
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Rasya memasuki kediaman mertuanya dan tidak lupa mengalami mertua perempuannya.
Lalu laki-laki itu duduk di sebelah istrinya.
"Tadi Riris kuliah?" Masih segar di ingatan Khira bahwa rasanya baru kemarin Riska lahir dan sekarang sudah menikah saja.
**Mungkin sebentar lagi akan memiliki baby dan aku akan memiliki cucu**
Membayangkan jika Putri kecilnya memiliki seorang anak padahal baru kemarin rasanya dia melahirkan tetapi sekarang sudah menjadi istri orang.
Ada rasa haru dan bahagia dirasakan oleh perempuan ini bagaimana dulu dia menikah bersama suaminya tanpa saling mengenali bahkan bertemu setelah melakukan ijab qobul.
Tapi lihatlah sekarang kehidupan rumah tangganya berjalan begitu bahagia dan memiliki sepasang anak yang tampan dan juga cantik.
Kini dia hanya menikmati masa tuanya dan menunggu cucu dari kedua anaknya.
"Nggak mom, dari pagi sampai siang Riris di kantor abang," Riris berkata jujur hingga menceritakan kejadian yang terjadi selama dia berada di kantor Raka.
Perempuan paruh baya itu kirim dalam kepala mendengar betapa Absurd nya sang anak.
"Semua itu ada prosesnya dan tidak mungkin langsung jadi dalam waktu singkat, itu baby sayang bukan buat kue," jika mendengar cerita dari anaknya berarti mereka sudah melewati malam pertama yang tertimpa setelah beberapa waktu lamanya.
Khira memang menyadarkan anaknya yang kurang memahami tentang hak dan kewajiban istri serta hak atau nafkah batin yang harus diterima oleh suaminya.
Karena salah satu alasan laki-laki berselingkuh adalah tidak mendapatkan nafkah batin dari istrinya sehingga memilih mencari jalan pintas contohnya mencari pelampiasan di luar sana tanpa mau meminta kepada istri.
__ADS_1
"Tapi kan ini udah sebulan lebih lo mom,"Riska merasa waktu sebulan itu sudah terlalu lama dan sudah saatnya malaikat kecil hadir di dalam perut meninggalnya padahal bukan seperti itu dan bukan terjadi dalam waktu singkat.
"Riris harus tahu dong sabar karena untuk mendapatkan seorang anak kita memang selalu diuji dalam kesabaran bahkan ada pasangan suami istri yang bertahun-tahun menikah baru bisa diberi kepercayaan untuk menjaga malaikat kecilnya," Khira memang termasuk beruntung setelah kepulangan dia hanya bersama suami waktu itu langsung diberi kepercayaan untuk memiliki momongan.
Tetapi setiap orang itu memiliki nasib yang berbeda-beda ada juga yang cepat ada juga yang lambat atau bahkan tidak pernah memiliki kesempatan merasakan kehamilan bahkan merawat seorang anak sehingga ajal menjemputnya.
Itu semua adalah rahasia ilahi yang tidak bisa kita tebak dan kita juga tidak bisa menyalahkan takdir sebab garis takdir kita sudah ada sebelum kita lahir.
"Iya mom nanti kami usahakan lagi," Rasya menunduk malu mendengar ucapan dari istrinya.
Jika tadi berbicara vulgar di depan Raka dia merasa tidak apa tetapi jika di depan mertuanya sungguh urat malu Rasya rasanya bergejolak dan mengatakan ingin melambaikan tangan saling.
Sedangkan Khira hanya geleng-geleng kepala dan menatap iba kepada menantunya karena ucapan ceplas-ceplos istrinya.
"Kami izin mau bersih-bersih dulu mom," Rasya mengajak Riska menuju kamar karena jika dibiarkan tidak tahu apalagi yang akan dibahas mungkin gaya yang tadi jika ikutan keluar.
"Semoga kebahagiaan menyertai kalian dan di berkahi anak yang berbakti pada kedua orang tua," sebagai orang tua dia hanya bisa mendoakan kebahagiaan anaknya dan mendoakan supaya diberi keturunan yang sholeh dan sholehah.
Tidak menyangka di umurnya sekarang masih diberi kesempatan untuk melihat kebahagiaan anaknya dan juga berharap bisa menyambut kelahiran cucunya nanti walaupun belum ada tanda-tanda kehadirannya.
Keesokan harinya di kantor Raka,
Tok...
"Masuk," pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan seorang laki-laki paruh baya memasuki ruangannya dan diikuti oleh satu orang lagi.
Ternyata bukan dua orang yang mendatanginya tetapi kedua Paman neraka juga hadir di sana siapa lagi juga bukan Abra dan Arga.
"Berasa di demo abang jika begini," Raka mempersilahkan keempat orang itu duduk di sofa lalu menyuruh OB untuk menyiapkan minuman serta camilan.
__ADS_1
"Ck demo konon," cibir Abra.
Abra ini kakak laki-laki Arka yang rumahnya terletak tepat di depan rumah Arka.
Bukan itu saja mereka bertiga berserta orang tuanya tinggal di satu kompleks perumahan.
Hanya Dean yang beda lantaran rumah di sana sudah penuh.
"Ada ya pa, dad pi,?" Karena tidak seperti biasanya mereka datang berbarengan seperti ini, apa lagi jam kantor.
Apalagi semenjak Arka memilih pensiun maka laki-laki itu jarang datang ke kantor jika tidak ada keperluan mendesak atau klien yang ingin bertemu dengannya walaupun sudah tidak memimpin perusahaan lagi.
"Silahkan yang ada urusan langsung di sampaikan saja," Arka datang ke sini hanya menemani saudara dan juga sahabatnya tidak ada tujuan tertentu tetapi karena dia penasaran makanya dia juga ikut.
Apalagi jika berbarengan seperti ini tentu juga dia ingin mengetahui apa yang akan dibahas bersama anaknya nanti.
"Biar papi aja yang mulai," Arga yang memilih untuk bicara duluan apalagi dia memang sangat membutuhkan bantuan dari keponakannya ini.
"Ada apa pi?" Belum juga mereka berbicara Raka sudah merasa bahwa kedepannya dia akan direpotkan oleh permintaan laki-laki yang duduk di depan ini apalagi dia tidak memiliki kuasa untuk menolak.
"Sebenarnya papi berat untuk mengatakan ini tetapi papi merasa hanya kamu yang bisa membantu apalagi melihat kemampuan kamu yang hampir mengalah dari Arka," Arga sebenarnya juga merasa tidak enak meminta bantuan kepada keponakannya tetapi mau bagaimana lagi jika sang anak memang tidak bisa diandalkan untuk sekarang.
"Nggak usah basa basi Pi, langsung aja ke pokoknya pembicaraan," ini yang Raka kurang sukai dari para pamannya ini mereka bisa membawa obrolan serius ke dalam mulai bercanda apalagi sampai menguji kesabarannya.
"Papi mau minta tolong kepadamu untuk menghandle perusahaan papi untuk beberapa hari sebab Abi harus ke luar negeri untuk menangani masalah cabang di sana," sudah memiliki firasat sejak awal bahwa dia akan direpotkan tetapi kenapa harus dirinya?.
"Emangnya papi mau ke mana hingga harus menitipkan perusahaan kepada Abang dan juga bukannya papi sudah pensiun juga?" Jika anaknya pergi ke luar negeri maka Arga bisa menggantikan posisi anaknya untuk sementara waktu bukan malah meminta Raka untuk menghandle.
"Mami kamu harus kontrol dan kebetulan jadwal nya bentrok," nampak wajah sendu di wajah Arga apalagi mengingat kondisi istrinya yang belakangan ini menurun dan butuh perhatian ekstra dan juga pengobatan yang intensif agar segera pulih dari penyakitnya, maka dari itu dia tidak bisa menghandle perusahaan selama anaknya berada di luar negeri.
__ADS_1