
Raka sangat bahagia sekali saat mengetahui istrinya mendatangi kantor bahkan membawa makan siang untuk dia.
Padahal sejak kemarin istrinya itu tidak ada memberitahu bahwa dia sudah berhenti dari pekerjaannya padalah Raka sudah berlapang dada untuk membiarkan sang istri terus berkarir selama itu bisa membuat dia bahagia.
Ini sungguh kebahagiaan untuk dia dan juga kejutan serta menjadi mood booster saat bekerja karena ada orang tercinta yang menemani.
"Aku duduk di sofa aja ya by," Farah merasa tak enak hati jika duduk di kursi kebesaran suaminya apalagi dia merasa deg-degan.
**Sudah seperti bos besar saja**
Farah tertawa dalam hati karena tidak menyangka bisa duduk di kursi yang mana orang lain saja tidak berani justru dia dituntun sendiri dan merasakan bagaimana duduk di kursi orang nomor satu di perusahaan.
"Nggak apa, nurut sama suami itu pahala," Raka melanjutkan pekerjaan dengan sebelah tangan sambil memegang tangan istrinya.
Padahal tadi dia merasa pusing memikirkan sang istri yang masih betah bekerja padahal bisa menikmati kekayaan dia saja daripada harus membuat capek diri sendiri.
Apalagi bekerja bersama orang itu tidaklah enak apalagi menjadi orang baru di kantor sudah pasti akan disuruh-suruh ataupun mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.
Walaupun kadang kantor itu memiliki peraturan yang ketat tetapi ada segelintir karyawan yang berbuat nakal tanpa sepengetahuan pimpinan hanya demi kepentingan pribadi atau dengan alasan ingin mencari hiburan saja.
"Ih itu terus," tapi Farah tidak menarik tangan yang digenggam oleh suaminya justru dia dengan sengaja merebahkan kepala di lengan kokoh itu.
"Masih banyak by kerjaannya?" Farah melihat angka demi angka huruf demi huruf yang diketik Raka di laptopnya.
Banyak sedikitnya dia sudah mengerti dan paham apa yang dikerjakan oleh Raka apalagi dia sempat menjadi sekretaris dari suaminya ini jadi bukanlah hal yang sulit untuk melihat apa yang dikerjakan suaminya agar dia paham.
"Dikit lagi sayang, cuma merapikan aja," Raka menghentikan sejenak pekerjaannya lalu mengusap lembut kepala istrinya.
Farah memejamkan kepala menikmati ucapan lembut yang diberikan oleh suaminya.
"By kalau aku jadi sekretaris kamu lagi boleh nggak?" Entah mengapa Farah ingin sekali bekerja dengan suaminya.
Raka mengalihkan pandangan kepada istrinya saat mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa?" Tentu saja dia ingin mendengar alasan istrinya terlebih dahulu sebelum menyetujui ataupun menolak.
__ADS_1
"Kayaknya enak aja membayangkan mulai dari rumah, kantor pokonya selalu bersama kamu by," memang itu yang Farah bayangkan selalu bersama suaminya 24 jam.
"Kalau mau kita terus bersama nggak perlu kerja, ikut aja ke kantor terus," menjawil hidung istrinya yang tidak terlalu mancung itu.
"Kan beda by, kerja kan dapat gaji,"
"Kamu mau berapa? Kan tinggal gesek aja," pada olahraga sudah memberikan sebuah kartu berwarna hitam kepada istrinya tetapi masih memikirkan kerja serta gaji yang tidak seberapa dari uang bulanan yang dikasih oleh Raka.
"Tapi kan tetap beda rasanya," masih tetap keras kepala ingin bekerja.
"Ok jadi asisten pribadi aja ya," Raka mengalah dan menerima sang istri bekerja bersama dia lagi karena dia tahu mungkin istrinya itu masih ingin berkarir walaupun hanya bekerja bersama suaminya.
"Tapi di gaji kan?" Ada-ada saja tingkah istri cantik si Raka ini.
Masih saja membahas soal gaji padahal kartu sudah beberapa diberikan oleh suaminya itu dan sampai sekarang belum digunakan.
"Khusus buat kamu, tulis gaji berapa yang di mau," menuruti saja asalkan istri nya itu senang.
Biarlah daripada merasa bosan di rumah apalagi mereka belum memiliki bayi dan membiarkan istrinya itu bergerak bebas selama masih berada dalam pengawasan dia.
Tok..
Tok..
"Masuk,"
Ceklek...
"Maaf pak di depan ada bos besar sama istrinya," sekretaris Raka memberitahu kedatangan orang tua serta mertuanya.
Memang kedua pasangan itu dipanggil bos besar semenjak memilih pensiun dini dari jabatannya.
"Suruh langsung masuk aja,"
Setelah mendapatkan perintah dari Raka dia memilih undur diri dan tidak lama kemudian tampaklah pasangan yang masih muda itu.
__ADS_1
Bagaimana tidak mudah umur mereka saja belum menyentuh angka 5 Jadi wajar jika mereka masih tampak muda dan segar bahkan masih pantas untuk bekerja tapi apalah daya mereka lebih memilih menikmati masa muda,, yang katanya.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, wah tamu jauh datang," mereka berdua bangkit dari duduknya dan menyalami orang tua satu persatu.
"Ini mau kerja atau mau pacaran?" Karena melihat posisi duduk mereka yang berdempetan apalagi Farah yang duduk di kursi Raka sudah seperti seorang bos saja.
Mereka berempat memang sudah mengetahui lama jika anak-anak mereka sudah berbaikan bahkan sudah sempat menginap di rumah orang tua masing-masing.
"Jika bisa sekalian dua kenapa harus satu," Farah mengambil minuman untuk orang tua dan juga kue yang ada di dalam lemari pendingin itu.
"Para bos besar ada apa datang siang-siang begini?" Karena tidak seperti biasanya mereka datang secara berbarengan seperti ini.
"Tidak ada tadi hanya kebetulan lewat lalu mampir," lagi pula ingin melihat anaknya masa harus memiliki alasan pikir mereka berempat.
"Kayaknya orang nggak ada kerjaan saja, makanya balik lagi ke kantor," Sindir Raka kepada orang tua dan mertuanya sebab jika berkumpul santai seperti ini mereka sudah seperti orang bertema bukan seperti anak dan orang tua.
"Sudah saatnya kami bersantai dan menikmati masa tua walaupun kami masih muda," mereka mendali sinis mendengar ucapan sang daddy karena dia masih kasar lantaran dipaksa menggantikan posisi kepemimpinan saat dia baru selesai kuliah.
"Terserah lah," percuma mengajak berdebat jika pada akhirnya dia juga yang kalah.
Padahal jika dipikir-pikir kembali di usia yang sekarang itu merupakan usia yang masih kuat dalam bekerja bukan malas bersantai seperti pengangguran.
Lalu Raka meminta sekretaris untuk memesan makanan sebab menu yang Farah bawa tentu saja tidak cukup untuk mereka berenam.
"Nggak usah repot-repot bang," walaupun terkesan menolak tetapi raut wajahnya sangat menyebalkan sekali di mata Raka.
"Ya udah balik sana kalau gitu, ganggu orang lagi bermesraan aja," mendengar ucapan neraka justru wajah Farah yang bersemu merah.
Dia merasa malu lantaran suaminya itu terlalu tanpa filter berbicara.
Tidak perlu mengatakan apa yang mereka lakukan berdua sebab itu merupakan privasi tetapi apalah daya ini bukanlah sesuatu hal yang aneh dalam keluarga mereka.
"Anak siapa sih kamu bang, boleh di tukar tambah nggak ya," mereka semua hanya bisa tertawa melihat perdebatan kecil antara ayah dan anak itu.
__ADS_1
Karena jika Arka dan Raka jalan berdua maka terlihat seperti kakak beradik.