BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 108


__ADS_3

"Bagus dong kalau hanya disuruh di rumah saja, bahkan banyak perempuan di luar sana hanya ingin fokus pada keluarga kecil mereka tetapi kenapa lo malah menolak?


Apalagi ini untuk kebaikan kalian berdua dan apa lo tidak ingin menebus kesalahan satu tahun yang lalu yang telah menyakiti suami lo dengan sengaja dan sekarang lo tidak ingin menebus kesalahan itu dengan cara mengikuti keinginannya,"


"Mungkin kalau gue yang sebagai suami tidak mungkin mau memaafkan lo dan lebih baik mencari perempuan lain.


Tapi karena cintanya untuk lo dia masih mau memaafkan dan memberi kesempatan tapi saat dia meminta hal kecil dari lo aja lo masih bisa menolaknya.


Dan berdoa saja semoga suami lo nggak bertemu sama perempuan yang mau menurut sama keinginan dia.


Dan jika sampai hal itu terjadi Jangan pernah salahkan dia karena setiap suami itu pasti menginginkan buah cinta di antara mereka dan gua rasa itu bukan suatu hal yang sulit untuk lo lakukan,"


Via bicara panjang lebar untuk menyadarkan sahabat nya itu, bahwa menurut pada ucapan suami tidak akan membuat kita rugi apa lagi yang di suruh adalah hal baik.


Kita boleh membantah jika itu bertentangan dengan ajaran, sedangkan yang di minta sama Raka hanya ingin istrinya di rumah dan fokus melakukan program hamil.


Mengingat usia pernikahan mereka yang sudah mau memasuki angka dua tahun dan jika di hitung pada usia pernikahan pada umumnya maka mereka sudah memiliki anak dengan usia hampir satu tahun.


Farah, perempuan itu termenung memikirkan ucapan sahabatnya dan dia tersentil dan membayangkan jika Raka jalan dengan perempuan lain dan lebih memanjakan perempuan itu.


Baru membayangkan saja Farah sudah tidak sanggup apa lagi harus sampai terjadi, entah akan seperti apa perasaan Farah, tapi yang jelas pasti hancur melihat laki-laki yang kita cintai bersama perempuan lain.


Farah bergidik ngeri membayangkan itu.


"Ih lo menakuti aja tau,"


Farah mencoba untuk menenangkan diri walau sebenarnya dia juga cemas.


Apa lagi suaminya itu paket komplit udah seperti nasi Padang.


"Siapa yang menakuti lo sih Fa, memang kenyataannya seperti itu ya.


Laki-laki sebaik apa pun tetap akan bucin pada perempuan yang menurut sama dia.


Ya, walau gue masih jomblo tapi secara logika semua itu benar apa yang gue bilang.


Lo fikir menikah untuk lo berdua aja? Nggak Fafa sayang apalagi bang Raka yang seorang pengusaha sudah pasti membutuhkan pewaris.


Jika tidak bisa mendapatkan anak pada istrinya maka di luar sana banyak menanti untuk jadi istrinya walaupun jadi yang kedua,"


Via juga tidak ingin sahabat nya itu bersikap egois dan dia beruntung memiliki suami sesabar Raka.


Dan saat di minta hal sederhana seperti itu masih sanggup menolak.


"Lo makin membuat gue takut tau Ya, tapi kalau gue mengundurkan diri sekarang, bagaimana sama kerjaan gua yang belum selesai?"


Tentu Farah harus memikirkan kerjaan dan harus di selesaikan jika seandainya dia benar keluar.


Tidak mungkin meninggalkan kerjaan begitu saja walau itu kantor suami sendiri.


"Lo tenang aja, masalah kerjaan biar gue yang selesaikan asal ada uang lembur aja,"

__ADS_1


Via menawarkan diri tapi tetap tidak lupa meminta bayaran, apa lagi yang di bantu istri bos sendiri.


"Makasih ya Ya lo udah membuka hati gue dan sadar bahwa tidak ada yang lebih berharga dari kelangsungan bahtera rumah tangga kami.


Masalah bayaran nanti gue bilang sama bang Raka,"


Setelah merasa lega dan siap mengambil keputusan, Farah menyelesaikan kerjaan yang sedang di jalan kan dan setelah selesai dia membuat surat pengunduran diri yang akan dia antar langsung kepada suaminya.


Anggap saja itu kejutan karena tadi pagi dia sudah membantah ucapan suami dan secara tidak langsung dia sudah menabung dosa.


Keputusan Farah sudah bulat untuk resign dan fokus sama program hamil yang sudah mereka rencanakan sejak satu bulan yang lalu dan sampai sekarang belum berhasil, mungkin ini ada efek Farah kelelahan bekerja sehingga dia belum hamil juga.


Padahal untuk urusan usaha sudah tiap malam tidak pernah absen eh.


"Ya makasih ya atas pencerahannya dan gue mau antar surat ini dulu,"


Setelah berpamitan pada sahabat nya Farah berjalan menuju ruangan suaminya.


Tok...


Tok...


Setelah mendapatkan jawaban Farah mendorong pintu ruangan Raka dan masuk ke dalam.


Dapat dia lihat laki-laki yang di cintai sekaligus pernah di sakiti secara sengaja sedang fokus bekerja.


"Assalamu'alaikum,"


Lirih Farah karena saat masuk suaminya tidak melihat ke arah dia padahal tau jika ada orang yang masuk ke dalam ruangan itu.


Raka menjawab dan melihat Farah sebentar lalu melanjutkan kerjanya yang masih belum selesai.


Farah tersenyum getir saat suaminya tidak seperti biasa jika dia datang berkunjung.


Sekarang cuek bahkan hanya melihat sekilas saja.


**Hubby masih marah kayaknya**


Farah jalan mendekat lalu duduk di kursi yang berbatasan langsung sama tempat duduk Raka.


"Ada apa?"


Tanpa melihat Raka langsung bertanya.


Dan Farah menyadari jika sikap suami nya berubah dan dia menyadari siapa penyebab nya.


Farah sangat sedih saat suaminya tidak melihat dia sama sekali.


Setelah cukup lama saling diam Raka sudah menyelesaikan kerjaan nya dan melihat ke arah istrinya yang lagi menunduk.


"Ada apa sayang ke sini?"

__ADS_1


Raka memang sengaja mendiami Farah agar perempuan itu menyadari akan kesalahannya dan mengikuti keinginan suaminya.


"Aku ke sisi mau memberikan surat pengunduran diri ku,"


Farah memberikan amplop yang sejak tadi dia pegang.


Raka mengambil amplop itu lalu membuka usinya dan di tanda tangani.


"Padahal tadi pagi sayang masih menolak dan sekarang baru beberapa jam sudah berubah fikiran?"


Tentu Raka ingin tau alasan apa yang membuat Farah berubah fikiran secepat ini padahal tadi pagi masih begitu keras ingin bekerja.


"Tadi,,"


Farah menceritakan tentang dia yang curhat sama sahabat hingga membuka fikirannya dan memutuskan untuk berhenti bekerja.


Raka hanya mendengar itu hanya bisa tersenyum masam tapi mencoba untuk menyimpan sendiri apa yang dia rasakan.


Setelah menceritakan semuanya Farah melihat ada sedikit perubahan raut wajah suaminya.


"Hubby kenapa? Bukannya aku sudah menuruti keinginan hubby untuk berhenti bekerja tapi kok seperti tidak senang?"


Farah memang melihat suaminya tidak suka padahal keinginan dia sudah di penuhi.


**Apa lagi yang salah?**


Farah memutar otak untuk mencari di mana lagi kesalahannya.


"Nggak apa kok, abang senang sayang berhenti berkerja hanya saja abang sedang bertanya pada diri sendiri.


Posisi abang ini apa di hati kamu?"


Raka mengungkapkan apa yang dia rasakan.


Ada rasa yang sulit di ungkapkan bahkan dia bertanya apakah posisi suami hanya sekedar status tanpa penghargaan.


"Hubby itu suami aku, suami tercinta ku.


Sudah pasti hubby itu sangat spesial,"


Farah mengatakan jika suaminya begitu spesial tapi dari penilaian Raka setelah mendengar cerita Farah, sekarang Raka hanya sekedar status tanpa harga.


Sungguh miris.


"Baiklah, cuma sekedar suami tapi nggak mau mendengar apa yang di katakan suami sendiri.


Di saat suami meminta kamu langsung menolak sedangkan sahabat mu berucap kamu menyetujui.


Ternyata posisi ku tak sespesial itu di hati mu,"


Setelah mengucapkan itu Raka bangkit dari duduknya lalu mengenakan kembali jas yang terlampir di kursi kerjanya.

__ADS_1


"Abang masih ada meeting, assalamu'alaikum,"


Raka meninggalkan ruangan nya setelah mengungkapkan isi hatinya yang tidak begitu spesial dan berarti di hati istrinya.


__ADS_2