
Pagi hari.
Farah sudah rapi menggunakan gamis lengkap dengan kerudung yang di gunakan senada dengan warna baju.
Bahkan suaminya masih mandi tapi dia sudah rapi seperti orang mau pergi.
"Sayang kamu mau kemana pagi-pagi sudah rapi?" Raka kaget saat keluar kamar mandi melihat istri tercintanya sudah rapi, tidak seperti biasanya ini.
Dia saja yang masih mengenakan handuk sambil mengusap rambutnya yang masih tampak basah.
Walau tidak kemana-mana istrinya tetap rapi, tapi ini beda loh.
Seperti orang mau pergi, tapi ini kan masih pagi.
"Aku mau ikut ke kantor by, kata dedeknya mau liat Daddy kerja," mengusap perut yang sudah mulai tampak buncit itu.
Kehamilan Farah sudah memasuki Minggu ke 15, apa lagi saat periksa kemarin dokter mengatakan jika anak mereka memiliki teman di dalam sana.
Jadi bisa di pastikan jika perut Farah akan lebih besar dari hamil pada umumnya.
__ADS_1
"Kamu di rumah aja ya sayang, ntar kamu bisa di kantor cuma duduk," Raka memberi pengertian agar istrinya paham bahwa di kantor jika tidak melakukan apa pun pasti akan cepat merasa bosan.
Tapi apakah bumil itu mau mendengar ucapan suaminya?. Oh tentu...
"Kenapa sejak hamil kamu selalu melarang aku ini itu? Dan untuk ikut ke kantor juga di larang.
Apa setelah hamil aku udah nggak cantik lagi? Atau di kantor ada yang lain lagi atau cinta mu hanya sebatas ini?" Ya ampun kenapa istri cantiknya ini bisa berfikir sejauh itu.
Siapa yang mengatakan jika dia sudah tidak cantik lagi? Siapa yang bilang udah nggak cinta lagi? Apa lagi memiliki perempuan di luar sana.
Untuk bersama saja mereka butuh perjuangan hingga sampai sekarang dan tidak mungkin Raka menjadi orang bodoh melakukan hal yang akan dia sesali seumur hidup.
Tapi ini kan ibu hamil jadi masih bisa di bilang wajar.
Karena pemikiran sama moodnya seperti cuaca, cepat berubah.
"Bumil ini lagi mikir apa sih? Ayo jika mau ikut," Raka segera bersiap karena tidak mau membuat istrinya bersedih hanya karena di larang ikut ke kantor.
Dan jika bosan bisa dia antar kemana kemauan istrinya.
__ADS_1
Asal istrinya bahagia tidak apa repot sedikit.
Bukankah perjuangan Farah selama hamil tidaklah mudah dan harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan diri yang kadang tiba-tiba.
"Lagi pun jika di larang aku tetap akan ikut, kan masih banyak mobil yang bisa di gunakan untuk ke kantor," balas Farah lalu membantu suaminya menggunakan dasi dan jangan lupakan tangan Raka sudah melingkar di pinggang istrinya.
"I love you,"
"Love you too,"
Raka melabuhkan kecupan di jidat istrinya setelah selesai memasang dasi lalu bergandengan tangan menuju meja makan dengan tangan kiri memegang tas kerja.
Mereka sarapan dengan tenang dan sebelum tadi Raka sudah duluan membuat susu untuk istri tercinta.
Raka ingin memanjakan istrinya agar suasana hatinya selalu bagus.
"Ayo kita berangkat by, aku udah nggak sabar melihat suasana kantor," Farah tampak semangat sekali untuk ke kantor setelah sekian lama berhenti bekerja.
Walau dia bisa datang sesuka hati tapi tidak di lakukan karena ingin fokus pada program hamil agar cepat memiliki buah cinta mereka.
__ADS_1