah di gunakan menyentuh perempuan lain," tolak Farah semakin memberi jarak.
Sebagai istri dia tidak mau di sentuh laki-laki yang pernah menyentuh perempuan lain.
Menjijikkan jika di ingat lagi.
"Sayang semua itu nggak benar, padahal sejak abang pulang semalam kamu sudah tertidur di sofa padahal hari masih belum terlalu malam, apa lagi kita hanya berpisah beberapa jam," kepala Raka berdenyut nyeri atas perubahan sikap istrinya.
Raka pulang kerja saat waktu isya saja sudah mendapati istrinya tertidur di sofa dan dia yang membawa ke kamar dan bangun pagi sudah menuduh suaminya bersama perempuan lain.
Apakah seperti ini efek tidur terlalu cepat? sungguh dahsyat sekali hingga membuat orang lupa diri.
"Sepertinya abang harus melakukan hal yang kamu tuduhkan agar jadi kenyataan dan juga agar di tuduh ada buktinya.
Nggak enak jika di tuduh padahal kita nggak melakukan itu sama sekali, jadi lebih baik di kabulkan saja,"
__ADS_1