
Ritual kerinduan itu tidak akan puas jika hanya sekedar berciuman tanpa adegan selanjutnya seperti saling raba, saling remas atau saling buka-bukaan.
Semua akan terasa biasa jika tidak di lakukan secara tuntas.
Ini bukan puasa selama satu hari tapi satu Minggu lebih bayangkan saja berapa banyak sudah kesempatan yang terlewat tidak akan cukup hanya dengan kenikmatan daging tak bertulang itu.
Ciuman itu hanya bisa di anggap sebagai kegiatan pembuka dari sekian banyak kegiatan yang bisa di lakukan di atas ranjang.
"Jangan menggoda sayang, ini di rumah mertua nggak enak jika kita dalam kamar seharian," Cegah Raka saat tangan lentik itu sudah berpindah pada perut sixpack Raka yang sudah tercetak jelas karena semua kancing piyama sudah terbebas dari lubangnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan wanita cantik yang sedang menatapnya dengan tatapan memuja.
Ayolah iman Raka tidak sekuat itu untuk menahan segala godaan halal ini.
Dia lelaki normal yang cepat goyah jika di hadapkan pada sesuatu yang yang bisa memancing gairah.
"Masa iya harus di tahan lagi by?" Rengek bumil yang sudah mulai di kuasai gairah akibat ciuman panas mereka barusan di tambah hormon kehamilan hingga gairah itu cepat naik.
"Abang nggak mau di cap sebagai menantu yang nggak sopan sayang, masa iya di rumah mertua mengurung diri dalam kamar,"
Raka menjadi serba salah sekarang.
Dia ingin segera menuntaskan kerinduan tapi di satu sisi dia sadar lagi berada di mana sekarang.
Jika ini di rumah mereka mungkin dengan senang hati Raka menuruti keinginan istrinya yang juga sama dengan keinginan dia.
Menuntaskan segala hal yang di rasakan.
Kerinduan ini seperti ada makanan enak di depan mata tapi tidak di makan.
Bayangkan bagaimana rasa tersiksa itu.
"Ya udah sekarang kita mandi dan setelah sarapan kita pulang," Usul bumil membuat Farah terperangah, bukan seperti itu maksudnya tapi istrinya memang sudah tidak sabar lagi.
Di tinggal seminggu kenapa jadi semakin agresif begini namun Raka suka.
"Iya sayang, ayo," Ajak Raka mendudukkan diri lalu membantu istrinya duduk juga.
Turun dari ranjang mengulurkan tangan untuk turun dari ranjang lalu berjalan beriringan ke kamar mandi.
Jangan sangka mereka akan mandi sendiri karena pagi ini harus di bikin panas dengan mandi berdua walau tanpa adegan panas.
Tapi jika saling raba cukuplah untuk pagi ini membangkitkan gairah.
Saat sudah masuk kamar mandi dan mengunci pintu Raka membantu Farah melepas bajunya begitu juga dengan Farah yang membantu Raka melepaskan celana hingga mereka sama-sama polos.
"Ini baru mandi namanya by," Seloroh bumil saat guyuran air shower membasahi tubuh polos mereka berdua.
Saling menyabuni badan pasangan masing-masing sambil tidak lupa mengambil kesempatan untuk meraba apa yang ada di depan mata.
"Emang biasanya mandi gimana?" Tangan Raka sibuk meremas gundukan kembar Farah yang sudah mulai lebih besar dari biasanya.
Tidak lupa sesekali turun ke bawah untuk meremas pinggul montok istrinya yang kian berisi juga.
Sejak hamil dua bagian itu semakin terlihat perubahan ukuran dan semakin enak di remas.
__ADS_1
"Biasanya mandi itu terasa dingin sejak hubby kerja jauh," Apa ada mandi terasa seperti itu, kan mandi memang terasa dingin jika menggunakan air dingin dan hangat jika pakai air hangat.
Kenapa fikiran istrinya jadi aneh begini sejak hamil untung cinta jadi segala keanehan di anggap biasa.
"Sekarang udah hangat kan? Dan nanti saat di rumah akan di beri yang lebih hangat," Membilas badan keduanya dan setelah di rasa bersih dari sabun Raka membantu istrinya mengeringkan badan lalu keluar kamar mandi dengan handuk melilit badan masing-masing.
Mencarikan baju yang pas dan memakaikan satu persatu mulai dari daleman hingga gamis.
Raka memanjakan istrinya karena merasa sudah sangat lama mengabaikan.
Menyisir kan rambut dan bagian make up Raka belum berani melakukan takut hasil tidak sesuai ekspektasi.
"Sekarang udah segar, kamu dandan dulu abang mau pakai baju," Raka mengambil baju yang ada dalam lemari Khira lalu memakai langsung di depan istrinya.
Lagian tidak ada kata malu di antara mereka di saat sudah tau bagian tubuh masing-masing bahkan merasakan.
Bumil menoleh sebentar ke arah suami nya lalu pipinya bersemu merah melihat punggung kokoh itu dari belakang lalu membayangkan menyender di sana sambil menghirup aromanya pasti sangat menyenangkan.
"Fokus Fa," Menepuk pelan kepalanya karena sudah memikirkan hal erotis yang bisa di lakukan pada tubuh kekar suaminya.
Inilah efek terlalu lama puasa, ini baru satu Minggu bagaimana dengan satu bulan atau satu tahun bisa-bisa blingsatan yang ada.
Memang manusia normal tidak bisa di jauhkan dari yang namanya nafsu apalagi terhadap pasangan halal, bisa-bisa nyosor setiap ada kesempatan asal tau tempat aja.
"Nanti di rumah sayang," Goda Raka saat melihat istrinya memukul kepala sendiri tidak mencegah namun dia tau apa yang di fikirkan istrinya dan dia juga ingin tapi tidak di sini.
Selain merasa tidak sopan dengan mertua juga merasa kurang leluasa melakukan nya.
"Apanya yang di rumah by?" Heran Farah yang tidak sadar kalau gerak geriknya di lihat Raka.
"Yang ada di kepala mu yang nanti di rumah kita praktekkin," Kekeh Raka hingga wajah cantik itu kian memerah.
**Apa kepala gue tembus pandang ya hingga hubby tau isi ini kepala** Fikiran Farah terlalu jauh berkelana padahal yang Raka bilang juga keinginan nya tapi di lemparkan semua pada istrinya.
Benar-benar pintar memutar balikkan fakta.
"Iya di tunggu by, jangan lupa kasih bonus," Jujur Farah yang tidak mau mengelak dari pada makin di goda dan pipinya kian memerah.
Sudahlah sama-sama ingin kenapa harus saling lempar masalah jika bisa di nikmati bersama seperti sesuatu yang akan mereka lakukan di rumah nanti.
"Pasti sayang," Senang Raka berhasil menggoda istri cantiknya itu.
Ah sudah seminggu lebih menggoda lewat udara dan sekarang bisa secara langsung lagi.
Lebih menyenangkan tentunya.
"Ayo sarapan by biar cepat pulang," Farah berjalan duluan keluar kamar dari pada dapat serangan mematikan dari Raka lagi lebih baik menyelamatkan diri.
Dia tidak bisa bertahan lama di goda terus dan bisa saja dia menyerang suaminya sekarang dan tidak jadi pulang.
"Makin menggemaskan," Menyusul istrinya yang sudah lebih dulu sampai di ruang makan di sana sudah ada mertua nya yang menunggu.
Sarah tidak ada mungkin sudah berangkat ke kampus.
__ADS_1
"Mama sangka mau kangen-kangenan dulu seharian," Goda mama Sila saat melihat anaknya turun lebih dulu di ikuti Raka di belakang.
"Siapa yang kangen-kangenan sih ma," Elak dia yang tidak mau mengakui karena.
**Kangen-kangenan nya nanti di rumah ma bukan di sini takut di goda lebih jauh**
Mana mau khilaf jujur kalau ritual kerinduan akan di lanjutkan saat sudah pulang nanti kalau bisa seharian dalam kamar saja.
"Kalau iya juga tidak apa, mama dulu juga pernah muda kok jadi tau gimana rasanya di tinggal jauh sama suami,"
Tambah mama Sila yang berhasil menarik kembali keluar semburat warna merah di pipi anaknya.
Kenapa mama dan suaminya suka menggoda sekarang? Apa tidak ada kegiatan lain apa?.
Kan Farah tidak bisa mengelak.
Raka sampai di meja makan tidak lupa menyapa mertuanya sebelum duduk.
Sarapan di ambilkan istrinya lalu mereka sarapan dengan tenang.
Selesai sarapan Farah melontarkan niatnya untuk balik ke rumah suaminya dengan alasan sudah lama di tinggal.
"Udah lama di tinggal atau udah lama nggak di belai?" Ingin rasanya Farah mengumpati mamanya jika tidak ingat dosa.
Tuhan kenapa cuma ada gelar anak durhaka jika orang tua suka menistakan juga.
"Aku harap mama ngerti," Farah tidak mau memperpanjang obrolan ini yang bakal lebih memberatkan dia lagi.
Setelah merasa cukup acara berpamitan mereka berdua pergi dari sana namun sebelumnya Raka sudah memberikan oleh-oleh yang di bawa sisanya untuk keluarga lain juga istrinya.
Sepanjang jalan pulang bumil menempel pada lengan suaminya yang lagi fokus menyetir tapi tidak merasa terganggu sama sekali.
Saat ada kesempatan maka kecupan sayang Raka labuhkan pada pelipis istrinya.
Akhirnya lengannya ada lagi yang bergelayut manja di sana.
Mobil yang di kendarai Raka memasuki area kawasan rumah nya dan berhenti tepat di depan pintu besar itu.
"Ayo sayang," Ajak Raka setelah membukukan pintu dan menuntun istrinya keluar dan bergandengan tangan masuk rumah.
"Selamat datang kembali den Raka dan nona Farah," Sambutan semua asisten rumah tangga itu berdiri berjejer rapi di depan pintu menyambut majikan uwu mereka kembali ke rumah.
Seminggu ini rumah terasa hampa karena hanya mereka saja yang ada tanpa melihat adegan romantis majikannya.
"Terima kasih, di mobil ada oleh-oleh mohon di bagi rata," Ya Raka tidak lupa membeli kan untuk asisten di rumah karena biar bagaimanapun mereka adalah orang berjasa juga dalam mengurus serta merapikan rumah tanpa mereka mana bisa Raka atau Farah melakukan.
"Makasih den," Senang mereka punya majikan seperti Raka yang tidak lupa sama mereka jika ada dinas jauh.
Raka segera membawa istrinya ke kamar mereka untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan selagi masih banyak waktu untuk bermesraan sebelum besok lusa Raka masuk kerja lagi.
Raka hanya mengambil libur dua hari untuk menemani istrinya di rumah, biasanya sebelum menikah Raka langsung kerja tidak ada mengambil libur.
Namun sekarang situasi berbeda ada orang spesial yang harus di manjakan bukan fokus pada kerjaan saja.
__ADS_1