
"Mana ada ular di sana sayang," Kenapa istrinya ini polos sekali atau waktu pelajaran IPA di sekolah Riska justru tertidur menjadi tidak tahu bagian-bagian tubuh yang bisa bangun dan tidur sendiri.
"Tapi dia bergerak sendiri tadi Bang, Riris nggak bohong loh,"Riska berkata dengan wajah serius bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya bahwa sesuatu itu tadi memang bergerak seperti ular yang terbangun dari tidurnya.
Itu juga memang ular tetapi tidak bisa melilit melainkan menusuk-nusuk seperti jarum jahit.
"Mau merasakan ularnya nggak?" Biarlah sang istri menganggap senjata warisannya itu merupakan seekor ular yang terpenting itu ular bukan sembarang ular tetapi ular yang bisa membesar dan mengecil kapan saja tergantung kapan kondisi dan waktunya.
Lagi pula ular itu merawatnya juga mudah tidak perlu dikasih makan namun dia bisa bertahan hidup.
", Gigit nggak Bang?" Riska takut jika ular itu bisa menggigit dan sudah pasti rasanya akan sangat sakit.
Jadi lebih baik ditanyakan dulu sebelum dia memegang apalagi sampai melilit tangannya nanti.
Lagi pula itu ular limited edition dia tidak suka melilit namun dia suka dielus-elus kepalanya.
Jika tidak percaya tanyakan saja kepada Rasya pasti jawabannya iya.
"Nggak kok dia sudah jinak,"
'Kenapa gue bisa memiliki istri sepolos ini tuhan? Ini suatu keberuntungan atau cobaan bahwa harus mengajari dia dari nol'
Ingin rasanya Rasya menangis dalam hati sebab istrinya itu terlalu polos hingga tidak bisa membedakan mana ular mana senjata keramat.
__ADS_1
Lagi pula mana ada ular dalam ruangan itu.
"Dia udah jinak, sini pegang kalau penasaran," Rasya meraih tangan istrinya lalu diletakkan pada sesuatu yang sudah menyembul di antara kedua pahanya.
Riska yang kelewat polos malah menurut saja apa yang diperbuat oleh suaminya lalu tangan mungil itu marah-baraba untuk memastikan apakah itu benar-benar ular atau bukan.
"Kok rasanya aneh Bang? Dan juga kayaknya pendek nggak sepanjang ular biasanya," tangan mungil itu masih melakukan tugasnya tanpa memikirkan efek apa yang akan ditimbulkan kepada Rasya.
Rasanya sangat menyiksa untuk laki-laki itu karena sudah tidak tahan lagi Rasya menyingkirkan tangan istrinya sebelum bertindak lebih jauh dari ini.
Ternyata keputusannya untuk memperkenalkan sang ular kepada Riska adalah keputusan yang salah dan malah menyiksa diri sendiri.
"Bang," lirih Riska.
Gadis itu terdiam sejenak sambil mengusap-ngusap tangannya dengan otak yang mulai berpikir.
Gadis itu berteriak sambil menutup wajahnya lantaran malu sebab dia sudah menyentuh sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama usia pernikahan mereka.
Kenapa tadi dia dengan polosnya bertanya sesuatu dibalik kain itu sudah pasti jawabannya.
'bodoh banget sih gue, padahal tanpa ditanya dan dijelaskan pun udah tahu itu memang ular tapi bukan ular biasa'
Ingin rasa nya Riska mengubur dirinya ke pusat bumi lantaran sangat malu sudah menyentuh-nyentuh area pribadi suaminya padahal tindakannya itu bukanlah suatu hal terlarang serta menimbulkan fitnah.
__ADS_1
Bukankah jika sudah menikah hal itu wajar bahkan lebih pun tidak masalah.
Lagi pula hanya disentuh dari luar jadi akan seperti apa jika Riska menyentuh secara langsung.
Riska geleng-geleng kepala mengusir pemikiran kotor yang terlintas di kepalanya sebab akan sangat memalukan sekali jika Rasya tahu apa yang sedang dia pikirkan.
"Lagi pula kenapa polos sekali? Ha ha anggap itu perkenalan," Rasya tidak bisa menyembunyikan tawanya dan tindakan istrinya barusan itu merupakan suatu hiburan untuk dirinya.
Meraba area pribadinya tanpa merasa berdosa sama sekali bahkan wajahnya seperti anak kecil yang ingin mengetahui hal baru dalam hidupnya.
"Malu bang," Riska sudah membenamkan wajahnya ke bantal lantaran sangat malu sebab tindakan bodoh yang dia lakukan.
Lagi pula di sekolah dulu sudah dikasih tahu bagian-bagian tubuh beserta fungsinya.
"Kenapa harus malu? Kita ini suami istri bukan pasangan mesum yang lagi mojok. Lagi pula itu hal wajar bahkan jika kita menikah setelah kuliah mungkin hubungan kita sudah lebih jauh dari ini," walaupun Rasya merasa tersiksa atas tindakan Riska tapi setidaknya dia merasa senang sebab sang ular sudah diketahui keberadaannya oleh sang pawang.
"Maaf bang," Riska merasa bersalah sebab selama menikah belum pernah memberikan nafkah batin kepada suaminya tetapi itu merupakan kesepakatan mereka berdua apalagi Rasya sudah berjanji tidak akan menyentuh istrinya sebelum menyelesaikan kuliah.
"Nggak apa kok kan cuma tinggal satu tahun lagi," Riska memang berniat untuk menyelesaikan kuliah lebih cepat jadi hanya butuh waktu tiga tahun untuk menyelesaikan studinya.
Rasya juga tidak mau mengganggu kuliah istrinya karena jika mereka telah melakukan hubungan intim maka akan sulit untuk dia libur walaupun hanya semalam.
Karena dia sudah yakin jika sekali saja pernah merasakan maka akan menjadi candu untuk dia dan pasti akan membuat istrinya kelelahan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Bersambung 😘