BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Kado Rasya


__ADS_3

"Ayo antar gua pulang karena ini sudah malam dan gue sudah pulang sangat telat, istri gue pasti sudah cemas menunggu gue yang tak kunjung pulang,"


Rasya merasa sudah cukup untuk mereka menghabiskan waktu bersama dan sudah saatnya dia pulang untuk menemui istrinya yang dia pikirkan sedang gelisah menunggu kepulangannya.


"Ayo gue antar, lo gue ajak jalan seperti anak gadis yang jika telat pulang bakalan ditelepon oleh orang tuanya. Berasa jalan sama anak gadis gue,"


Mereka berdua menaiki mobil Raka dan tujuan Raka sekarang adalah menuju hotel di mana sudah memberitahu sudah saatnya mengantar suaminya.


"Loh kenapa belok ke hotel? Lo lagi nggak ada niat ngajak gua ngamar kan sorry gue udah punya istri dan gue nggak suka batangan,"


Reflek Rasya saat mobil Raka sudah berhenti di depan lobby sebuah hotel ternama di kota ini dan dia merasakan aura beda karena yang ngajak ke hotel adalah laki-laki namun jika istrinya mungkin dia dengan senang hati menyambut.


"Sorry ya kue donat lebih lezat daripada buah pisang, ngerti loh,''


"Ayo turun,"


Namun Rasya tetap mengikuti langkah Raka yang sudah memasuki hotel itu.


Walau dalam hati dia bertanya-tanya, buat apa datang ke sini? Namun tidak ada jawaban dari sahabat sekaligus abang iparnya ini.


"Kok tiba-tiba perasaan gue nggak enak ya atau selama ini lo nggak punya pasangan karena lu menyukai gue ih najis,"


Rasya bergidik ngeri membayangkan berada dalam satu ruangan bersama Raka dan itu membuat dia geli karena dia sudah membayangkan ke hal yang tidak tidak.


"Buang semua pikiran kotor lo itu karena semua itu nggak ada dalam pikiran gue dan apa lo bilang tadi gue suka sama lo hello adik ipar yang minta di ajar, dengar ya gue ini masih normal dan Kenapa gue masih jomblo dulu karena gue ingin mendapatkan gadis yang bisa langsung diajak menikah bukan pacar yang kayak lu berdua pacar kok kayak orang kredit motor,"


Mereka berdua memasuki kotak besi yang akan mengantar ke lantai tujuan.


Dalam hati Raka sudah menggerutu kesal karena adiknya menyusahkan dia hari ini padahal itu bukanlah kerajaan yang sulit namun untuk sebuah kejutan ulang tahun Raka merasa ini sangat berlebihan.


"Mahluk jomblo suka iri ya, wajar selama ini lo nggak dapat pasangan karena terlalu sulit kriteria ah udahlah bosan gue ngomong sama lo.


Sekarang katakan ngapain kita ke sini? Lu tahu kan istriku sendiri di rumah dan Ini udah malam tapi gue belum balik, lo mikir nggak sih?"


Ingin rasanya Rasya mengajak baku hantam Raka saat ini karena jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat dan sahabatnya ini masih mengajak dia mampir padahal sejak tadi dia sudah mengatakan jika dirinya ingin cepat pulang tapi sepertinya telinga Abang iparnya ini mulai tuli.


"Kenapa semakin lama mulut lo cerewet seperti perempuan dan gue berharap adik gue nggak cepat bosan hidup bersama loh apalagi seumur hidup, nggak kebayang gue bagaimana hari-hari sulit adek gue bersama lo,"


Rasya memukul bahu dengan sahabatnya itu, seenaknya saja mengatakan jika Riska mengalami hari-hari berat bersama dia, padahal gadis itu sangat bahagia dan tentu Rasya pastikan tidak ada kesedihan yang melanda istri tercintanya itu.


"Makhluk kesepian seperti lo mana mengerti tentang kehidupan rumah tangga bahagia apalagi lo nggak pernah memiliki pasangan jadi gue nggak perlu sakit hati mendengar ucapan pedas lo itu,"


Lift berhenti di lantai tertinggi hotel itu lalu Rasya mengikuti langkah-langkah menuju sebuah kamar yang terletak paling ujung dari barisan kamar yang ada di lantai itu.


"Nah kan bener dugaan gue pantesan perasaan gue nggak enak sejak tadi, udah gue mau pulang sekarang,"


Rasya berniat kembali untuk menemui istrinya di rumah karena dia seharusnya tadi tidak mengikuti permintaan konyol sahabatnya dan berakhir di depan sebuah kamar hotel yang dia pikirkan bakalan terjadi sesuatu yang membuat dia bakal menyesal seumur hidup.


Padahal kenyataan sebenarnya adalah jika Rasya sudah memasuki kamar itu maka kejadiannya tidak seperti yang ada di dalam pikirannya justru akan berkesan dan dia ingat selama hidupnya.


"Mau ke mana lo? Ayo ikut gue anggap aja ini permintaan terakhir gue,"

__ADS_1


Menarik kerah kemeja yang Rasya gunakan lalu menyeret sahabatnya ke arah pintu berwarna coklat itu.


"Kayak lo mau mati aja ada permintaan terakhir, udah Raka gue mau pulang kasihan Riris sendirian di rumah,"


Rasya berusaha memberontak namun pegangan sahabatnya itu begitu kuat hingga dia diseret dan berdiri di depan pintu kamar itu.


"Dasar aneh Raka, lo ingatkan jika gue ini suami adek loh jadi jangan ajak gue ke jalan yang sesat, lo nggak mau kan adek lo janda muda,"


Rasya masih berusaha memberontak melepaskan pegangan tangan Raka namun tidak bisa disuruh laki-laki itu sudah mengetuk pintu yang ada di depan mereka.


"****** emang lo ya, siapa juga yang ingin adiknya jadi janda dan jika itu pun masih banyak laki-laki di luar yang sana yang mau sama adik gue apalagi masih perawan kayak gitu,"


Rasya mencibir sinis karena sahabatnya ini tidak ada rasa simpati sama sekali padahal dia sudah berkata demikian.


Dia tadi berbicara hanya asal saja karena dia juga tidak rela jika istri tercintanya itu harus bergandeng dengan laki-laki lain dan tentu dia akan menggentayangi laki-laki itu hingga meninggalkan Riska.


Pintu terbuka namun tidak ada orang yang terlihat.


"Udah masuk sana dan jangan banyak protes,"


Raka mendorong kuat punggung sahabatnya itu hingga masuk dengan mudah lalu menutup pintu itu tanpa aba-aba.


"Woi Raka buka lo jangan menjerumuskan gue ke jalan seperti ini, lo tahu kan kalau gua begitu mencintai istri gue dan nggak mungkin melenceng atau bahkan menyakiti hatinya walaupun secuil saja.


Raka buka istri gue menunggu di rumah, kan tadi udah gue bilang jika gue mau pulang kasihan istri gue menunggu di rumah dan lo kenapa menjebak gue di sini, buka Raka biar bagaimanapun cinta gue hanya untuk Riris,"


Rasya terus mengedor-ngedor pintu itu dan berharap dibukakan oleh sahabatnya karena dia tidak nyaman berada dalam ruangan yang tidak dia kenali apalagi di otaknya berpikir keadaan istrinya yang seorang diri di rumah.


Jika saja pintu ini terbuka maka orang pertama yang dia cari adalah Raka lalu menghajarnya hingga dia merasa puas dan kekesalan di hatinya terlepaskan.


"I love you too suami,"


Mendengar suara yang familiar di telinganya sontak saja Rasya membalikkan tubuh hingga badan kekar itu menegang terdiam di tempat, melihat pemandangan yang tidak pernah dia lihat selama beberapa bulan ini menikah.


Tentu saja dia melihat istrinya berdiri memegang sebuah kue dengan lilin yang menyala di atasnya namun yang membuat dia gagal fokus adalah pakaian yang digunakan Riska sungguh sangat menggoda iman dia sebagai seorang laki-laki normal.


Udah dada Rasya berdebar begitu kencang lantaran melihat penampilan Riska yang begitu wow di matanya dan tidak lupa penampilan istrinya malam ini begitu jauh berbeda, sangat sempurna.


"Happy birthday suamiku, doanya nggak perlu panjang-panjang yang penting selalu diberi kesehatan, segala urusan lancar keluarga kita selalu diberkahi dan selalu dalam lindungan sang pencipta,"


Rasya terpaku dari keterpanaannya melihat penampilan istrinya lalu berjalan perlahan mendekati istri cantiknya ini. Matanya tidak lepas dari wajah cantik yang semakin bersinar karena cahaya lilin dari kue yang dipegang.


"Sayang kamu,"


Rasya rasanya sulit untuk berkata-kata karena sungguh ini merupakan kejutan yang sangat spesial di hari ulang tahunnya daripada tahun-tahun sebelumnya.


Memiliki seorang istri dan juga kejutan dari penampilan istrinya sungguh membuat dia berdebar lalu matanya mengarahkan pandangan dari wajah turun ke leher hingga bahu yang terekspos sempurna, hanya ada seutas tali yang menutupi bahu putih mulus itu.


Sungguh gairah Rasya sebagai laki-laki normal terpancing dan otaknya terus berpikir mengarah ke sesuatu yang sudah lama dia tunggu dan malam ini terpampang nyata di depan mata.


"Spesial untuk suamiku yang sedang berulang tahun, abang mandi dulu ya setelah itu baru kita potong kue,"

__ADS_1


Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya Rasya mengikuti ucapan istrinya untuk segera mandi tidak lupa sebelum memasuki kamar mandi laki-laki itu mengurus lembut pipi mulus istrinya dan melakukan kecupan di keningnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Rasya membersihkan diri dan dia keluar kamar mandi hanya dengan selembar handuk yang menutupi dari pinggang hingga lutut.


'Kenapa ini nggak adil rasanya? Kan gue yang berniat ngasih kejutan sama Abang kok dengan melihat penampilan Abang seperti ini gue juga ikut merasakan deg-degan, Ais nggak adil sekali'


Walau ini bukan kali pertamanya melihat penampilan Rasya selesai mandi dengan selembar handuk yang menutupi pinggangnya namun tetap saja gadis yang sebentar lagi melepaskan kegadisannya itu selalu merasa deg-degan melihat penampilan suaminya yang bisa membuat air liurnya menetes.


"Mana kado untuk abang? Bukankah malam ini abang ulang tahun masa iya hanya kejutan tadi saja,"


Jujur saja dada Riska rasanya sangat berdebar saat suaminya meminta kado darinya dan sialnya lagi kado itu adalah dirinya sendiri yang bakal diserahkan kepada suaminya seutuhnya.


Sekarang giliran gadis itu yang terpaku di tempatnya, apalagi Rasya semakin mengikis jarak di antara keduanya hingga Rasya berdiri tepat dua jengkal dari depan Riska.


"Masa iya abang nggak dapat kado!"


Rasya menatap wajah cantik istrinya yang sudah bersemu merah dan dalam otaknya berpikir apakah kado yang disiapkan istrinya untuk ulang tahun kali ini adalah dirinya sendiri jika dilihat dari penampilan istrinya yang tidak pernah ditunjukkan selama mereka menikah beberapa bulan ini.


Walaupun tebakannya sudah benar tapi dia menunggu langsung ucapan itu terlontar dari bibir yang sudah sering dia nikmati sejak mendapat izin dari istrinya.


Rasya mendongakkan kepala Riska hingga tatapan mereka bertemu dan membuat gadis itu semakin salah tingkah.


"atau sebenarnya kado abang adalah ini,"


Rasya melepaskan pegangan tangan pada dagu istrinya lalu mengelus lembut dari jidat batang hidung lalu mengusap lembut bibir yang berwarna pink alami itu.


Lalu tangan laki-laki itu turun menyusuri leher jenjang hingga ke bahu yang terbuka lalu menarik pelan tali yang melingkari bahu mulus itu.


Dengan perasaan malu-malu Riska mengangguk jika itu pertanda bahwa dirinya sendirilah yang menjadi kado untuk suaminya malam ini.


"Sungguh!"


Rasya kaget mendapat jawaban singkat itu dari istrinya dan itu tidak pernah dia duga-duga selama ini.


Walaupun dia begitu ingin melakukan bersama istrinya namun dia menghargai jika istrinya itu belum siap menjalani kewajibannya yang satu itu, namun apa sih sekarang istrinya sendirilah yang memberikan dirinya tanpa ada paksaan sama sekali bahkan Rasya tidak pernah mengungkit tentang kewajiban Riska yang ini.


"Riris siap bang,"


Jawaban pasti Riska berikan yang membuat senyuman Rasya tak bisa disembunyikan lagi karena kesabaran dia selama ini berbuah manis dan dia sudah bisa berbuka puasa.


Tanpa menunggu lama lagi Raisa langsung saja menyerang istrinya ets namun sebelum itu dia mengajak istrinya melaksanakan salat baru melaksanakan tugas yang sejak awal seharusnya telah dilakukan.


Riska merasa gugup saat suaminya memulai malam pertama yang tertunda cukup lama. Dimulai dari sentuhan-sentuhan lembut ciuman lalu belaian yang Rasya lakukan membuat bulu kuduk gadis itu meremang karena dia berusaha menahan suara serta perasaan asing yang pertama kali dia rasakan ini sungguh membuat otaknya merasa bleng.


Hingga pada akhirnya suasana di kamar hotel itu hanya dipenuhi suara Riska yang mendesah nikmat menikmati permainan Rasya di atas tubuhnya.


Dinginnya suhu ruangan kamar itu sudah terkalahkan dengan panasnya permainan mereka berdua. Walaupun Rasya sudah lama menantikan ini namun tetap dia berhati-hati dalam melakukannya karena tidak ingin menyakiti istrinya.


Setiap penantian kesabaran itu bakalan berbuah manis asal kita bisa melewati tahapan demi tahapan dan tidak terkesan buru-buru.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bersambung 😘


__ADS_2