
"Coba di bangunkan mam," menuruti permintaan suaminya dan perempuan itu menggoyangkan tangan anaknya namun tidak ada tanggapan sama sekali bahkan tangan itu lemah seperti tak bertulang.
"Nggak ada respon pa," tentu saja dia semakin cermas apalagi tidak ada pergerakan dari anaknya.
"Biar papa periksa," Dean memeriksa denyut nadi anaknya dan dia melotot karena denyut nadi itu lemah bahkan mereka baru menyadari wajah pucat Farah yang seperti mayat hidup.
"Astaghfirullah pa, Farah," Vya histeris melihat keadaan anaknya yang begitu pucat dan lemah tergeletak di atas ranjang.
Tentu saja dia tidak bisa membendung tangisnya dan menyesal tidak melihat anaknya sejak tadi dan beranggapan anaknya baik-baik saja di dalam kamar.
"Langsung bawa ke rumah sakit pa," Vya historis melihat anaknya yang sudah tak sadarkan diri.
Dean langsung saja menggendong anaknya lalu keluar dari kamar.
Tiba di mobil Farah di baringkan di kursi belakang bersama mama Vya sebagai bantal kepala dan Dean yang melajukan mobil.
"Hati-hati pa," konsentrasi Dean terbagi antara mencemaskan anaknya dan juga keselamatan mereka bertiga.
__ADS_1
Dia tidak menyangka jika anaknya sampai tak sadarkan diri namun mereka tidak mengetahui.
Dia sebagai orang tua merasa gagal menjaga dan memastikan anaknya baik-baik saja, padahal dia sudah tau jika anaknya sedang sakit namun tidak berani memberi tau pada istrinya, takut jadi buah fikiran.
Sampai di rumah sakit...
"Dokter tolong anak saya," Vya memanggil dokter siapa saja yang di lihat atau lewat.
Segera saja perawat yang ada langsung mengambil brankar dan membawa Farah yang sudah pucat ke ruangan pemeriksaan.
Di luar ruangan pasangan paruh baya itu mencemaskan keadaan anaknya dan juga berdoa semoga semuanya baik-baik saja apalagi mengingat Farah sampai tidak sadarkan diri.
"Berdoa mam semoga kakak baik-baik aja," Vya tak hentinya mondar mandir di depan ruangan dan berharap anaknya tidak ada yang perlu di cemaskan mengingat dia tidak mengetahui anaknya yang sedang sakit.
Tidak lama pintu ruangan terbuka...
"Bagaimana keadaan anak kami dok?" Vya yang tak sabaran langsung bertanya saat dokter keluar ruangan.
__ADS_1
"Kondisi pasien semakin menurun dan kami harus segera melakukan operasi transplantasi ginjal," jelas dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan.
"A_apa, transplantasi ginjal?" Vya membekap mulutnya tak percaya jika anaknya mengidap penyakit itu, padahal sehari-hari dia melihat anaknya baik-baik saja, tapi siapa yang menyangka.
"Kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan semuanya dan menghubungi orang yang akan mendonorkan ginjal nya, permisi," Vya masih membeku di tempatnya.
Lalu, melihat ke arah suaminya.
"Pa, anak kita," mata Vya sudah berkaca-kaca dan siap untuk menumpahkan cairan beningnya.
Dean membantu Vya duduk untuk menenangkan istrinya yang mendapatkan kabar mengejutkan.
"Ibu macam apa aku yang nggak mengetahui anak sendiri sakit?" Vya menyalah kan diri sendiri atas apa yang menimpa anaknya.
Vya merasa menjadi orang tua yang tak berguna, anak yang sudah sebulan lebih tinggal bersama dia lagi tapi tidak mengetahui jika anaknya sakit.
Dia yang kurang perhatian atau anaknya yang terlalu pintar menyembunyikan semuanya hingga dia beranggapan anaknya baik-baik saja.
__ADS_1