BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Aduh Otak Ini


__ADS_3

"Udah jangan nangis lagi nanti cantiknya Abang hilang," wajah Farah bertemu merah mendengar pujian dari suaminya lalu Raka mengusap air mata yang menetes di pipi istrinya.


"Cukup hari ini menangis," dada keduanya sama-sama lega karena sudah bisa mengungkapkan perasaan satu sama lain dan juga tidak ada lagi mereka yang saling menjauh apalagi hubungan mereka akan dimulai dari awal dengan cara yang baik serta saling menerima tidak seperti di awal-awal pernikahan.


"Ke kamar yuk,"


"Eh,"


Farah kaget mendengar ajakan Raka yang mana mengatakan untuk pergi bersama ke dalam kamar.


Apakah laki-laki itu lupa jika mereka baru saja perbaikan dan sekarang sudah mengajak ngamar saja.


Tetapi sebenarnya tidak ada yang salah sama ajakan Raka hanya saja kosakata yang digunakan terlalu ambigu untuk dijelaskan.


"Ayo ke kamar," nah kan ajakannya sama saja tidak dijelaskan mau ngapain pergi ke kamar apa lagi ini masih siang hari.


Raka yang tersadar dari kalimat yang diucapkannya mengulum senyum melihat wajah kaget dari istri tercintanya.


**Pasti dia mikir yang bukan bukan!**


Note: bukan hanya Farah loh Rak yang mikir kejauhan author juga sebenarnya 😂.


"Maksud abang itu ayo ke kamar bersih-bersih, nggak lihat keadaan kamu begitu kacau setelah menangis jadi lebih baik ke kamar untuk mandi lalu kita pergi makan siang," Farah bernafas legw setelah mengetahui maksud dari ucapan dari suaminya barusan.


Bukannya apa-apa ya, Farah sudah berpikir jika suaminya sudah meminta haknya di saat mereka baru berbaikan bahkan belum genap satu jam.


Bukannya tidak mau ataupun belum siap hanya saja waktunya yang belum tepat.

__ADS_1


"Maaf," menyesali pikirannya sendiri yang berpikir terlalu jauh tetapi sebagai perempuan dewasa Farah sudah berkelana angannya apalagi yang mengajak adalah suami sendiri.


"Jangan berpikir terlalu jauh jika tiba saatnya kamu nggak perlu memikirkan tetapi mengatakan," lantaran tidak mau malu lebih lama lagi Farah berjalan menuju kamar yang ditunjuk oleh Raka yang merupakan kamar Farah tempati dulu saat masih tinggal bersama.


Di dalam kamar...


"Eh tapi kan nggak ada baju tidur," Farah baru ingat jika dia tidak memiliki baju ganti apalagi saat pergi dulu Raka memasukkan semua bajunya ke dalam koper.


"Coba lihat ke dalam lemari siapa tahu ada baju abang yang bisa digunakan," sebenarnya Farah agak berat jika menggunakan baju Raka sebagai ganti tetapi semua itu tidak ada yang salah apalagi hubungan mereka sudah berbaikan jadi jika diterkam oleh Raka kapanpun itu Farah sudah siap lahir batin.


"Kok," Farah kaget saat membuka pintu lemari ternyata bukan baju laki-laki yang ditemukan melainkan baju perempuan lengkap sampai kedalamannya yang ternyata masih baru memenuhi satu lemari itu.


"Ada yang nggak beres ini," Farah mengambil asal baju yang ada di dalam lemari lalu berjalan keluar karena dia penasaran kenapa ada baju perempuan di apartemen milik suaminya.


"Abang ini baju siapa?" Walaupun Farah lagi di landa cemburu tetapi dia harus bisa mengontrol emosi dan tidak ingin memperburuk hubungan yang baru perbaikan ini.


"Baju kamu lah, kan istri abang baru satu," balas Raka dengan santai karena memang dia sengaja membeli semua keperluan istrinya jauh-jauh hari bahkan beberapa hari setelah dia mengantarkan Farah ke rumah orang tuanya.


"Itu memang bukan baju kamu yang tertinggal melainkan Abang sengaja membelikan baju itu karena Abang sudah tahu bahwa kamu akan kembali lagi ke sini jadi segera mandi sebelum abang mandi kan," Farah berbalik ke dalam kamar dengan wajah memerahnya apalagi mendengar kata terakhir yang digunakan oleh suaminya.


Suaminya mengatakan bahwa sudah mengetahui bahwa dia akan kembali ke apartemen ini sehingga sengaja mempersiapkan semua kebutuhan dia.


Tunggu...


"Bagaimana abang tahu jika aku akan kembali ke sini?" Bahkan Farah saja belum bisa membahayakan atau lebih tepatnya tidak menyangka saja bahwa dia mendapatkan banyak kejutan hari ini.


"Kamu pikir abang akan melepaskanmu begitu saja oh tentu saja tidak. Apa yang sudah menjadi milik abang dari awal maka selamanya akan tetap menjadi milik abang," karena tidak kuat lagi mendengar kata-kata manis yang dilontarkan oleh Raka Farah segera memasuki kamar lalu memilih untuk mandi daripada bertanya lagi yang hanya akan membuat jantungnya kocar-kacir karena berdetak terlalu kencang.

__ADS_1


Baru beberapa saat saja mereka berbaikan tetapi mulut suaminya begitu manis bagaikan disiramkan air gula ditambah madu manisnya bikin diabetes.


"Menggemaskan sekali," melihat Farah yang sudah memasuki kamar untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai sebab dia berencana ingin menghabiskan waktu seharian ini bersama istrinya.


Kenapa Raka mengatakan kalimat tadi karena dia memang dia sedari awal tidak ada niat untuk melepaskan istrinya, Raka hanya memberikan Farah sedikit pelajaran agar menyadari bahwa pernikahan mereka bukanlah hal yang patut dia benci.


Sskkiippp...


"Kita mau kemana?" Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang dikemudikan oleh Raka.


"Makan siang, kamu nggak liat jam?" Padahal ini sudah waktunya jam makan siang jadi wajar apalagi tadi Raka sudah mengatakan apa mungkin gadis ini lupa? Tapi bisa jadi juga apalagi sekarang hatinya sedang berbunga-bunga jadi hanya memikirkan suami tampannya saja.


"Oh iya aku lupa," Farah tertawa pelan karena kebodohannya apa karena dia sekarang bersama suaminya sehingga rasa lapar itu tidak terasa dan hanya buncahan kebahagiaan yang memenuhi rongga dadanya.


"Beruntung kamu nggak pernah melupakan rasa cinta kepada abang,"


"Jangan bahas itu lagi," Farah malu jika harus mengungkit itu lagi apalagi selama ini dia sok-sokan membenci suaminya padahal rasa cinta itu tidak pernah berkurang sedikitpun hanya membangun tembok benci yang sayang tembok itu justru transparan.


Sampai di sebuah restoran...


"Ayo," Raka membukakan pintu untuk Farah lalu mereka berjalan bergandengan tangan menuju meja yang sebelumnya sudah dipesan oleh laki-laki itu.


Sambil melangkah Farah melihat tangannya yang sedang digandeng atau lebih tepatnya digenggam oleh tangan itu.


Kedua pipi Farah menghangat dan dadanya berdebar sebab dia tidak menyangka bahwa sekarang dia bisa merasakan masa-masa indah bersama orang tercintanya.


**Semoga saja Ini bukan mimpi dan saat terbangun nanti kami masih bersama selamanya**

__ADS_1


Ternyata Farah tidak salah mengambil keputusan hari ini untuk menyusul Raka bahkan harus rela mengejar waktu menyusul suaminya yang pergi ke rumah sakit jika yang didapatkan hasil yang begitu manis.


"Farah kamu di sini? Jika jodoh ngga kemana ya?"


__ADS_2