BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Mereka menunggu di luar dengan harap-harap cemas, sudah satu jam dokter berada di dalam sana dan belum ada tanda-tanda akan keluar bahkan lampu ruangan itu belum berubah.


"Kita berdoa saja agar operasi nya berjalan dengan lancar," tidak lama suara adzan terdengar di salah satu hp mereka.


"Lebih baik kita shalat dulu agar lebih tenang," mereka semuanya mengangguk setuju dan meninggalkan ruangan itu menuju mushalla rumah sakit.


Di lain tempat...


"Sayang," Rasya, laki-laki itu menghampiri istrinya dan duduk di sebelahnya.


Sekarang pasangan yang baru sebulan lebih ini melakukan malam pertama dan sedang berada di rumah yang di beli Rasya untuk di tempati menggunakan uang tabungan dan juga hasil penjualan atau lebih tepatnya keuntungan toko yang selama ini di tabung.


"Eh," pasti perempuan itu lagi tidak berada di dunia nyata sebab kaget mendengar suara suaminya.


"Lagi mikirin apa?" Rasya memeluk istrinya dari samping dan tidak lupa melabuhkan kecupan di pelipis istrinya itu.


"Apa kita pergi honeymoon ya bang," Riska memang kadang random memanggil suaminya itu.

__ADS_1


Tergantung suasana hatinya.


"Boleh, tapi tunggu sebentar lagi sayang libur kuliah ya," Rasya rasa memang tidak salah menyetujui ajakan istrinya ini.


Sejak mereka menikah yang hampir dua tahun ini dan baru sekarang membahas soal honeymoon, sebab memiliki kesibukan masing-masing.


"Makasih bang, semoga pulang honeymoon udah ada dedek bayi di sini," entah apa yang ada dalam fikiran anak bungsu Arka ini, yang begitu ingin sekali memiliki anak padahal kuliah tinggal setahun lagi apa lagi setelah libur nanti akan langsung magang.


Riska juga sudah memutuskan magang di kantor peninggalan opa Dio yang sekarang di lanjutkan kepemimpinan oleh Abra.


Tapi walau demikian semua cucu memiliki hak masing-masing di sana walaupun para orang tua mereka menolak karena sudah ada usaha masing-masing, tapi sebelum meninggal opa Dio sudah membagi semua aset untuk semua cucunya karena anaknya menolak, terlebih Arka yang sudah mapan sejak sekolah dulu jadi tidak memusingkan harta orang tuanya.


"Amin sayang," sebagai laki-laki yang sudah menikah serta pasangan yang sangat di cintai, Rasya sangat menantikan kehadiran buah hati di antara mereka.


Lagian Rasya tidak ada sibuk dalam bekerja, jadi jika istrinya hamil lalu melahirkan dia bisa merawat anaknya selama istrinya menyelesaikan kuliah.


Rasya memang tidak atau belum ada menjalin kerjasama sama sama pengusaha pakaian lainnya yang menyebabkan dia sibuk harus meeting.

__ADS_1


Rasya lebih suka mengambil pakaian lalu di bayar cash, dia tidak mau menanggung hutang.


Jika bayar nanti itu seperti melihat uang banyak tetapi milik orang lain karena pakaian yang masuk belum di bayar.


"Kangen ibu bang," Riska teringat mertuanya yang sudah sebulan ini belum di kunjungi.


Mereka memang adil mengunjungi orang tua serta mertua.


Bahkan Riska sama sekali tidak risih sama sekali menginap di rumah mertuanya yang sangat jauh sekali perbedaan nya sama rumah orang tuanya yang sangat mewah, tapi dia perlakukan istimewa apa lagi mertuanya tidak memiliki anak perempuan.


Jadi bisa di bayangkan bagaimana dia di manjakan, mana menantu pertama.


"Ayo kita siap-siap," Rasya setuju apa lagi selama ini dia tidak pernah mengajak tetapi justru Riska yang selalu inisatif lebih dulu mengunjungi orang tuanya.


Riska segera bersiap, apa lagi ini masih belum masuk jam makan siang jadi nanti dia bisa masak bersama mertuanya untuk makan siang.


"Ayo suamiku, kita berangkat," Riska sudah membawa koper kecil yang berisi baju dia sendiri sebab jika baju suaminya ada di sana.

__ADS_1


Riska memang selalu seperti itu jika menginap akan membawa koper kecil yang berisi semua peralatan dia, pokoknya lengkap tidak ada yang ketinggalan.


"Ayo sayang," saat istrinya sedang bersiap tadi Rasya memeriksa semua pintu serta jendela lalu di kunci, setelah memastikan semua aman baru berangkat menuju kediaman orang tuanya.


__ADS_2