BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Menjelang Ending Flashback


__ADS_3

"Daddy mau ke mana pagi-pagi ini dan juga ini hari Minggu?"


Arka tampak tergesa-gesa keluar dari kamarnya menuruni tangga hingga sampai di meja makan di mana anak serta istrinya sudah berkumpul.


"Iya daddy kayak orang didatangi rentenir saja atau jangan-jangan daddy banyak hutang ya di luar sana?"


Arka menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapan anaknya yang asal bicara saja, buat apa dia meminjam uang sana-sini jika usahanya saja sudah menjamur di mana-mana bahkan kadang sekali sebulan pun tidak sempat dia handle.


Jadi alasan apa yang membuat anaknya mengatakan dia sedang dikejar oleh rentenir? Pemikiran yang sangat kreatif.


"Lupa jika daddy kalian tempat ini adalah pengusaha sukses di usia muda jadi stop berpikir terlalu kreatif dan menganggap daddy memiliki hutang di mana-mana,"


Kadang gemas dengan anaknya yang memiliki otak terlalu pintar namun terlalu bodoh untuk menafsirkan sesuatu seperti sekarang ini.


Masa iya sudah memiliki kekayaan di mana-mana masih baru urusan dengan satu julukan itu, tidak mungkin bukan?.


Makan sejak dulu pun dia tidak pernah berurusan dengan kontainer kenapa malah sekarang dengan usaha yang sudah di mana-mana baru memiliki hutang kecuali usahanya mengalami masalah namun jika pun iya masih ada saudaranya yang bisa membantu.


Yang sering dikatakan Riska bahwa tukar tambah anak itu adalah halal.


"Jadi jelaskan kenapa daddy buru-buru seperti orang kejar hantu itu?"


Tadi rentenir sekarang hantu lalu nanti apa lagi sepupu hantu atau iparnya hantu, sekalian saja keluarga hantu dikumpulkan dan suruh mereka reuni.


"Ada yang ingin daddy disampaikan tapi daddy diharap kalian sabar dan tenang saat mendengar berita ini,"


Mendengar ucapan Arka maka mereka sudah bisa memastikan jika ini bukanlah hal yang bagus untuk sebuah informasi yang akan didengar.


Entah mengapa jantung mereka seketika berdebar kencang padahal belum tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.


Namun firasat mereka mengatakan inilah bukanlah berita baik.


"Daddy mau nikah lagi ya?"


Riska yang merasa yang tidak enak pun malah mencairkan suasana dengan menggoda sang ayah karena dia takut sekali untuk mendengar berita yang sebenarnya dia juga penasaran.


"Jika diizinkan mommy kenapa tidak!"


Khira melotot mendengar ucapan suaminya dan melayangkan tatapan tajam seolah menghunus menghujam dada menembus hingga punggung.


Tatapan itu melebihi tajamnya sebuah pedang yang baru diasah.


"Bercanda mom Jangan dianggap serius tapi jika diizinkan boleh deh,"


Sekarang bukan hanya melotot saja tapi sang istri memegang pisau buah lalu menancapkannya ke buah apel dengan sekali tusukan hingga tembus ke belakang.


'Kenapa istriku bukan seram ya makin ke sini?'


Arka sampai bergidik ngeri melihat istrinya, padahal dia hanya bercanda namun respon istrinya sungguh sangat diluar dugaan.


Dalam keadaan apapun dia tidak mungkin menduakan istri tercintanya dengan berbagai alasan dan juga dia tidak mau menyakiti hati wanita yang telah melahirkan sepasang malaikat kecil yang melengkapi duduk rumah tangga mereka.


Jadi buat apa mencari yang lain jika satu saja sudah dengan paket lengkap seperti nasi padang.


"Serius dad,"


Geram Khira karena suami dan anaknya malah bercanda padahal tadi jelas sekali rawat wajah khawatir yang terpancar di wajah Arka namun sekarang masih sempat-sempatnya bercanda.


Dia merasa bukan waktu yang tepat.


"Oke-oke sekarang daddy serius, tadi Oma Dea yang nelpon dan mengatakan opa Dio koma rumah sakit,"


Ucapan Arka barusan sukses membuat istri dan anaknya menampilkan ekspresi terkejut bercampur sedih mendengar berita menyakitkan di pagi hari seperti ini.


Memang keadaan opa Dio sudah mulai menurun beberapa bulan terakhir ini dan ini merupakan kondisi terburuk sang opa karena sampai koma di rumah sakit jadi sudah bisa dipastikan kondisi opa Dio berada pada titik terendah.


"Sejak kapan dad?"


Riska bertanya dengan ada suara bergetar, jantungnya baru cukup kencang mendengar opanya masuk rumah sakit bahkan sampai tak sadarkan diri.


Karena menjelang ujian jadi Riska sudah seminggu ini Riska tidak berkunjung ke rumah opa Dio karena mempersiapkan diri untuk ujian akhir.


Opa yang selama ini memanjakan dia dengan segala keinginannya yang kadang harus dituruti walau sulit mendapatkan namun demi membahagiakan Riska opa Dio melakukan segala cara.


"Sebenarnya opa sudah dirawat di rumah sakit beberapa hari ini dan sekarang kondisi opa semakin kritis bahkan koma sejak semalam,"


Ucapan Arka meluluhkan air mata Riska yang sejak tadi sudah menganak sungai.


Gadis itu merupakan segala kesedihannya karena tidak menyangka bahwa salah satu pahlawannya sedang tidak baik-baik saja.


"Kita ke rumah sakit ya dad?"


Raka mengajak daddynya pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi opa Dio.


Dia sama sedihnya dengan adiknya namun sebagai laki-laki dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menumpahkan air mata di depan adiknya yang sejak tadi sudah menangis.


Dia harus kuat dan menenangkan Riska karena dia tahu bagaimana dekatnya sang adik dengan opa Dio.


"Selesaikan sarapan kalian dulu baru kita ke rumah sakit,"


Arka tidak mau anaknya mengabaikan kesehatan agar cepat sampai ke rumah sakit namun dia harus bersikap tegas dalam kondisi seperti saat ini.


"Tapi dad,"


Sanggah Riska yang ingin cepat-cepat pergi menuju rumah sakit.


"Habiskan sarapan kalian atau enggak usah pergi sama sekali biarkan kalian di rumah saja dan daddy sama mommy saja yang pergi,"


Ancam Arka yang diikuti oleh kedua anaknya karena dia lebih baik menahan diri sebentar untuk menghabiskan sarapan daripada tidak pergi sama sekali.


Jika dia di rumah saja maka sudah bisa dipastikan Arka akan tidak mengasih tahu di mana opa Dio dirawat hingga mereka tidak bisa menyusul.


Emang sejak tadi Arka tidak memberitahu di mana opa Dio dirawat sekarang hanya mengatakan koma di rumah sakit.


"Ayo dad,"


Dengan cepat mereka menghabiskan sarapan dan mengajak Arka pergi sekarang juga.


Mereka pergi menggunakan sopir karena Arka pikirnya juga tidak tenang dan jika dia memaksakan menyetir mobil sendiri dia takut akan membahayakan keluarga kecilnya.


Bukannya menjenguk pasien malah dia ikut menjadi salah satu pasien di rumah sakit itu, kan tidak lucu niat hati ingin menjenguk eh malah menginap.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit fikiran mereka gusar dan larut dalam pikiran masing-masing. Namun raut wajah kesedihan nampak sekali dan tidak bisa disembunyikan karena mereka belum setenang jika belum melihat secara langsung kondisi opa Dio.


Mereka terus melafal doa semoga opah dia baik-baik saja dan segera sadar dari komanya.


Walau bukan rahasia lagi jika seseorang lanjut usia sudah sangat rentan terhadap sesuatu penyakit atau menjadi pelanggan tetap rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mobil mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah sakit, mereka semua turun dan buru-buru menuju ruangan opa Dio yang sudah dikasih tahu sebelumnya.


\=\=\=\=\=


Mereka semua sudah sampai di depan ruangan rawat opa Dio.


Di sana sudah ada papa Abra dan mama nafiza, papi Arga dan mami Aira serta oma Dea.


Mereka bergabung di sana dan dapat dilihat raut wajah penuh kesedihan terpancar di wajah masing-masing, jika sudah seperti ini sudah bisa dipastikan jika opa Dio memang tidak baik-baik saja.


"Oma bagaimana keadaan opa?"


Lirik Riska bicara dengan nada tercekat tenggorokan karena sejak tadi sudah menahan tangis bahkan air matanya kadang tidak bisa dihentikan malah luruh begitu saja.


Tak henti-hentinya gadis cantik itu melafalkan doa agar saat sampai rumah sakit opa Dio sudah bisa menyambut dia namun semua itu hanya angan karena saat sampai semua orang sedang bermuram durja.


"Sabar sayang ya dan berdoalah semoga opa lekas sadar,"


Om Dea memeluk cucu bungsunya dan mengusap pelan punggung kecil yang sedang bergetar menangis dalam pelukannya.


Semua orang menatap sedikit arah Riska karena memang si bungsu dari keluarga mereka memang sangat dekat dengan opanya dibandingkan dengan yang lain bahkan Riska juga sangat manja.


Jadi ini merupakan pukulan terberat untuk gadis kecil itu karena tempat dia bermanja sedang dalam kondisi tak berdaya.


Tapi bukan berarti cucu yang lain tidak dekat dengan opa Dio, hanya saja si bungsu mereka memang memanfaatkan posisi terakhirnya untuk bermanja-manja kepada semua anggota keluarga ataupun sepupunya.


"Pokoknya opa harus sadar Oma, kalau opa nggak sadar terus siapa nanti yang mentraktir Riris belanja,"


Canda Riska di dalam pelukan sang oma, dengan tujuan menghibur mereka semua dan itu berhasil hingga membuat mereka tertawa kecil di dalam kesedihan yang dirasakan.


Pemikiran macam apa itu malah memikirkan traktiran padahal sudah memiliki orang tua yang sangat kaya raya dan angka nol di dalam kartu atm-nya saja sudah tak berseri lagi lantaran jarang digunakan dan lebih memanfaatkan opanya yang tidak pernah menolak keinginannya.


"Iya nanti kita minta upah untuk bangun supaya bisa mentraktir Riris beli batagor lagi,"


Jawaban Oma Dea yang tak kalah nyelenehnya membuat mereka semua tertawa mendengar obrolan oma dan cucunya karena bercanda di situasi mereka yang lagi bersedih dan itu menjadi hiburan tersendiri untuk mereka semua.


Namun mendengar itu mereka bisa melupakan sedikit kesedihan dan menajamkan pendengaran mendengar obrolan absurd mereka berdua.


"Masa batagor sih Oma yang mahal dikit dong Aqua gelas dingin,"


Hingga mereka semua tidak bisa menahan tawanya lagi mendengar jawaban dari Riska.


Hingga waktu sudah menjelang sore Raka dan Riska diminta pulang oleh para orang tua walau awalnya mereka ingin tetap di sana namun tidak diizinkan karena tempat beristirahat tentunya tidak nyaman.


Dengan terpaksa dan berat hati mereka berdua harus pulang bersama sepupunya yang lain ikut datang tadi.


"Gimana kalau kita makan malam bersama?"


Ajak Aby kepada sepupunya yang lain agar tidak langsung pulang karena sudah pasti saat di rumah mereka belum tentu makan lantaran lebih memilih istirahat daripada mengisi perut.


Dan juga dia sebagai cucu tertua harus memastikan adik-adiknya tetap menjaga kesehatan di saat orang tua fokus menjaga sang opa.


"Riris nggak lapar bang,"


Tolak Riska karena tidak mau makan dan hanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah untuk merebahkan badan beristirahat.


"Abang nggak ada menerima penolakan dan ayo kita makan dulu baru pulang,"


Aby menggandeng tangan istrinya yang lagi hamil muda itu.


Mereka memang sudah menikah satu tahun lebih ini dan baru sekarang dipercaya dititipkan seorang malaikat kecil di dalam rahim sang istri.


"Dasar pemaksa ya gini,"


Walaupun begitu mereka semua mengikuti apa ucapan sepupu tertua mereka dan mereka mampir ke sebuah restoran yang kebetulan mereka lewati agar tidak perlu capek-capek mencari tempat makan.


Keesokan paginya.


Mereka semua janjian untuk pergi ke rumah sakit lagi.


Namun berbeda dengan Riska karena semalam dia mengabari Rasya jika opahnya dirawat di rumah sakit dan Rasya meminta berangkat bersama.


"Kita sama-sama berdoa semoga opa diberikan kesehatan dan melewati masa kritisnya,"


Rasya menggenggam sebelah tangan kekasihnya sambil menyetir untuk menenangkan Riska karena sejak bertemu tadi wajah kekasihnya tampak sekali menunjukkan kesedihan.


"Riris hanya takut Bang jika umur opa nggak panjang dan opa belum melihat salah satu dari cucunya menikah karena dulu opah pernah berkata setidaknya sebelum opa menutup usia bapak bisa menyaksikan bahwa cucunya sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing,"


Memang dulu opa Dio pernah berkata seperti itu kepada Riska dan sekarang gadis itu malah kepikiran atas keinginan sang opa belum terwujud dan tanpa Riska sadari padahal salah satu diantara mereka sudah menikah dan sebentar lagi juga akan menjadi orang tua, yaitu Aby orangnya.


"Nggak baik berkata demikian karena ucapan kita adalah doa maka Abang harap Riris cukup berkata yang baik-baik saja,"


"Soal umur itu adalah rahasia ilahi dan kita tidak tahu kapan kita dijemput, soal kematian nggak selalu datang kepada orang tua bahkan anak muda sekalipun jika sudah takdirnya sampai di sana maka kita nggak bisa menolak,''


Rasya tidak suka mendengar ucapan Riska yang demikian, seolah-olah dia sedang berputus asa dan berpasrah pada takdir walau sebenarnya tidak semua salah yang diucapkannya.


Sehingga mereka sampai di rumah sakit.


"Nggak usah buru-buru dan tunggu abang sebentar,"


Rasya mencegah Riska saat melihat kekasihnya itu berjalan terburu-buru lalu dia menggandeng dan mengajak berjalan tidak pelan atau tidak juga cepat.


Akibat buru-buru nanti yang ada haruskah bisa saja menabrak orang atau pasien yang sedang lewat.


"Tapi Riris udah nggak sabar ingin bertemu opa abang,"


Tak ayal Riska membalas genggaman tengah rahasia yang terasa begitu menyenangkan untuknya dan dia benar-benar butuh ketenangan dari seseorang dan ternyata dia dapat langsung dari kekasihnya.


Orang tuanya semalam memang tidak pulang karena memilih menginap di rumah sakit.


"Tapi jangan lupa hati-hati, nggak perlu buru-buru dengan sampai karena kita buru-buru akan merugikan diri sendiri ataupun orang lain jangan,"


Nasehat Rasya yang dibalas angkutan oleh Riska dan dia berjalan sejajar dengan kekasihnya ini.


Dia membenarkan ucapan Rasya dalam hati dan sedikit menyesal karena hampir saja dia bersikap teledor.


Hingga sampai di depan kamar rawat opa Dio, Riska mematung di tempat dengan jarak beberapa meter dari sana dan matanya menelisik satu persatu dari wajah mereka yang tampak lebih menyedihkan dari kemarin dan tiba-tiba detak jantungnya berdegup semakin kencang dan pikirannya mulai menerawang ke mana-mana.


\=\=\=\=\=


Riska melangkahkan kakinya dengan pelan menuju tempat semua anggota keluarganya lagi berkumpul. Kakinya begitu terasa berat dilangkahkan bahkan dia sampai berpegangan kepada Rasya lantaran tidak kuat dan butuh pegangan agar dirinya tidak ambruk sebelum sampai dan mengetahui apa sebenarnya yang sudah terjadi.


"Bang semuanya baik-baik aja kan? Opa baik-baik?"


Riska berbicara lirik kepada Rasya dengan kaki yang terus berjalan pelan saat tangan yang saling bertautan Riska memfokuskan tatapannya kepada semua anggota keluarganya yang mana raut wajah mereka sudah diselimuti oleh awan hitam.


Bahkan tanpa diberitahu pun sepertinya Riska sudah bisa menebak apa sebenarnya yang terjadi dan itu bukanlah berita baik.

__ADS_1


"Jangan mendoktrin fikiran dengan hal negatif sayang karena belum tentu apa yang ada di pikiran kita itulah kejadian sebenarnya,"


Resep berusaha menenangkan Riska walau sebenarnya dia sendiri juga merasakan hal yang sama seperti yang ada dalam pikiran Riska namun dia berusaha untuk tetap menenangkan kekasihnya dalam situasi seperti ini.


Seperti saat sekarang lah Rasya sangat dibutuhkan kehadirannya dan sebagai tempat pengamat serta bersandar untuk Riska selain keluarga sendiri karena mereka sudah tentu membutuhkan sandaran yang kuat.


"Dad,"


Panggil Riska kepada Arka yang sedang merangkul sang mommy dengan air mata sesekali diusap di pipi mulus itu.


"Sini sayang,"


Sebelum melepaskan menggenggam tangannya Riska menoleh ke arah Rasya dan dibalas anggukan oleh lelaki itu barulah Riska berjalan mendekati ke arah kedua orang tuanya.


"Apapun yang terjadi percayalah ini semua sudah merupakan takdir yang harus kita terima dengan ikhlas,"


Mendengar ucapan Arka, Riska bukannya tenang malah langsung menangis padahal dia belum tahu apa yang telah terjadi sebelum dia datang ke rumah sakit ini.


Dadanya rasa diremas dengan kuat serta jantungnya serasa dilepas paksa dari tempatnya hingga napasnya pun tercekat di tenggorokan.


"Sebenarnya apa yang terjadi dad?"


Tapi bukannya menjawab Arka malah merangkul bahu anak gadisnya lalu ditarik ke dalam pelukannya.


Tangis Riska pecah di dalam pelukan sang ayah tanpa bisa dicegah sama sekali.


"Opa sudah sadar dari komanya Dan dia ingin bertemu Riris katanya,"


Dengan masih berurai air mata terus kamu lihat sang ayah sambil mengulas senyum yang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.


"Jika opa udah sadar kenapa daddy sedih, anak macam apa daddy ini,"


Arka tertawa kecil mendengar ucapan sang anak karena ucapan Riska sedikit menghibur dirinya.


Dia mau ngasih air mata yang masih membanjiri pipi anak gadisnya lalu menonton Riska duduk di sebelahnya.


Rasya yang berdiri tak jauh dari mereka bertiga hanya bisa tertawa lirih mendengar ucapan kekasihnya.


' Anak gadis Om Arka makin hari makin gemesin, jadi nggak sabar untuk dinikahin kalau bisa hari ini juga eh'.


Rasya merasa konyol dengan pemikirannya sendiri dan tidak mungkin dilakukan seperti apa yang ada dalam pikirannya.


"Oppa sudah sadar dan dia ingin bertemu dengan para cucu-cucunya yang cantik,"


Riska mengangguk mengerti lalu bangun dari duduknya menuju ke arah sepupunya yang lain yang sudah berdiri di depan ruangan rawat opa Dio, bersiap untuk masuk ke dalam sana.


Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah masuk dan menutup pintu itu dengan apa tapi bukan itu yang menjadi masalahnya namun, mereka memikirkan apa yang ingin disampaikan opa Dio kepada cucu perempuannya.


"Kira-kira opa Mau membahas apa ya by,"


Khira memanggil Arka menggunakan panggilan kesayangan mereka berdua. Itu sudah bisa menjadi penyejuk dikala gundahnya hati Arka saat ini.


Memang pada kondisi tertentu Khira memang memanggil suaminya dengan panggilan sayang, jadi Arka merasa mereka masih seperti pasangan pengantin baru lagi.


"Apapun itu, papi pasti ingin yang terbaik untuk cucunya,"


Arka percaya, apapun yang mau di sampaikan opa Dio sudah tentu di fikirkan lebih dulu.


Karena selama ini opa Dio merupakan sosok ayah dan juga kakek yang baik.


Jadi tidak mungkin membiarkan cucunya diberi hak yang merugikan.


"Tapi kok mommy berfirasat jika yang ingin papi sampaikan bukan lah hal buruk,"


Entah itu firasat seorang perempuan atau ibu, namun yang jelas penyampaian opa Dio bukan hal buruk.


Jadi dia tidak perlu cemas.


Selama ini firasatnya tidak pernah salah atau melenceng dari perkiraannya. Tapi yang sekarang agak sedikit goyah karena mengingat kondisi opa Dio yang masih dalam keadaan lemah.


Rasya membuat tempat duduk sedih sebelah Arka sambil menunggu kasihnya keluar dari sana dia berbincang dengan calon mertuanya itu.


Namun laki-laki itu tidak banyak bicara karena mereka semua ini dalam keadaan bersedih jadi dia hanya mengungkapkan rasa turut bersedih apa yang mereka rasakan saat ini.


Setengah jam berlalu pintu ruangan itu terbuka kembali dan menampilkan ketiga gadis cantik itu.


Memang anak papi Dio masing-masing memiliki sepasang anak jadi sudah bisa dipastikan tiga laki-laki dan tiga perempuan.


Ketiga gadis itu mendekati orang tuanya masing-masing yang duduk saling berdekatan.


"Bagaimana, apa yang opa kalian sampaikan?"


Yang lain yang aku setuju atas pertanyaannya dilontarkan oleh Abra karena mereka begitu penasaran ditambah raut wajah ketika anak gadis mereka masih sama saat sebelum masuk tadi.


Namun alih-alih menjawab ketiganya saling bertukar pandang dengan ekspresi yang membingungkan.


"Bukan saatnya untuk telepati jadi apa yang opa sampaikan,"


Sudah tidak sabar untuk menanti apa yang akan disampaikan oleh gadis mereka karena tadi pun saat tapi dia sudah sadar dia memang tidak mengatakan tujuannya meminta ketika cucu perempuannya menemuinya.


Keinginan seperti itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala mereka masing-masing.


"Apapun yang kami sampaikan percayalah kami sudah memikirkan matang-matang dan nggak akan ada yang nama penyesalan ataupun pemaksaan di dalamnya,"


Anak dari pasangan Arga dan Aira itu membuka suara dengan perkataan yang membuat mereka semakin membingungkan.


"Bisa tidak sih tidak usah berbelok-belok bicaranya langsung saja ke intinya kamu mau para orang tua mati penasaran?"


Entah mengapa sekarang mereka jadi kesal sendiri karena tidak langsung menyampaikan apa yang mereka bahas tadi malah mengajak berbelit-belit dulu padahal langsung saja itu lebih baik daripada memancing emosi.


"Iya Pi apapun yang akan kami sampaikan maka semua itu sudah kami pikirkan tanpa ada paksaan dari pihak manapun Jadi kami mohon terima apa yang telah kami putuskan di dalam tadi,"


Para orang tua ingin sekali menjedotkan kepalanya ke dinding rumah sakit itu lantaran dibikin kesel dengan anaknya sendiri.


Mereka seperti diajak bercanda padahal bukanlah waktunya untuk mencandai sesuatu hal.


Jika saat ini mereka sedang happy maka oke-oke saja tapi ini di rumah sakit jadi pembicaraan itu memang harus yang serius dan yang membuat kesal itu tidak seharusnya disampaikan. Cukup disimpan dalam hati.


"Ayok kita tukar tambah anak,"


Kesel Arga merasa terus dipermainkan oleh anak gadisnya.


Kepala dia rasanya hampir pecah lantaran menunggu hasil runding mereka di dalam namun seolah seperti dipermainkan sekarang.


\=\=\=\=\=


Bersambung 😘

__ADS_1


__ADS_2