
Happy Reading
Sebulan kemudian.
Devan sebulan ini uring-uringan karena tidak berhasil membawa Nafisa pulang ke Jakarta, wanita yang sangat dicintainya itu masih tidak percaya dengan semua yang ungkapkan pada hari itu.
Bahkan waktu itu Devan sampai menangis dan berlutut di depan Nafisa dan Rafael, pria itu merendahkan diri nya hanya untuk Nafisa bisa percaya padanya.
'Kamu tidak mencintai ku, Devan, kamu hanya mencintai wajahku yang mirip dengan Cintami, kamu menjadikannya ku pengganti. Ketika Cintami kembali pada akhirnya kamu melupakan ku dan kembali pada Cintami!'
'Tidak, sayang! itu tidak benar! Aku sama sekali tidak membedakan antara wajahmu dengan wajah Cintami, jujur saat kita pertama kali bertemu aku memang merasa bahwa kamu mengingatkanku pada seorang wanita yang aku cinta sekaligus aku benci tetapi dengan berjalan seiringnya waktu aku merasa begitu nyaman bersamamu dan perasaan itu tumbuh begitu saja dari hati tanpa bisa dicegah! Aku mencintaimu tulus, sayang!'
'Benarkah? kalau kamu mencintaiku, kamu tidak mungkin selingkuh dariku, Devan!! nyatanya kamu melakukannya!!'
'Ok, aku minta maaf, aku jujur ketika Cintami kembali, memang sempat aku mengajak dia ketemu dan Dia juga sering mengajak aku jalan, aku benar-benar minta maaf, memang pada saat itu aku sedang memastikan perasaanku untuk Cintami dan ternyata memang benar bahwa perasaanku untuknya sudah tidak ada, semuanya terasa hambar bahkan saat aku bersamanya aku hanya memikirkanmu, sayang! Aku tidak sanggup memberitahumu karena pasti kamu akan sakit hati, caraku menjaga perasaanmu memang salah, tapi aku juga tidak bisa untuk langsung menjauhi Cintami, bukan?'
Dan akhirnya saat itu Nafisa benar-benar tidak mau memaafkan Devan, dia bahkan langsung pergi dengan menarik tangan Rafael di depan mata Devan. Tentu saja hal itu membuatnya sakit hati, tapi Devan menyadari jika apa yang di lakukan Nafisa tidak sebanding dengan apa yang telah dia lakukan pada wanita itu.
Kekasihnya itu bahkan meminta putus darinya karena merasa jika dia sudah tidak dibutuhkan lagi, tentu saja Devan sangat marah, dia memang mengakui semua kesalahannya ketika kedatangan Cintami dia sempat terlena oleh wanita itu, tapi tentu saja di hatinya Nafisa tidak bisa digantikan oleh Cintami dan hal itu sudah dibuktikan sendiri kalau semua perasaannya untuk Cintami sudah tidak ada dan yang tersisa hanyalah rasa cinta untuk Nafisa sangat besar.
"Apa lo yakin, Dev! Nafisa mau menerima lo kembali? kenapa lo gak balik aja sama Cintami?" tanya Rian yang saat ini tengah sibuk dengan ponselnya.
Sedangkan Devan mengamati cincin yang kembalikan oleh Nafisa pada saat waktu itu. Rasanya benar-benar sakit saat wanita yang kita cintai menolak kita.
"Lo aja sana yang sama Cintami, gue udah bilang kalau gue cinta nya cuma sama Nafisa dan sampai kapanpun gue bakal ngejar dia!"
PRANG!!!
Devan dan Rian terkejut saat mendengar suara benda pecah dan langsung menoleh ke belakang ketika.
"Cintami!" gumam Rian.
Namun Devan hanya diam saja dan menatap wanita itu dengan tatapan yang datar.
__ADS_1
"Dev, kok kamu tega sih sama aku apa kurangnya aku Dev? bukankah aku lebih baik dibandingkan dengan Nafisa!" seru Cintami tidak percaya.
"Maafkan aku, tapi perasaanku padamu sudah hilang, kamu dan Nafisa adalah sosok dua wanita yang berbeda jadi jangan menyamakan kamu dengannya! dan ingat Cintami! Aku tidak mau kamu menggangguku lagi karena aku ingin fokus untuk mengejar Nafisa kembali!"
Cintami yang mendengar ucapan Devan hanya bisa tertawa, sungguh dia tidak menyangka jika pria yang dulu mengejarnya dan tergila-gila padanya sekarang berpindah ke lain hati dan mencampakkan nya.
Wanita itu mengambil pecahan gelas yang ada di bawahnya dan meletakkan di leher, "baik Devan, kalau kamu memang sudah tidak mencintaiku lagi lebih baik aku bunuh diri, aku tidak akan pernah sanggup melihatmu bersama dengan wanita lain!" Devan yang melihat hal itu sontak berlari ke arah Cintami.
Rian yang masih sangat sok hanya bisa dia menunggu melihat kegilaan wanita itu, sungguh harian tidak pernah menyangka jika Cintami benar-benar orang yang nekat.
'Mampus, bisa gila gue kalau punya cewek kayak gitu!!'
Cintami merasa senang ketika Devan menghampirinya, pasti pria itu akan menyuruhnya untuk berhenti melukai diri sendiri karena sejak dulu Devan sangat tidak bisa melihatnya terluka sedikitpun.
Tapi ternyata Cintami salah menduga, Devan malah mengambil pecahan gelas lainnya yang berada di bawah kaki Cintami dan dia mengancam hal sebaliknya.
"Kalau memang itu mau mu, baiklah, aku juga akan melakukan hal yang sama, agar aku tidak bisa kau dapatkan!"
"DEVAN!!" Cintami berteriak saat Devan menggores urat nadinya dan seketika banyak darah yang keluar dan menetes di lantai.
*****
Nafisa menjatuhkan ponselnya saat mendengar kabar jika Devan masuk ruang ICU dan kehabisan banyak darah. Entah kenapa tiba-tiba firasatnya mengatakan hal buruk. Jujur Nafisa tidak pernah menduga jika mengalami hal seperti ini.
"Mbak, ada apa?" tanya Qori.
"Devan kritis, Mbak harus terbang ke Jakarta saat ini juga, Qori. Bantu Mbak nyari tiket pesawat, mbak mau siap-siap!"
Akhirnya Nafisa sampai di Jakarta dan langsung menuju rumah sakit di mana Devan dirawat, dalam lubuk hatinya yang paling dalam wanita itu masih mencintai Devan tapi karena merasa kecewanya yang sangat besar Nafisa memutuskan untuk berpisah dengan pria itu.
Tapi sian ini dia mendapatkan kabar dari Rian dan menceritakan segala tentang Devan dan alasan pria itu melakukan hal ini adalah karena ancaman dari Cintami, dia memilih mengorbankan dirinya sendiri daripada menurut pada Cintami yang meminta Devan berpisah dari Nafisa.
Nafisa bisa melihat kedua orang tua Devan yang berada di depan ICU, sudah beberapa jam ruangan itu belum terbuka, tapi tidak lama kemudian seorang dokter keluar.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan putra kami!" seru Pak Rudi Ayah Devan.
"Pasien sudah mendapatkan donor darah yang cukup, namun kita hanya bisa berusaha dan berdoa, tubuh pasien sama sekali tidak merespon seakan tidak menginginkan dia untuk hidup, tapi sekarang pasien sudah melewati masa kritis," jelas dokter tersebut.
****
Devan sudah dipindah diruang rawat, sudah 2 hari pria itu masih betah memejamkan matanya, Cintami datang sekali dan dia benar-benar minta maaf pada Devan dan juga Nafisa yang masih setia menunggu nya sampai hari ini.
Cintami memutuskan untuk merelakan Devan untuk Nafisa, karena melihat cinta Devan yang besar untuk Nafisa membuat Cintami sadar jika memang dia sudah tidak ada di dalam hati pria itu.
"Istirahat dulu, biarkan tante yang berganti menjaganya," ucap Novi, Ibunda Devan.
"Tidak tante, saya sama sekali tidak lelah," jawab Nafisa. Dia merasa sangat bersalah terhadap Devan.
Tiba-tiba tangan Devan bergerak, Nafisa yang melihat hal itu langsung memencet tombol di sisi ranjang Devan untuk memanggil dokter.
*****
Nafisa menggenggam tangan Devan dan di balas erat oleh pria itu, tidak pernah sedetikpun Devan melepaskan pandangannya dari wajah wanita yang sangat dia rindukan.
"Sayang, ayo kita menikah!" ucap Devan lirih tapi tegas.
Nafisa tidak terkejut lagi, sejak Devan membuka matanya, pria itu terus saja tersenyum karena melihatlah Nafisa berada di sisinya.
Rudi dan Novi hanya diam di belakang, tentu mereka tidak akan memaksakan Nafisa untuk menerima pinangan dari putranya.
Nafisa menghela nafas, wanita itu menatap Devan yang tidak pernah menyurutkan senyuman di bibirnya.
"Baiklah, ayo kita menikah!"
Devan merasa sangat bahagia pria itu langsung menarik Nafisa ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, sayang, aku sangat mencintaimu!" Devan mencium bibir Nafisa di depan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Selesai.