BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 116


__ADS_3

Mereka berdua memasuki ruangan dokter untuk memastikan apakah Farah beneran hamil atau belum.


Jika belum maka mereka harus bekerja ektra agar sang baby segera hadir dan jika sudah maka harus menjaga dengan ektra.


"Silahkan duduk nona Farah dan suami," Jeda dokter saat melihat lelaki tampan itu.


"Raka dok," jawab Raka memperkenalkan diri.


"Iya silahkan duduk tuan Raka,"


Mereka duduk di depan dokter dengan berbatas meja saja kalau berbatas waktu dan jarak berarti orang lagi LDR.


"Ada keluhan atau kapan terakhir datang bulan?" Pertanyaan yang pas, tidak mungkin bertanya ada apa karena sudah jelas tidak perlu di pertanyakan dengan pertanyaan ada datang kemari? Sebab semua orang yang datang kesana pasti konsultasi soal kehamilan atau mau program kehamilan.


"Sekitar sudah lebih satu bulan dok dan untuk keluhan tidak ada," Jawab sang istri sontak menjadi perhatian Raka.


**Sebulan lebih pantas gue nggak pernah libur lembur malam kecuali libur kerja**


Masih bisa berfikir lembur malam, untung cuma bisa di ungkapkan dalam hati, kalau tidak bisa malu juga walau dokter sudah biasa dengan hal semacam ini.


Tapi kan sayang kalau dokter masih jomblo atau sudah tidak bersama suaminya lalu membayangkan dengan siapa akan lembur.


"Baik kita periksa dulu ya, silahkan berbaring," menurut di ikuti Raka berdiri di sebelah ranjang tempat istrinya berbaring.


Suster mengoleskan gel pada perut rata itu lalu dokter menempelkan alat untuk melihat apakah sudah ada si jabang bayi dalam perut atau belum.


Membutuhkan beberapa waktu hingga hasilnya keliatan.


"Nah ini dia," Menunjukkan titik hitam pada layar di depan mereka.


Pandangan suami istri itu fokus pada apa yang di tunjukkan dokter.


"Dedeknya masih sangat kecil berusia sekitar lima Minggu jadi harus di jaga baik-baik ya," Baik Raka maupun Farah merasa gelenyar aneh dalam dada, ada perasaan bahagia ternyata mereka saat ini di beri kepercayaan serta anugrah terindah dalam rumah tangga mereka.


Dada mereka bergemuruh hebat saat melihat layar itu, ingin menangis tapi bukan waktunya, sungguh kebahagiaan mereka terasa lengkap dengan kehadiran si buah hati.


Selesai memastikan sesuatu yang menjadi perdebatan tadi, suster membersihkan perut Farah, lalu di bantu duduk oleh Raka.


Memastikan istri turun dengan aman dan duduk kembali didepan dokter sambil mendengarkan apa saja yang boleh di makan, memberikan resep untuk kesehatan janin serta mengurangi aktifitas untuk sementara waktu sampai babynya kuat di dalam kandungan.


"Makasih dok," Akhirnya pemeriksaan selesai, Raka menggandeng istrinya lagi keluar ruangan berjalan menuju apotek untuk menebus obat yang harus di konsumsi.


Setelah mendapat obat mereka menuju mobil yang ada di parkiran.


"Supir aku tadi mana by?" Tidak melihat supir yang mengantarkan tadi bahkan mobilnya juga tidak ada.

__ADS_1


"Kalau udah ada suami ngapain nanya orang lain, dia udah abang suruh pulang duluan," Membuka pintu agar istrinya mudah masuk, meletakkan tangan atas kepala agar tidak terbentur.


Raka masuk lalu duduk di belakang kemudi, melajukan mobil meninggalkan area rumah sakit.


Tujuan Raka sekarang hanya pulang ke rumah ingin menumpahkan segala kebahagiaan dengan istrinya di dalam kamar nanti.


Sepanjang jalan mereka hanya diam saja hingga tidak lama mobil yang Raka kendarai memasuki gerbang tinggi itu lalu berhenti tepat depan pintu utama.


"Ayo sayang," Lagi dan lagi menggandeng tangan sang istri tercinta menuju kamar mereka berada.


Membuka pintu perlahan dan mereka masuk lalu menutup pintu lalu menguncinya.


Menuntun Farah duduk di ranjang lalu membuka hijab itu dan meletakkan di sebelah juga tidak lupa melepaskan gamis Farah hanya menyisakan dalaman saja seperti baju tanpa lengan dan celana sebatas betis.


Arka melakukan hal yang sama melepaskan jas dan kemeja lalu merebahkan diri dengan kepala di atas paha sang istri dan menyusupkan kepala pada perut rata juga tempat berkembang anak mereka.


"Makasih sayang," Mengangkat baju itu lalu menampilkan perut yang masih rata lalu melabuhkan ciuman beberapa kali di sana.


Menggumamkan doa untuk anaknya yang masih dalam perkembangan.


"Makasih sayang udah hadir di sini," Lagi mencium perut rata itu.


Sungguh kebahagiaan ini lebih besar dari pada menjadi mahasiswa terbaik dengan nilai tertinggi atau mendapat tender besar di perusahaan yang ini sungguh tak ternilai.


Sungguh tidak cukup hanya sekali mengucapkan Alhamdulillah karena Tuhan begitu percaya kepada mereka untuk menjaga makhluk mungil yang dalam delapan bulan kedepannya akan hadir di antara mereka.


"Kamu bahagia sayang?" Mendongak melihat wajah cantik itu dari bawah, belum mau bangun karena masih ingin menikmati saat berada di posisi ini.


Nyaman dan ingin selalu mengajak anaknya bicara walau belum ada respon beda jika sudah mulai menginjak usia lima bulan maka sudah ada pergerakan di dalam sana.


Di tambah dengan bertambahnya usia kandungan maka gerakan itu semakin jelas bahkan bisa merasakan tendangan kaki kecil itu.


"Sangat by, aku sangat bahagia," Senyum mengembang di wajah cantik itu, tidak ada alasan untuk dirinya tidak bahagia sebab kebahagiaan istri adalah saat bisa memberikan suaminya anak dalam pernikahan mereka dan kini Farah bisa memberikan itu.


Hati siapa yang tidak bahagia saat melihat wajah bahagia suaminya.


"Bagaimana kalau kita buat lagi biar dia ada teman di dalam sini," Mencium lagi perut rata itu, gemas sekali saat membayangkan perut ini akan membuncit seiring berjalannya bulan pasti istrinya makin menggemaskan dengan perut besarnya.


"By memukul kepala suami dosa nggak sih?" Gregetan dengan tingkah suaminya ini, mana ada seperti itu.


Mana ada akan ada teman anaknya jika di buat lagi, yang ada cuma akan sia-sia.


Apa benar dia adalah seorang yang punya perusahaan besar kalau mendengar ucapannya barusan.


Kalau kejadian itu terjadi maka akan sebesar apa perut istrinya kalau yang di buat jadi terus.

__ADS_1


Apa ini yang di namakan yang waras ngalah.


"Nggak sayang, yang dosa itu nggak ngasih jatah ama suami," Kenapa otak Raka tidak jauh dari kata jatah, kayaknya tidak dapat jatah semalam jadi merasa ada yang kurang.


Memeluk pinggang ramping itu dengan lembut takut menekan anaknya.


Puaskan sekarang Ka memeluk istri mu sebelum ada jarak yang memisahkan kalian berdua.


Ya jarak itu adalah perut Farah jika sudah besar maka mereka tidak bisa berpelukan erat karena sudah di batasi anak.


"Lupa by apa kata dokter tadi?" Ya dokter menyarankan untuk membatasi kegiatan suami istri hingga janin sudah kuat dan siap menerima gempa lokal.


"Nggak kok yang, kata dokter boleh asal pelan," Sudahlah akan kalah jika sudah di ajak debat.


Bisa saja menjawab setiap perkataan istrinya.


"Pengen mengumpat takut dosa," Tangan itu tidak berhenti mengusap kepala Raka masih betah berbaring dan juga mengajak anaknya bicara.


Tak hentinya senyum cantik itu mengembang seperti di kasih permifan kue agar mengembang sempurna.


Raka abaikan ucapan istrinya sebab dia tau itu hanya bercanda, mana pernah dia mendengar kata kasar dari bibir candunya.


"Sayang nanti malam kita undang keluarga ya untuk mengadakan acara syukuran kecil-kecilan," Ingin berbagi kebahagiaan pada semua keluarga dan mengadakan acara makan malam bersama di rumah ini.


"Iya by, nanti aku hubungi mama untuk datang," Setuju usul suaminya untuk mengadakan syukuran kecil untuk menyambut kehadiran anggota baru di keluarga mereka.


Cukup keluarga inti saja dan akan mengadakan acara besar saat tujuh bulan nanti.


"Undang Via sama Dean juga ya by, ini kesempatan mereka makin dekat," Usul Farah agar kedua sahabatnya makin dekat dan kalau bisa segera menyusul agar hubungan mereka juga halal, namun semua itu kembali lagi pada mereka berdua.


Tugas sebagai sahabat hanya ingin memberi celah agar mereka makin dekat.


"Iya yang, mulai sekarang kamu nggak boleh masak dulu sampai baby kuat dalam sini," Setuju dengan apa kata istrinya, kasian juga dengan perjuangan Dean yang masih panjang karena Via masih belum bilang memberi kesempatan.


"Iya aku nurut aja by," Tidak mau membantah karena dia tau semua yang di ucapkan suaminya demi kebaikan dirinya dan sang jabang bayi.


Lebih baik menurut dari pada kualat membantah perintah suami, selama itu baik maka tidak salah di turuti.


"Sayang," Gumam Raka masih betah membenamkan wajah pada perut itu.


"Iya by!" Menunggu ARaka melanjutkan ucapannya apa yang mau di bicarakan.


Pasti demi kebaikannya juga.


"Nggak apa sayang asal kamu senang, jika ada yang di inginkan langsung ngomong ya jangan di tahan," Raka tidak ingin istrinya menahan sesuatu yang di inginkan apa lagi dengan alasan suaminya sibuk bekerja.

__ADS_1


Padahal Raka sama sekali tidak keberatan di repotkan oleh istrinya.


Asal istrinya senang dia akan lakukan, apa pun itu.


__ADS_2