BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Ayo sayang kita ke rumah sakit," Rasya mengajak istrinya menuju rumah sakit, sebab sudah sebulan lebih sikap istrinya itu aneh bahkan permintaannya sering di luar akal sehat yang membuat Rasya geleng-geleng kepala.


Bukannya tidak ingin menuruti keinginan istrinya hanya saja ucapan mertuanya terngiang-ngiang diingat dan Rasya.


Dan sekarang dia ingin membuktikan ucapan mertuanya dan Rasya sangat berharap bahwa itu memang benar.


"Riris ngga apa,, nggak ada sakit," Riska menolak ajakan suaminya karena memang benar dia tidak merasakan apa-apa ataupun pusing jadi tidak perlu dibawa ke rumah sakit.


Karena menurutnya yang pergi ke rumah sakit itu orang yang perlu diobati sedangkan dia sehat-sehat saja.


"Nggak ada sayang yang mengatakan kamu sakit, hanya periksa kesehatan saja," Rasya harus mencari alasan agar istrinya mau dibawa ke rumah sakit dan juga jika benar itu maka tidak terlambat untuk diberikan penanganan.


"Janji ya cuma periksa kesehatan," Riska mengangkat jari kelingkingnya sebagai tanda janji bahwa dia hanya mau diperiksa kesehatan saja dan tidak ada yang lain.


"Janji sayang," akhirnya mereka pergi ke rumah sakit setelah mengganti pakaian.


Rasya membawa mobil dengan hati-hati dan juga dia sudah tidak sabar untuk mengetahui hasilnya.


Sampai di rumah sakit...


"Silahkan dokter sudah menunggu," Rasya memang sudah lebih dulu mengambil nomor antrian agar saat di rumah sakit tidak perlu menunggu terlalu lama.

__ADS_1


Dan terbukti baru beberapa menit mereka sampai sudah dipanggil dokter masuk ke dalam.


"Kok kita kesini?" Riska heran melihat gambar yang terpajang di dalam ruangan dokter itu dan tentu saja dia mengetahui.


"Dokter ini juga bisa periksa," Riska menurut saja saat si suruh berbaring.


"Selamat usia kandungannya sudah sekitar delapan Minggu," Riska membuka mulut saat mendengar ucapan dokter sedangkan Rasya mengucapkan kata syukur atas apa yang mereka terima dan anugerah yang selama ini mereka nanti.


"Riris hamil dok, kok bisa?" Bengong tentu saja, tapi tidak gitu juga nanyanya.


"Bisalah sayang, kan udah punya suami. Bukannya selama ini yang Riris mau, punya baby," tidak lupa Rasya mengecup kening istrinya sebagai bentuk rasa terima kasih karena telah mau mengandung darah dagingnya.


Lalu dokter memberikan wejangan dan juga vitamin yang akan dikonsumsi untuk memperkuat janin yang ada di dalam kandungan.


"Terima kasih dok," Setelah itu mereka berpamitan untuk mengambil obat lalu Rasya mengajak istrinya pulang agar bisa beristirahat banyak.


"Makasih sayang," Rasya sangat bahagia atas kehamilan istrinya apalagi di usianya semuda ini akan menjadi calon ayah.


"Harusnya Riris yang bilang makasih, karena usaha abang udah ada hasilnya," tidak henti-hentinya tangan mungil itu mengusap perutnya.


"Pantesan Riris merasa agak lain bagian perut ternyata sudah ada dedek bayinya," memang belakangan ini dia merasakan perutnya sedikit keras bahkan lebih besar dari biasanya namun dia hanya beranggapan mungkin itu efek karena kebanyakan makan dan tidak adakah pikiran jika sudah ada dedek bayi di dalam.

__ADS_1


"Mulai sekarang lebih berhati-hati lagi dalam beraktivitas dan juga semoga dedek bayinya lahir sebelum sayang wisuda," karena bulan depan Riska sudah mulai makan dan bisa dipastikan dia magang dalam kondisi hamil tetapi itu bukanlah masalah yang besar apalagi dia memilih magang di kantor papa Arga.


Jadi bisa lebih sedikit bersantai dan memanfaatkan orang dalam agar tidak ditindas atau disuruh-suruh oleh senior.


Biasanya memang seperti itu jika ada karyawan magang maka akan jadi babu para senior di sana.


Di kantor Raka...


"Pak, sebentar lagi kita akan ada meeting sama perusahaan fashion," Raka memang melebarkan sayapnya ke bidang fashion lebih tepatnya fashion busana muslim.


Dan itu merupakan kantor tempat di mana Farah bekerja.


"Siapkan berkas nya dan kita berangkat sebentar lagi," Raka menyelesaikan pekerjaannya sambil menunggu sekretarisnya menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan saat meeting nanti.


Raka juga sudah membicarakan tentang pesta pernikahannya akan dia laksanakan bersama istrinya.


Walaupun awalnya Farah menolak tetapi Raka memiliki cara agar istrinya itu menyetujui apalagi dulu mereka hanya melaksanakan akad nikah saja.


Alasan Farah menolak adalah karena pernikahan mereka sudah cukup lama rasanya agak senjang jika baru melaksanakan pestanya sekarang jadi dia menolak tetapi tidak untuk Raka karena dia ingin memberikan kesan terbaik serta memberikan dan mencurahkan kebahagiaan untuk istrinya.


Apalagi setelah pesta nanti dia berencana akan membawa istrinya pergi honeymoon apalagi setelah pembahasan malam itu tentang Farah yang sudah sedia untuk memberikan malam pertama untuk suaminya dan Raka sudah berencana akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2