BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Katanya Kencan


__ADS_3

Raka yang lagi di jalan menjemput Farah pulang kerja tidak lepas mengumbar senyum dalam mobil.


Entah apa yang membuat pria tampan yang belum genap dua puluh empat tahun itu mengembangkan senyum menawan yang sayang sekali tidak ada satu pun yang melihat tapi kalau ada akan terkena penyakit diabetes dadakan saking manisnya senyum Raka


Wajah tampan nya tidak bisa di tolak oleh siapa saja yang melihat tapi tak ayal satu orang pun yang bisa merebut hati seorang Raka hingga satu tahun lalu tuhan merencanakan sebuah rencana di luar dugaannya.


Mengirimkan bidadari surganya pada Raka dengan cara tak terduga.


Tapi semua itu Raka terima dengan senang hati.


Ban mobil terus berputar begitu juga dengan senyuman tampan Raka yang masih setia menghiasi wajah tampan itu.


"Menikah bukan lah rencana ku hari itu tapi tuhan memilih ku di antara banyak umatnya yang ingin segera memiliki hubungan halal.


Menikah bukan tidak ada dalam rencana ku tapi bukan secepat ini namun aku tidak bisa menolak juga.


Menikah memang impian semua orang namun jika dadakan tanpa persiapan tidak semua orang sanggup dan aku bisa melewati semua itu.


Menikah bukan aku menolak tapi bidadari yang di kirim tuhan membuat aku tak bisa berkata banyak.


Jika menikah membuat sempurna ibadah ku maka lancar kan lah pernikahan kami hingga maut memisahkan,"


Memang rencana menikah tidak ada dalam rencana dalam waktu dekat oleh Raka namun tuhan tidak merestui rencana lelaki itu dan menikah muda di usia baru selesai kuliah.


Namun tak pernah sekali pun Raka mengeluh atau menyalahkan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.


"Oh iya belum shalat ashar ternyata," Raka melihat hp yang berdering setelah menepikan mobilnya dan ternyata istrinya yang ngechat kalau dia shalat dulu dan menyuruh Raka menunggu di suatu tempat.


Raka mencari masjid terdekat buat menunaikan kewajiban setelah selesai melanjutkan perjalanan yang tidak jauh lagi.


Sampai di tempat tujuan Raka melihat Farah duduk sama Via sahabat nya.


"Assalamu'alaikum," Salam Raka pada mereka berdua.


"Wa'alaikumsalam," Balas keduanya dan Farah menyalami Raka seperti biasa.


"Mau langsung pulang atau mau santai dulu?" Raka tidak akan langsung ngajak pulang sebelum di ajak duluan apa lagi masih ada sahabat istrinya.


"Hm gue langsung aja deh Far lagi ada acara keluarga soalnya, assalamu'alaikum," Via pamitan duluan pada Farah dan Raka.


"Wa'alaikumsalam hati-hati Via," Melambaikan tangan pada Via yang berjalan menuju taksi yang sudah di pesan sebelumnya.


"Yang kencan yuk?" Usul Raka lagian ini masih sore dan juga jarang ada waktu jalan seperti sekarang.


"Kayak ABG aja by ngajak kencan segala," Kekeh Farah mendengar ajakan Raka


Walau sebenarnya dia sangat ingin juga cuma ya gitu perempuan suka malu malu mau gitu, pura pura nolak dan saat di kabulin bilang nya tidak pengertian.


Maunya apa sih?.


"Lupa yang suami mu masih seperti ABG, udah ayok jangan sok nolak jika dalam hati kegirangan," Menarik lembut tangan Farah menuju mobil.


Sedangkan Farah mesem mesem di gandeng Raka


Seperti kata Raka malu-malu mau.


Nah kan gayanya saja pura pura tidak mau.


"Silahkan bidadari ku," Setelah nya Raka masuk duduk di balik kemudi melajukan mobil menuju mall terbesar di kota ini.


Tidak perlu menempuh jarak yang jauh dan mereka sudah sampai dan Raka memakirkan mobilnya lalu mengajak Farah keluar.


"Mau langsung nonton atau makan dulu yang?" Raka terus menggandeng Farah seolah kalau di lepas akan ada yang menggaet begitu isi fikiran Raka.


"Langsung nonton aja by aku masih kenyang juga nggak apa kan?"


Raka hanya mengangguk tanda setuju lalu menggandeng Farah menuju lantai tempat bioskop berada lalu memesan tiket dan cemilan sedangkan Farah di suruh nunggu.


Setelah mendapat apa yang di beli Raka mengajak Farah masuk bioskop sebab film akan segera mulai.


Raka memilih kursi di bagian empat dari depan sebab akan lebih enak saat nonton nanti.


Selama menonton Farah selalu merangkul tangan Raka dan sesekali merebahkan kepala di bahu Raka dan mendapat usapan di kepala gadis itu.


Ingat gadis ya, kan belum pernah di sentuh lebih oleh Raka.


Film yang Raka pilih adalah romantis jadi jangan heran kalau gadis merangkul suaminya sepanjang film di putar.


"Jadi baper by liat film nya," Sekarang mereka lagi berada di restoran mall itu untuk mengisi perut sebab tidak akan cukup hanya makan cemilan dan minuman soda.


"Abang juga bisa gitu yang dan yang halal lebih romantis tentunya," Sanggah Raka tidak suka kalau istrinya memuji orang lain karena dia tak kalah jika mau romantis dan terbukti waktu itu Farah ngambek hanya karena tidak dapat usapan kepala saat mereka terpisah.


"Iya suami aku memang paling romantis dan tentunya paling tampan lagi, cup,"Farah dengan berani mencium Raka di tempat umum tanpa malu walau cuma di pipi ini sudah termasuk salah satu kemajuan dalam hubungan mereka.


"Makasih sayang love you," Balas Raka tak kalah membuat pipi Farah bersemu merah karena perlakuan manis Raka di tambah mencium kedua punggung tangan Farah dan di lihat pengunjung restoran namun Raka tidak peduli sebab yang di cium istri sendiri bukan istri orang lain.


"Lo_love you too by," Balas Farah gagap sebab ini pertama kali gadis itu mendengar ungkapan cinta dari Raka di tempat umum dan sukses membuat jantung Farah bekerja dua kali lipat.


Raka tersenyum manis mendengar balasan dari Farah lalu Raka memesan makanan untuk mengusir kecanggungan Farah setelah apa yang di ucapkan.


Mereka makan dengan tenang sesekali Raka menyuapi Farah menggunakan sendok yang sama dengan yang dia gunakan secara tidak langsung sudah berciuman walau nyatanya sampai sekarang belum terjadi secara langsung.


"Kita belanja dulu yang," Ajak Raka berjalan menuju toko terkenal di mall itu yaitu khusus menjual pakaian wanita lengkap.


"Ngapain kita kesini by?" Heran Farah sudah berada dalam toko itu.


"Masak yang ya belanja lah, udah sana pilih yang kamu suka abang tunggu di sini," Mendorong Farah untuk memilih pakaian yang di suka, Raka duduk di kursi khusus tamu sambil menunggu Farah selesai.


"Maaf mas boleh duduk di sini?" Tanya seorang perempuan cantik dengan pakaian seksi menghampiri Raka.


"Kamu tau itu apa," Tunjuk Raka pada pojok ruangan yang agak jauh dari tempat dia.


"Sofa mas, kenapa?" Jawab perempuan itu heran kenapa Raka nanya gitu, sebab anak kecil saja tau itu sofa tidak perlu bertanya juga.


"Itu masih kosong dan silahkan duduk di sana," Raka bukan tipe lelaki yang mudah di dekati perempuan apa lagi yang suka dagang seperti perempuan itu.


Raka sama sekali tidak minat bahkan ilfil.


Raka cuek dengan mengambil hp untuk mengecek pekerjaan yang lebih penting dari pada meladeni orang tidak tau malu seperti dia.


Dan dengan tidak tau malunya perempuan itu duduk di sebelah Raka.


Susah di bilangin...


Raka melirik sinis lalu berdiri berjalan menuju Farah, dia lebih baik menemani istrinya belanja dari pada duduk berduaan sama jelmaan setan.


"Udah dapat yang?" Raka merangkul pinggang Farah seolah menunjukkan kalau dia sudah punya malaikat dan tidak butuh setan sebagai penggoda.


"Bagus semua by, aku jadi bingung," Lirih Farah pelan, ya gimana tidak bagus kalau toko yang di kunjungi adalah toko terkenal yang menjual baju dengan kekurangan bahan sampai bahan berlebih.

__ADS_1


"Ambil semua kalau suka yang," suruh Raka sebab dia ingin istrinya tampil cantik tiap hari.


Kan di balik istri cantik ada banyak nol di ATM suami yang mendukung.


"Emang nggak apa by?" Farah takut di sangka matre karena belanja banyak di tambah dengan harga yang bisa membuat ginjal menjerit minta tidak di jual buat bayar tuh baju.


"Aku kerja buat istri cantik abang ini, jadi pilih yang kamu suka sayang," Raka tidak masalah menghabiskan banyak uang hanya untuk membayar belanjaan Farah sebab selama ini uang nya di gunakan untuk membeli kan orang tuanya barang yang di rasa cocok juga keponakan nya.


"Makasih by," Farah hanya memilih beberapa baju untuk nya dan juga Raka beberapa potong kemeja juga celana yang di rasa cocok.


Selesai memilih Raka mengajak ke kasir buat membayar lalu pergi dengan belanjaan Raka yang bawa sebelah kiri dan tangan kanan merangkul pinggang Farah.


💞💞


Via sahabat Farah sejak zaman dulu hingga sekarang.


Lika-liku hidup antara mereka berdua nyaris tidak ada rahasia bagi mereka.


Semua yang di lalui di ceritakan baik bahagia sedih di lalui bersama.


Persahabatan mereka terjalin bukan karena orang tua saling kenal namun itu murni secara alami, justru karena mereka bersahabat orang tua mereka jadi saling kenal juga.


Via sejak masuk sekolah dasar bertemu Farah awal pertemuan mereka dengan satu kelas di awali pertemuan serta sering kerja kelompok menjadikan hubungan mereka berjalan makin dekat seiring berjalannya waktu.


Via yang suka bercanda membuat dia tidak sulit dekat sama Farah di tambah Farah orangnya welcome sama siapa saja namun sulit dekat seperti Via sebab Farah hanya mau sekedar teman saja tidak lebih.


"Pak sampai di caffe depan aja ya," Pinta Via yang lagi malas juga langsung pulang karena di rumah belum ada siapa siapa jam segini.


Orang-orang belum pada pulang juga dari kegiatan masing-masing.


"Baik non," Supir taksi memberhentikan mobi di depan caffe yang di maksud.


"Makasih ya pak," Via turun dari taksi setelah membayar lalu berjalan masuk menuju ke dalam caffe buat sekedar menghilangkan penat seharian kerja.


Menikmati suasana caffe yang pas buat bersantai dengan tema alam walau caffe terletak di tengah kota namun pemilik caffe bisa menyulap menjadi suasana alam begini.


Ide kreatif nya patut di acungi jempol.


"Mbak saya pesan cake yang firal itu sama leamontea ya," Setelah menyebutkan pesanan dan pelayanan itu pergi Via mengedarkan pandangan menuju seluruh ruangan yang sangat nyaman untuk santai.


"Kapan kapan ajak Farah ah kayaknya dia nggak bakal nolak," Kekeh Via yang sudah membayangkan ke sini lagi sama Khira menikmati suasana ini berdua pasti lebih indah.


"Apa lagi kalau sama pasangan, ma anak mu juga mau nikah kayak Farah biar nggak ngenes terus," Jika mengingat soal pasangan kok Via masih suka kesal sendiri andai pacarnya tidak selingkuh mungkin mereka minimal udah tunangan.


Tapi Via bersyukur ini terjadi jadi dia tidak perlu sakit terlalu dalam.


Coba kalau sudah nikah ketahuan langkah apa yang bakal Via ambil.


Mengakhiri hubungan dari pada terus tersakiti atau bertahan demi keluarga agar tidak kecewa namun ujung ujungnya sakit juga.


Ternyata Tuhan masih sesayang ini sama dia menunjukkan kebusukan sebelum semua terlanjur jauh.


"Silahkan mbak," Pelayan datang membuyarkan lamunan Via tentang pasangan yang sekarang entah berada di mana.


Kenapa masih betah selingkuh dengan hati lain di saat dia merana.


"Hm enak juga nggak salah kalau nih caffe rame apalagi udah sore gini, nggak kayak hati gue kesepian," Mencomot sedikit cake yang terlihat menggiurkan dan ternyata setelah di coba bentukan sama rasa tak kalah sama sama menggugah selera dan mata.


"Permisi boleh duduk di sini nggak?" Sapa seseorang pada Via yang lagi asik sama cake yang sudah mau habis setengah.


"Duduk aja nggak ada yang larang juga, nih kursi milik caffe jadi silahkan," Via tidak keberatan atau menolak juga.


Orang itu duduk tepat di depan Va dan tidak lama pesanan dia datang.


"Kenalkan nama gue Farzan," Mengulurkan tangan pada Via dan di sambut.


"Panggil Via aja biar mudah," Balas Via lalu melanjutkan makannya.


Tidak sungkan saat makan atau menjaga image sebab Via hampir sama seperti Farah yang suka apa adanya walau di depan orang.


"Gue panggil nya Via atau kakak nih? Keliatan nya kamu lebih tua dari aku," Farzan laki-laki tampan dengan tinggi hampir sama dengan Raka kulit putih hidung mancung pas untuk di cubit bisa nyangkut di tambah bulu mata lentik.


"Via aja, baru dua tiga tahun kok," Balas Via malas di panggil kakak berasa tua gitu.


Lagian umur bukan masalah baginya, asal orang itu sopan dengan dia biar kecil tetap welcome jika hanya memanggil nama.


"Ya udah kalau maunya gitu, ke sini sendirian aja nggak ajak teman?," Farzan tidak sadar kalau dia datang juga sendiri tidak ajak teman atau pasangan.


Perlu di kasih kaca kayaknya.


"Sahabat Via udah pulang sama suaminya," Obrolan mereka cukup nyambung apa karena baik Farzan atau Via bisa mencairkan suasana jadi bisa klop gitu.


"Lalu suami Via mana nggak jemput juga? Nggak mungkin kan perempuan secantik kamu belum punya pasangan," Ini maksudnya apa? Bertanya atau menampar dengan kenyataan kalau Via masih sendiri.


Kebanyakan dari perempuan suka sensitif soal pasangan apalagi kalau sampai ditanya kapan nikah oleh orang dan dia sendiri juga tidak tau kapan itu terjadi, jadi mau jawab apa? Bingung sendirikan.


"Alhamdulillah masih nyasar di hati lain nggak tau kapan sadarnya, udah jangan bahas pasangan bawaannya nggak enak suka bikin sesak," Jika Via tau siapa pasangan nya mungkin akan datang menjemput lalu di seret pulang dan di ikat dalam rumah saja.


Kenapa keenakan di hati lain sedangkan hati dia sampai mau lelah menunggu.


"Bilang aja jomblo kebanyakan gaya bilang masih sama hati lain," Ledek Farzan yang merasa terhibur sama jiwa welcome Via berasa punya teman cerita.


"Emang kamu udah punya pasangan tapi kalau di lihat nasib kita sama, CK kasian,"


Balas Via yang sukses membuat wajah Farzan memberengut kesal lalu memakan makanannya dengan sedikit kesal.


Iya memang kalau membahas pasangan kadang ada yang bisa merubah aura kelam.


"Udah dulu ya Via mau pulang udah sore juga, bye Farzan," Via beranjak dari sana setelah membayar pesanan dan bersiap untuk mencari taksi untuk pulang.


Farzan juga mengikuti langkahnya Via keluar caffe dan melihat Via berdiri di tepi jalan seperti menunggu sesuatu.


"Mau di antar nggak?" Tawar Farzan saat datang menggunakan motor gedenya.


"Makasih Zan Via udah pesan taksi bentar lagi datang," Tolak Via yang tidak bakal mau langsung pulang sama orang baru.


Via waspada belum tentu orang itu baik, bisa saja ingin berbuat jahat.


"Ya udah nggak apa, lain kali bisa kan kita jumpa lagi?" Entah mengapa Farzan merasa dia cocok sama Vya dan berharap bisa jumpa lagi.


Ucapan Farzan barusan hanya Via anggap angin lalu, bertemu juga di tempat umum jadi kecil kemungkinan akan bertemu lagi.


"Liat aja nanti," Via tidak tau harus jawab apa karena pertemuan mereka juga kebetulan dan dia berfikir kalau belum tentu mereka akan jumpa lagi.


"Tapi kalau kita jumpa lagi berarti kita jodoh," Farzan masih duduk di atas motornya sambil menunggu taksi yang di tunggu Via datang.


Dalam otak Via berfikir kenapa bahas jodoh yang sering membuat Via kesal dan ingin rasanya Via mencekik jodohnya jika sudah datang sebab sudah membuat Via lama menunggu.


"Jodoh nggak bakal kemana Zan, bye tuh taksi Via udah datang assalamu'alaikum," Via masuk setelah taksi berhenti di depan sebelumnya melambaikan tangan pada Farzan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," Melihat taksi yang di tumpangi Via dan di ikut berjalan di belakangnya.


Baik taksi atau motor Farzan terus melaju dan mulai memasuki area rumah orang tua Via dan Farzan masih setia di belakang taksi itu.


Dan berhenti di sebuah rumah minimalis hampir sama seperti rumah orang tua Khira.


"Ternyata kita memang jodoh," Sapa Farzan saat melihat Via turun dari taksi.


"Kenapa ngikutin sampai sini segala?" Kaget Via saat melihat Farzan sudah berdiri dekat dia.


"Siapa yang ngikutin juga, rumah gue tuh," Tunjuk Farzan pada rumah yang terletak di depan rumah Via dan sukses membuat mata Via melotot tidak percaya.


"Sejak kapan?" Kaget Via kalau tetangga barunya itu Farzan kenapa baru sekarang tau.


"Udah sebulan, kenapa nggak nyangka kan kita memang jodoh. Bye Vya,'' Farzan menuntun motor nya menuju rumah dan masuk begitu juga dengan Via.


"Untung tampan punya tetangga," Via masuk kamar lalu membersihkan diri sudah gerah seharian di luar panas panasan juga jadi butuh yang segar.


Vya memasuki rumah dengan santai tidak lupa mengucapkan salam dan dibalas oleh seseorang dari dalam sana.


Via melihat orang tuanya sudah pulang dan sang mama lagi memasak untuk makan malam mereka nanti.


Dengan cepat Via menghampiri dan berniat untuk membantu agar cepat selesai.


"Masak apa ma untuk makan malam nanti?" Via mengambil alih memotong sayuran yang terletak atas meja belum tersentuh pisau sama sekali lengkap dengan bumbu untuk sayuran seperti bawang dan saudaranya.


"Ini tadi papa minta dibuatkan sambal hati sama udang tepung," Jawab sang mama yang lagi melumuri udang dengan tepung basah dan kering.


Hidangan sederhana memang namun akan terasa spesial jika dimasak dengan penuh ketulusan dan kasih sayang.


Jangan dilihat dari menu apa yang dimasak tapi nilai dari kesungguhan dalam memasak makanan itu.


Tidak semua makanan mewah terkesan enak begitu juga sebaliknya namun sebuah makanan akan terasa mewah jika di masak dengan sepenuh hati.


"Kayaknya enak ma," Puji Via yang antusias saat mendengar udang tepung sebab semua penghuni rumah menyukai menu satu itu.


Padahal cuma udang dilumuri tepung namun ada sesuatu yang menjadikan udang selimut itu terasa spesial.


"Kamu apa sih Vi makanan mama yang tidak enak, udang dikasih garam lalu di rebus juga di makan dan di bilang enak," Cibir mama Via sambil menceburkan udang kedalam minyak yang sudah panas.


Via mencebikkan bibir kesal kenapa dari ucapan mamanya dia seolah terkesan memakan apa saja yang dimasak tanpa tau proses gitu, mengsedihkan sekali hidup mu Via.


"Nggak gitu juga kali ma, kok kejam amat sama anak sendiri sih.


Via anak kandung kan ma?" Sungut Via sambil mencuci sayuran yang sudah selesai dipisah dengan urat yang semestinya dibuang.


"Agak ragu mama Vyo, mungkin tertukar waktu lahir di rumah sakit," Kekeh mama Via menahan tawa agar tidak terdengar.


"Sekalian aja bilang mungut di jalan ma, udah ah ma Via mau mandi dulu gerah ini," Meninggalkan sang mama menyelesaikan masakan yang sebenarnya jika tidak di bantu akan selesai juga karena cuma tinggal dua menu itu saja.


Via saja yang sok an ingin membantu agar terkesan dinilai anak yang berbakti dan di cap anak baik.


Di tempat lain.


Keluar dari mall pasangan pengantin yang masih bisa di bilang baru itu ( iya baru baikan ) berjalan dengan masih bergandengan tangan menuju parkiran mobil dan memasukkan belanjaan sang istri kedalam bagasi.


Waktu masih menunjukkan sore menjelang magrib mereka sudah selesai dengan acara kencan untuk pertama kali.


Pasangan itu adalah Raka dan Farah yang melakukan kencan pertama saat pertama kali menikah, pertama kali bertemu dan pertama kali berkenalan, semua serba number one.


Sejak kecil mereka memang tidak pernah pergi berdua karena suatu hal yang membuat Raka harus menjaga jarak dan menyakiti orang yang di cintai.


Setelah memastikan Farah duduk dalam mobil dengan aman Raka melajukan mobil keluar dari area parkir dan bergabung dengan pengendara lain di jalan raya.


"Bagaimana yank senang nggak kencannya?" Fokus Raka masih pada jalanan yang ramai sebab ini sudah mau magrib Jadi semua orang bergegas hendak pulang ke rumah masing-masing juga.


Melirik Farah sebentar lalu fokus kedepan lagi.


"Kencan!," Beo Farah mengulangi kata kencan yang terdengar seperti pasangan kekasih yang melakukan kegiatan menyenangkan menghabiskan waktu bersama.


"Iya, ini kan kencan pertama kita sejak menikah.


Selama ini kan kita cuma sibuk pada kegiatan masing-masing maka sekarang lah kencan pertama kita.


Gimana senang nggak? tapi kalau nggak senang harus jawab iya pokoknya," Kekeh Raka di akhir kata seolah pemaksaan yang diinginkan dan tidak mau mendengar kata selain kata iya.


Egois ya babang Raka namun Raka tidak peduli anggap saja dia lagi bercanda dan menghangatkan suasana.


"Harus gitu ya By maksa sama jawaban yang di berikan.


Jawaban kan diberikan atas apa yang dirasakan pasangan bukan pada keinginan sendiri," Cukup menggelitik sebenarnya ucapan Raka mana ada meminta jawaban namun jawaban sendiri sudah ditentukan, jadi yang diberi pertanyaan tidak perlu menjawab jika jawaban sudah ada.


Untung suami sendiri coba kalau tidak ingin rasanya Farah menyuruh turun dari mobil.


"Emang kamu nggak senang yank sama acara kencan kita ini?" Desak Raka lagi sebab belum mendengar kata iya dari bibir yang sebenarnya ingin Raka rasakan lebih jauh namun belum berani takut ada penolakan atau menimbulkan trauma pada diri Khira, jadi Raka hanya bisa bersabar.


Kan mereka baru baikan dan Raka tidak mau melakukan tindakan gegabah, tanpa dia tau jika sang istri malah memikirkan untuk memberikan Raka jatah.


"Ya senang lah by, kan pergi sama suami sendiri," Nah ini jawaban yang Raka tunggu, pemaksa memang namun menanyakan sesuatu pada pasangan itu harus sebab takutnya saat kita melakukan atau mengajak kemana gitu namun ada unsur paksaan maka tidak ada kenangan yang tersimpan didalamnya.


"Abang sudah menduga itu sejak tadi,"


Mulut Farah menganga mendengar tanggapan suaminya.


Tadi yang memaksa menjawab iya dan sekarang narsis minta di tabok.


Ini suami siapa coba tolong di kasih tau?.


Farah mencubit kecil lengan kiri Raka, sejak hubungan mereka semakin dekat sikap asli Raka semakin terlihat dan Farah cukup terhibur karena hubungan mereka tidak hambar seperti pasangan yang mendadak nikah pada umumnya.


"Udah magrib aja yank kita cari restoran aja yah sama tempat shalat sekalian makan malam,"Farah hanya mengangguk kepala tanda setuju sebab jika shalat dirumah tidak bakal sempat sebab waktu magrib sedikit dari waktu shalat lainnya.


Tidak lama mobil yang Raka kendarai memasuki halaman restoran lalu berjalan keluar menuju mushalla yang telah disediakan.


Selesai shalat mereka berdua berjalan beriringan memasuki restoran, tidak lama datang pelayan sambil membawa buku menu.


"Mau pesan apa yank?" Tanya Raka sambil menyerahkan buku menu pada istrinya.


"Aku pilihkan aja ya By?," Raka setuju saja menu makanan yang di pilihkan istrinya.


Sambil menunggu pesanan datang mereka berdua menikmati suasana kota yang indah pada malam hari.


"Ini acara penutup kencan kita hari ini yank, seharusnya hari libur kita kencan jadi bisa dari pagi hingga malam nanti kita kencan lagi dari pagi,"


Ya mau gimana lama pergi kencan saat Farah pulang kerja dan juga tanpa ada pembahasan sama sekali langsung diajak pergi tanpa siap-siap seperti pergi kencan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.


"Iya nggak apa by, gini aja aku udah senang kok makasih by," Bagi Farah sama saja kencan dari pagi atau sore yang penting dengan siapa kita pergi dan melakukan kegiatan apa saja yang menyenangkan.


Justru dadakan gini ada kesan tersendiri dan berkesan seperti apa ya Farah juga sulit menggambarkan.

__ADS_1


"Abang cuma mau menyenangkan hati sayang saja, takutnya membosankan jika hanya melakukan kegiatan yang itu-itu aja tiap hari, nggak jauh dari rumah dan kantor makanya abang ajak jalan untuk menghilangkan kebosanan dalam bekerja," Jelas Raka yang hanya ingin membahagiakan hati istrinya..


__ADS_2