
Raka masih terdiam mendengar ucapan Farah, rasanya senang mendengar istrinya mengeluarkan uneg-uneg yang dia rasakan dalam hati.
Raka masih enggan memandang wajah Farah sehingga Farah menyimpulkan sendiri tanggapan Raka dengan segala hal negatif.
Raka yang tidak menganggap Farah berarti dalam hidupnya, Raka yang merasa terpaksa melakukan semua itu, Raka yang dulu sekarang tetap sama hanya berpura-pura bersikap baik padanya sehingga rasa dihati Farah tumbuh secara perlahan namun tidak bagi Raka yang menganggap Farah biasa saja.
Membayangkan itu saja ingin rasanya Farah menangis sekencang mungkin dan meluapkan segala amarah yang sudah tertumpuk dalam hati.
"Jawab by, beri aku kejelasan jangan diam saja dan cuma aku yang berharap akan hubungan ini hiks?" Isak Farah lirih, kenapa Raka masih diam? Dan enggan menatap dirinya.
Menggoyangkan tangan Raka namun laki-laki mengelak menambah rasa sakit di hati Farah sebab di pegang saja Raka sudah tidak mau.
"Bahkan aku pegang kamu enggan, oh aku cukup tau diri sekarang karena berharap pada manusia itu cuma akan menimbulkan kekecewaan,'' Farah memejamkan mata dengan erat seiring dengan air mata mengalir deras bahkan isakan tangisnya memenuhi kamar mewah itu.
"Atau karena aku belum memberikan hak mu makanya kamu nggak mau mempertahankan aku," Tambah Farah mengingat ucapan Via siang tadi yang mengatakan suaminya juga lelaki normal yang butuh menyaluran hasrat dan dia tidak memberikan haknya sehingga suaminya tidak melakukan tindakan mempertahankan hubungan mereka.
"Jawab by? Aku benarkan?" Desak Farah dan melihat Raka diam maka tebakannya tidak salah lagi.
Dada Farah semakin sesak dan beringsut menjauh duduk dari Raka, baginya semua sudah jelas dan berakhir.
Benar-benar berakhir, percuma mereka berbaikan.
Mungkin sudah akhir dari perjalanan rumah tangga yang hanya bisa dijalani kurang dari dua tahun, miris kalau Farah mengingatnya.
Raka mencekal lengan Farah dan menarik hingga merapat ke tubuh Farah lalu melingkarkan tangannya di pinggang Farah dan memeluknya dengan erat.
Tidak lupa satu sentilan laki-laki itu layangkan pada jidat Farah sebab sudah berani memikirkan hal terlalu jauh.
__ADS_1
"Ini kepala isinya apa?" Mengusap jidat bekas sentilan yang dibuat sendiri setelahnya memberikan kecupan berkali-kali disana.
Gadis itu menyerngit bingung, kenapa malah bertanya apa isi kepalanya padahal seharusnya dia yang bertanya dan kenapa malah menyentil jidatnya juga, dikira tidak sakit apa?.
"Kalau bicara itu difikir dulu jangan asal bicara. Kenapa otak letaknya lebih tinggi dari mulut karena kita di minta untuk berfikir dulu sebelum bicara,"
Raka terdiam lalu memandang wajah cantik yang berada dalam pelukannya itu.
Ingin dia tertawa dari tadi mendengar ucapan istrinya yang ngelantur jauh sekali dan malah membahas pada hak segala.
"Kenapa harus di sentil sih?," Jidat itu masih terasa berdenyut walau sudah di obati dengan sebuah kecupan tetap saja masih meninggalkan bekas.
"Biar otak ini benar dikit kalau mikir," Mengusap-usap kepala istrinya yang bersandar di dada bidang itu, dia tidak menolak sama sekali sebab ini yang dia ingin di rengkuh dan di sayangi.
"Ya kan otak gunanya untuk mikir," Sebal Farah yang susah payah meyakinkan Raka malah di balas sentilan dan di peluk erat begini.
Pelukan ini masih sama rasanya tidak ada yang beda.
"Tapi mikir buat yang apa dulu?, gunakan otak untuk memikirkan hal positif itu baru benar," Raka merenggangkan pelukannya lalu memutar duduk agar berhadapan dengan istrinya lalu memandang kedalam manik mata cantik itu, berusaha menyelami dan menyalurkan perasaan yang Raka rasakan lewat tatapan mata itu.
"Dengar baik-baik dan jangan di salip!," Pinta Raka dan balas anggukan oleh istrinya yang masih fokus menatap balik mata Raka seolah terhipnotis maka hanya bisa menurut sama apa yang akan Raka sampaikan.
"Jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu kepastiannya dan memaksa otak berfikir negatif sehingga menimbulkan efek lain pada diri kita," Farah mengangguk tanda mengerti sebab fokus dia pada mata dan gerak bibir Raka.
**Pengin cium tuh**
"Jangan pernah terpengaruh oleh apa pun itu atau menyimpulkan sesuatu sendiri sehingga menimbulkan penyakit hati dan kita sesak sendiri," Lagi Farah hanya mengangguk tanda paham.
__ADS_1
"Jangan pernah mudah termakan bujuk rayu oleh siapa pun baik yang pernah menoreh luka atau yang belum, waspada pada siapa saja dan pasang sikap teliti dalam bertindak," Mata mereka masih saling menyelami perasaan satu sama lain.
Memancarkan sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang menjalani sebuah hubungan.
"Dan satu lagi," Raka mengambil nafas dalam lalu di hembuskan secara perlahan sebelum bicara.
"Apapun yang sudah menjadi milik abang jangan pernah harap bisa di rebut oleh siapapun itu, baik itu mantan, pelakor atau sejenisnya sebab sayang sudah paten menjadi milik abang bukan sekedar hubungan semu yang bisa di pisahkan dengan gerimis atau kerikil yang menerpa.
Jangankan mantan yang mau memisahkan orang tua yang nggak merestui akan abang usahakan agar kita tetap bersama tapi dengan cara yang bagus tapi bukan untuk orang lain.
Sampai disini sayang pahamkan? Hubungan kita bukan sepele yang bisa ganggu apalagi hanya seorang mantan yang nggak tau diri,"
Lagi Farah mengangguk kepala tanda mengerti dan paham kalau dia tidak akan berpisah dengan suami tampannya ini.
Ini sudah cukup bagi Farah sebab Raka mau memilih dia dan tidak terpengaruh oleh gangguan yang datang dari mana pun.
"Ini yang paling penting, jangan pernah membahas soal hak abang sebagai suami yang belum di berikan.
Bukan abang tidak ingin atau tidak mau menagih hanya saja abang ingin melakukan atas dasar suka sama suka bukan nafsu semata dan ingat ini yang paling penting agar mempersiapkan diri kapan saja karena abang bisa saja menagih kapan abang mau dan abang harap saat waktu itu tiba sayang sudah siap lahir batin.
Tapi abang nggak bisa menentukan kapan itu,"
Sebagai seorang suami pasti ingin melakukan ibadah yang satu itu hanya saja waktunya belum tepat dan tidak ingin saat itu terjadi yang ada di dalamnya hanya nafsu tanpa perasaan yang ada akan menimbulkan rasa kecewa pada pasangan kita yang seolah dia menganggap kita hanya pemuas nafsu.
Farah tertegun mendengar ucapan Raka panjang lebar dan ingin menangis saking terharu.
Jika tadi menangis karena sakit hati tapi sekarang beda menangis karena merasa di cintai begitu besar, di sayangi dengan cara indah, dan di hargai tanpa menimbulkan kekecewaan atau ada kepalsuan.
__ADS_1