
Farah yang sudah selesai masak sarapan langsung berjalan menuju kamar bersiap untuk mandi dan siap kerja.
Ya, dia meminta izin pada suaminya kerja di tempat yang sama dengan sahabatnya dan Raka mengizinkan...
Pintu Farah dorong pelan dan melangkah masuk, di lihatnya Raka masih berada di alam mimpi padahal alam nyata sudah ada bidadari yang melihat dia tidur.
"Masih tampan walau tidur gini," Farah hanya melihat Raka sekilas dan memberi kecupan singkat di pelipis Raka lalu masuk kamar mandi sambil membawa baju ganti.
Lima belas menit Farah keluar sudah rapi dan wangi.
Senyum nya mengembang saat melihat Raka sudah duduk di ranjang.
"Mandi dulu by biar segar,"
Farah menyiapkan baju Raka dan bersiap memoles wajah menggunakan make up sederhana.
Raka berjalan turun dari ranjang mengarah ke kursi yang Farah duduki dan meninggalkan kecupan di pucuk kepalanya istrinya tanpa bicara.
Raka tidak lama mandi hanya beberapa belas menit dan berjalan keluar sambil mengusap handuk di kepala mengeringkan rambut.
Raka segera memakai baju yang disiapkan Farah dan mematut penampilan, sekiranya sudah dirasa rapi, lalu.
"Ayok turun yang, aku udah lapar,"
Menggandeng Farah turun sambil menenteng tas kerja Farah di tangan kiri sedangkan tangan kanan menggenggam tangan Farah lembut.
Farah hanya menurut saja di genggam Raka dan mengulum senyum.
Suaminya makin hari makin romantis bagaimana tidak dia akan cepat mengambil keputusan dan melupakan masa lalu menyakitkan itu.
Cara Raka sangat mengesankan memperlakukan Farah.
"Silahkan by," Sampai di meja makan Farah mengambil sarapan untuk Raka lalu menaruh di depan suaminya.
"Makasih yang," Raka mulai setelah baca doa di ikuti Farah.
Mereka makan dengan tenang tanpa ada obrolan bukan berarti tidak boleh ngobrol sambil makan.
Selesai sarapan Farah membereskan piring kotor sisa sarapan dan di letakkan di wastafel agar bisa di cuci asisten rumah tangga nanti.
Raka melarang Farah melakukan itu selain masak sama mengurus kamar.
"Silahkan sayang," Raka membuka kan pintu mobil agar Farah bisa masuk tidak lupa meletakkan tangan di atas kepala Farah agar tidak kena pintu saat masuk.
"Makasih by," Senang Farah di perlakukan manis oleh Raka tidak bisa di elak dengan mudah malah Farah akan merasa mengganjal kalau Raka lupa atau sengaja tidak melakukan.
Sudah seperti keharusan setiap hari.
"Apa pun untuk mu sayang," Raka menutup pintu itu pelan lalu masuk duduk di belakang kemudi.
Raka melajukan mobil menuju tempat tujuan Farah yang sudah di beri tau semalam dan siap mengantar kesana.
"Nanti pulang jam berapa yang?" Tanya Raka di sela nyetir dan sebelah tangan menggenggam tangan Farah lembut.
"Seperti biasa by, hari ini aku nggak ada ke kantor udah ngasih tau juga kemarin," Farah akan menuntaskan urusan lapangan satu hari ini dan besok bisa merangkap hasil kerja hari ini.
Tidak mau sampai dua kali ke lapangan sebab Farah tidak suka kerja lelet atau berleha-leha.
"Nanti kabari kalau udah mau pulang," Tidak lama mobil yang di kendarai Raka sampai lokasi dan memberhentikan di dekat gerbang sana.
"Iya by pasti, aku kerja dulu by assalamu'alaikum," Mengulurkan tangan untuk menyalimi Raka dan di balas usapan di kepala Farah dengan lembut.
"Hati-hati kerja nya, wa'alaikumsalam," Farah mengangguk kepala tanda mengerti lalu keluar mobil dan melambaikan tangan mengiringi mobil Raka yang perlahan menjauh.
"Udah nggak keliatan kali Far, sampai segitunya melihat suami," Bisik seseorang tepat di telinga Farah pelan.
"Astaghfirullah," Farah mengusap dada tanda kaget dan melihat suara siapa itu.
"Ngagetin tau Via, kalau gue jantungan gimaan kasian suami gue jadi duda mana masih tampan gitu lagi," Dumel Farah pada sahabatnya Via yang ternyata berbisik di telinga dia.
Untung dia tidak punya riwayat sakit jantung jadi masih bisa bernafas lega.
"Sorry-sorry gue nggak tau kalau reaksi lo bakal gini.
Abisnya lo liat Raka gitu amat kan tiap hari bertemu bahkan tidur satu ranjang eh masalah ranjang kalian nggak pisahkan kayak di novel-novel gitu?" Ya walau Farah cerita tentang kehidupan tapi tidak sampai dalam kamar, hanya perlakuan Raka saja yang selalu manis tiap hari hingga membuat jiwa jomblo Via menjerit minta pasangan juga sama sang pencipta.
"Mana ada pisah ranjang, bukan cuma abang. hubby yang minta satu kamar tapi orang tua gue juga melarang pisah kamar katanya nggak baik demi perkembangan hubungan kita," Jelas Farah.
"Setuju gue sama mereka, nggak baik pisah ranjang dan kalau itu terjadi percuma kalian tinggal satu rumah bahkan udah nikah tapi seperti orang asing.
Eh udah malam pertama belum lo sama suami Berondong itu?" Kenapa jiwa kepo Via meronta sekarang dan menanyakan soal ranjang segala yang jadi privasi mereka.
"Ngapain lo nanya gitu Via? Itu urusan kita bukan konsumsi publik," Elak Farah yang tidak mau memberi tau Via, baginya itu bukan ranah Via untuk tau.
"Kalau di liat dari gelagat lo kayaknya belum kan? Udah tau gue mah," Tebak Via tepat sasaran dan memang benar sampai sekarang mereka belum malam pertama.
"Kenapa lo bisa tau?" Farah tidak bisa mengelak sebab memang belum.
Sebab sampai sekarang cuma urusan ranjang belum mereka lakukan dan juga Raka belum pernah meminta sama sekali, Farah juga terlihat tidak memperhatikan kebutuhan biologis suaminya atau sudah ada pembicaraan berdua hingga sekarang mereka sama-sama santai.
"Nah kan, parah lo Far nggak kasian sama suami lo nggak dapat haknya?" Ingin rasanya Via menggeplak kepala Farah menggunakan tas saking tidak mengerti.
Jadi selama dia hidup dan belajar tentang rumah tangga saat sekolah dia tidak menangkap penjelasan guru hingga tidak paham kebutuhan suami.
Via yang belum nikah saja sudah tau walau masih jomblo.
"Tapi dia nggak pernah minta makanya gue santai aja," Fikiran Farah menerawang saat bersama Raka yang tidak melewati batas saat menyentuh bahkan terkesan biasa.
"Dia nggak minta karena takut lo belum siap dodol.
Biar bagaimanapun suami lo lelaki normal dan butuh pelampiasan juga Far, jangan sampai dia jajan di luar ya sebab kalau udah sekali maka bakal keterusan walau di rumah juga dapat," Farah bungkam sama penuturan Via dan membenarkan ucapan Via yang benar juga.
Apa dia tidak peka sama keinginan suaminya atau Raka takut meminta dan di tolak.
Fikiran Farah berkelana mencerna ucapan Via dan membayangkan kalau Raka melakukan sama perempuan di luar sana maka Khira tidak siap akan hal itu.
__ADS_1
"Tapi nggak mungkin Hubby bakal gitu, suami gue sholeh ini," Elak Farah yang menutupi kemungkinan itu walau sebenarnya dia juga cemas.
Sebagai wanita dia mana mau berbagi suami sama perempuan lain bahkan tidak jelas juga.
"Lo jangan terlalu berpatok sama di depan mata aja Far, apa lo nggak liat berita yang mana siapa saja bisa melakukan itu mulai dari orang yang beragama biasa sampai agamanya tinggi itu tidak menutup kemungkinan.
Ingat sebelum terlambat lo harus mencegah," Via tidak ingin sahabat merasakan sakit hati ke dua kali seperti pernikahannya.
Cukup sekali dan jangan sampai terulang dengan kisah berbeda.
Rasanya pasti sangat menyakitkan dari kemarin, percayalah.
"Lo mau ngasih tau atau mau nakutin sih Via, gue jadi merinding gini," Tidak bisa di pungkiri oleh Farah kalau dia juga takut kalau kejadian seperti itu menimpa rumah tangganya dan tidak bisa di bayangkan akan sehancur apa dirinya.
"Bukan nakuti Far tapi menyadarkan lo sebelum terlambat,"
Sebagai sahabat harus bisa mengingatkan sebelum terjadi.
Membayangkan saja sudah bergidik gimana kalau beneran terjadi.
Maka rasanya seperti dunia ini akan hancur saja.
"Makasih Via lo udah ingatin gue, nanti gue coba di rumah tapi gue malu juga Via," Farah tidak pernah melakukan itu jadi wajar tapi kalau bukan dia yang mulai kasian suaminya harus terus menahan diri tidak meminta hak walau dia sudah berhak menyentuh Farah.
"Buang jauh jauh rasa malu lo, yang perlu lo ingat semua yang lo lakukan itu ibadah dan menyenangkan suami," Sudah jadi guru dadakan saja Via pagi ini.
Tapi setidaknya ini belum terlambat sebab usia pernikahan mereka baru sebulan lebih berbaikan jadi bisa di katakan masih hangat-hangatnya.
"Makasih Via lo udah ingatin gue, nanti bakal gue coba lo emang sahabat terbaik gue," Beruntung punya sahabat yang pengertian dan menyadarkan dia betapa pentingnya urusan ranjang dalam rumah tangga itu.
Farah memeluk erat Via karena senang.
Mulai sekarang dia akan bertekad lebih agresif sama Raka jika sedang berduaan.
Tidak bisa di pungkiri perlakuan manis Raka sudah mampu menumbuhkan rasa cinta semakin dalam dalam hati Farah secara setiap hari.
Farah tidak mau sampai kehilangan suami sebaik Raka dan sampai kapan pun tidak siap.
Raka cuma miliknya seorang.
💞💞💞
Bukan tanpa alasan Via mengatakan hal tersebut sebab segala kemungkinan bisa saja terjadi kapan saja dan dimana saja.
Seperti kejadian saat pernikahan Farah dan Raka yang sangat mendadak bahkan sempat sampai di ambang kehancuran.
Beruntung Farah mendapat suami yang baik, coba kalau yang urakan, suka main tangan, berkata kasar, suka main perempuan, suka minuman keras serta dunia malam maka akan semenyakitkan apa hidup yang bakal Farah lalui.
Maka bersyukurlah Farah jauh dari segala hal itu bahkan semua sifat Raka sangat baik.
Sejak mereka kecil dulu.
"Yuk langsung aja Far udah mau masuk jam kerja," Biar ini di luar kantor tetap saja mereka tidak boleh bermalasan karena tidak ada yang mengawasi bahkan terkesan bebas satu hari ini.
Sebenarnya ini hanya kali kedua mengambil survei lapangan karena teman satu divisi tidak ada yang bisa, alhasil mereka berdua yang turun tangan.
Hampir semua orang yang di temui di minta pendapat sebab makin banyak masukan maka semakin baik pula hasilnya.
Sikap yang ramah sangat di perlukan serta murah senyum.
"Capek juga ya Far?" Sekarang mereka lagi duduk di salah satu kursi yang di sediakan untuk umum.
Duduk di sana setelah membeli minuman serta cemilan.
Bentar lagi waktu istirahat maka tidak salah jika duluan istirahat hanya tinggal beberapa menit lagi.
"Tapi ini menyenangkan tau Via, kita bertemu banyak orang dan mendengar pendapat mereka tentang produk kita.
Ini suatu yang luar biasa," Farah senang berinteraksi sama orang banyak, ada kesenangan tersendiri dalam dirinya.
Farah yang hanya sendiri di rumah membuat dia banyak mengenal orang karena kesepian selama di rumah jadi saat berada di luar dia mencari kesibukan dengan berinteraksi sama orang lain.
"Cari makan yuk Far, udah lapar ini," Membereskan barang bawaan yang tidak banyak lalu mulai berjalan mencari tempat makan yang bisa mengisi perut karena sudah demo minta di isi.
Berjalan menyusuri tempat ramai dan banyak menemui jejeran pedagang menjual beraneka ragam jenis makan yang bisa menggugah selera.
"Makan apa ya enaknya Via, semua tampak enak," Melihat jejeran makanan serta aroma yang menggiurkan seolah memanggil untuk di cicipi semua.
"Itu ada jual ayam geprek, kayaknya enak Far cobain yuk," Menunjuk penjual ayam geprek di antara pedagang lainnya.
"Ayo Via, tampaknya sangat menggiurkan" Farah setuju saja sebab keliatannya enak di tambah saat melihat spanduk dengan gambar ayam goreng yang di geprek sama sambel sampai tumpah.
"Biar gue yang pesan lo duduk aja," Farah mencari tempat kosong dan Via yang memesan makanan.
Memang seperti itu jika makan bersama, gantian yang memesan.
Sebagian tempat yang tersedia sudah hampir penuh sebab ini sudah jam makan siang jadi wajar banyak orang yang datang.
Setelah mendapat pesanan Via mendatangi Farah yang lagi memegang ponsel sambil berbalas pesan sama seseorang siapa lagi kalau bukan sama suaminya Raka.
"Makasih Via," Mengambil makanan dan menyimpan hp lalu makan setelah berdoa.
Makan dengan tenang tanpa ada di selingi obrolan selama makan.
"Sumpah ini enak banget Far," Puji Via setelah makanan habis dan meneguk es jeruk yang di pesan tadi.
"Iya Via, nggak nyangka ya bisa seenaknya ini," Tambah Farah yang merasa makanan ini sungguh enak.
Selesai makan dan membayar mereka berdua melanjutkan kerjaan yang tinggal dikit lagi.
Ingin segera menyelesaikan agar cepat pulang dan istirahat.
Meski kerja tidak di awasi tetap profesional kerja itu harus dan ingat waktu.
"Alhamdulillah selesai juga," Meregangkan otot setelah semuanya selesai dan sekarang baru jam tiga sore sebentar lagi masuk waktu shalat ashar.
__ADS_1
"Hah lega Far nggak nyangka walau capek tapi udah selesai jadi bisa istirahat sebelum pulang," Masih ada satu setengah jam untuk pulang dan ini kerjaan mereka sudah selesai.
Suatu kebanggaan kalau survei gini.
"Farah" Panggil suara seseorang dari arah depan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.
Yang di panggil hanya diam saja tanpa menjawab.
"Kamu ngapain di sini kan udah aku bilang nggak usah kerja lagi," Farah masih bungkam tidak mau buka suara.
"Maaf anda siapa ya?" Tanya Farah setelah beberapa saat diam.
"Jangan pura pura lupa, aku masih sama dengan perasaan yang sama juga," Ingin Farah berteriak sekuatnya dan bilang'siapa tunangan kamu hah kalau mimpi jangan sore sore gini' tapi di urungkan takut hanya buang tenaga.
"Maaf saya udah punya suami," Jawab Farah santai dan melupakan sosok yang lagi bicara sama dia adalah mantan bosnya yang sampai sekarang masih mengejar Farah dan masih berharap jika Farah memberikan kesempatan agar mereka bisa bersama padahal sudah di jelaskan jika Farah sudah memiliki suami.
Tapi salah Farah juga yang dulu memberi kesempatan dan sekarang dia menyesal.
Dia adalah Alex panggilan nya.
Umurnya tiga tahun di atas Farah. yang di torehkan begitu dalam.
"Kamu nggak bisa ngelak sayang aku masih suka kamu," Kekeh dia yang menganggap hubungan di antara mereka belum selesai setelah apa yang di lakukan sama Farah.
"Semua ngga pernah di mulai dan nggak ada yang perlu di bicarakan lagi jadi saya minta pergi sekarang dari sini," Farah tidak mau membahas masa lalu lagi, baginya jika di ingat hanya akan menoreh luka baru dan luka lama akan kembali berdarah.
"Nggak Farah hubungan kita masih bisa di lanjutkan dan kita bisa merajut kisah yang manis,"
Mau orang ini apa sih sebenernya.
Andai waktu itu dia minta di tunda mungkin Farah akan menerima dan mau menunggu tapi ini kejadiannya beda lagi dan tidak bisa di toleransi sedikit pun.
"Yang pertama saya mau tegaskan jangan panggil saya lagi, ke-dua hubungan kita udah berakhir sejak hari itu, ke tiga saya sudah menikah dan terakhir jangan pernah ganggu saya lagi,"
Tegas Farah pada masa lalunya yang datang di saat dia sudah bahagia sama kehidupan sekarang.
Semua yang Khira gunakan ini membuat dia nyaman dan menjaga asetnya hanya untuk suaminya saja.
Dari ucapan dia yang tidak suka Farah memakai pakaian seperti ini sudah menunjukkan kalau dia memang tidak pantas buat Farah dan tuhan menunjukkan jalan yang baik.
"Ini hidup saya dan apa urusannya sama anda," Farah mengambil hp lalu mengirim pesan pada Raka kalau dia sudah mau pulang.
Dia tidak mau lebih lama lagi mendebatkan hal yang tidak penting sama sekali.
Ini hidup dia kenapa malah mantannya ini yang mengatur.
Kalau dulu iya mungkin Farah ikuti tapi kalau sekarang perintah yang menjadi kewajiban di patuhi paling utama adalah suaminya bukan mantan calon gebetan.
"Nggak sampai kapan pun kamu tetap orang terkasih aku dan tunggu aku akan nikahin kamu nanti.
Satu lagi jangan pakai pakaian seperti ini aku nggak suka, aku pergi dulu sebab masih ada kerjaan yang belum selesai,"
Setelah itu Alex pergi dari hadapan Farah dan Via.
Farah tidak menjawab hanya buang muka saja.
Muak sama Alex yang dengan tidak tau malunya datang mengungkit hubungan yang sudah lama tidak pernah di mulai.
Via merangkul bahu Farah dia tau sahabat nya itu tidak sekuat itu juga.
Pasti merasa sedih saat kehidupan tenang nya di hantui sama masa lalu.
Bukan perkara mudah harus melalui hari hari berat dan setelah semua tenang kenapa harus seperti ini lagi.
"Gue tau lo kuat Far, percayalah jangan pernah goyah ingat lo udah dapat ganti lebih dari dia. Kalau mau nangis gue siap jadi sandaran lo kok," Farah merebah kan kepala di bahu Via.
Untung ada Via di samping nya kalau tidak pada siapa dia akan bersandar di saat suaminya jauh.
"Siapa yang mau nangis sih Vi, gue cuma nggak nyangka dia datang di saat gue lagi bahagia sama pernikahan gue sekarang dan apa an dia melarang gue pakai gamis gini kalau kata suami gue aja cantik di tambah keluarga mertua gue semua juga gini.
Orang bodoh mana yang mau menuruti perkataan setan," Rasa sedih di hari tentu pasti ada namun bukan waktunya lagi Farah menangisi semua ini.
Raka selalu mengawasi gerak gerik Farah selama ini tanpa gadis itu tau yang beranggapan kalau dia bersedih tidak ketahuan dan dia tidak tau kalau di rumah ada cctv yang selalu Raka pantau terutama kalau Farah lagi di rumah.
"Ini baru sahabat gue, lupakan masa lalu dan tata masa depan lo udah ada di depan mata.
Tapi kalau punya suami kayak Raka kayaknya gue juga mau Far," Atensi Via mengalihkan fikiran Farah agar melupakan pertemuan nya sama mantan bosnya barusan..
Fokus kita tidak perlu pada satu kejadian atau mengingat masa lalu.
Masa lalu jadikan spion buat kita agar bisa memperbaiki diri lagi.
"Lo kita gue minta reques gitu nikah sama kejadian itu semua udah ada yang atur Via, tapi dari semua kejadian gue nggak ada menyesal sama sekali nikah sama abang karena sejak dulu gue udah berprinsip nggak akan pernah larut dalam satu masalah atau kejadian.
Papa sama mama juga udah menasehati kalau gue harus ikhlas menerima semua ini.
Dan gue bahagia memiliki kehidupan sekarang.
Dan untuk lo yang mau nikah sama kayak gue juga usaha sendiri ok,"
Farah tidak terlalu gitu merasa sakit saat berjumpa barusan dan dia percaya kalau hubungan nya sama Raka akan baik baik saja selama masih ada satu sama lain.
Juga setelah sampai rumah nanti Farah bakal ceritain juga apa kegiatan selama satu hari tanpa Raka.
Komunikasi yang sangat baik di dalam hubungan mereka agar tidak ada salah paham atau kesalahan informasi.
"Kenalin sama teman Raka kan bisa Far, masa lo tega sama sahabat sendiri," Keluh Via yang udah bosan sendiri sajak putus satu tahun lebih ini dan memilih sendiri namun melihat Farah yang bahagia sama kehidupan sekarang Via juga ingin memiliki orang yang menyayangi dia dengan tulus.
"Jodoh di tangan Tuhan Via, nggak perlu ngebet gitu minta di kenalin.
Mungkin jodoh lo masih nyasar sama hati lain, sabar ya.
Yuk shalat dulu," Adzan sudah berkumandang di salah satu masjid dekat sana.
Kedua perempuan cantik itu memutuskan untuk melaksanakan shalat ashar dulu sebelum pulang ke rumah.
__ADS_1
Farah mengirimkan Raka pesan lagi kalau dia mau shalat dulu dan menyuruh menunggu dekat dia duduk tadi yang letaknya tidak jauh dari masjid.