BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

Terhitung sudah beberapa hari Farah dirawat di rumah sakit dan sekarang kondisinya sudah pulih serta diperbolehkan pulang.


Dan selama itu juga Raka tidak diketahui kabar serta keberadaannya hanya orang kantor mengatakan jika dia sedang berada di luar kota tetapi nomor hp-nya tidak bisa dihubungi.


Sekarang di dalam ruangan Farah namanya sedang membereskan segala keperluan dan dimasukkan ke dalam tas karena sebentar lagi dokter akan datang melakukan pemeriksaan terakhir sebelum pulang.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," dokter memasuki ruangan Farah lalu memeriksa keadaan gadis itu.


"Semuanya sudah normal, tubuh nona Farah bisa menerima anggota baru di antara mereka dan saya minta nona harus bisa menjaga pola makan agar tidak terjadi sesuatu yang akan membahayakan lagi dan semoga tidak datang ke rumah sakit untuk menginap lagi," walaupun orang sakit merupakan sumber rezeki bagi tenaga medis tetapi banyaknya orang sakit juga membuat mereka prihatin jadi jatuhnya serba salah.


"Terima kasih dokter," setelah mengatakan semuanya baik-baik saja dokter itu berpamitan karena Farah juga sudah tidak sabar untuk segera pulang dia sudah merindukan kamar serta ranjang empuknya.


Walaupun di sini ranjangnya juga enak tetapi tetap saja suasana serta aroma Rumah Sakit membuat dia tidak nyaman apalagi dia terus kepikiran tentang suaminya dan tidak bisa dihubungi.


Bahkan waktu kunjungan adik iparnya Farah sudah pernah meminta tolong kepada Riska untuk menghubungi suaminya tetapi tetap sama nomor laki-laki itu tidak bisa dihubungi dan masih berada di luar jangkauan.


Jadi Farah menyimpulkan bukan hanya dia yang tidak bisa menghubungi Raka tetapi semua orang tanpa terkecuali.


"Ayo kak kita pulang," Farah menurut dan mereka pulang menggunakan sopir karena sang papa tidak bisa menjemput sebab dia membantu Arka di kantor karena Raka sedang tidak berada di tempat.


Padahal di usia Arka dan Dean masih begitu kuat untuk bekerja tetapi laki-laki itu sudah merasa sok tua dan ingin menikmati masa tuanya padahal usia belum menyentuh angka lima.


Raka saja baru berusia 23 tahun dan Arka waktu itu menikah di usia 22 tahun jadi bisa dipastikan bahwa umur Arka sekarang baru menyentuh angka empat puluh lima tahun memasuki empat puluh enam tahun.


Jadi tidak wajar saja jika saat itu Arka mengatakan ingin menikmati masa tua sebab di usia yang saat itu bukanlah usia tua tetapi matang apalagi perawakan dia yang awet muda membuat dia terlihat seperti kakak adik jika berjalan berdua bersama Raka.


Sampai di rumah...


"Akhirnya bisa tidur di kamar ini lagi," seminggu lebih parah dirawat di rumah sakit dan sekarang dia bisa menikmati lagi tidur di kamarnya yang nyaman.


"Lebih baik banyak bisa istirahat lalu cari keberadaan abang," walaupun Farah pernah beberapa kali melihat Raka bersama perempuan lain tetapi gadis ini tidak akan patah semangat sebelum mendapat kejelasan dari hubungan mereka.


Setelah membersihkan diri dan melaksanakan salat Farah langsung beristirahat karena rencananya besok dia mau mengunjungi kantor untuk bertanya langsung serta mencari informasi keberadaan Raka.


Di dalam mimpi Farah melihat sesuatu yang sangat menyayat hatinya bahkan gadis itu sampai meneteskan air mata di dalam mimpinya itu.


Farah tidak mampu berkata-kata saking terkejutnya terhadap fakta apa yang dia lihat di depan matanya bahkan dia tidak menyangka jika semua ini bisa terjadi bahkan dia tidak tahu harus berkata apa.


Pagi hari...


"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu bahkan terasa sangat nyata?" Farah masih membayangkan mimpinya yang semalam dan memikirkan sebab tidak mungkin semua itu dia mimpikan tanpa ada alasan yang jelas.


Tetapi setelah dirasa dirinya mulai tenang gadis itu mulai mandi dan bersiap untuk melaksanakan kewajibannya.


Turun ke bawah...

__ADS_1


"Pagi ma, sini kakak bantu," Farah menghampiri sang mama yang sedang bersiap untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua.


"Nggak usah kak, duduk sana tunggu benar-benar pulih dulu," Vya menolak dibantu oleh anaknya lalu menuntun Farah untuk duduk di kursi meja makan.


Apalagi dia tidak sendiri memasak jadi masih bisa di handle apalagi anaknya baru keluar dari rumah sakit dan belum terlalu pulih jadi dia tidak ingin anaknya kecapean yang mengakibatkan kondisinya drop lagi.


Beberapa hari telah berlalu...


Farah merasa benar-benar sudah pulih sepenuhnya dan juga dia berniat untuk mendatangi Raka ke kantor.


"Kakak mau kemana?" Karena Farah sudah tidak bekerja lagi dan melihat penampilan gadis itu pagi ini tentu menjadi tanda tanya untuk mereka.


"Mau ke kantor abang," orang tua Farah sudah mengetahui permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya dan itu sempat menjadi perdebatan serta ceramah panjang yang didapat Farah selama hidupnya.


( Nanti di bahas ya, ulti apa yang di dapat Farah dari orang tuanya ).


Mereka sarapan dengan tenang dan setelah selesai Farah membantu membereskan meja makan lalu berpamitan kepada orang tuanya pergi ke kantor Raka menggunakan mobil sendiri.


Farah baru tetap akan memperjuangkan serta mempertahankan rumah tangganya walaupun sejak awal dialah yang barulah tetapi tidak ada salah jika dia mulai memperjuangkan.


Bukannya takut menjadi janda tetapi cinta yang dulu tidak pernah pergi hanya ditutupi dengan rasa benci yang sengaja ditumbuhkan tetapi tidak bisa bertahan lama.


Sampai di kantor..


"Permisi mbak, pak Raka ada?" Farah sampai di kantor sekitar jam sepuluh pagi. Pagi menjelang siang karena dia harus mempersiapkan penampilan terbaiknya untuk bertemu dengan suaminya yang dulu pernah disia-siakan.


"Makasih ya mbak," Farah berjalan menuju lift yang akan mengantarkan dia menuju ruangan Raka berada.


Keluar dari lift dengan langkah pelan serta sangat anggun sekali. Gadis itu menggunakan pakaian tunik berwarna mocca dengan hijab senada serta celana panjang hitam.


"Maaf pak Raka ada?" Farah menghampiri meja sekretaris Raka yang berada di luar ruangannya.


"Maaf mbak pak Raka baru saja keluar," Farah menghilang nafas dengan pelan sebab tidak bisa bertemu dengan Raka padahal ini masih pagi tetapi laki-laki itu sedang tidak berada di kantor hanya meninggalkan sekretarisnya saja.


"Kalau boleh tau pergi nya kemana?" Jangankan keluar kantor selama tahu kemana perginya Raka pasti Farah akan menyusup.


"Kalau tidak salah ke rumah sakit harapan bertemu dokter Sania," setelah mendapatkan informasi Farah berpamitan kepada sekretaris itu dan berjalan cepat menuju lift karena dia tidak ingin ketinggalan untuk menyusul Raka.


Farah melajukan mobilnya dengan sedikit kencang karena dia juga penasaran kenapa Raka pergi ke rumah sakit apalagi menemani dokter yang Farah cukup kenali.


Sampai di rumah sakit Farah buru-buru memarkirkan mobilnya dan memasuki rumah sakit apalagi dia sudah tahu di mana keberadaan ruangan dokter itu jadi bukan hal yang sulit dan tidak perlu bertanya-tanya.


"Ada apa abang ke rumah sakit?" Farah harus menunggu lift sebab dia telat beberapa detik jadi harus menunggu lift berikutnya.


Gadis itu menunggu dengan harap-harap cemas dan tidak lama kemudian dia memasuki lift yang diisi oleh beberapa orang.


Tidak berapa lama Farah sudah berdiri di depan ruangan dokter itu dalam keadaan yang mematung apalagi pintu ruangannya tidak terlalu tertutup rapat jadi bisa menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mau memberi tau mereka?" Dokter itu bertanya kepada Raka yang duduk di depannya hanya berbatas kan meja kerja.


"Saya hanya tidak ingin mereka cemas," hanya Itu jawaban yang diberikan oleh Raka.


"Tapi setidaknya kamu memberi tahu kepada orang tua serta mertua karena pasti mereka cemas memikirkan keadaan kamu yang tidak ada kabar beberapa hari yang lalu," dokter itu sampai tidak habis pikir Raka mau merahasiakan semua ini dari keluarganya padahal dia juga butuh dukungan keluarga tetapi laki-laki itu lebih memilih merahasiakan.


"Tiba saatnya nanti pasti mereka akan tahu jika saya pernah mendonorkan ginjal untuk Farah tetapi tidak untuk saat ini biarlah semua ini jadi rahasia,"


Deggggg......


Jantung Farah berdetak kencang mendengar ucapan dari suaminya apalagi kata-kata donor ginjal yang ditujukan kepada dia lalu tanpa sadar Farah meraba perutnya bekas operasi yang sesekali masih terasa ngilu jika dia bawa bergerak.


**Jadi abang yang mendonorkan ginjal ini?**


Farah tidak menyangka jika suaminya melakukan hal sebesar ini tanpa dia minta serta tanpa dia ketahui.


Padahal dia sudah menyembunyikan tentang penyakitnya tetapi tetap ketahuan juga bahkan Raka sendiri yang mendonorkan ginjal dan ingin dirahasiakan.


"Segitu cintanya kamu sama dia, dia beruntung memiliki suami sebaik kamu,"


Deegggg....


Di waktu yang hampir bersamaan Farah mengetahui dua fakta besar yang tidak diketahui selama ini.


**Abang mencintai ku**


Mata gadis itu memanas menahan air mata yang mendesak keluar.


Setelah satu fakta jika suaminya yang mendonorkan ginjal kini dia mengetahui jika laki-laki itu juga mencintai dirinya tanpa dia ketahui selama ini.


"Kami sama-sama beruntung, dia gadis yang baik," Farah meneteskan air matanya mendengar pujian dari suaminya yang bahkan tidak ada terdengar nada dendam atau benci yang terlontar dari mulutnya.


"Sejak kapan kamu mencintai dia? Perasaan selama ini kalian biasa saja bahkan kamu terlihat menghindarinya,"


"Sudah lama bahkan bisa dibilang sejak saya mengenal apa itu cinta sejak saat itu juga nama dia sudah terukir di hati tetapi karena waktu itu sepupu saya mengatakan juga mencintainya jadi saya terpaksa berbohong jika saya mencintai adiknya hanya itu dalam satu-satunya tetapi pilihan saya salah,"


Ddeegggg....


Farah tertatih berjalan lalu memilih duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan dokter ini.


"Jadi bagaimana? Apakah ada kendala Setelah saya melakukan operasi ini?" Raka mendatangi rumah sakit untuk memeriksa bekas operasi.


"Semuanya aman tidak ada kendala, tapi tetap minum obatnya sampai habis," beruntung tidak ada kendala dari bekas operasi yang telah Raka lakukan.


"Baiklah kalau gitu saya permisi," Raka berpamitan kepada dokter itu karena sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.


Sampai di luar ruangan dokter.

__ADS_1


BBRRUUKKK......


__ADS_2