BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 120


__ADS_3

Tidak ada yang berubah dari hari sebelumnya, semua masih terasa sama bahkan justru terasa lebih baik.


Ya semua akan lebih baik jika kita ingin berubah demi kebaikan.


Mobil yang Dean kendarai memasuki parkir khusus karena dia tau kalau pujaan hatinya tidak akan nyaman turun di lobi dan jadi pusat perhatian.


"Nanti kita makan siang bersama!" Ajak Dean, lelaki satu ini akan mencari kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu bersama walau hanya sekedar makan siang yang waktu terbatas.


"Saya makan dengan teman satu ruangan," Tolak Via, ya segala penolakan selalu Via lontarkan agar tidak terlalu keliatan dekat di kantor dan di gosipkan menjilat bos sendiri.


"Kamu tau siapa saya kan?" Mendekat ke arah Via hingga Via memilih menjauh hingga terpojok di pintu. Dean tidak menyerah hingga jarak mereka beberapa senti hingga bisa bersentuhan.


"Tapi kita nggak sedekat itu harus selalu menghabiskan waktu selalu bersama,"


Berusaha bicara lirih karena tidak kuat terlalu dekat dengan dada yang berdebar.


Sialnya lagi dia kenapa lemah dengan orang yang lebih kecil darinya?.


Kenapa dia mengikuti jejak sahabatnya yang terpesona dengan pesona berondong satu ini.


Menarik dagu Via lembut hingga tatapan itu bertemu untuk kesekian kali.


"Perlu tindakan tegas agar kamu nggak menghindar lagi?" Tegas Dean saat bicara menatap dalam mata Via dengan lembut.


Yang di tatap hatinya ketar ketir susah menolak pesona Dean.


"Ma-maksud kamu?" Gugup Via saat merasa terpaan nafas Dean menyapu wajahnya hingga memerah menahan malu.


Sungguh dia belum pernah sedekat dan seintim ini dengan lawan jenis.


"Apa perlu aku lamar langsung agar kamu nggak menjauh lagi?" Mata Via melotot, apa katanya melamar? Yang benar saja dekat baru juga ini dan kenapa malah mengatakan kata lamaran.


Apa dia fikir melamar anak gadis orang seperti melamar pekerjaan tanpa melibatkan perasaan sama sekali.


Jangan bodoh, suatu hubungan tidak akan sehat jika menjalani tanpa perasaan dan pasti bakal ada pihak yang terluka nantinya.


"Jangan gila Dean, kita nggak punya hubungan sedekat itu harus ada lamaran segala," Bagaimana mau menerima lamaran kalau hubungan mereka masih di pendekatan malu-malu mau dari Via.


"Menyatakan perasaan nggak malah melamar aja," Lirih Via berusaha membuang muka ke luar jendela namun sayang suara Via terdengar jelas di telinga Dean dan menyinggung kan senyuman menawan namun Via tidak melihat itu.


"Vya," Bisik Dean tepat di telinga gadis itu hingga secara spontan Via melihat dan tanpa di duga bibir mereka bertemu tanpa di sengaja.


Mata Via membulat sempurna merasakan benda kenyal yang menyatu dengan bibirnya.

__ADS_1


**Bibir suci gue** Teriak Via namun tubuhnya membeku tidak bisa di gerakkan sama sekali seperti terpaku pada tempat duduk.


Mata indah itu mengerjap pelan.


Dean juga tak kalah terkejut namun dia lebih ke arah senang dapat rezeki nomplok pagi-pagi.


"Sorry," Menjauhkan bibir itu karena tidak mau khilaf saat Via belum bisa di dapatkan maka dia tidak bisa bertindak lebih.


Tujuannya harus bisa mendapatkan hati Via dulu, setelah Via bisa dia taklukkan maka yang lain bisa menyusul dirinya miliki dengan mudah.


"Kamu tau kan aku menyukai bahkan berusaha meluluhkan kamu dengan berbagai cara dan kamu juga tau aku nggak main-main dengan perasaan ini hingga harus melibatkan orang tua mu itu berarti aku serius.


Aku akui memang bukan lelaki romantis tapi aku bisa jamin rasa ini bukan hanya obsesi semata. Dan sekarang pilihan mu cuma dua terima aku sebagai kekasih atau tunggu aku nanti malam untuk melamar kamu bersama orang tua ku," Via terhenyak di tempat mendengar ucapan frontal Dean.


Terdengar sangat tulus di tambah saat bicara melihat ke dalam matanya menyalurkan keseriusan dan tidak sedang main-main karena ini menyangkut hati.


Namun yang membuat Via kesal pilihannya tidak ada yang Via suka walau Via sudah memiliki jawaban kenapa pilihannya tetap berada di samping Dean apapun alasan, itulah tujuan tak tersirat Dean dalam ucapan itu.


"Ada pilihan lain nggak?" Pilihan apalagi yang di minta?, itu sudah pilihan yang mudah menurut Dean.


"Ada," Menampilkan senyuman yang membuat meleleh.


"Apa?" Siapa tau pilihan ini lebih baik dari yang tadi, namun.


Pertama menjadi kekasih, kedua menjadi tunangan dan ketiga menjadi istri, apa tidak ada juga pilihan menjadi simpanan juga. Bikin Via menonjok wajah tampan yang belum menjauh darinya ini.


"Boleh mikir dulu nggak?" Ini bukan lagi di pasar tapi Via suka menawar.


"Boleh, aku kasih waktu lima menit," Ingin menampar rasanya, tangan Via sudah gatal ingin memberi cap lima jari di pipi Dean.


"Ck menyebalkan sekali jadi cowok, aku pilih yang pertama,"


BBRRAAKK... Via keluar cepat setelah mengucapkan kata itu, percuma meminta opsi lain kalau tidak ada yang lebih mudah.


Jadi istrinya yang benar saja menikah tanpa cinta, kalau pacaran masih bisa di pertimbangkan namun kalau menikah belum untuk sekarang.


"Manisnya," Mengusap bibirnya yang masih menyisakan bibir Via tadi, walau sebentar namun cukup bisa di rasakan.


Dean hanya melihat langkah Via yang kian menjauh dengan sesekali kaki di hentakan ke lantai menandakan kalau dirinya lagi kesal.


Dean tidak masalah pintu mobilnya di banting yang terpenting dia dengan Via sudah lebih dekat lagi yaitu pacaran walau ada unsur paksaan


Padahal jika Via memilih menikah dengan senang hati Dean siapkan langsung walau mendadak namun bisa untuk membuatkan pesta yang meriah namun ya sudahlah.

__ADS_1


Berbeda dengan yang di alami Raka sekarang dia lagi pusing dengan tingkah manja istrinya yang lagi hamil muda itu.


"Kamu tega ninggalin aku sama anak kita di sini?" Farah menangis di atas ranjang sambil memeluk guling dengan erat.


Ucapan Raka yang mengatakan kalau dia akan melakukan perjalanan bisnis membuat Farah merasa sedih.


"Bukan meninggalkan sayang, Abang pergi juga beberapa hari itu pun untuk kerja sayang bukan pergi main atau liburan," Bujuk Raka membelai kepala itu lembut namun segera di tepis istrinya.


Dia tidak butuh belaian sekarang yang di butuhkan suaminya tetap tinggal tidak usah pergi.


"Sama aja kamu tetap ninggalin aku, kalau udah nggak cinta bilang aja nggak usah cari alasan," Tidak menerima alasan apapun yang suaminya lontarkan.


Biarlah dia di katai cengeng atau apa yang jelas dia tidak mau jauh dari suaminya, mungkin bawaan anak juga yang tidak ingin jauh dari ayah nya.


Sepertinya mulai sekarang Raka harus banyak menstok sabar dengan tingkah istrinya yang suka berubah mood.


Tantangan terbesar juga.


"Siapa bilang yang nggak cinta sih sayang, abang kesana kan mau mantau cabang yang di sana," Merebahkan badan di belakang istrinya dan memeluk dari belakang.


Meletakkan wajah di ceruk leher istrinya lalu mencium pelan.


Meletakkan tangan kekar itu di perut rata Farah dan mengusap pelan.


"Anak papa lagi manja ya?" Tidak marah dengan sifat Farah hanya gemas saja, menangis karena masalah Raka akan pergi beberapa hari.


"Hubby jahat," Rengek Farah manja dengan masih betah membelakangi Raka namun tidak juga mau di lepaskan dari pelukan.


"Iya abang juga cinta kamu sayang," Membalas dendam tidak nyambung sama sekali.


"Aku mau ikut," Masih tidak mau di tinggal.


"Kamu lagi hamil muda sayang, kalau seandainya dedek udah kuat mungkin akan abang ajak,"


Tidak tega juga sebenarnya meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti ini.


Kalau di ajak Raka tidak bisa menjamin jika anak mereka akan baik-baik saja melakukan perjalanan jauh.


"Jadi kalau dedeknya udah kuat kita akan kesana lagi, bertiga?" Membalikkan badan melihat Raka untuk memastikan kalau dia akan di ajak ke sana saat kandungan sudah kuat.


"Iya sayang, apapun untuk kamu," Sudahlah mengalah saja karena harus bisa menjaga mood istri cantiknya ini.


Tidak apa juga mengajak kesana jika sudah kuat, anggap saja mereka melakukan babbymoon.

__ADS_1


Farah menduselkan wajah ke dada bidang Raka, tempat paling nyamannya karena dia suka sekali mendengar detak jantung Raka sebagai obat penenang.


__ADS_2