BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Rencana Kencan


__ADS_3

"Abang kok jelek sekarang," Rasya memang tidak pergi ke toko lantaran dilarang oleh istrinya jadi seharian ini dia hanya menemani istrinya yang sedang malas-malasan bahkan sudah siang seperti ini masih berbaring di atas ranjang dengan menggunakan piyama tidurnya.


"Jelek dari mana? Ganteng gini kok," Rasya tidak terima dikatakan jelek sebab semua itu adalah fitnah yang tidak memiliki bukti sama sekali.


"Kayaknya mata kamu bermasalah deh sayang," tambah Rasya lagi.


"Pokoknya abang jelek, hhuuaaa," Riska bahkan sampai menangis lantaran Rasya membantah ucapannya.


"Abang jelek, abang jahat," Riska masih menangis yang malah membuat Rasya heran sama istri kecilnya ini.


Rasya kebingungan melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba saja berubah padahal beberapa saat yang lalu masih baik-baik saja dan masih normal-normal saja.


Bagaimana bisa dia yang sudah tampan dari lahir ini dikatakan jelek, apakah perlu dibawa istrinya ini ke dokter mata dan diperiksa bahwa ketampanan Rasya justru bertambah setiap hari bukan berkurang.


"Iya sayang iya, abang jelek sekarang diam ya," Rasya tidak mau jika ada yang mendengar istrinya menangis dan malah disangka dia tengah melakukan KDRT.


Jangankan melakukan kekerasan meninggikan suara di depan istrinya pun Rasya tidak pernah melakukan sekalipun sebab dia sangat menghargai istri baik mental ataupun perasaannya.


Lagi pun dia menikahi Riska untuk dibahagiakan bukan untuk dibuat sedih.


"Bang mau ke rumah mommy," Riska menghentikan tangisnya lalu tiba-tiba dia ingin pergi ke rumah orang tua.


"Kan baru kemarin kita dari rumah mommy," baru dua hari yang lewat mereka pulang dan menginap juga di sana lalu sekarang malah minta kembali lagi.


"Jadi abang ngga mau gitu? Ya udah Riris pergi sendiri aja.


Ternyata benar laki-laki itu manisnya cuma di awal," Riska bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar.


"Sayang tunggu hei," Rasya tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam kepala istrinya.

__ADS_1


Sejak kepulangan mereka dari rumah orang tua Riska sifat istrinya itu sudah seperti ini yang memiliki mood sering berubah-ubah walaupun tanpa alasan yang jelas.


"Tuhan, istri cantik hamba ini kenapa ya?" Rasya segera menyusul sebelum istrinya pergi sendiri karena dia tidak ingin kejadian waktu itu terulang kembali yang mana Riska berani pergi sendiri tanpa meminta izin.


"Sayang ngapain ngemasin baju?" Rasya melotot saat sampai di kamar mendapati istrinya sedang memasukkan baju ke dalam koper.


"Mau ke rumah mommy, Abang kan nggak mau antar biar Riris pergi sendiri sama mobil besok ke toko jalan kaki aja," Riska menjawab tanpa melihat ke arah suaminya dan terus melakukan kegiatan memasukkan baju ke dalam koper.


Dia sendiri tidak tahu entah kenapa moodnya gampang berubah seperti ini tetapi untuk menahan diri tidak melakukan sesuai keinginannya tidak bisa seperti ada dorongan dari dalam untuk memenuhi keinginannya.


"Ok sayang biar abang antar jangan pergi sendiri," putus Rasya.


Lebih baik Rasya mengalah daripada urusannya semakin panjang apalagi ini hanya ingin pergi ke rumah orang tuanya.


Rasya tersadar bahwa istrinya ini masih kecil dan masih dalam berada dalam fase lagi manja pada orang tua.


Apalagi saat itu menikah di usia sekolah dan sangat mendadak juga jadi Rasya tidak ingin bersikap keras kepada istrinya yang akan melukai perasaan wanita cantik itu.


**Perasaan gue nggak ada nolak deh tadi! Kenapa malah ngatain ngga mau. Istri siapa sih ini?**


Rasya juga menyiapkan beberapa bajunya yang akan ikut serta di bawah karena dia tidak ingin membiarkan istrinya menginap sendirian dan apalagi alasan utamanya adalah Rasya yang tidak bisa tidur sendiri tanpa memeluk tubuh mungil itu ataupun tidak bisa tidur nyenyak jika belum melakukan olahraga malam.


"Ayo bang ntar ke buru sore," Riska merasa jika gerakan suaminya itu lambat atau justru dia merasa jika suaminya sengaja memelankan aktivitasnya untuk mengulur waktu atau malah sengaja agar istrinya berubah pikiran.


"Iya sayang, ini udah selesai," mereka hanya membawa satu koper saja yang menampung kedua bajunya karena tidak ingin ribet apalagi sebenarnya baju Riska di kediaman orang tuanya masih banyak.


Tapi tetap saja dia membawa baju ganti atau setidaknya daleman yang wajib diganti saat mandi.


\=\=\=\=

__ADS_1


"Sekarang kita kencan seharian ini," setelah menghabiskan makan siang nya pasangan yang baru akur itu berencana untuk pergi kencan pertama setelah sekian lama menjalani hubungan.


"Iya," Farah hanya menjawab sih adanya apalagi dia sedang berpikir panggilan sayang apa yang cocok diberikan untuk suaminya.


Raka mengajak Farah menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal di dalam kota apalagi di sana menjual berbagai macam kebutuhan apalagi kebutuhan wanita yang paling lengkap yang siap memanjakan setiap pengunjung ditambah dengan harga yang membuat geleng-geleng kepala.


"Masih sakit ngga perutnya?" Raka ingin tahu tentang kondisi perut Farah setelah bekas operasi.


Apalagi Raka memang sesekali merasakan nyeri di bekas jahitannya tetapi dia masih bisa menahan tetapi dia mencemaskan keadaan istrinya yang mungkin saja berpura-pura kuat di depannya.


"Cuma sedikit nyeri kok bang," Farah menjawab jujur karena tidak ingin membuat suaminya sedih.


Apalagi sekarang mereka sama-sama merasakan sakit bekas operasi jadi sudah tahu walaupun tanpa harus dijelaskan.


"Mau tinggal di mana setelah ini?" Raka ingin memastikan kenyamanan istrinya tinggal dan akan menuruti asap mereka tetap bersama.


"Aku ingin suasana baru bang," Farah ingin tempat yang baru untuk hubungan yang baru ini dan tidak ingin tinggal di apartemen lama yang hanya mengingatkan dia tentang kesalahan selama ini terhadap suaminya.


Jadi lebih baik memilih tinggal di tempat baru dengan menjalani hari-hari baru bersama.


"Baiklah, berarti kita pindah ke rumah kita aja," mereka memang sudah menyiapkan rumah masa depan untuk mereka tinggali hanya sekaranglah waktu yang tepat.


"Rumah kita!" Beo Farah.


Karena dia memang tidak mengetahui jika suaminya memiliki rumah pribadi sebab dia hanya tahu jika Raka hanya memiliki unit apartemen saja.


"Iya rumah kita, sebenarnya rumah itu sudah lama ada hanya saja butuh beberapa sudut yang harus direnovasi," Farah terharu mendengar ucapan suaminya karena tidak menyangka sudah menyiapkan semua ini tanpa dia ketahui dan dia sangat bahagia seharian ini banyak mendapatkan kejutan yang membuat rasa cinta di hatinya semakin tumbuh tinggi.


Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Raka sampai di tempat tujuan dan tanpa ragu Raka menggandeng Farah memasuki mall itu.

__ADS_1


**Pegangin ya bang, ntar aku terbang karena saking bahagianya**


__ADS_2