BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Morotin Raka


__ADS_3

"Abang sibuk?" Pintu ruangan Raka terbuka dan menampilkan wajah cantik adik satu-satunya.


Raka melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan dia dapat melihat Jika waktu masih menunjukkan pukul 09.00 pagi.


**Tumben nih bocil datang? Nggak lagi kabur dari suami nya kan?**


Seperti kejadian yang sudah-sudah adiknya itu datang ke kantor tanpa sepengetahuan suaminya.


"Sibuk banget, banget malahan," Raka merasakan firasat yang kurang enak jadi dia menjawab seperti itu dan berharap bahwa adiknya itu tidak membuat dirinya repot apalagi sejak mengetahui dia bakalan memiliki keponakan dan sudah mengerti dan paham bahwa ibu hamil itu sikapnya sangat menyebalkan.


"Penting banget ya?" Riska duduk di depan Raka yang hanya berbatasan meja lalu memperhatikan wajah tampan itu yang fokus kepada layar datar yang hidup di depannya.


"Iya penting banget," bukan maksud hati ini menolak ataupun tidak ingin mengabulkan permintaan ibu hamil ini hanya saja Raka merasa perasaan yang tidak enak dan lebih memilih mencari aman daripada dikerjain satu hari ini.


Raka sudah mendengar cerita bagaimana menyebalkannya Riska selama mengidam dan Raka tidak ingin menjadi korban yang selanjutnya.


"Lebih penting berkas atau Riris?" Raka menghela nafas dengan pelan lalu menatap wajah cantik itu dengan lembut.


"Ini duitnya banyak loh," menunjuk berkas-berkas yang sedang Raka tandatangani setelah menyelesaikan pekerjaannya di laptop.


"Tapi kebahagiaan nggak bisa di ukur dengan uang bang," pintar sekali adiknya ini menjawab dan sudah seperti orang yang berpengalaman saja dalam bidang, fikir Raka.


"Memang benar kebahagiaan nggak bisa diukur dengan uang tetapi kita sudah memiliki masing-masing sumber kebahagiaan dan cukup manfaatkan itu saja," secara tidak langsung Raka menyindir adiknya.


Karena tadi sebelum Riska masuk ke dalam ruangannya Raka sudah mendapatkan pesan dari sahabat sekaligus adik iparnya.


Bahwa Riska akan datang dan ingin meminta sesuatu dari abangnya itu tetapi karena tahu adiknya itu sedang mengidam membuat Raka mencari alasan karena lebih baik dia berjibaku bersama berkas daripada menahan kesabaran dengan tingkah menyebalkan ibu hamil itu.


"Abang mulai nggak asik, Abang nggak sayang lagi sama Riris," mata indah itu sudah berkaca-kaca lantaran Riska menyadari bahwa sang abang sudah mengetahui niat dia datang ke sana.


Riska merebahkan kepalanya di atas meja dengan mata yang sudah berkaca-kaca serta siap untuk menumpahkan cairan beningnya.


**Pinter banget nih anak cari muka kan gue jadi nggak tega**


Raka merapikan berkas yang belum selesai dia tandatangani lalu menoleh kepada istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.


Farah memang ikut Raka ke kantor atas permintaan gadis itu dan Raka juga tidak menolak asalkan tidak meminta bekerja lagi apalagi di tempat lain.

__ADS_1


"Riris kenapa?" Farah mendekati adik iparnya itu lalu duduk di sebelahnya.


"Abang nggak sayang lagi sama Riris," Farah mengalihkan pandangan kepada suaminya seolah-olah seperti meminta jawaban.


Tetapi Raka memilih cuek karena tahu itu hanyalah drama yang sedang dimainkan oleh ibu hamil itu.


"Kenapa Abang nggak sayang lagi sama Riris? Atau Riris mau apa biar kakak kabulkan," Farah memang menyambut dengan baik kabar kebahagiaan tentang kehamilan Riska walaupun di dalam hatinya dia juga ingin berada di posisi itu tetapi dia harus bersabar karena proses itu masih panjang apalagi mereka belum pernah melakukan malam pertama.


Kadang dia menangis dalam diam menyesali perbuatannya dulu dan seandainya jika hubungan mau dia terima sejak awal mungkin sekarang anak mereka sudah lahir mengingat pernikahan mereka sudah lebih dari satu tahun.


"Beneran kak?" Riska mengangkat kepalanya dan meminta kepastian atas ucapan Farah barusan.


"Iya beneran, sekarang bilang Riris mau apa?" Mana tega Farah Melihat adik iparnya itu menangis apalagi mereka sudah dekat sejak kecil.


"Riris mau jalan seharian sama abang, tapi kayaknya abang sibuk ya," Riska mengungkapkan keinginan dia yang ingin sehari bersama-sama Abang.


Farah melihat ke arah Raka yang mana laki-laki itu juga melihat ke arah istrinya.


"Sayang aku sibuk hari ini," Raka ngeri-ngeri sedap membayangkan jika harus seharian bersama adiknya.


"Apakah pekerjaan itu lebih penting?" Bahkan Farah sudah berani menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Nggak sayang," entah mengapa semenjak mereka berbaikan Raka lebih semakin menurut kepada istrinya bahkan membantah pun dia tidak berani.


Tetapi dia bukan takut kepada istrinya hanya saja tidak ingin membuat sedih ataupun kecewa atas sikap Raka jadi lebih baik lelaki itu menurut selama itu baik.


"Ya udah kita pergi, aku juga udah lama nggak pergi bareng sama Riris," sepertinya Farah dan Riska sekarang sedang bekerja sama sehingga sama-sama ingin pergi padahal mereka tahu jika sekarang masih jam kantor dan tidak mungkin untuk ditinggalkan pekerjaan yang ada.


"Terus bagaimana pekerjaan Abang? Ini berkas masih banyak yang belum ditandatangani," menunjuk pada berkas yang menumpuk di atas meja.


"Meninggalkan itu satu hari nggak akan membuat Abang bangkrut," jika sudah seperti ini maka Raka tidak memiliki alasan lagi untuk menolak.


"Baiklah, hari ini kalian bebas jadikan abang babu. Udah puas lo bocil," Raka membuka jas yang dia gunakan lalu disampirkan pada sandaran kursi.


Langkah-langkah kaki laki-laki itu mengikuti dua orang yang berjalan duluan di depannya.


Dia sengaja berjalan di belakang seperti bodyguard karena ingin melindungi dan juga sengaja meninggalkan jas agar tidak tampak formal.

__ADS_1


Di dalam mobil...


"Jalan pak supir," mereka berdua duduk di belakang dan membiarkan Raka menyetir sendirian di depan.


Bahkan Riska menepuk pundak Raka seperti seorang penumpang kepada sopir taksi online.


"Memang benar-benar jadikan abang babu," tapi walaupun demikian Raka tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Selama mobil melaju keduanya asyik berbicara dan mengabaikan keberadaan Raka.


**Tampan gini di jadikan supir, ada ya yang berani menjadikan seorang CEO sebagai supir**


Sampai di pusat perbelanjaan posisi berjalan mereka masih seperti tadi dengan Raka yang mengikuti dari belakang.


Hal pertama yang dilakukan oleh Riska adalah pergi mengisi perut walaupun ini belum memasuki jam makan siang.


Dia berkata sudah lapar dan anaknya butuh makanan jadi sebagai uncle yang baik harakat mengajak keduanya pergi makan dan lebih tepatnya cuma satu orang yang makan.


Raka dan Farah hanya menyemil sambil menunggu Riska selesai makan.


Setelah menghabiskan makanan dan dibayar ibu hamil itu mengajak pergi menonton bioskop.


Sejauh ini permintaan Riska masih tergolong wajar tapi tidak tahu nanti bisa saja permintaan ibu hamil itu malah menguras kesabaran


"Kayaknya keponakan abang butuh baju baru deh," selesai menonton Riska mengatakan keinginannya dengan alasan sang anak yang menginginkan baju baru padahal calon jabang bayi itu masih kecil bahkan perut Riska saja baru sedikit yang kelihatan menonjol.


"Suami lo nggak jualan baju lagi hingga minta ke gue?" Bukannya Raka pelit hanya saja terasa heran jika istri seorang pengusaha toko baju malah meminta pemilikan baju.


Apalagi toko yang dimiliki oleh suami Riska itu sudah terkenal di kota bahkan Rasya sudah berani membuka beberapa cabang di luar kota itu pun atas persetujuan istrinya.


"Lo doain suami gue bangkrut dong, pengen coba aja baju yang dari Abang sama nggak rasanya sama baju punya suami Riska," Raka mendengus kesal mendengar jawaban adiknya itu.


Jika baju pasti saja rasanya sama tidak ada yang beda jadi tidak perlu mencari alasan jika hanya ingin minta dibelikan baju.


Akhirnya Raka mengajak Riska ke toko baju yang terkenal di pusat perbelanjaan itu dan tidak lupa dia menyuruh sang istri untuk membeli keperluannya juga.


"Ayo kak kita kuras ATM abang," Farah hanya mengikut saja saat ditarik oleh Riska karena dia tidak ada niat untuk berbelanja dan hanya ingin menemani adik iparnya itu saja.

__ADS_1


Lagi pula baju yang sempat dia beli bersama Raka waktu itu saja masih banyak yang belum digunakan jadi akan buang-buang uang saja untuk belanja lagi.


__ADS_2