BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Selesai Unbox


__ADS_3

Adzan subuh sudah berkumandang menandakan waktu subuh sudah tiba, sepasang pengantin yang sudah tidak baru itu masih terlelap di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua hanya kepala saja yang kelihatan.


Perlahan Rasya mengerjapkan mata saat mendengar panggillan subuh itu.


Matanya terbuka sempurna dan perlahan nyawanya terkumpul semua.


Duduk bersandar pada sandaran tempat tidur lalu saat dia hendak turun dari sana dia ingat sesuatu lalu melirik ke sampingnya.


Dapat dia lihat bidadari hatinya masih terlelap dengan nyenyak setelah pertempuran mereka semalam.


Wajah yang sangat cantik saat masih tidur dan tanpa menggunakan hijab yang selama ini dia kenakan.


"Sungguh sangat cantik,"


Ucap Rasya menyibakkan rambut yang menutupi wajah Riska.


Sebelum itu Rasya memakai celananya dulu baru setelah itu.


"Sayang bangun udah subuh,"


Membelai pipi Riska pelan agar tidak kaget.


"Hhhmmm,"


Gumam Riska yang masih merasa ngantuk.


"Udah subuh sayang shalat dulu nanti lanjut lagi tidur nya atau mau lanjut yang semalam,"


Benar benar ya Sya, semalam udah di gempur masa pagi mau di lanjut dulu, kasian sama istri Sya kan masih bisa nanti malam juga.


Riska membuka mata dan seketika dia terkejut.


Riska meraba tempat tidur untuk mencari baju saat sadar dia tidak menggunakan apa-apa di balik selimut.


"Nggak usah sayang,"


Cegah Rasya saat Riska menemukan apa yang dia cari dan mulai memakai.


"Dosa suami ku,"


Masih melanjutkan tapi di cegah Rasya.


"Kamu ngak pake baju aja nggak malu terus ngapain? apa yang mau di tutup?"


Ucapan Rasya menyadarkan Riska dan melihat ke dalam selimut.


Seketika Riska membeku di tempat.


Apa yang udah terjadi? ngak mungkin kan?.


Apakah Riska lupa jika semalam dia yang menawarkan diri sebagai kado ulang tahun suaminya.


Rasya tersenyum melihat tingkah istrinya, ada ada saja fikirnya.


"By apa yang udah terjadi?"


Cemas Riska saat tau tak ada pakaian yang melekat di badannya.


"Iya seperti yang kamu fikirkan sayang,"


Santai Rasya menikmati ekspresi wajah Riska yang menurut Rasya sangat imut.


"Tapi By, ini ngak benar,"


Pupus sudah harapan Riska.


"Nggak benar apa sayang?"


Ingin rasanya Rasya tertawa sekarang.


"Aku belum selesai kuliah,"


Wajah Eva seperti ingin menangis.


"Terus yang kemarin apa sayang?, acara ulang tahun?,"


Riska diam dan berfikir, kini dia malu sendiri mengingat tingkah barusan.


"Maaf aku lupa,"


Sesal Riska dan bersamaan juga bernafas lega ternyata dia tidak berbuat dosa.

__ADS_1


"Yuk mandi ntar habis waktu subuh,"


Ajak Rasya mulai berdiri.


"Hubby duluan aja,"


Tolak Riska yang masih merasa malu dan juga belum mengenakan pakaian dan ternyata pakaian nya tergeletak di lantai dengan mengenaskan.


"Bareng sayang,"


Menyibakkan selimut dan membopong Riska ke dalam kamar mandi.


"By malu,"


Menyembunyikan wajahnya di dada Rasya dan wajah bersemu merah.


"Nggak usah malu, aku udah liat semua nya dan juga merasakan,"


Ucapan Rasya tanpa filter sedikit pun.


Akhirnya mereka mandi bersama tanpa ada adegan tambahan mengingat belum shalat subuh.


Selesai shalat Riska merapikan tempat tidur dan juga mengganti spray nya dengan yang baru.


"Capek hhmm?"


Membelai kepala Riska dengan sayang yang mana mereka lagi duduk di atas sofa di depan jendela kaca itu sambil menikmati pagi sebagai pasangan suami istri yang seutuhnya.


"Sedikit,"


Rasya menarik Riska agar bersandar di dadanya sambil membelai rambut Riska yang tanpa penutup itu maklum hanya ada mereka berdua.


"Maaf semalam aku terlalu bersemangat,"


Mencium pucuk kepala Riska.


"Nggak apa by, itu udah jadi tugas aku sebagai seorang istri,"


Jawab Riska tanpa ada niat buat merubah posisi sekarang.


"Makasih udah menjaga nya buat aku,"


"Cuma itu yang bisa aku berikan selian cinta kasih sayang selama ini dan makasih udah memilih ku menjadi istri mu by,"


Sebagai perempuan hanya kehormatan yang paling berharga yang di berikan pada suami kelak.


"Seharusnya aku yang ngomong gitu sayang, dan semoga cepat jadi Rasya junior di sini,"


Membelai perut rata Riska


"Aammiinn by, kita sama sama berdoa,"


Balas Riska memegang tangan Rasya yang masih berada di perutnya itu.


"Bukan hanya sama sama berdoa aja sayang tapi juga sama sama berusaha,"


Samsung Rasya dan berharap semoga cepat punya baby.


Karena semalam mereka sudah sepakat untuk tidak menunda memiliki momongan walau Riska masih kuliah dan juga suaminya tidak terikat kerja sama orang jadi bebas.


"Mau sarapan apa?"


Mengingat waktu sudah mau menunjukkan jam tujuh pagi.


"Apa aja By,"


Jawab Riska meluruskan posisi duduk dan menatap Rasya.


"Kenapa liatin aku gitu? tampan ya?"


Riska tak berkedip menatap wajah Rasya dari jarak dekat.


Padahal ini bukan kali pertama, tapi tetap saja masih terpesona.


"Banget, kok aku baru sadar ya,"


Selesai sarapan rasanya enggan buat keluar kamar walau hanya sekedar jalan jalan di area sekitar, sebab acara kemarin cukup menguras tenaga.


Jadi mereka memutuskan buat istirahat saja sambil menikmati hari pertama sebagai suami istri seutuhnya dan itu sungguh membuat mereka sedikit canggung berada dalam satu ruangan hanya berdua saja.


Untung sudah halal jadi kalau khilaf pun akan dapat pahala bukan dosa.

__ADS_1


Menu sarapan pagi ini hanya menu sederhana yang penting sehat dan mengenyangkan.


"Masih sakit nggak?"


Itu pertanyaan bisa tidak di filter sedikit ya walau hanya mereka berdua yang dengar tetap saja sukses membuat wajah Riska bersemu merah.


Tidak usah malu malu Ris kan udah halal udah buka bukaan juga semalam.


"Sedikit kok tapi nggak apa, mungkin cuma sebentar,"


Balas Riska bersandar di dada Rasya yang ternyata sangat nyaman.


Kini dada itu yang jadi sandaran Riska sekarang, sungguh nyaman, aman dan terasa di lindungi.


"Mau aku obati nggak?"


Menaik turunkan alis seperti menggoda.


"Kok aku merasa merinding ya, kayak ada tujuan tersembunyi ya?"


Menegakkan badan dan di cegah oleh oleh Rasya hingga posisi itu kembali seperti semula.


"Jangan berfikir negatif sama suami sendiri, dosa tau,"


Mengusap wajah Riska pelan lalu menciumnya.


Yang udah halal sekarang bebas ya mau apa aja, wajar kan selama pacaran hanya sebatas pegangan tangan, ciuman saja cuma sekali itu juga di pipi dan menggendong Eva juga dalam ke adaan darurat benar benar pacaran sehat lah.


"Siapa yang berfikir negatif coba, aku nggak bilang gitu ya.


Yang dosa itu nolak ajakan suami,"


Berkilah dengan jawaban sendiri walau sebenarnya fikiran Riska mengarah kesana sedikit tapi tidak salah bukan langsung menuduh.


"Ya udah ayo,"


Berdiri menarik tangan Riska buat ikut berdiri juga.


"Eh eh ini apa-an?"


Heran dapat tarikan tiba tiba dari sang suami.


Suami kok rasanya kata itu masih terasa asing ya atau karena masih baru masih anget anget.


"Ngajak ibadah,"


Spontan Rasya


"Kan belum adzan,"


Cengo Riska yang belum mengerti maksud suaminya.


"Kalau ini nggak perlu nunggu adzan,"


Menarik Riska dan kini mendorong ke atas ranjang.


"By ini masih siang,"


Tau apa maksud Rasya sekarang.


"Iya tau, aku hanya capek mau istirahat,"


Memeluk badan Riska dari depan setelah mereka berbaring.


"Usap ya,"


Menaruh tangan Riska di kepala dan menggerakkan.


Riska menuruti perintah Rasya, mengusap dengan lembut seperti usapan seorang ibu pada anaknya.


Lima belas menit bukan Rasya yang tertidur melainkan Riska yang terlelap.


Kenapa terbalik gitu lain di usap lain yang tidur.


"Kok malah kamu yang tidur sayang?"


Melihat Riska yang tertidur dengan tangan masih berada di kepala Rasya


\=\=\=\=\=


Bersambung 😘

__ADS_1


__ADS_2