BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Keinginan Dulu


__ADS_3

Momen seperti ini dari dulu sangat Farah harapkan tetapi baru sekarang bisa terwujud apalagi Raka sendiri yang berinisiatif menggandeng tangannya.


Farah terus mengembangkan senyumnya sepanjang jalan mereka bergandengan tangan apalagi sekarang bukan tangan yang digandeng Raka melainkan tangan ke kekar itu sudah bertengger di pinggang rampingnya.


Entah mengapa Raka merasa jika bergandengan tangan ini seperti ada yang kurang dan justru malah terlihat seperti orang yang berpacaran dan karena mereka sudah menikah jadi lebih enak jika berjalan sambil merangkul istrinya agar semua orang tahu bahwa perempuan cantik di sebelahnya ini adalah istrinya dan adalah miliknya.


"Eh," tentu saja Farah kaget mendapat sentuhan lembut di pinggangnya apalagi ini untuk pertama kali.


**Seharusnya ngasih kode bang jika ingin merangkul kan nggak kaget seperti ini**


"Eh apa? Dirangkul suamiku kaget," wajah Farah bersemu merah mendengar ucapan suaminya.


Raka ini apakah tidak menyadari bahwa dirangkul mendadak seperti ini tentu saja kaget.


Bagaimana tidak kaget jika Raka merangkul tiba-tiba tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu.


Sudah seperti tahu bulat yang digoreng dadakan.


Begitu juga sekarang hubungan mereka yang sedang hangat-hangatnya bahkan taman bunga sudah bermekaran di hati mereka masing-masing.


"Kaget aku bang," Farah menjawab dengan wajah memerahnya apalagi sesekali mereka menggerakkan jarinya mengusap pinggang Farah hingga menimbulkan gelenyar geli juga sensasi lain yang belum pernah dia rasakan.


"Biasakan mulai sekarang," iya juga kata Abang mulai sekarang aku harus bisa membiasakan diri untuk disentuh bahkan lebih dari ini, fikir Farah dalam hati.


Karena untuk ke depannya bukan hanya sentuhan lembut seperti ini saja yang akan dia dapatkan bahkan lebih dari ini akan sering mereka lakukan jadi rasa kaget itu harus segera diminimalisir agar hubungan mereka tidak terasa canggung.

__ADS_1


"Mau ngapain dulu?" Sekarang mereka sudah berjalan di antara tokoh yang menjual berbagai keperluan wanita lengkap dari dalaman hingga luaran.


"Mau nonton boleh nggak bang? Dari dulu aku pengen banget nonton sama abang," Farah ingin menonton bersama suaminya yang sudah sangat lama dia impikan.


"Boleh, apa pun untuk istri abang," tentu saja akan menyetujui ajakan istrinya apalagi ini hanyalah hal kecil jangankan untuk menonton membeli satu bioskop pun akan dia lakukan jika istrinya yang meminta.


Terbesit rasa bersalah di hatinya karena dulu sempat menyakiti hati orang yang sangat dia cintai tetapi Raka lebih mementingkan persaudaraannya yang pada akhirnya cinta itu berlabuh pada orang yang tulus mencintainya.


Padahal dulu Raka sudah mengikhlaskan jika sepupunya menjalin hubungan bersama Farah tetapi ternyata semua itu berakhir sebelum dimulai karena sang sepupu memilih melanjutkan kuliahnya di luar negeri.


Jika Raka tau seperti itu mungkin sudah sedari dulu dia menjalin hubungan bersama Farah bahkan sebelum Farah mengejar-ngejar dirinya di zaman sekolah.


"Tunggu di sini ya," Raka menuntun istrinya untuk duduk dan setelah dirasa nyaman baru dia mengantri untuk membeli tiket dan juga cemilan sebagai pelengkap saat mereka menonton nanti.


Farah hanya menurut dan melihat suaminya melakukan semua itu dan laki-laki dia menyumbangkan senyumnya sebab tidak menyangka bahwa hubungan mereka bisa diperbaiki bahkan sekarang mereka bersama-sama menghabiskan waktu.


"Ayo kita masuk, film udah mau mulai," Raka menggandeng tangan Farah masuk ke dalam dan tangan sebelahnya membawa cemilan setelah memberikan tiket bioskop kepada istrinya.


Selama menonton keduanya menikmati momen seperti ini apalagi Farah yang ditarik Raka agar bisa bersandar di bahunya karena jika menunggu istrinya berinisiatif mungkin akan lama apalagi perempuan itu rasa gengsinya tinggi namun tidak untuk Farah, setelah Raka menarik untuk bersandar justru dia melingkarkan tangan di pinggang suaminya dengan sedikit perasaan malu-malu.


Selesai nonton...


Sekarang sudah memasuki waktu ashar dan neraka mengajak istrinya untuk melaksanakan salat terlebih dahulu sebelum dia mengajak sang istri untuk berbelanja.


Tibalah mereka di salah satu toko brand terkenal yang mana barang di sana limited edition sesuai juga dengan harganya yang membuat kantong menjerit.

__ADS_1


"Baju aku masih banyak bang yang bagus," Farah menolak karena memang pakaian dia masih banyak yang bagus apalagi saat di apartemen tadi satu lemari full lengkap pakaian miliknya.


Jadi dia merasa tidak perlu berbelanja dulu.


"Nurut sama suami ngga dosa lo," mendengar ucapan suaminya akhirnya parah mengalah dan milih beberapa potong baju, tas dan juga sendal sebab Raka membantu memilihkan karena dia tahu jika membiarkan Farah sendiri memilih pasti masih segan-segan untuk membelanjakan uang suaminya.


"Ini banyak banget bang," Farah merasa tidak enak karena Raka mengambil pakaian yang dirasa cocok untuk istrinya.


"Atau kamu mau abang pindahkan isi toko ke rumah," Farah melotot mendengarkan ucapan suaminya.


Farah tahu suaminya banyak duit dan jika tidak dituruti maka ucapannya akan menjadi kenyataan untuk mengosongkan satu tokoh yang akan dipindahkan ke rumah.


Bagi Raka itu bukanlah suatu hal yang sulit dengan kekuatan uang maka apapun bisa dia lakukan apalagi untuk memanjakan istrinya.


"Bang aku capek," Farah mengeluh capek karena sejak tadi tidak hentinya berkeliling serta berbelanja namun dibalik semua itu dia sangat bahagia karena sudah bersama suaminya lagi.


"Ayo kita pulang," Raka sudah melihat wajah lelah istrinya dan tidak tega apalagi dengan wajah memelas yang ditunjukkan oleh Farah jadi dia menyetujui untuk pulang karena ini waktu sudah lewat magrib dan mereka sudah salat tadi.


Saat masuk ke mobil Farah melihat jok bagian belakang dan ternyata banyak paper bag yang semua itu belanjaan dia.


**Terima kasih tuhan untuk kebahagiaannya dan aku harap semua ini bertahan untuk selamanya hingga hanya maut yang memisahkan kami**


Tak hentinya Farah melafalkan kata syukur dan alhamdulillah di dalam hati karena kebahagiaan yang berlimpah yang dia dapatkan hari ini serta dia juga berdoa semoga semua ini selalu abadi hingga di penghujung nafas terakhirnya.


Niat hati yang hatinya ingin menemui suami untuk meminta kesempatan agar bisa bersama kembali justru mendapat kejutan yang bertubi-tubi.

__ADS_1


Ternyata tidak salah keputusan dia untuk ingin memperbaiki hubungan yang sempat renggang jika semua bersambut dengan baik.


Segala sesuatu yang kita jalani serta kita terima dengan ikhlas maka kita diberi kelancaran serta kemudahan hingga mendapatkan buah yang manis asalkan keikhlasan di hati bukan karena tujuan tertentu melainkan memang sudah ikhlas menerima segala sesuatu keadaan yang mana hanya berharap keridhoannya dan mengharapkan kebahagiaan di masa depan.


__ADS_2