
Pasangan pengantin baru menjalani harinya dengan bahagia mereka melakukan hal-hal kecil selalu bersama agar hubungan mereka semakin erat dan berharap tidak ada kerikil kecil atau badai yang datang menerpa dalam hubungan mereka.
Walau kemungkinan itu bakalan ada kesempatan terjadi namun sebisa mungkin mereka harus antisipasi dengan saling percaya serta saling terbuka karena tidak selamanya hubungan yang kita jalani selalu berjalan mulus seperti jalan tol yang tidak ada tanjakan, turunan.
Gadis cantik itu sekarang sudah mulai kuliah di kampus yang sama dengan suaminya dan tentu juga mereka berdua menyesuaikan jadwal masuk kampus agar bisa selalu pergi dan pulang bersamaan karena itu atas permintaan Rasya sebagai sang suami karena dia tidak ingin istrinya lepas dari pantauannya, bukan karena tidak percaya hanya saja lebih baik waspada daripada mengatasi yang telah terjadi.
"Abang ayo bangun ini sudah subuh,"
Riska menggoyangkan sang suaminya lantaran belum juga bangun padahal azan subuh sudah berkumandang.
Nampaknya suaminya itu masih enggan meninggalkan alam mimpi padahal kewajiban sebagai umat Islam sudah diminta untuk segera ditunaikan dan untuk tidur itu bisa dilanjutkan lagi nanti.
"Masih ngantuk sayang,"
Gumam Rasya tidak jelas di balik selimut yang membalut tubuh kekarnya hingga menutupi seluruh tubuh, itu dia lakukan agar tidurnya tidak diusik namun semua itu hanya sia-sia sebab apalah arti hanya sebatas selimut yang bisa saja ditarik atau masih bisa mendengar orang di baliknya.
"Abang bangun sekarang dan bakal dikasih hadiah spesial di hari ulang tahun Abang minggu depan,"
Gadis itu menjanjikan sesuatu yang mana sesuatu itu bakalan membuat Rasya tersenyum sepanjang hari dan itu sudah dipikirkan karena Riska dari jauh-jauh hari.
"Hadiah apa dulu? Baru Abang mau akan bangun,"
Bukannya tertarik mendengar sebuah hadiah malah ingin tahu dulu apa hadiahnya padahal belum melakukan apa yang diminta oleh Riska, sangat tidak adil bukan!.
Gadis itu memutar matanya dengan jengah karena tawaran dia tidak disambut dengan baik padahal gadis itu tahu bahwa memang itu sangat dinantikan suaminya walau tidak pernah mengatakan secara langsung tapi dia tahu suaminya sangat menginginkan hanya saja berusaha untuk menutupi agar dia tidak merasa dibebani.
"Jika Abang bertanya lagi maka hadiahnya bakalan hangus dan nggak akan pernah ada kesempatan kedua,"
Gadis itu menarik selimut yang menutupi tubuh kekar suaminya lalu naik ke atas ranjang memposisikan diri berada di sebelah suaminya lalu mendekatkan mulutnya ke arah telinga Rasya lalu berbisik yang mana empat kata yang diucapkan Riska mampu membuat Rasya membangun seketika.
"Beneran itu sayang?"
Rasya langsung bangun seketika mendengar bisikan dari istrinya karena sudah pasti itu bakalan disambut dengan baik karena dia sudah menanti beberapa waktu ini namun belum ada kesempatan dan sekarang malah ditawarkan tanpa dia meminta lebih dulu.
Bukankah ini bisa disebut sebuah hadiah besar tanpa usaha yang besar juga.
"Nggak ada lagi karena kesempatan itu udah nggak ada, udah hangus,"
Gadis itu berniat beranjak dari duduknya untuk turun dari ranjang namun usahanya sia-sia karena gerakan suaminya lebih cepat dari dia hingga mengungkung tubuh mungillnya di bawah badan kekar Rasya.
Jangan tanya bagaimana kinerja jantungnya yang sudah pasti bekerja dua kali lebih cepat walaupun ini bukan tali pertamanya mereka baru ada posisi yang paling intim namun tetap saja membuat gadis itu salah tingkah.
'ya ampun punya suami tampan dan mempesona memang nggak baik untuk kinerja jantung apalagi suka bertindak tiba-tiba seperti sekarang namun Riris suka'.
Wajah gadis itu sudah bertemu merah karena Rasya mengikis jarak diantara keduanya hingga hanya beberapa senti saja wajahnya menyentuh wajah istrinya.
"Tarik sekarang ucapan itu karena abang nggak akan melepaskan sebelum kesempatan itu diberikan lagi,"
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat itu Rasya meniup kecil telinga Riska yang membuat gadis itu meremang merasakan geli.
Yang mana tindakan rasa itu membuat dia merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakan seumur hidupnya namun dia tidak tahu itu apa..
Cinta pertama, laki-laki pertama yang menyentuh dia se intim ini tentu saja gadis itu tidak tahu jika itu adalah titik sensitifnya yang mana jika terlalu jauh maka akan menimbulkan suara erotis yang keluar secara tidak sadar dari mulut mungilnya.
"Nggak ada kesempatan kedua Bang, karena Riris sudah mengasih kesempatan tadi tapi abang sia-siakan,"
Gadis itu berusaha sekuat tenaga menahan godaan dari suaminya yang sangat sulit ditolak namun dia berusaha untuk tenang agar tidak terlihat salah tingkah atau bisa saja dia meloloskan suara yang sangat disukai oleh kaum Adam itu.
Namun gerakannya diketahui suaminya karena dia tidak bisa menyimpan perubahan dari gerak-gerik tubuhnya atau ekspresi wajahnya.
"Bukankah semua orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua dan kenapa untuk abang tidak ada?"
Rasya makin mendekat kan jarak mereka, dia ingin kesempatan itu di berikan karena sudah lama dia menunggu, walau tidak pernah mengatakan namun sebagai laki-laki tentu dia menunggu momen itu dan sekarang malah di tawari.
Ais kenapa dia tidak langsung bangun tadi dan sekarang harus membujuk istrinya agar di beri kesempatan tadi yang sudah di tawari.
"Tapi Riris nggak pernah ngasih kesempatan kedua pada siapa pun bang, jadi sorry,"
Riska berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Rasya agar menjauh dari dia.
Bukannya tidak nyaman hanya saja terlanjur nyaman dan Riris tanpa sadar menyetujui permintaan Rasya padahal gadis itu lagi berusaha mempertahankan pertahanan diri agar tidak goyang.
"Abang bukan orang lain jika sayang lupa, ingat kita ini suami istri,"
Menyadarkan Riska jika mereka bukan orang lain lagi tapi sepasang suami istri yang sudah bebas melakukan apapun namun Rasya masih berusaha menahan diri agar tidak kelepasan walau dia bisa dan tidak melanggar norma atau akan di tuduh melakukan tindakan pelecehan karena dia melakukan bersama istri sendiri.
Memajukan wajah untuk mencapai benda kenyal yang sudah menjadi candu Rasya beberapa malam ini karena Riska sudah mengizinkan Rasya untuk mencium dirinya walau bertahap namun Rasya sudah bisa menyentuh Riska lebih jauh.
Suatu kemajuan dalam hubungan mereka.
Lalu Riska tersentak kaget karena di bibirnya sudah berlabuh benda kenyal milik suaminya, dengan kata lain bibir mereka sudah bertemu untuk yang kesekian kalinya.
"Iya Minggu depan,"
'Punya suami gini amat'
"sekarang abang mandi ya udah Subuh,"
Baru Rasya bangkit dari tubuh istrinya.
"Makasih sayang, abang udah nggak sabar,"
"Dasar,"
Riska memandang suaminya memasuki kamar mandi lalu menyiapkan perlengkapan shalat untuk mereka berdua, shalat berjamaah.
__ADS_1
Melakukan ini atas ucapan sang mommy yang menyadarkan dia dari kewajiban dari seorang istri selain mengurus kebutuhan lahir saja namun bathin juga butuh.
Saat itu.
Riska yang kebetulan cepat pulang kuliah dari suaminya, dia berpamitan pulang duluan dan Rasya harus dengan berat hati melepaskan istrinya pulang sendiri padahal jarak kampus dengan toko sangat dekat.
Dasar lebay.
"Wah Riris kedatangan tamu penting siang-siang gini,"
Riska yang baru sampai di toko sudah di sambut dengan kedatangan mommy nya yang duduk di sofa tunggu dalam toko.
"Dasar, bukannya salam orang tua malah ngeledek,"
Khira geleng-geleng kepala melihat anak bungsu yang masih suka bercanda walau sudah menjadi istri orang.
Eh tapi tidak ada hubungannya juga jadi istri sama bercanda, karena itu dua hal yang berbeda walau berasal dari orang yang sama.
"Assalamu'alaikum ibu ratu,"
Riska menyalami mommy nya dengan ramah.
"Wa'alaikumsalam,"
Riska mengambil duduk bersebelahan.
"Tambah minum nggak mom?"
Melihat botol minum yang mana isinya sudah tinggal setengah.
"Adek mau buat mommy kembung seperti ikan buntal,"
Riska tertawa mendengar ucapan sang mommy.
Lagi membayangkan jika sang mommy yang masih ramping ini walau sudah pernah melahirkan tapi kini tampak gendut seperti lagi bawa balon dalam baju.
"Rencananya sih mom,"
"Adek udah lalukan kewajiban adek sebagai seorang istri?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Riska terdiam sejenak lalu.
"Udah kok mom, kan adek istri yang Solehah,"
Balas Riska dengan bangganya.
"Termasuk kewajiban di atas ranjang?"
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘