
Farah masih terduduk diam dalam ruangan Raka padahal suaminya sudah pergi beberapa saat yang lalu.
Tapi perempuan itu masih belum beranjak dari duduknya dan memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan oleh suaminya itu sebelum pergi meeting tadi.
Kalimat itu berputar-putar di pikirannya dan membuat dia semakin merasa bersalah karena apa yang diucapkan oleh suaminya itu benar bahwa dia lebih memilih mendengar ucapan sahabatnya daripada suami sendiri dan dia berkata bahwa suaminya adalah orang yang spesial Ttpi perlakuannya tadi tidak ada menunjukkan ke arah sana.
"Aku sudah benar-benar keterlaluan, lagi-lagi aku menyakiti nya,"
Tak terasa bulir bening mengalir di pipi Farah karena menyesali atas sikapnya tadi.
Seharusnya sejak awal dia mendengar ucapan suaminya bukan malah membantah dan masalah itu malah berbuntut panjang seperti ini.
Padahal tugas istri salah satunya menuruti ucapan suami tapi dia justru mendengarkan ucapan sahabatnya walaupun dengan tujuan yang sama.
"Aku harus minta maaf,"
Farah bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan itu dengan hati yang tidak menentu rasanya.
Farah pergi menggunakan taksi karena setiap pergi ke kantor mereka berangkat bersama dan tidak menggunakan mobil masing-masing.
Sepanjang jalan sesekali Farah masih menangisi serta menyesali apa yang telah dia perbuat.
Tujuannya sekarang adalah pulang ke rumah mereka karena jika ke rumah orang tuanya pasti mereka akan bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada anaknya apalagi pulang dalam keadaan kacau seperti ini.
__ADS_1
"Lebih baik nanti aku memasak untuk makan malam kami dan membicarakan ini lagi,"
Sampai di rumah, Farah memasuki kamar mereka karena ingin menenangkan diri terlebih dahulu.
Bahkan dia melewatkan jam makan siang karena terlalu larut dalam kesedihannya.
Dia terus menyesali semua sikapnya selama ini dimulai sejak awal pernikahan dulu hingga sekarang dia menyakiti hati suaminya lagi.
"Aku terlalu payah,"
Walaupun dia mengetahui jika suaminya adalah laki-laki yang sangat baik tetapi percayalah bahwa kesabaran seseorang itu ada batasnya dan tidak selalu bisa menahan diri.
Padahal Raka selama ini selalu sabar menghadapinya dan tidak pernah meninggikan suara walaupun situasinya sangat tidak dia sukai contohnya tadi.
Drt,,,,,
Drt,,,,,
Drt,,,,,
"Sepertinya hubby benar-benar marah!"
Farah merebahkan tubuhnya di sofa dekat jendela kamar mereka dan melihat langit yang menjelang sore tanpa mendung seolah sebagai tanda dia juga ikut merasakan kesedihan yang Farah rasakan.
__ADS_1
Air matanya masih menetes walaupun dia sedang tidak ingin menangis dan terus mencoba menghubungi suaminya walaupun tahu tidak akan mendapat jawaban.
"Lebih baik aku memasak aja,"
Adzan ashar sudah berkumandang dan Farah segera melaksanakan salat lalu setelah itu dia bergegas turun menuju dapur agar bisa memasak sendiri untuk makan malam mereka nanti.
Di rumah itu memang hanya ada dua orang asisten rumah tangga yang bertugas mengurus rumah kecuali memasak dan seorang satpam yang berjaga di gerbang.
Farah memang tidak membiarkan orang memasak untuk suaminya dan itu tidak bisa dibantah sama sekali karena dia ingin sang suami memakan masakan dia sendiri.
"Akhirnya selesai juga,"
Sebelum adzan maghrib Farah sudah menyelesaikan acara memasaknya dan segera menuju kamar untuk membersihkan diri serta salat Maghrib.
Karena dia merasa bahwa sebentar lagi suaminya akan pulang dan tentu saja dia tidak boleh menyambut suami dalam keadaan dengan aroma badan berbau bumbu masakan.
"Tunggu hubby di teras aja deh,"
Farah sudah rapi dan turun menuju teras rumah untuk menunggu kepulangan suaminya dan dia sudah menyediakan kata-kata sebagai permohonan maaf nya dan berjanji akan menjadi istri yang lebih menurut lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Raka belum ada tanda-tanda menunjukkan bahwa dia akan segera sampai di rumah dan Farah menunggu dengan keadaan gelisah sebab suaminya belum pulang dan saat dihubungi hp-nya sudah tidak aktif lagi.
"Ya Allah kemana hubby ya!"
__ADS_1
Farah merasa gelisah karena suaminya tidak bisa dihubungi apalagi jarum jam terus berputar dan hari sudah beranjak tengah malam.
Tetapi dia masih enggan untuk masuk ke dalam rumah karena dia meyakini bahwa suaminya pasti pulang dan dia tetap ingin berada di teras serta melupakan perut dan sejak tadi sudah berbunyi minta di isi.