
Setelah bicara panjang lebar bersama papa mertuanya, Raka berpamitan untuk segera berangkat malam ini juga dan sebelum pergi dia Raka mengunjungi kamar gadis yang masih menjadi istrinya itu dan semoga saja masih ada keajaiban untuk pernikahan mereka.
Walaupun Raka merasa hubungan pernikahan yang dia jalani sudah berada di ujung tanduk tetapi dia masih berharap ada sedikit harapan agar bisa dipertahankan lagi karena dia tidak ingin mengakhiri semua ini dan lebih baik diperbaiki daripada merajut kembali bersama orang baru.
Tapi jika memang benar-benar tidak ada jalan lagi Raka juga tidak bisa memaksakan kehendak.
Tok...
Tok...
"Far ini abang," Raka mengetuk pintu kamar Farah sebab dia tidak ingin pergi begitu saja tanpa berpamitan walaupun dia merasa kurang yakin bahwa gadis itu akan mau membuka kan pintu untuknya.
Ceklek...
"Boleh abang masuk?" Walaupun Farah masih istrinya tetapi Raka tidak bisa memasuki kamar gadis itu sembarangan apalagi hubungan mereka selama ini tidak baik-baik saja dan lebih tepatnya Farah yang selalu menghindar jadi Raka tidak mau mengambil tindakan yang gegabah.
Tanpa bicara Farah membuka lebar pintu kamarnya yang menandakan dia mengizin ke Raka masuk ke dalam.
"Ada yang ingin abang bicarakan," Raka berdiri dengan menjaga jarak dari Farah, dia takut jika berdekatan hanya akan mendapat penolakan dari gadis itu jadi sikap tahu diri itu secara otomatis keluar jika ada Farah di pandangannya.
Farah tidak menjawab ucapan Raka dan sepertinya dia juga menunggu kelanjutan dari omongan laki-laki itu.
Dan beruntung Raka paham bahwa Farah menunggu apa yang ingin dia sampaikan.
"Kita sama-sama tahu bahwa pernikahan ini memang terjadi secara mendadak sekali dan kita juga sama-sama tahu bahwa kamu sangat tidak menginginkan pernikahan ini bahkan terkesan sangat menolak sekali, bahkan di saat pernikahan kita masih terjalin kamu seperti memberi kesempatan untuk laki-laki lain memasuki celah yang telah retak sejak awal dan seperti mengizinkan laki-laki itu untuk menghancurkan pernikahan kita.
Tetapi aku tidak tahu bahwa kamu mengatakan pernikahan kita ini adalah awal penderitaanmu apakah pernikahan ini suatu musibah yang harus dihindari atau seperti sampah yang tidak dianggap? ah bukan itu sebenarnya ingat abang sampaikan semua itu sudah berlalu yang terpenting sekarang abang akan meninggalkan kamu di sini dalam waktu yang belum ditentukan untuk berpikir apakah ingin benar-benar mengakhiri pernikahan ini atau tidak, jika kamu sudah berpikir segera hubungi abang untuk masih mau lanjut atau kita bertemu di pengadilan.
Akan abang kasih waktu paling lama satu bulan untuk kamu memikirkan semua ini dan selama waktu itu telah habis dan kamu belum memutuskannya maka surat perceraian kita akan sampai ke sini jaga diri baik-baik abang pergi dulu," Raka sudah memutuskan akan melepaskan cintanya walaupun berat dan terasa sakit tetapi saya tidaknya dengan seiring berjalannya waktu dia bisa melupakan dan mencari pendamping yang benar-benar mau menerima dia.
Biarlah dia dinilai seperti apa yang terpenting dia juga ingin bahagia walaupun bukan bersama cintanya dan bersama cinta yang baru.
Dia tidak mau larut dan tenggelam dalam rasa sakit yang tak berujung sebab hidup terus berlanjut Dan tidak perlu merenungi sesuatu yang hanya membuat kita tidak maju ke depan.
Walaupun semua itu berat tetapi dia harus bisa melewatinya sebab jika tidak bersama Farah mungkin saja di luar sana kebahagiaan dia sudah menanti, kebahagiaan yang sebenarnya.
"Sebelum pergi, bolehkah abang memeluk mu?" Raka sadar atas permintaannya ini tetapi dia juga sangat berharap bahwa Farah mengizinkan dia untuk memeluknya walaupun hanya sedetik itu sudah lebih dari cukup.
Farah termenung berdiri di tempatnya atas permintaan dari Raka yang menurutnya mustahil tetapi dia mendongak melihat wajah tampan laki-laki itu rasanya dia tidak tega untuk menyakiti suaminya yang kesekian kali.
Jadi dia hanya menjawab dengan anggukan kepala saja, dan.
GGRREEPP...
"Makasih," langsung saja Raka memeluk tubuh mungil itu setelah mendapatkan izin dari yang bersangkutan karena jika berlama-lama takut Farah berubah pikiran sebab untuk mendapatkan kesempatan seperti ini tidaklah mudah.
"Terima kasih sudah mengizinkan abang untuk memelukmu, jaga diri baik-baik selama abang pergi dan jika kita memang tidak berjodoh semoga kamu mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik lagi dari abang.
Jangan lupa makan ya ingat kamu lagi sakit, abang akan usahakan untuk mencari pendonor agar kamu sehat lagi, Jangan tanya dari mana abang mengetahui semua ini sebab abang hanya ingin memastikan orang terfasiat bank selalu berada dalam lindungan,"
"Selama usaha pernikahan abang bisa merasakan apa yang kamu rasakan dulu dicuekin oleh orang yang kita cintai itu rasanya memang tidak enak ya, tapi abang memaklumi dan menganggap itu semua hukuman karena di masa lalu abang pernah menyukai kamu juga ah benar-benar tidak enak rasanya bahkan sangat menyesakkan dada," Raka terus berbicara panjang lebar sambil memeluk Farah sesekali tangan kekar itu mengusap punggung mungil yang berada dalam dekapannya.
Dan untuk Farah dia masih terdiam di tempat dan tidak membalas sama sekali pelukan dari Raka tetapi setidaknya dia tidak berusaha untuk melepaskan.
"Jika kita benar-benar tidak bisa berjodoh lagi, semoga saja dia bisa menggantikan posisi abang untuk mengerjakan kamu. Abang minta maaf kalau selama kita menikah abang belum bisa membahagiakan kamu.
Sudah ya jika abang ngomong terus rasanya waktu yang dibutuhkan lebih lama dari ini dan abang harus segera pergi menjaga diri baik-baik, i love you," sebelum melepaskan pelukannya Raka beberapa kali mengecut pucuk kepala Farah dan setelah itu dia pergi meninggalkan gadis itu yang masih mematung berdiri di tempatnya.
Farah hanya membalikkan tubuhnya untuk melihat langkah kaki Raka yang menghilang di balik pintu yang langsung dia tutup saat melewatinya.
Gadis itu belum bisa berkata-kata terhadap apa yang barusan dia dengar dan dia tidak menyangka bahwa selama ini dia telah menyakiti hati Raka secara sengaja.
Dan kalimat terakhir yang Farah tangkap dari ucapan Raka adalah bahwa laki-laki itu mencintai dirinya tetapi pergi juga dari kehidupannya.
__ADS_1
"Dia mencintai gue, nggak salah dengar gue kan?" Farah masih tidak percaya terhadap apa yang dia dengar di penghujung kalimat yang diucapkan oleh Raka.
Rasanya sangat mustahil sekali jika laki-laki itu mencintai dirinya bahkan dulu dia ingat sekali bagaimana Raka begitu menghindari dia setiap kali Farah mencoba untuk mendekati.
Jadi jika sekarang Raka mencintainya seperti mimpi di siang bolong padahal ini malam hari.
"Dia pergi ke mana?" Raka memang tidak mengatakan dia akan pergi ke mana dan hanya berpamitan kepada papa mertuanya saja.
Jadi Farah bingung sendiri akan pergi ke mana suami yang tidak pernah dia anggap selama ini dan sekarang dia kebingungan sebab tidak mengetahui jadwal laki-laki itu.
Dengan langkah tertatih dia berjalan menuju ranjang untuk memulihkan tenaganya sebab dipeluk serta mendapat pengakuan dari Raka membuat tulang-tulang Farah melemas seketika.
Akhirnya Farah memilih tidur setelah pikirannya yang berkecamuk dibuat oleh Raka.
Dia memikirkan ucapan Raka tadi apakah laki-laki itu benar-benar mencintainya atau hanya bualan untuk mencari simpati darinya.
Keesokan pagi setelah melaksanakan salat subuh gadis itu keluar dari kamar untuk membantu sang mama membuat sarapan.
"Pagi ma," dia harus bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa semalam sebab dia tidak ingin orang tuanya mengetahui nasib pernikahan yang dia jalani sudah diambang kehancuran.
"Pagi kak, sini bantu mama masak. Mama kangen masak bareng kakak tau," Vya mengajak anak sulungnya masak bersama sebab sebelum Farah menikah mereka sering masak bersama ataupun kadang dibantu oleh Sarah.
Dengan senang hati Farah membantu sang mama dan dia menghela nafas lega sebab mamanya tidak menanyakan alasan kedatangan dia semalam bahkan mamanya biasa-biasa saja.
Tanpa Farah tahu bahwa sang mama sudah dijelaskan oleh Dean tentang kepulangan putrinya ke rumah mereka jadi Vya tidak bertanya lagi kepada putrinya.
"Kita masak yang sederhana aja ya karena bahan makanannya tidak lengkap karena bibi belum belanja lagi," akhirnya ibu dan anak itu memilih membuat menu sarapan yang sederhana saja walaupun begitu kekompakan mereka tidak berkurang.
Sambil menunggu menu sarapan mereka matang Farah menata piring serta gelas dan tidak lupa membuat jus buah untuk pelengkap menu sarapan pagi ini.
Hal yang tidak pernah Farah lakukan selama menikah bersama Raka bahkan di masakan oleh Raka pun dia tidak pernah menyentuh atau memakannya.
"Pasti Bang Raka senang ya makan masakan kakak setiap hari apalagi kakak pintar memasak," Farah yang sedang meletakkan sendok menghentikan gerakan tangannya mendengar ucapan dari sang mama.
Dia tertegun berdiri di tempatnya bahwa dia tidak pernah melakukan semua itu selama menikah dan juga dia lebih memilih makan di luar atau membeli makanan dan dia makan di dalam kamar.
'Memasak! Apa aku pernah memasak selama kami tinggal bersama?'
Tentu saja jawabannya tidak jangankan memasak memasuki area dapur saja Farah hanya untuk mengambil minum dan itu pun saat tidak ada Raka berada di apartemen atau tidak keluar dari kamarnya.
"Kakak paling suka masakin apa saat sarapan pagi sama abang?" Wajah gadis itu semakin murah mendengar pertanyaan lanjutan dari sang mama.
Ingin rasanya dia pergi ke kamar untuk menenangkan dirinya sebab dia benar-benar merasa menjadi istri yang durhaka kepada suaminya.
Padahal dulu Raka pernah berkata jika Farah tidak ingin menerima Raka sebagai suami cukup terima dia sebagai teman tetapi Farah tidak pernah melakukan hal sederhana itu dan lebih memilih menghindari Raka saat berada di apartemen.
"Abang itu paling suka menu sarapan apa kak?"
Farah yang di berondong dengan pertanyaan seperti itu malah bingung harus menjawab seperti apa sebab dia tidak pernah melakukan semua itu selama pernikahannya menjadi dia sudah seperti tersangka yang sedang ketahuan malah melakukan aksinya.
Otak Farah berputar-putar mengingat segala dosa yang pernah dia lakukan selama tinggal bersama Raka bahkan seingat dia tidak ada satupun kebaikan yang dia lakukan ataupun tindakan dia untuk menghargai semua usaha Raka.
"Pasti abang sering minta dimasakin seafood kan karena dia paling suka itu," Vya masih ingat tentang ucapan Khira sahabatnya sekaligus besan dia yang mengatakan jika Raka paling menyukai makanan dari olahan seafood.
Apalagi dia sudah mengenal Raka sejak masih berada dalam kandungan dan bersahabat bersama ibu Raka sebelum mereka menikah bahkan masih duduk di bangku sekolah jadi bisa dikatakan bahwa hubungan mereka itu sudah lama terjalin sebelum anak-anak mereka lahir hingga menikah sekarang.
"Ayo kita tata makanannya karena ini sudah matang dan sebentar lagi papa dan Sarah pasti akan turun," Vya yang lebih banyak berbicara sedangkan Farah tidak ada menjawab satupun ucapan dari mamanya karena dia memang tidak memiliki jawaban.
Beruntung mamanya tidak bertanya lebih jauh dan tidak menuntut jawaban dia karena menurut Vya bahwa anaknya melakukan tugasnya sebagai istri selama ini dengan baik.
Selesai sarapan Farah berpamitan untuk berangkat ke kantor bahkan dia menyempatkan diri untuk mengantarkan Sarah ke kampus padahal adiknya sudah berkata akan membawa mobil sendiri tetapi Farah kekeh untuk mengantarkan adiknya.
Dan Sarah tidak bisa menolak ajakan kakaknya itu.
__ADS_1
"Abang nggak ikut menginap kak?" Sarah sejak tadi penasaran karena tidak melihat kehadiran Raka di sana dan baru sekarang dia berani untuk bertanya.
"Dia sedang melakukan perjalanan bisnis," jawab Farah dengan pelan sebab dia kurang yakin tentang jawaban yang dia berikan karena Raka semalam hanya berpamitan dan menyuruh dia menjaga diri baik-baik.
Raka tidak ada mengatakan bahwa dia akan pergi ke mana dan sekarang Farah benar-benar merasa sebagai seorang istri sangat tidak peduli kepada suaminya.
"Kenapa kakak tidak ikut? Kan enak pergi sama suami sekalian liburan," yang ada dalam pikiran Sarah adalah bahwa dia bekerja bersama suaminya lalu ikut dalam perjalanan bisnis pasti sangat menyenangkan bekerja sambil liburan apalagi bersama orang terkasihnya.
Tetapi itu hanyalah keinginan Sarah karena berbanding terbalik dengan yang ada dalam pikiran Farah.
"Kakak masih banyak kerjaan di kantor," lagi pula dia ini siapa yang berani minta ikut saat Raka melakukan perjalanan bisnis dia hanya seorang istri yang tidak pernah menganggap keberadaan suaminya jadi dia harus tahu batasan karena selama ini Farah sendiri yang membangun benteng pembatas di antara mereka walaupun Raka selalu berusaha untuk menghancurkannya.
"Kalau aku berada di posisi kakak aku nggak akan membiarkan suamiku pergi sendiri karena aku nggak ingin nanti dia digoda sama perempuan-perempuan centil di luar sana apalagi Abang itu tampan, baik dan juga seorang pengusaha sukses sudah pasti akan banyak yang menyukainya di luar sana. Jika Kakak nggak bisa menjaga abang baik-baik maka suatu hari jangan menangis jika abang memilih pergi bersama perempuan yang bisa membuat dia nyaman," di setiap kesempatan yang ada Sarah ingin menyadarkan sang kakak bahwa Raka adalah laki-laki yang pantas untuk bersanding bersama kakaknya apalagi Raka itu tidak memiliki kekurangan untuk dijadikan sebagai pasangan.
Jadi jika Farah menyia-nyiakan kesempatan yang ada maka tidak menutup kemungkinan jika Raka lelah dengan perjuangannya.
Tidak lama mobil yang Farah kendarai berhenti di kampus Sarah.
Gadis itu berpamitan kepada kakaknya lalu segera turun.
"Kenapa semua orang seolah-olah sedang memojokkan aku?" Apakah Farah tidak berpikir bahwa mereka semua tidak ada niat untuk memojokkan dia.
Karena mereka tidak tahu bagaimana hubungan pernikahan dia bersama Raka jadi wajar jika seandainya sang Mama bertanya seperti tadi pagi dan Sarah berkata demikian karena dia pernah melihat dan mendengar langsung bagaimana Farah memberi celah kepada atasannya untuk memasuki hubungan pernikahan yang masih berlangsung itu.
Jadi di sini mereka itu tidak terlalu salah hanya saja sang Mama yang tidak tahu apa-apa serta Sarah hanya tidak ingin kakaknya salah dalam mengambil keputusan.
"Bisa kita bertemu sekarang?" Farah tidak mood untuk pergi ke kantor dan dia menghubungi sahabatnya untuk diajak bertemu karena dia tahu sahabatnya sedang libur bekerja.
Setelah mendapat balasan Farah menuju tempat yang telah mereka sepakati untuk bertemu.
Sesampainya di sana setelah memarkirkan mobilnya Farah mencari tempat di mana sahabatnya berada.
"Wajah lo itu kenapa kok kusut sekali?" Sahabat Farah saja bisa melihat bahwa gadis itu sedang banyak pikiran tanpa harus Farah menjelaskan.
"Gue nggak apa kok cuma lagi kurang sehat aja," Farah memberikan alasan jika dia kurang sehat walaupun memang benar karena gadis itu kondisi fisiknya sedang tidak baik-baik saja.
"Gue yakin bukan itu saja alasannya pasti ada hal lain kan," mereka ini bersahabat sudah cukup lama jadi akan sangat sulit untuk mengerahasiakan sesuatu apalagi jika sudah bertatap muka seperti ini.
"Bang Raka memulangkan gue ke rumah papa dan Mama,"
Hukkk...
Hukkkk...
Mendengar ucapan Farah sahabatnya langsung terbatu.
"Lo dipulangkan sama dia? Kalian bertengkar?" Sama halnya yang dipikirkan oleh Farah semalam sebab dia tidak menyangka jika Raka memulangkan dia secepat itu.
"Bukankah kami selama ini nggak pernah ribut jadi,," Farah juga bingung antara harus bercerita atau memendam saja sendiri karena dia tidak sanggup harus menahan sendirian terhadap apa yang dia dengar dari Raka semalam.
"Jadi apa?" Tentu saja dia semakin penasaran jika Farah tidak bercerita lengkap.
"Gue diantar ke rumah dan dia hanya berpamitan karena sedang melakukan perjalanan bisnis tetapi," Farah menceritakan semua kejadian yang dialami semalam serta ucapan Raka yang mengungkapkan perasaannya bahwa laki-laki itu mencintai Farah.
Farah menceritakan semuanya dan tidak ada yang terlewat sedikitpun.
"Jadi setelah dia mengungkapkan perasaannya dan mengatakan mencintai lo dia langsung pergi tanpa menunggu jawaban lo?" Sahabat Farah benar-benar kaget bahwa Raka bisa secepat itu mencintai sahabatnya apalagi dialah saksi bahwa selama ini harakat tidak pernah menanggapi segala perjuangan Farah untuk mendekatinya.
"Iya,, dia langsung pergi tanpa melihat ke belakang dan gue sekarang bingung apa yang harus gue lakukan?" setelah mendapat ungkapan cinta dari Raka semalam perasaan Farah menjadi bingung apakah benar dia sudah melupakan Raka seutuhnya atau masih menyimpan nama laki-laki itu di hatinya.
"Lo itu sebenarnya masih mencintai dia atau enggak?" karena selama ini Farah selalu mengatakan bahwa dia sudah melupakan perasaannya untuk Raka tetapi siapa yang tahu isi hati seseorang walaupun mereka sudah bersahabat sejak lama.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung 😘
Komen dong, Raka sama Farah mau di satuin atau di pisahkan aja,,????🤗