
Seorang wanita cantik sedang duduk di bangku taman belakang rumah orang tuanya.
Sudah tiga hari suaminya pergi dan belum ada kabar kapan akan pulang.
Dia sudah merindu sosok lelaki tampan itu segera kembali namun dia tidak mau mengungkapkan niatnya itu dan memecahkan fokus kerjanya.
Palingan kalau saling mengabari hanya bercerita kegiatan sehari-hari tidak ada membahas kapan pulang.
Biar rindu di dada di ungkapkan secara bebas saat sudah jumpa.
Sang suami harus sabar menunggu istrinya tertidur jika menghubungi di malam hari sambil menikmati wajah cantik yang belum bisa di sentuh karena terhalang jarak.
"Papa lama pulangnya ya dek?" Mengusap perut yang sudah buncit itu dari luar gamis yang di kenakan.
Senang walau jauh dari suaminya tapi memiliki teman walau tidak bicara saling menjawab namun sudah lebih dari cukup.
Membayangkan purut buncit itu lalu suaminya akan mengusap setiap akan mau tidur dan membuka mata.
Membayangkan itu saja sukses membuat dia tersenyum.
"Sehat terus ya dek, biar ngumpul bareng sama mama dan papa," Kelahiran anaknya masih lama tapi merasa sudah sangat tidak sabar sekali.
Tidak sabar untuk melihat wajah anaknya akan lebih mirip siapa atau dominan wajah siapa, menunggu dengan sabar saat itu tiba.
"Papa itu sangat tampan dan kalau kamu lelaki pasti bakal setampan papa atau lebih," Jelas anaknya kalau lelaki setampan papa nya karena Raka yang menabur benih dan memupuk hampir setiap hari jika tidak melihat wajah lelah istrinya.
Kegiatan panas itu sayangnya sudah di batasi sejak sudah ada malaikat kecil di antara mereka demi keberlangsungan anaknya di dalam kandungan.
"Tuh kan mama jadi kangen papa, Daddy jahat biarin kita kangen gini," Mengeluh kan rasa rindu yang membuncah namun belum bisa di lepaskan pada orang nya karena jauh di sana.
Memandang taman kecil di samping rumah yang tertata rapi dengan berbagai jenis bunga mulai yang ada bunga sampai yang cuma ada daunnya saja.
"Mama jadi lapar," Bangun dari duduk lalu melangkah menuju dapur untuk melihat apakah ada makanan yang bisa di makan tapi sejak Farah datang dan tau dia suka makan mama Sila menyediakan makanan untuk Khira agar tidak perlu membuat dulu.
Di Negara orang...
Sejak kemarin sepasang kekasih itu masih melakukan aksi mogok bicara terutama Dean yang enggan memulai pembicaraan karena masih merasa kecewa dan tidak terlalu berharap banyak akan hubungan mereka dan siap akan keputusan gadis yang di sukai nanti.
Selain sadar akan usia mereka yang berbeda jauh juga Dean sadar telah memaksa sebuah perasaan yang tidak seharusnya.
"Salah gue juga yang telah memaksa dia menerima dan siapa tau dia udah punya calon gebetan lalu gue datang sebagai pengganggu," Sekarang sudah malam di sana dan Dean lagi duduk di balkon hotel tempat mereka menginap.
Setelah makan malam tadi Dean memutuskan masuk kamar dengan alasan masih ada kerjaan yang belum selesai.
Bukan maksud hati ingin mengabaikan gadis itu juga namun dia butuh waktu untuk menata hati akan sebuah keputusan yang sebentar lagi dia dengar.
Baik jelek harus dia terima.
"Dia sedang apa?" Melihat balkon sebelah yang sepi tempat gadis menginap.
Sejak awal memesan kamar sengaja di ambil berdekatan supaya bisa hubungan mereka lebih dekat namun semua tidak berjalan dengan semestinya.
Kini mereka seperti orang asing yang tidak saling kenal.
Menghela nafas pelan dengan pandangan masih fokus ke balkon kamar Via.
**Selamat tidur** Walau dalam perasaan gundah setidaknya Dean memberikan perhatian yang mungkin saja hari berikutnya tidak bisa lagi.
Ya hari esok tidak tau apa yang akan terjadi.
Tidak berharap juga akan dapat balasan dan setelah mengirim pesan Dean menyimpan kembali hp nya ke dalam saku.
Di balkon ada sofa yang di sediakan, Dean merebahkan tubuh nya di sana sambil menikmati angin malam yang menerpa.
Terasa sangat dingin namun dia belum ada niat untuk beranjak seolah tidak merasakan kedinginan.
"Jika jiwa, raga dan cinta mu tak bisa ku miliki maka izinkanlah aku tetap mengenangnya dalam hati," Dean memejamkan mata menikmati dinginnya malam yang terasa menusuk tulang.
Rasanya jika lebih lama berada di luar mungkin bisa membuat kita membeku.
Namun Dean abaikan karena cuma ini yang bisa di lakukan untuk mendinginkan otaknya yang panas berfikir.
Dalam kamar gadis yang di sukai Dean.
Gadis cantik itu menoleh saat mendengar notif hpnya berbunyi.
Melihat siapa pengirimnya lalu membuka pesan itu.
"Maaf," Sedikit merasa bersalah akan kejadian kemarin namun belum ada keberanian untuk meminta maaf dan menjelaskan yang sebenarnya.
Perasaan Via masih bimbang antara ini cuma rasa nyaman atau memang sudah menerima Dean bertahta di hatinya.
__ADS_1
Ini bukan perkara mudah untuk dirinya, sungguh ini terlalu cepat mengingat kedekatan mereka cuma sebulan lebih dan Dean sudah mengungkapkan perasaannya.
Bukan salah Via sebenarnya namun dia merasa juga mempermainkan perasaan lelaki itu dengan cara menganggap dia main-main.
"Besok gue harus meluruskan ini dan nggak mau ini berlarut-larut lebih lama," Keputusan Via sudah bulat akan membahas ini dengan Dean.
Dia sudah dewasa bukan saatnya pacaran seperti anak sekolah yang sebentar-sebentar ngambek dan ingin di bujuk.
Pesan yang Dean kirim cuma Via baca tanpa membalas karena akan membahas ini besok secara jelas.
"Menikmati udara dingin sebentar nggak apa kali ya," Via berjalan menuju balkon lalu berdiri di besi pembatas dengan merentangkan tangan menikmati udara sejuk menerpa kulit.
"HM beneran sejuk sekali," Memejamkan mata sejenak menikmati negara yang identik dengan musim dingin tapi sekarang belum waktunya salju turun.
"Kalau gue tinggal di sini beku nggak ya, ah tapi orang di sini begitu menikmati," Jika orang sudah biasa mungkin tidak masalah tapi kalau orang yang biasa tinggal di negara beriklim tropis maka tidak akan sanggup lebih lama tinggal di sini.
"Dean," Entah mengapa tanpa sengaja Via menoleh ke arah kamar Dean dan melihat seseorang tidur di atas sofa dengan posisi meringkuk.
"Dean," Berjalan lebih dekat lagi untuk memastikan kalau yang tidur di sofa beneran Dean dan bukan salah lihat.
"Benar itu Dean, ngapain dia tidur di sana? Apa nggak merasa dingin?" Ya Via tidak salah liat kalau yang tidur itu adalah Dean.
Tidur dengan meringkuk sambil memeluk kedua tangannya karena kedinginan.
"Dean bangun," Panggil Via saat melihat Dean sudah kedinginan terlihat dari cara dia tidur.
"Dean bangun jangan menyiksa diri begitu," Teriak Via tapi tidak kuat takut mengganggu pemilik kamar lain.
"Dean plis jangan buat aku cemas," Panggilan Via tidak di dengar Dean karena sudah larut di alam mimpi.
Perasaan Via makin gelisah kala Dean tidak menunjukkan pergerakan.
Perasaan kalut menghantui Via karena Dean masih diam.
Berfikir apakah Dean seperti ini karena kejadian kemarin tapi kalau sampai Dean kenapa-napa maka Via semakin merasa bersalah.
Via semakin cemas dengan keadaan Dean yang di panggil tidak jawaban atau sekedar menggerakkan badan untuk menandakan dia baik-baik saja.
Wajah cemas itu sangat ketara di wajah cantik itu.
Berfikir buat apa Dean tidur di sana padahal di dalam ada penghangat ruangan di saat cuaca dingin seperti sekarang.
Kenapa Dean berfikir pendek? Hingga menyiksa diri sendiri.
Jika sudah begini Via sangat merasa bersalah dan kini dia sadar kalau Dean sudah masuk dalam hatinya sekarang.
"Maaf Dean," Via berlari keluar kamar menuju kamar Dean untuk menyuruh lelaki itu pindah ke dalam kamar.
"Syukurlah nggak di kunci," Lega Via saat mencoba membuka ternyata tidak di kunci namun Via sekaligus kesal kenapa Dean sembrono gini? Gimana kalau ada orang lain yang masuk dan berniat jahat.
Ini negara orang dan di tempat orang lain, bukan di rumah yang tidak apa jika tidak mengunci pintu kamar.
Segera Via berlari ke arah balkon untuk membangunkan Dean.
"Dinginnya," Menyentuh pipi Dean yang terasa dingin karena suhu semakin dingin seiring jam beranjak turun hingga pagi.
"Dean bangun," Menepuk pelan pipi dingin itu dengan lembut takutnya mengagetkan Dean.
"Bangun Dean, pindah ke dalam di sini dingin," Jika saja Dean perempuan dan Via punya tenaga lebih maka akan menggendong Dean ke dalam tanpa harus membangunkan segala.
"Dean plis bangun, jangan buat gue cemas gini," Mata Via memanas saat Dean belum ada tanda-tanda akan bangun.
Apa dia pingsan ya? Tebak Via semakin cemas.
Via mengusap tangan nya ke pipi Dean untuk menyalurkan kehangatan.
Namun sebelumnya Via mengambil selimut agar tubuh Dean tidak semakin dingin sambil menunggu Dean bangun lalu pindah.
"Bangun dong Dean, kalau lo nggak sadar gimana mau lamar gue," Ujar Via tanpa sadar mengharap Dean melamar dirinya.
Masih berusaha menyalurkan kehangatan.
Hingga setengah jam berlalu Dean mengerjabkan mata melihat wajah cantik Via dari jarak dekat dan terlihat cemas.
**Apa dia akan menangis?** melihat mata indah itu terlihat berkaca-kaca seperti orang mau menangis.
Ada kebahagiaan di hati Dean saat melihat kecemasan yang di pancarkan di wajah Vyia, ingin mengelus wajah itu tapi Dean lebih memilih menikmati wajah cantik yang untuk pertama kali di lihat dari dekat.
"Kalau lo nggak bangun gue nggak bakal nerima lamaran lo," Via sudah kesal kenapa Dean lama bangun, kalau saja rasa itu belum ada tidak mungkin Via secemas ini.
"Beneran nggak bakal nolak?" Tanya Dean saat mendengar kata yang tidak di sangka Dean akan terucap bibir mungil Via..
__ADS_1
Jika dia tau akan seperti ini mungkin sudah sejak lama Dean lakukan.
Padahal niat hati tadi cuma ingin berbaring untuk menenangkan fikiran dan malah ketiduran.
Dan lebih menyenangkan lagi Via datang mencemaskan dirinya bahkan mau menerima dia jika di lamar.
"Eh apa?" Kaget Via saat mendengar pertanyaan Dean dan wajah Via bersemu merah apalagi jarak wajah mereka begitu dekat.
Menjauhkan wajahnya dari Dean karena malu terlalu dekat.
Memalukan batin nya menggerutu kesal.
"Emang kalau aku lamar mau?" Memastikan kalau dia melakukan itu bakal tidak ada kata penolakan nanti saat datang ke rumah Via.
**Di kasih selimut, perhatian nya calon istri ku** Merasa badannya terasa hangat karena selimut sudah pasti ini ulah Via yang tidak mau dirinya kedinginan terus.
Jadi makin cinta. Kekeh dalam hati Dean.
"Emang siapa yang mau di lamar?" Elak Via tidak mau jujur kalau tadi mengucapkan kata itu.
Bisa malu Via kalau jujur jika dia berharap di lamar oleh Dean.
Via bangun dari posisi jongkok untuk menetralkan detak jantung nya yang menggila saat begitu dekat dengan Dean.
Bukan di sengaja hanya gerakan refleks karena terlalu cemas.
"Cewek kamar sebelah," Balas Dean mengubah posisi menjadi duduk sambil memegang selimut agar tidak terbuka karena dingin.
Berjalan ke dalam di ikuti Via karena tidak kuat juga terlalu dingin.
"Kamu udah nggak apa?" masih cemas karena Dean tidak bilang jika dia baik-baik saja.
"Memang nya aku kenapa? Kan cuma ketiduran tadi," Balas Dean duduk di sofa lalu menepuk sisi sofa yang kosong.
Via tidak tau maksud Dean untuk menyuruh duduk di sebelahnya makanya masih berdiri tidak jauh dari sana.
"Kenapa? Sofanya kurang empuk?" Tanya polos Via saat tangan Dean menepuk sofa lagi.
Boleh tidak Dean berteriak untuk meminta Via duduk di sebelahnya.
Lagian mana ada hotel mahal sofa murah yang di letakkan dalam kamar.
Percuma bayar mahal jika fasilitas biasa.
"Aku tarik atau duduk sendiri kesini?" Geram gemas Dean melihat tingkah Via yang menurutnya gemas-gemas ingin cubit.
"Apanya yang di tarik, Sofanya?" Ada ya manusia bodoh atau pura-pura bodoh sebenarnya tidak mengerti tanda yang di berikan.
"Bukan, kamu nya aku tarik. Ayo duduk sini," Pinta Dean lebih jelas agar tidak di permainkan lagi, jangan menguji kesabaran Dean di saat dia susah payah menahan nya.
"Oh bilang dari tadi," Via menurut di sebelah Dean dengan posisi agak berjarak tidak mau berdekatan.
Selain bukan muhrim juga tidak baik untuk kesehatan jantung.
"Udah kan? Sekarang apa lagi?" Melihat Dean dengan jarak dekat ini sungguh ketampanan Dean tidak bisa di pungkiri bisa mengalihkan dunia Via.
Kenapa baru sekarang ya sadar kalau lelaki yang menjadi pacarnya ini tampan.
Bahkan dengan kejadian barusan dia lupa kegalauan karena masalah kemarin.
"Kamu tau kan aku gimana punya rasa? Kamu tau kan perjuangan mendapatkan kamu nggak mudah? Dan kamu juga tau sebelum memperjuangkan kamu aku lebih dulu untuk mendekati orang tua mu.
Jadi setelah aku memutuskan mengejar cinta mu maka saat itu juga kamu nggak akan aku lepas, di tambah ucapan kamu tadi maka aku putuskan pulang dari sini aku akan melamar kamu," Jelas Dean panjang lebar, menjelaskan lagi akan perasaan dia yang tidak main-main dan ingin sebuah hubungan yang serius lagi.
Bukan sekedar pacaran seperti anak sekolah, bukan juga hubungan sementara untuk mengisi waktu luang.
Via diam mencerna ucapan Dean, untuk keseriusan Dean sudah berulang kali Via dengar tapi jika masalah lamaran baru kali ini Dean bahas lagi.
"Dan saat aku sudah bilang akan melamar kamu maka tidak ada kata mundur lagi,"
Tambah Dean lagi, meyakinkan bahwa hubungan mereka tidak perlu lama-lama pacaran tidak jelas.
Kalau serius ayo nikah dan kalau tidak lebih baik akhiri lalu cari lain yang mau di ajak untuk berkomitmen.
"Boleh aku fikir dulu nggak," Lirih Via membuang muka tidak kuat menerima tatapan penuh cinta Dean sekarang.
Wajah yang Dean tatap tapi sampai ke hati terasa nya.
Bisa menggila jantung Via jika mendapat tatapan penuh cinta itu.
**Kok gue bisa takluk sama dia sih?**
__ADS_1
"Boleh sampai kita pulang nanti," Via tercengang, pulang nanti lagi yang gua tidak tau itu kapan.
Bisa saja besok pagi mereka pulang, kenapa Dean tidak bilang berapa hari lagi aja? Biar Via bisa mempersiapkan diri.