
Dean memasuki ruangan nya yang baru di tinggal beberapa saat karena mau menemui raka meminta agar sahabatnya itu mau istirahat sejenak, namun bukannya menurut malah mengoceh tidak jelas menurut Dean.
Lagian dia melakukan agar Raka istirahat sebentar dan memberi ruang agar badannya mengumpulkan tenaga.
Setiap badan punya kapasitas kerja yang telah di tentukan jika forsir maka akan menimbulkan dampak salah satunya adalah sakit.
Kelelahan salah satu menyebabkan orang gampang sakit bahkan bisa menimbulkan penyakit lain yang lebih berbahaya.
"Di kasih perhatian nggak mau, ntar sakit gue juga yang kerja bagai kuda. Untung sahabat kalau enggak udah tendang sedari tadi," Dean memilih sebentar berkeliling sebelum ke ruangan nya.
Ingin melihat kinerja karyawan di sini dan tidak lama dia memutar haluan lagi.
"Kalau lama dia bakalan marah dan bilang 'kalau bawa aku cuma buat jadi pajangan mendingan nggak usah di bawa' kan cewek selalu benar," Ingat pujaan hatinya bakal marah di tinggal lama.
"Bilang aja nggak bisa jauh-jauh," Pede sekali anda pak jomblo eh tapi sekarang sudah tidak jomblo lagi karena perasaannya di sambut walau belum sepenuhnya hati tapi ini lebih baik sudah ada perkembangan.
"Maaf menunggu lama," Dean masuk menyapa Via yang lagi menonton drama kesukaan kebanyakan wanita jika mempunyai waktu luang.
"Nggak apa," Balas Via fokus pada layar laptop yang menampilkan adegan kesayangan semua orang.
Namun belum sempat Dean melihat adegan itu sudah berlalu.
"Dari mana?" Mengalihkan pandangan pada layar laptop dan memandang Dean yang sudah duduk di sebelahnya.
"Ke ruangan Raka, maksud hati nyuruh istirahat malah di ceramahi mentang-mentang udah punya istri ngomong seenaknya," Ikut melihat film yang masih berputar itu.
"Wajar jika dia begitu, setiap orang mempunyai ekspresi sendiri dalam menjalani sebuah hubungan.
Yang kita anggap berlebihan sebenernya itu bukan menurutnya, kita nggak bisa menilai jika belum mengalami," Via yang sudah mulai membuka diri sepenuhnya pada Dean atau kenyamanan yang Dean berikan membuat Via bisa bicara seperti seorang teman dekat.
Tapi satu yang jelas Via tidak merasa risih lagi berdekatan dengan Dean.
"Tapi kayaknya aku nggak bakal gitu kali nanti kalau nikah," Dean tidak mau berlebihan seperti orang baru jatuh cinta, jika orang lain melihat pasti bakal muak.
"Mana kita tau, kamu kan belum nikah calon istri aja nggak punya," Via menonton lagi setelah mengatakan itu tidak melihat wajah Dean yang merubah memicingkan mata memandang ke arahnya.
"Maksud kamu apa?" Selidik Dean merasa tidak terima Via bicara gitu.
"Apa?" Menjawab tanpa melihat Dean sama sekali.
"Maksud kamu apa aku belum punya calon istri?" Tidak suka, sungguh. Padahal sebelum Via menerima Dean sebagai kekasih sudah Dean katakan kalau dia akan melamar Via jika pernyataan nya di tolak.
Kenapa jadi pura-pura lupa begini?.
"Ya aku emang nggak tau," Belum menyadari ke mana arah bicara Dean karena drama itu lebih menarik dari pada pembahasan Dean.
"Kamu kan calon istri aku masa lupa?" Menggenggam sebelah tangan Via dengan lembut di genggaman menggunakan kedua tangan dan di letakkan atas pahanya.
Fokus Via teralih akan ucapan Dean dan melihat tangan yang sudah bertaut.
"Sejak kapan? Perasaan belum melamar," Reflek Via menutup mulut yang kelepasan bicara.
Merutuki mulut lancang nya seperti berharap di lamar Dean.
"Jadi udah siap aku lamar?," Menelisik wajah cantik itu yang sudah memerah menahan malu.
Jika bisa berlari sekarang mungkin sudah Via lakukan, sungguh dia sangat malu.
"Si-siapa bilang?" Elak Via di iringi degup jantung yang kian menggila di tambah tatapan penuh cinta dari Dean.
Kenapa dia bisa kelepasan dan berharap di lamar? Apakah Dean akan berfikir kalau dia udah kebelet minta di nikahin.
Semoga sebentar lagi dia lupa, doa Via dalam hati.
Tapi semua itu terasa tidak mungkin masa masih muda pelupa.
"Kan barusan kamu bilang baby kalau aku belum di lamar," Astaga panggilan macam apa itu? Sungguh menggelikan dan ingin menyumpal mulut Dean menggunakan bantal sofa.
"Jangan panggil aku seperti itu mau muntah rasanya," Bergidik ngeri di panggil baby, lebay bin alay.
Lebih baik panggil nama dari pada panggilan yang sering di gunakan pasangan bau kencur.
"Belum aku apa-apain loh masa udah mau muntah aja, cepat banget jadinya," Bahas apa lagi ini coba? Apanya yang cepat jadi? Kok otak mesum.
Via melayang kan tatapan tajam pada Dean dan menarik tangannya yang di genggam.
"Jangan bicara mesum belum cukup umur," Delik Via sinis dan melihat layar laptop dari pada wajah tampan itu.
__ADS_1
"Hey apa maksudnya belum cukup umur, aku udah dua lima loh udah bisa buat kamu merem melek," Tidak suka masih di anggap kecil.
Anak SMA saja tau masa dia yang udah tamat kuliah masih di bilang belum cukup umur.
"Diam Dean atau aku nggak mau liat muka kamu lagi," Ancam Via yang tidak kuat iman membahas hal intim di tambah itu bukan ranahnya sekarang.
Masih pacaran jadi itu hal ganjil jika di bahas beda jika sudah menikah.
"Kalau nggak mau ketemu aku, aku bisa datang menemui orang tua mu dan minta anaknya jadi istri ku, bereskan," Apanya yang beres? Itu mulut yang minta di bereskan agar tidak bicara sembarangan.
Dan yakin sekali jika permintaan nya akan di kabulkan dengan mudah.
Apa dia lupa jika pun orang tua merestui tetap keputusan di tangan orang yang bersangkutan.
"Percaya diri sekali bakal di terima," Sindir Via seakan mengatakan kalau Dean melakukan itu bakal di tolak tanpa berfikir.
Mengatakan kalau hubungan mereka tidak akan pernah sampai pada tahap orang tua saling bertemu.
"Maksud kamu apa ngomong gitu? Kamu hanya mempermainkan aku aja menerima perasaan ku?" Memegang kedua bahu Via agar saling berhadapan.
"Jangan pegang-pegang bisa nggak sih," Menepis tangan Dean yang ada di bahunya lalu memutar duduk lagi.
Dean kembali memutar Via dan memegang kedua tangan lentik itu.
"Maksud kamu ngomong gitu apa? Mau mempermainkan perasaan aku aja? Gitu maksud mu?" Tegas Dean tidak suka ucapan Via, seolah Via hanya mempermainkan dirinya saja dan menganggap ucapan nya hanya bualan semata dan menjalin hubungan seperti remaja.
Perasaan Dean terluka akan hal ini.
Apa masih kurang perjuangan dan perhatian yang di berikan pada kekasih nya ini.
Via membuang muka saat berhadapan dengan Dean.
"Tatap aku kalau lagi ngomong," Memegang dagu Via dengan lembut, walau jiwanya di landa kemarahan tapi tidak bisa menyakiti orang terkasih nya dengan sengaja.
"Gini aja udah marah, gimana mau menjalin hubungan yang lebih serius," Sinis Via tak kalah sinis, jika ingin serius buktikan dengan melamar dirinya di depan kedua orang tuanya bukan hanya ngomong yang semua orang bisa.
Ngomong memang mudah tapi melakukan serta mewujudkan yang sulit.
Sama seperti berjanji mengucapkan janji memang mudah tapi menepati tidak semua orang bakal bisa.
Fokus mata tajam Dean pada wajah cantik Via, dadanya bergemuruh saat perasaan yang dia punya di ragukan oleh pujaan hatinya.
Apa begini berat menjalani hubungan yang cuma sebelah pihak merasa mencintai tapi belum di cintai?
Apa masih ada perjuangan lebih berat lagi setelah perjuangan kemarin? Apa belum cukup melihat ketulusan Dean kemarin.
"Jadi kamu meragukan aku sekarang?" Dean bertanya dengan nada rendah sambil mengatur nafas yang membara.
Bukan marah tapi apa ya sulit di ungkapkan juga dengan kata-kata.
Sesak tentu saja Dean rasakan saat cinta yang kita tunjukkan malah di ragukan namun apa boleh kali ini dia egois.
Via terdiam mendengar ucapan Dean, bukan meragukan perasaan Dean hanya saja bimbang dengan rasa dia sendiri sehingga salah ucap.
Dia juga tau dan merasakan ketulusan Dean hanya saja hatinya yang lambat terbuka jadi ketulusan itu belum di rasa sepenuhnya.
"Jawab kenapa diam atau memang ini yang sebenarnya?" Diamnya Via menjadi jawaban akan perasaan wanita cantik ini, yang sudah jelas hanya terpaksa menerima dirinya.
"Harusnya sejak awal aku sadar," Melepas genggaman itu lalu berdiri memilih duduk di kursi kerja.
Menghidupkan laptop dan lebih baik menyibukkan diri di balik rasa sesak yang melanda dirinya.
Kecewa yang Dean rasakan cukup dirinya yang tau tidak perlu di tunjukkan pada siapapun.
Dean menyibukkan diri demi menghalau rasa yang semakin di paksa semakin menyiksa.
**Seharusnya sedari awal lo sadar diri Dean, nggak seharusnya memaksa sebuah rasa pada seseorang berharap untuk di balas, padahal sejak awal lo tau kalau dia sudah menunjukkan sikap nggak suka. Memang kadang sikap tau diri dan sadar diri itu perlu** Cuma mata yang fokus sama laptop tapi fikiran menerawang jauh.
Mau di bawa hubungan nya sekarang di lanjutkan atau cukup sampai di sini.
Kalau di lanjutkan apakah mampu bertahan dengan rasa sepihak tapi berakhir apakah sudah siap melepaskan orang yang disayangi. Sungguh sebuah keputusan yang berat.
Sama-sama menyesakkan dada.
"Dean," Panggil Via setelah sekian lama terdiam.
Memikirkan ucapan Dean yang ada benar nya, hanya lelaki itu yang memaksa dirinya menerima perasaan itu.
__ADS_1
Tapi bukan maksud Via juga meragukan.
**Apa gue keterlaluan ya?** fikir Via merasa bersalah akan tindakannya barusan.
Dah kenapa juga Dean terbawa perasaan sekarang tidak seperti biasa.
"Dean," Meninggikan suara sebab Dean tidak menjawab atau sekedar melihat dirinya.
"Tidak perlu teriak ini bukan hutan," Balas Dean menjawab dengan nada datar tidak seperti biasa.
Dada Via bergemuruh mendengar suara Dean berbeda.
"Tapi De," Sanggah Via yang langsung di potong ucapannya oleh Dean.
"Aku kasih waktu berfikir sampai kita pulang nanti," Menjawab tanpa melihat wajah Via yang sudah memerah, entah itu marah atau malu.
Setelahnya ruangan itu hening tidak ada yang mau membuka suara bahkan saat makan siang di antar mereka makan dalam keheningan.
Dean yang kecewa akan sikap Via sedangkan Via yang berperang dengan perasaan sendiri.
Di kasih waktu sampai pulang tapi Via sendiri tidak tau kapan pulang, bisa saja hari ini mereka pulang.
Di negara seberang...
Farah kedatangan tamu yang tidak di undang serta tidak di inginkan sama sekali.
Yaitu mantan bosnya dulu.
Namun beruntung yang membuka pintu adalah mama Sila sehingga tidak memberi tau Randy kalau Farah ada di sana untuk beberapa hari.
"Ada apa nak Randy datang kesini?" Mama Sila cukup kaget melihat Randy berdiri di depan pintu, dia fikir tamu dari mana.
"Saya hanya mau bertemu Farah Tante dan kalau boleh saya mau minta alamat rumah suaminya," Ya tujuan Randy ingin tau di mana alamat suami Farah dan dia merasa orang tua Farah pasti tau makanya dia datang kesini.
"Maaf nak Randy tante tidak bisa memberikan begitu saja dan juga itu bukan hak tante," Tolak mama Sila yang tidak mau memberikan alamat menantunya.
Selain hubungan mereka sudah berakhir di tambah mama Sila tidak mau rumah tangga anaknya ada yang menggangu.
Dengan mengasih tau alamat Raka sama saja membuka peluang orang masuk ke dalam rumah tangga anaknya yang bisa saja orang itu berniat jahat.
Apalagi dengan orang yang pernah meletakkan Farah spesial di hati di.
Di tambah Farah baru saja merasakan bahagia tidak mungkin dia rusak.
"Saya mohon tante, saya hanya mau minta maaf sama Farah," Pinta Randy dengan wajah serius dan sekarang mereka lagi duduk di kursi tetas rumah itu.
Mama Sila tidak mengajak masuk takut nanti mereka bertemu.
Dan kalau duduk di depan Farah juga jarang kesana, bumil lebih suka duduk di taman belakang menghabiskan waktu.
"Maaf tante tidak bisa nak Randy, Tante tidak ada hak akan ini," Tidak mau merubah keputusannya.
Jika mereka bertemu di luar secara tidak sengaja maka itu di luar kuasanya.
"Jika tidak ada perlu lagi, silahkan pergi nak Randy tante masih ada kegiatan lain," Jika hanya itu tujuannya datang percuma tidak semudah itu mendapatkan.
Apalah arti seorang mantan bos jika anaknya lebih berharga.
Mantan adalah orang yang tidak perlu di ingat dan tidak mau berhubungan dengan dia lagi.
Cukup jadi kan masa lalu yang tidak perlu di kenang lagi.
"Baik tante, maaf sudah mengganggu waktu tante," Pergi dengan tangan kosong tidak mendapatkan apa yang di inginkan.
Pergi dengan rasa kesal sebab tujuan belum tercapai.
Sejak tau Farah sudah menikah dia sulit menemui Khira.
Pergi ke kantor Farah pun tidak ada yang tau di mana alamat suaminya.
Mama Sila masuk rumah untuk bersiap pergi karena sudah ada janji dengan temannya.
Beruntung hari ini Farah tidak banyak ulah dan bisa di tinggal sendiri di rumah.
Sejak Farah hamil mama Sila merasa merawat Farah sewaktu kecil, banyak maunya.
Setelah masuk kamar mama Sila mengganti baju dengan yang lebih pantas.
__ADS_1
Memastikan penampilan nya tidak memalukan serta mencolok, sebab apa yang kita pakai akan di nilai orang tanpa di minta.